Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
Baron dan Mia


__ADS_3

Arkan dan yang lainnya tiba di tempat yang dimaksud Arta. Suasana taman di dekat Star cafe itu cukup ramai, banyak kawula muda yang berkumpul hanya untuk sekedar menikmati indahnya malam di taman yang sering disebut taman Harapan itu.


"Kita makan disana ya,", ucap Arta menunjuk sebuah gerai Sate ayam yang berada di sekitar taman itu.


Mereka melangkah menuju tempat itu, sesampainya disana Arta dan Arkan memesan makanan mereka sedang Celo dan Indah hanya memesan minuman saja karena sudah makan malam tadi.


"Hmmm enak banget," seru Arta sambil memasukkan sate ke dalam mulutnya hingga belepotan mengotori wajahnya.


"Pelan-pelan makannya sayang, gak ada yang curi makanan kamu kok," ucap Arkan sambil membersihkan sisa bumbu di wajah Arta.


"Heheheh habis enak kak," ucap Arta cengengesan.


Indah dan Celo menatap Arta sambil tersenyum, bagi mereka melihat Arta seperti ini adalah sebuah hal yang sangat berharga sebab biasanya wanita itu sulit tersenyum dan selalu menatap datar dan dingin.


"Indah kamu ga mau?" tanya Arta.


"Nggak kak, Indah udah kenyang tadi makan di rumah," jawab Indah menolak sebab memang ia sudah kenyang apalagi masakan di rumah tadi cukup enak.


"Ya sudah, hmm Indah," ucap Arta lagi.


"Apa kak?" tanya Indah lembut.


"Kamu kuliah ya bareng Celo, gak ada penolakan pokoknya bukan ini kalian masuk kuliah!" ucap Arta tegas dengan tatapan mata serius.


"Uhukk....ku...kuliah kak?" tanya Indah memastikan.


"Iya sayang, kuliah kamu akan kuliah bareng Celo," ucap Arta sambil mengunyah makanannya dengan lahap.


"Ta...tapi Indah gak punya uang kak," ucap Indah merasa tak sanggup jika harus kuliah.


"Ck...kakak yang biayain, kamu akan jadi asistennya Celo di perusahaan, kamu akan digaji perusahaan dan kakak juga akan kasih uang kantong buat kamu, gak ada penolakan, bulan ini kalian harus masuk kuliah, perusahaan butuh orang-orang hebat seperti kalian!" tegas Arta, Arkan hanya diam saja mendengar ocehan istrinya, sebab sudah disampaikan semua oleh istrinya.


"Ta..tapi," ucap Indah lagi membuat Arta menatap tajam ke arah gadis cantik itu.


"Sudah terima aja Indah, kamu gak bakal bisa nolak," bisik Celo.


"Baiklah kak dan terimakasih banyak untuk semuanya kalian...baik sekali," lirih Indah sambil menangis di hadapan mereka bertiga.


"Anggap kami keluargamu Indah,kami semua menyayangimu sebagai bagian dari keluarga kami," ucap Arkan.

__ADS_1


"Ba..baiklah, terimakasih terimakasih banyak," ucap Indah menatap mereka dengan deraian air mata membasahi pipi mulus gadis itu.


"Hmmm sudah hapus ingusmu itu membuatku tak selera saja," ketus Arta sambil memberikan tisu pada Indah.


"Heheheh, terimakasih kak," ucap Indah cengengesan sambil melap wajahnya dengan sapu tangan miliknya, Celo menatap haru pada gadis polos itu.


"Moodnya mudah sekali berubah," gumam Celo memandangi wajah sembab Indah.


"Mata Cel mata tolong dikondisikan!" ledek Arta.


"Astaga kak sejak kapan kakak jadi mengesalkan seperti ini?" balas Celo kesal karena terus digoda oleh bumil itu.


"Entah hahahah," jawab Arta cengengesan membuat Celo merotasikan kedua bola matanya pertanda jengah dengan sikap baru kakaknya itu.


Arkan melirik sapu tangan dengan lambang WR dan matahari yang digunakan Indah itu, ia menyergitkan keningnya berusaha mengingat lambang itu.


"Indah, sapu tangan itu milikmu?" tanya Arkan.


"Eh...iya kak benda ini satu-satunya peninggalan dari orang yang membuang Indah di panti asuhan dulu," jelas Indah.


"Oh begitu," ucap Arkan sambil menyantap makanannya lagi.


"Ah tidak," jawab Arkan seadanya membuat Arta bingung, namun wanita itu memilih diam sebab ia tahu pasti ada sesuatu dengan hal itu.


"Lambang keluarga Keluarga Whitegar Rouland! apa hubungan Indah dengan keluarga Vika?" pikir Arkan.


