Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
Black Card


__ADS_3

Dengan penampilan paripurna, Arkan dan keluarga kecilnya memasuki area sekolah. Sontak saja kehadiran mereka membuat semua orang menatap aneh pada keluarga itu.


Bagaimana mungkin ada keluarga aneh seperti mereka, penampilan kedua orangtuanya sangat aneh bahkan anak-anaknya juga ikutan aneh.


Mereka berada di gedung Sekolah Dasar, Arkan dan keluarganya melangkah menuju kantor bagian pendaftaran siswa baru. Mereka masuk ke ruangan itu dan ternyata semua guru tengah ada disana.


Saat mereka masuk setelah mengetuk pintu, semua tatapan guru mengarah kepada mereka. Tentu saja semuanya terkejut dengan kedatangan mereka, Arkan yang cupu serta Arta yang cacat dan anak-anak mereka yang tidak beda dengan orangtuanya.


"Selamat siang pak,buk kami mau mendaftarkan anak kami," ucap Arta ramah.


Seorang guru perempuan langsung menyambut mereka sambil tersenyum. Tampaknya wanita itu adalah wanita yang baik.


"Silahkan masuk Pak, Buk anak-anak duduk disini dulu ya nak," ucap Ibu guru itu mempersilahkan mereka masuk sedangkan keempat anak kecil itu disuruh duduk di kursi panjang dalam ruangan itu.


"Kemari Pak Bu, silahkan duduk!" ucap admin sekolah, tampaknya dia seorang pria muda yang ramah dan sopan. Berbeda dengan guru-guru lain yang malah menatap tidak suka dan jijik ke arah Arkan dan Arta.


"Astaga apa yang dilakukan orang-orang aneh itu disini? lihatlah pria itu dia cupu sekali dan wanita disampingnya itu cacat!" ledek seorang guru perempuan dari ujung meja dengan suara lantang agar bisa di dengar orang disana.


"Ssst jangan keras-keras nanti mereka dengar, apa mereka mau mendaftarkan anaknya di sekolah elit ini? iuhhhh aku tak Sudi mengajari anak-anak mereka yang juga aneh itu!" ucap seorang pria yang duduk di samping wanita itu.


"Ada yang bisa kami bantu Bu, Pak?" tanya admin laki-laki dengan nametag Rudi itu.


"Ah...pak.. Rudi, ya Pak Rudi kami ingin mendaftarkan anak kami di sekolah ini, apa masih bisa? usia mereka tujuh tahun," ucap Arkan.


"Ohh mau mendaftar, tentu bisa Pak, nah ini formulir pendaftarannya silahkan diisi ya Pak Bu," ucap Rudi menjelaskan.


"Ehmm bagaimana dengan pembayarannya Pak?" tanya Arta.


"Ahh untuk pembayaran silahkan Ibu ikut Ibu Grace yang bertanggungjawab di bagian keuangan," jelas Pak Rudi sambil menunjuk wanita yang mempersilakan mereka masuk tadi.


"Kemari Bu, biar saya jelaskan!" ucap Ibu Grace menuntun Arta ke meja kerjanya tepat di samping wanita yang mengejek mereka tadi.


"Mana mampu mereka membayar biaya sekolah disini, paling juga mereka memasukkan anaknya ke kelas reguler!" ledek wanita itu sambil memandang rendah ke arah Arta.


Arta tidak menggubris ucapan wanita sombong itu. Ibu Grace justru menjadi geram mendengar ucapan merendahkan wanita itu.


"Anita! bisa kau jaga sopan santunmu? mereka tamu kita, apakah sudah hilang rasa malu dari dirimu itu!" tegur Grace dengan wajah kesal pada rekan kerjanya.


"Maafkan rekan saya Bu," ucap Ibu Grace yang merasa tak enak hati dengan Arta.


"Ahh tidak apa Ibu??' ucap Arta terputus.


"Ahh perkenalkan nama Saya Grace Sagita, panggil saja Ibu Grace Bu,"ucapnya memperkenalkan dirinya dengan sopan.

__ADS_1


"Saya Arta Bu, lalu bagaimana dengan pembayarannya tadi Bu? apa saja biaya yang diperlukan?" tanya Arta.


"Cih banyak sekali gayamu Grace, kau tanya pegawai sementara disini!!" ejek Anita tak terima dirinya dibentak oleh Grace di depan orangtua murid.


Grace menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan sikap rekan kerjanya itu.


"Sudah jangan membuat keributan nut, toh sebentar lagi dia akan di pecat karena menerima orang miskin di sekolah elit ini," sindir pria disamping Anita.


Grace mulai geram dengan sua ocehan mereka, tangannya dikepalkan, sebisa mungkin ia menahan amarahnya. Tiba-tiba Area menggenggam tangan Ibu guru itu dengan lembut.


"Saya mau bayar Bu, apa saja biayanya? tolong jelaskan!" ucap Arta sambil tersenyum ramah membuat Ibu Grace berhasil meredam amarahnya.


Ibu Grace menjelaskan biaya yang akan dibayar oleh Arta serta program yang disediakan oleh sekolah itu.


