Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
Si kembar


__ADS_3

"Sudah selesai hufthhh!!" seru Arta meregangkan tubuhnya setelah berkutat dengan setumpuk dokumen itu, belum lagi dokumen Star Company yang juga dikerjakannya sekaligus agar mereka tinggal menunggu waktu peresmian.


"Kamu hebat sayang!" ucap Arkan sambil mengacak-acak rambut istrinya itu dengan perasaan senang.


"Tentu saja, aku yang paling hebat Yeay...!" celetuk Arta sambil berdiri dengan girang menunjukkan otot lengannya pada Arkan yang membuat pria itu terkekeh dengan tingkah kekanak-kanakan istrinya itu.


"Hahahha, kau ini sudah jadi Ibu tapi sangat kekanak-kanakan," ledek Arkan.


"Ck...tapi kau tak bisa berpaling dariku kan hahaha," celetuk Arta.


"Kau benar sayang, aku tak mungkin bisa tanpa dirimu, aku mungkin akan mati jika kehilangan dirimu," ujar Arkan sambil memeluk pinggang istrinya dengan erat.


"Dasar gombal!" ledek Arta membuat Arkan mendongakkan kepalanya menatap Arta.


"Bukan gombal sayang, tapi ini faktanya bahwa seorang Arkan tak akan bisa hidup tanpa Arta," jelas Arkan.


"Saat aku melihatmu menangis di kamar mandi waktu itu, hatiku terasa sakit, saat melihat para bajingan itu menghinamu aku sangat marah, saat melihatmu menangis karena salah paham waktu itu membuatku takut bahwa kau akan pergi, aku....aku tak bisa berpis...." Arkan terdiam saat Arta mengecup bibir suaminya sekilas.


Cup


Arta mengecup sekali di kening pria itu, satu lagi di pipi kanannya dan terakhir di bibir pria itu.


"Sudah mengocehnya? ayo temui anak-anak," ucap Arta melepas pelukan suaminya dengan lembut.


"Tapi nanggung ini," ucap Arkan menunjuk bibirnya.


"Cih kau ini, nanti saja, ayo ini sudah jam makan siang, anak-anak pasti sudah lapar," ujar Arta yang tengah menyiapkan bekal yang mereka bawa khusus untuk anak-anak yang akan mereka bawa ke tempat Tito dan anak-anak berada sekarang.


"Kau yang bilang kan, baiklah aku menantikan nantimu itu sayang, mungkin akan ada malam panjang lagi bahkan lebih panjang," goda Arkan menaik turunkan alisnya membuat Arta merona karena ia tahu apa isi pikiran suaminya itu.


"Dasar mesum!" ucap Arta membawa barang bawaannya meninggalkan Arkan.


"Sayang tunggu dong," ucap Arkan langsung beranjak dan sedikit berlari mengejar Arta lalu merangkul pinggang perempuan itu dengan lembut.


Sementara itu di Cafetaria yang berada tepat di lantai satu, Tito hendak memesan es krim untuk keempat anak kecil itu namun langkahnya terhenti saat Mark memanggilnya.


"Paman, sepertinya kita tidak usah makan es krim dulu," ujar Mark dengan nada sedikit takut.


"Kenapa begitu Mark?" tanya Tito menaikkan sebelah alisnya.


"Humm....itu...Adik-adik belum makan siang, nanti mereka akan sakit kalau langsung makan es krim," ujar Mark ragu-ragu.


"Memangnya nggak boleh ya Abang?" tanya Jeni dengan polosnya dia masih berada di pangkuan Mark.

__ADS_1


"Abang pernah makan es krim padahal belum makan siang, perut Abang jadi sakit terus demam, Abang gak mau kalian jadi sakit nanti," ujar Mark memberi penjelasan.


"Kalau Josua ngikut aja, toh yang dibilang Abang Mark benar," celetuk Josua, sedangkan Ziko hanya fokus mendengarkan.


"Hmmm baiklah kalau begitu, kamu Abang yang hebat Mark untung kamu ingatkan paman, jika tidak mungkin paman akan dihajar oleh bunda dan ayah kalian itu," celetuk Tito sambil mengacak-acak rambut Mark dengan gemas.


"Paman, rambut Abang jangan diacak-acak, jadi berantakan kan ihk....," kesal Jeni sambil merapikan rambut Mark yang sedikit berantakan, Mark tersenyum melihat adik kecilnya itu sedangkan Tito terdiam kaku mendengar kekesalan gadis kecil itu.


"Mampus aku!! Arta versi kecil ini mah," gumam Tito yang membuat Josua dan Jeni tersenyum tipis mendengar suara hati pria itu.


"Paman ambil cemilan ringan dulu ya, biar kalian gak bosan soalnya orangtua kalian sebentar lagi turun ke bawah," ucap Tito yang dianggukkan oleh mereka berempat.