Mereka menyelesaikan makan malam mereka dan kembali ke kediaman Whitegar sebab hari sudah cukup larut dan dingin tentunya.


Mereka melaju menuju mansion dengan kecepatan sedang, di dalam mobil suasana cukup tidak tenang, tentu saja karena Ibu hamil yang berceloteh ria dan mempunyai hobi baru yaitu bercerita tentang berbagai hal yang dilihatnya bahkan Celo yang biasanya paling heboh kalah saing dengan bumil itu.


Malam semakin larut, semua orang menikmati tidur mereka namun tidak bagi seorang wanita seksi yang tengah bergulat panas di ranjang bersama dengan seorang pria bertubuh besar dengan luka bakar di wajahnya.


"Ehmmhh...ahhh terus sayang, terushhh," desah wanita itu menikmati permainan panas mereka.


"Shhhh..ahkkk," mereka mencapai pelepasannya dan akhirnya tumbang setelah melalui malam panas itu.


"Bagaimana apa kau sudah menemukan dua anak itu? Kusnandar yang merawat mereka selama ini mereka mungkin bisa menghasilkan uang bagi kita," ucap wanita itu dalam pelukan pria bertubuh besar dengan luka disepanjang tangannya.


"Sedikit lagi, mereka sangat sulit di lacak, tetapi informasi terakhir yang kuperoleh, Kusnandar sudah meninggal dan informasi kedua anak itu dilindungi dengan ketat, bahkan kami tak bisa membobol sistem pertahanan mereka," jelas pria itu.

__ADS_1


"Sialan, Kusnandar punya aset yang lumayan jika bisa mendapatkan kedua anak itu maka harta warisan peninggalan orangtua Kusnandar akan beralih pada kita," ucap wanita itu.


"Seberapa banyak asetnya? apa mampu menyaingi aset milikku?" ucap Pria itu sedikit kesal.


"Ck....jangan merajuk seperti anak kecil, asetnya setengah dari milikmu, lumayan kan untuk menambah pundi-pundi keuangan kita," ucap wanita itu sambil memainkan jari-jarinya di dada pria itu.


"Hmmm pantas kau begitu berniat mengejarnya, bahkan adikmu sendiri kau korbankan untuk mendapatkan pria itu," ucapnya.


"Tentu saja, selama kami belum ada kata cerai maka aku masih berhak atas seluruh aset pria cacat itu!" jawab wanita itu.


"Tapi kudengar pasangan pengusaha yang merawat mereka, mereka tuan dan nyonya di tempat mantan suamimu itu bekerja," ucap pria itu yang sontak membuat wanita yang tak lain adalah ibu kandung dari Mark dan Ziko terbelalak tak percaya mendengar informasi itu.


"Apa? darimana kau tahu?" tanya wanita itu.


"Itu informasi terakhir yang disampaikan adikmu Dina sebelum ia menghilang tanpa jejak, kami masih melacaknya," ucap pria itu.


"Ah Dina! pantas saja aku tak bisa menghubungi gadis bodoh itu, dia menyamar menjadi Lina bahkan rela mengubah wajahnya untuk mendekati si Kusnandar itu hahhaha," tawa seram wanita itu memenuhi seluruh ruangan.


"Jika sudah kau temukan kedua anak itu akan kau apakan mereka?" tanya pria tadi.


"Tentu akan kujual organ mereka Baron! mungkin akan ada orang gila seperti dirimu yang mau membeli dua bocah dengan harga tinggi untuk kau gunakan sebagai budak anakmu," ucap wanita itu menyeringai.


"Hal mudah untuk menemukan orang seperti mereka, hanya saja aku kehilangan budak itu sial sekali padahal ginjal, jantung dan mata mereka sangat berharga, aku juga harus menemukan mereka karena hanya golongan darah anak lelaki itu yang cocok dengan putriku," jawab Baron dengan tatapan kejamnya.


"Tenang saja Mia aku akan menemukan anak itu untukmu selama kau tidak menghianatiku!!" ujar Baron sambil mencengkram kuat rahang wanita itu sambil menatapnya dengan tatapan penuh nafsu.


Bukannya takut, wanita itu malah tersenyum licik menatap Baron.


"Tenang saja, aku tak akan menghianatiku sayang!" ucap Mia dengan bisikan menggoda yang membuat hasrat pria itu kembali membuncah dan terjadilah pertempuran di tengah malam untuk yang kesekian kalinya di dalam kamar remang-remang itu.


.


.


.


Wah ada bahaya menanti mereka!! bagaimana ini?


like, vote juga komen ya guys, kalau bisa bantu author promosi heheh, terimakasih telah berkunjung di karya ini 😉

__ADS_1


__ADS_2