Arta mengambil program eksklusif di sekolah itu dengan harapan agar anak-anaknya dididik dengan kualitas yang baik.


"Miskin tapi sok soan mau ngambil jalur eksklusif!" cibir Anita namun Arta tak menggubris sama sekali.


"Tolong total semua biaya sampai mereka berdua tamat!" ucap Arta yang membuat Grace sedikit terkejut namun ia tetap melakukannya tanpa banyak bertanya. Bahkan Anita dan laki-laki di sampingnya malah terkejut mendengar ucapan wanita itu.


Setelah menghitung, Ibu Grace menunjukkan totalnya pada Arta. Arta melirik sekilas pada kertas itu. Ia lalu bangkit berdiri dan mendekati suaminya.


"Sayang aku bayar sampai mereka lulus ya," ucap Arta pada suaminya yang tengah berbincang-bincang dengan Pak Rudi.


Arta lalu kembali ke meja kerja Ibu Grace,"Bisa bayar pakai kartu kan Bu?" tanya Arta.


"Tentu bisa Bu, memang sistem pembayaran kita lakukan lewat kartu agar tidak terjadi penyelewengan dana," jelas Ibu Grace sambil tersenyum.


Arta mengeluarkan Black Card miliknya dari dalam tas yang dipakainya. Sontak hal itu membuat Anita dan guru-guru lain dalam ruangan itu terkejut melihat Kartu unlimited yang hanya dimiliki oleh orang-orang terkaya di negeri itu.


"A.. astaga, me..mereka bukan orang sembarangan!" bisik Anita pada rekan kerjanya.


"Waduh mampus kita, kenapa tadi aku ikut mengejek mereka!" ucap pria itu merutuki kebodohannya.


Grace menerima kartu itu lalu mendebet sesuai total yang telah dihitungnya tadi. Setelah selesai ia memberikan Kartu itu kembali.


"Apakah ada hal lain yang harus saya lakukan Bu?" tanya Arta sopan.


"Tidak Bu, sudah semua, mulai besok anak-anak Ibu sudah bisa mengikuti pelajaran normal, berikut peraturan yang harus dipatuhi dan ini seragam mereka, masing-masing dua pasang sesuai dengan yang Ibu minta," ucap Ibu Grace sambil menyerahkan seragam dan atribut sekolah serta buku-buku pelajaran yang akan dipakai ketiga anaknya yang masuk sekolah itu.


"Baiklah Bu, saya paham, terimakasih atas kerja baiknya, Saya sangat menantikan anak-anak saya dididik oleh seorang guru yang baik dan rendah hati seperti Anda, bukan guru yang bahkan tidak cocok menjadi guru!" ucap Arta menyindir orang-orang tadi. Anita dan pria itu tertunduk lesu saat menyadari kesalahan dan kebodohan mereka yang telah menilai orang dari penampilan.


"Baik Bu, terimakasih atas kepercayaannya!" ucap Ibu Grace senang.

__ADS_1


"Saya permisi, dan apa boleh saya meminta nomor ponsel Ibu? siapa tahu asay butuh sesuatu atau butuh teman bolehkan saya menghubungi Ibu?" tanya Arta.


"Ah baik Bu, ini silahkan disana tertera nomor ponsel saya," ujar Ibu Grace sambil menyodorkan kartu nama miliknya.


Arta langsung memasukkan nomor itu ke ponsel miliknya, bahkan ponselnya saja ponsel keluaran terbaru yang semakin membuat dua manusia yang mengejek mereka tadi terdiam dan tak berani berkutik.


Tring...tring..


Ponsel Grace berbunyi,"Simpan nomor saya ya Bu, nak kemarilah!" panggil Arta pada anak-anaknya.


"Beri salam pada guru kalian, nanti Ibu Grace yang akan membimbing kalian disini!" ujar Arta.


"Halo Ibu, saya Ziko Argaka!" sapa Ziko.


"Halo Ibu, Saya Josua Argaka," ucap Josua.


"Halo Ibu guru yang cantik, saya Jeni Argaka kembarannya Abang Josua!" sapa Jeni.


Mereka menyalami wanita itu dengan sopan dan hormat.


"Halo anak-anak, senang bertemu dengan kalian!" ucap Grace menyapa mereka sambil tersenyum walaupun ada rasa sedih dihatinya mengingat ia bukan guru tetap disana.


Arkan dan keluarganya menyelesaikan administrasi di sekolah dasar itu. Setelah itu mereka keluar dari ruangan itu.


Beberapa menit setelah mereka keluar, Pak Kepala sekola berlari pontang-panting menuju ruang guru.


"Apa tadi ada yang baru mendaftarkan tiga siswa baru disini?" tanya Pak Kepsek gendut dengan kumis panjangnya.


"Ada Pak, baru saja mereka keluar," ucap Pak Rudi.


"Astaga mereka pemilik Yayasan!" ucap Pak Kepala Sekolah panik.


"apa!!!" teriak mereka tak percaya.


.


.


.


Oh no hahahaha, kasihan guru guru jahat itu hahahha,


Like, vote dan komen 😊😉

__ADS_1


__ADS_2