Keempat anak kecil itu duduk dengan tertib di meja pelanggan di cafetaria itu. Hingga tiba-tiba Jeni memeluk Mark dengan erat, tubuhnya bergetar ketakutan dan terdengar Isak tangis dari mulut gadis kecil itu.


"Abang.....huhuhuh....Abang...." lirih Jeni mulai menangis dalam pelukan Mark.


"Loh Jeni, dek kenapa? kenap nangis?" tanya Mark panik sambil memeluk Jeni dengan erat.


Josua mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk perusahaan yang berada tepat di dekat Cafetaria itu, sontak ia juga ikut bergetar ketakutan bahkan lebih parah dari Jeni, ia menarik lengan Ziko dan bersembunyi dibalik tubuh pria itu dengan wajah pucat pasi dan tubuh bergetar ketakutan.


"Bang....arkhhh...." lirih Josua ketakutan sambil memegang kepalanya yang mulai terasa sakit, Ziko langsung memeluk pria kecil itu dengan erat.


"Josua!" ucap Ziko panik begitupun dengan Mark yang semakin panik melihat kedua adiknya ketakutan.


"Bang sepertinya orang-orang itu penyebabnya," bisik Ziko pada Mark.


Mark langsung mengambil ponselnya dan mengambil gambar orang-orang itu. Dengan cepat Mark menghubungi kedua orangtua asuhnya.


"Halo bunda! bunda cepat ke cafetaria, Jo dan Jen mereka mereka...huhuhu...bunda cepat...," ucap Mark tak mampu menahan tangisnya melihat si kembar yang masih ketakutan.


Ziko dan Mark terus memeluk si kembar dengan erat sambil menenangkan keduanya.


Arta dan Arkan yang tengah berjalan menuju lift menerima panggilan itu serasa mendapat serangan jantung.


Degh...


"Ah....kak anak-anak, si kembar!" ucap Arta panik setelah mendengar suara lirih Mark saat berbicara dengannya di telepon tadi.


"Ayo cepat!" ujar Arkan masuk ke dalam lift sambil memegang tangan Arta berusaha menenangkan gadis itu walaupun hatinya juga tak bisa tenang.


Mereka tidak lagi memakai masker sebagi penyamaran, toh mereka akan segera memperkenalkan diri ke hadapan publik.


Sesampainya di lantai pertama, mereka berpapasan dengan pria dan anak perempuan tadi.

__ADS_1


deg


Jantung Arkan dan Arta berdegup kencang tak karuan, namun mereka berusaha menyembunyikannya dengan melewati orang-orang itu sambil bergandengan tangan mesra padahal hati mereka sudah tak tenang.


Arkan dan Arta melihat pria yang membeli si kembar untuk dijadikan pembantu, bahkan pria-pria cabul dalam video yang dikumpulkan Roki ikut bersama mereka. Pria-pria yang menggilir Josua dengan beringas, serta anak perempuan yang dalam tubuhnya terpasang ginjal Josua kecil, gadis yang sama yang menyiksa Jeni bagai anjing pesuruh.


Arta menggenggam erat tangan Arkan untuk menenangkan dirinya, ia berusaha bersikap senormal mungkin saat melewati orang-orang itu.


"Anak-anakku," lirih Arta.


"Kalian telah masuk dalam kandang singa wahai binatang bangsat!!" geram Arkan dalam hatinya.


Dengan langkah tergesa-gesa mereka berdua menghampiri si kembar, Mark dan juga Ziko.


"Sayang!" panggil Arta khawatir, ia langsung mengambil alih Jeni yang menangis sesenggukan di pelukan Mark yang juga menangis.


"Josua sini nak," lirih Arkan memeluk tubuh Josua yang bergetar tak karuan, ia hanya diam namun tubuhnya dingin dan wajahnya pucat.


"Abang!Josua!! nak ini Papa nak, sadar sayang," ucap Arkan panik sementara Ziko dan Arta juga ikut menangis.


Josua pingsan, dalam pelukan Arkan.


"Tito!!!" teriak Arkan menggelar hingga semua orang memperhatikan mereka. Tito yang baru tiba terkesiap melihat keadaan disana.


Brukk


Tito menjatuhkan makanannya ke lantai, ia seketika menunduk takut.


"Cepat bawa mobil kita ke rumah sakit sekarang!!" teriak Arkan membawa Josua berlari menuju parkiran.


"Baik tuan!" ucap Tito berlari secepat mungkin.


"Ayo Mark, Ziko cepat nak, perhatikan langkah kalian jangan sampai terjatuh!" ujar Arta membawa Jeni yang masih menangis.


Mark dan Ziko masih menangis, mereka berlari secepat mungkin menuju mobil dan berusaha menenangkan diri dan tidak banyak bertanya.


.


.


.


.

__ADS_1


Huh sedih aku dibuatnya 😭😭


__ADS_2