Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
Terimakasih


__ADS_3

Arkan sudah bangun dari tidurnya, kini ia sedang ditangani oleh dokter yang bertugas. Arta dan anak-anaknya setia mendampingi Arkan selama pemeriksaan berlangsung.


Setelah selesai melakukan tugasnya, dokter menghampiri Arta. Pada saat yang sama Karina dan Kart masuk ke dalam ruangan itu untuk mengunjungi Arkan.


Arta sudah menghubungi kedua mertuanya dan yang lainnya mengenai kondisi Arkan saat ini.


"Tuan Arkan sudah stabil nyonya, kita hanya menunggu pemulihan saja, mungkin akan butuh waktu beberapa hari," ucap dokter itu.


"Baik dok, terimakasih atas kepercayaan," ucap Arta.


"Sudah tugas saya nyonya, kalau begitu saya permisi," ucap dokter undur diri.


"Bagaimana keadaannya Dek?" tanya Kart menghampiri adiknya sambil merangkul Karina yang tampak sedikit di pucat namun memaksakan diri untuk melihat kondisi adik iparnya.


"Kak Arkan mulai stabil kak, loh kak Karina kenapa pucat seperti itu?" tanya Arta langsung menghampiri Karina dengan raut wajah khawatir. Ia memang belum tahu kabar kehamilan kakak iparnya, sebab ia tidak mau bicara dengan siapa pun selama sebulan ini.


"Dia sedang mengandung keponakanmu dek, baru lima minggu," jelas Kart.


"Ahh selamat kak, maafkan aku tidak memperdulikan kalian selama beberapa Minggu ini," ucap Arta menyesal dengan sikap dinginnya.


"Tak apa Ar, kakak senang kamu sudah mau bicara lagi dengan kami," balas Karina sambil memeluk Arta dengan erat.


"Bagaimana keadaan kamu, baby twin bagaimana?" tanya Karina sambil menatap wajah Arta.


"Kami baik-baik saja kak, terimakasih telah menjaga kami selama beberapa Minggu ini dan maaf merepotkan kalian," ucap Arta.


"Tidak apa Ar, kita itu keluarga sudah sewajarnya saling memperhatikan," ucap Kart .


"Terimakasih kak," ucap Arta terharu.


"Ayo kita lihat Arkan," ucap Kart merangkul dua wanita yang sangat berharga di dalam hidupnya, istri dan adiknya yang sangat ia sayangi.


Arta duduk di samping brankar Arkan, anak-anak juga berada di samping Papi mereka.


Karina duduk di samping Arta dengan Kart yang berdiri sambil memegangi bahunya dari belakang.


"Sayang terimakasih untuk semuanya, aku mencintaimu,"ucap Arkan pelan, Arta menangis di samping tubuh suaminya. Wajah putih bersih dan berseri tersenyum di hadapannya.


"Kak Arkan!" tangis Arta memeluk suaminya.

__ADS_1


Mark Ziko dan si kembar juga ikut menangis di samping tubuh Arkan.


Karina tak kuasa menahan tangisnya, ia memeluk suaminya. Mama Lily, Papa George dan yang lain tergesa-gesa menuju rumah sakit saat mendapat kabar mengejutkan itu.


"Aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu jangan sakit lagi, aku tidak tahan melihatmu terbaring lemah disini," tangis Arta sambil menggenggam erat tangan suaminya.


"Bro Lo udah janji gak buat adek gua nangis, Lo ingkar janji bro," ucap Kart.


"Maaf kakak ipar, gak bakal gue ulangi janji deh hehehehe," balas Arkan sambil terkekeh.


"Papi kalau udah sehat kita main rumah rumahan lagi ya sama Jeni, Jeni kangen banget sama Papi," ujar Jeni dengan senyuman cantiknya.


"Iya sayang, terimakasih udah jagain Mami ya selama Papi sakit, kalian juga putra-putra Papi, terimakasih udah dampingi Mami kalian," ucap Arkan menatap anak-anaknya satu persatu.


"Sama-sama Papi, kita kan udah janji akan jadi superheronya Mami dan Papi," ucap mereka yang membuat Arkan, Arta, Karina dan Kart tersenyum dengan mereka.


"Oh iya Mami, Papi Josua dan Jeni kan udah masuk sekolah, tapi gurunya bilang kita nggak boleh masuk kelas umum lagi, katanya kita harus masuk kelas akselerasi karena temen-temen yang lain gak bisa ngikutin kita katanya," jelas Josua.


"Ziko malah disuruh masuk SMP Mam, Pa, masa Ziko dioper ke kelasnya Abang Mark, eh pas Ziko masuk ternyata Abang lagi presentasi di gedung SMA untuk bidang biologi, Ziko kan jadi gak punya teman," gerutu Ziko.


"Ckk...jangan cengeng Ziko, Abang juga gak ada temen disana, kamu pikir kamu doang yang kesepian, Papi, Mami tau nggak Mark disuruh presentasi di depan semua siswa SMA tentang pelajaran biologi mengenai sistem pernapasan dan sistem peredaran darah makhluk hidup, mana cuma Mark lagi yang disuruh, kan gerigi," ujar Mark dengan wajah di tekuk.


"Hahahaha, itu tandanya semua keponakan paman ini pintar dan jenius!" ucap Kart.


"Karina mengandung ya, wah selamat, maaf aku terlalu banyak bermimpi hingga tidak tahu bahwa ada kabar bahagia menghampiri keluarga Kartier, bahkan aku tak tahu perkembangan anak-anakku yang pintar dan jenius ini," ucap Arkan, sejujurnya ia ia juga sedih karena mengalami hal seperti ini, tapi apa boleh buat sudah menjadi kehendak yang di atas.


"Aunty juga punya baby? wah kita akan punya sepupu dong yeyyy, ada baby lagi, apa baby twin juga Aunty?" tanya Jeni sambil mendekat kepada Karina dengan mata berbinar binar. Jeni sangat menyukai anak kecil meski dia sendiri seorang anak kecil.


"Babynya cuma satu sayang, Jeni senang ya akan punya adik?" ucap Karina sambil memeluk Jeni yang sangat menggemaskan di matanya.


"Senang banget aunty, nanti kalau baby twin lahir terus baby aunty lahir juga, Jeni yang akan jagain," ucap Jeni sambil tersenyum sumringah.


"Kami juga!" ucap ketiga pria kecil itu.


"Wah anak-anak Mami memang berhati malaikat ya, kalian senang sekali ya punya adik," ucap Arta.


"Senang dong Mami cantik heheheh," ucap mereka berempat.


Seminggu yang lalu, Josua dan Jeni membuat gurunya kelabakan dengan kepintaran dan kejeniusan kedua anak kembar itu. Mereka menanyakan banyak hal yang bahkan tak terpikirkan oleh orang dewasa.

__ADS_1


Kemampuan belajar mereka jauh berbeda dengan anak-anak seusia mereka padahal umur mereka termasuk terlambat untuk masuk sekolah.


Setiap guru memberikan pertanyaan, Jeni dan Josua selalu sanggup menjawab semuanya dengan tepat dan benar, sehingga para guru memutuskan untuk memasukkan mereka mengikuti program akselerasi, karena Arta dan Arkan tidak bisa dihubungi, Celo yang mengurus kebutuhan si kembar.


Saat ini si kembar tengah mengikuti pelajaran kelas enam SD, bahkan semua siswa di kelas itu kalah dibuat anak kembar jenius ini. Si kembar mempunyai sifat ceria hanya saja sedikit tertutup tapi tidak sombong dengan orang lain.


Ziko sendiri membuat kekacauan di kelasnya karena menanyakan banyak pertanyaan aneh dan tidak bisa di jawab oleh guru SDnya, bahkan guru yang digaji menjadi guru pembimbing mereka juga dibuat keheranan dengan anak-anak jenius itu, namun mereka tahu bahwa tiga anak SD itu anak-anak yang jenius dan tidak terkalahkan.


Sifat Ziko cukup sulit ditebak, dia bisa tiba-tiba ramah dan tiba-tiba cuek, tentu semua karena ada alasannya.


Mark sendiri menjadi siswa favorit di sekolah menengah pertama, Sifatnya yang dingin dan datar menjadi pesona tersendiri dari pria yang mulai menampakkan pesonanya itu.


Dalam waktu sebulan, Mark tumbuh menjadi pria yang tinggi bahkan kini ia sudah lebih tinggi dari Maminya, wajahnya juga tampan dan berkharisma hanya saja ia sangat dingin dengan orang asing, ia tidak banyak bicara dengan orang lain, Mark hanya akan menjadi anak-anak di depan keluarganya.


Jika dihadapan orang lain, Mark tidak tersentuh, Mark dan Ziko memiliki kepintaran yang turun dari mendiang ayah dan Ibunya, Mia dan Kusnandar adalah orang jenius hanya saja Mia tidak memiliki hati yang baik.


"Arkan!! kamu sudah bangun nak!!" teriak Mama Lily pontang-panting memasuki kamar rawat inap anak bungsunya diikuti oleh Papa George, Samuel, Kath, Vika, Tito, Indah dan Celo.


"Ma jangan berlari, ingat umur!" teriak Papa George yang khawatir melihat istrinya berlari seperti anak kecil, untung saja tidak terjatuh, jika tidak bisa gawat nanti.


"Sayang kamu sudah baikan? syukurlah, Mama khawatir sekali, kamu kenapa tidur selama itu kamu tidak lihat istri kamu menangis setiap hari, mami gak tega lihatnya, hiks hiks hiks," tangis Mama Lily sambil memeluk anaknya.


Arkan menatap Arta sebentar, ia terkejut saat mendengar ucapan Mamanya yang mengatakan bahwa istrinya selalu menangis, rasa bersalah kembali menghampiri dirinya.


"Maaf membuat kalian khawatir," lirih Arkan.


"Tak apa nak, yang penting kamu sudah sadar sekarang, dan Papa harap tidak akan ada kejadi seperti ini lagi," ucap Papa George.


"Iya Pa, terimakasih telah menjaga keluarga kecilku Pa, Ma," ucap Arkan menangis pelan.


"Sama-sama nak," jawab Mama Lily.


Brukk


Seseorang diantara mereka terjatuh ke lantai sehingga membuat semua orang panik.


.


.

__ADS_1


.


Like, vote dan komen 😊😉


__ADS_2