
Sreet.....
Darah bercucuran di seluruh tubuh mereka, kedua wanita gila itu kini berada di markas besar Dead Rose dan sedang diurus oleh Vasko bersama Kart dan beberapa anak buah Blood Tears yang ikut bergabung disana.
"Berani sekali wanita sepertimu merusak kebahagiaan keluargaku!" ucap Kart sambil memutar-mutar belati tipis yang sama dengan yang digunakan Lina menusuk Pak Kus.
"Bagaimana sudah dapat informasi tentang mereka ?" tanya Kart pada si mata elang yang sedang duduk di samping Vasko mengutak atik komputer di dalam markas itu untuk mencari tahu info sedetail mungkin mengenai kedua orang itu.
"Tuan sudah dapat, ternyata wanita bernama Ria itu memiiki penyakit jiwa, ia didiagnosa mengalami Skizofernia, Halusinasi dan depresi akut sejak 2 bulan lalu karena kekasihnya selingkuh setelah mengambil mahkotanya, ia juga mengonsumsi obat-obatan terlarang selama 2 bulan terakhir," ucap si mata elang membacakan informasi yang didapat.
"Selain itu dia memiliki obsesi untuk meracuni orang lain dan melihat korbannya mati pelan-pelan, obsesinya ini sudah memakan 5 korban, 2 pelayan rumah utama Whitegar yang meninggal beberapa bulan lalu dan juga 3 orang anak kecil tetangganya sendiri, ia merekam semua aksinya bahkan saat ia memberikan makanan itu pada si kembar, video itu yang dilihat oleh nyonya Arta hingga membuat beliau shock." jelas Vasko.
"Hahahahaha, menyenangkan melihat mereka mati hahahaha, kalian semua akan mati di tanganku hahahaha, kalian mati mati mati hahahaha," teriak Ria sambil tertawa terbahak-bahak di hadapan Kart dan yang lainnya.
"Cih dasar wanita gila," gumam Kart.
"Lalu manusia kurang ajar yang itu bagaimana?" tanya Kart sambil menunjuk Lina yang terus meracau tak jelas.
"Lina bernama asli Dina Hermawan adik dari Ibu kandung Mark dan Ziko, setahun lalu ia bertemu kembali dengan sang kakak yang menghilang dan meninggalkan keluarganya, ia dihasut untuk membunuh Pak Kus demi uang asuransi yang diinvestasikan wanita itu, dengan Pak Kus mati maka ia akan menerima pesangon asuransi yang sudah ditanamkannya sejak 12 tahun lalu, wanita itu belum menandatangani dokumen perceraian karena asuransi itu,ia memilih meninggalkan mereka tanpa perceraian sehingga ia bisa mengklaim asuransi itu," ucap si mata elang.
"Lina sendiri jatuh cinta dengan Pak Kus, hanya saja ia mengambil cara yang salah dengan mengancam dan menyiksa Mark dan Ziko selama setahun terakhir setelah pengasuh yang lama diganti, Lina mengoperasi beberapa bagian wajahnya agar tidak dikenali oleh Pak Kus tuan," imbuh Vasko.
"Kalian sama-sama memiliki kisah cinta yang menyedihkan , hanya saja kalian sampai mengorbankan orang lain untuk memenuhi obsesi kalian itu, asal kalian tahu cinta boleh tapi goblok jangan, hanya karena kau mencintainya kau memberikan kehormatanmu padanya tanpa ikatan apapun, dan kau mencintainya dengan cara yang salah, itu bukan cinta tapi obsesi," ketus Kart.
"A...aku pembunuh huhuhu, hahahah semua karena si jalang arta itu, dia yang menyebabkan ini hahhaha, padahal...padahal selangkah lagi aku bisa dekat dengan Pak Kus, padahal sedikit lagi aku bisa menyingkirkan dua anak itu, huhuhuh tidak tidak aku bukan argh......" racau Lina tak jelas.
"Masukkan mereka ke ruang penyiksaan, Arkan mengatakan padaku bahwa disini ada ruangan kalajengking, masukkan mereka kesana dan tunggu sampai mereka mati lalu kirim mayatnya ke keluarga masing-masing sertakan bukti kejahatan mereka," perintah Kart yang diberi wewenang penuh untuk mengurus markas besar kedua kelompok mafia itu.
"Dan cari tahu info tentang ibu kandung Mark dan Ziko, kirim dia ke negeri yang jauh agar tidak bertemu dengan Mark dan Ziko, aku tak ingin ada masalah lagi dengan keluarga adikku," jelas Kart.
__ADS_1
"Baik tuan," mereka membawa kedua wanita itu ke dalam sarang kalajengking dan membiarkan mereka mati disana.
"Tidak lepaskan aku, jangan jangan aku masih mau membalas si jalang itu lepaskan argkkkk," teriak Ria meronta-ronta saat dibawa paksa oleh mafioso bertubuh besar itu.
"Hahahaha, mati kami akan mati, kakak aku akan mati dan menyusul Pak Kus, ahahahaha," racau Lina.
"Bereskan dengan benar, mereka pantas menerima itu, beri pesangon pada keluarga korban yang dicelakakan oleh si berengsek itu dan juga sertakan bukti kejahatan wanita gila itu," ucap Kart dengan mata biru dinginnya.
"Baik tuan," jawab mereka bersamaan.
Sementara itu disisi lain fanya dan Tania juga Jaya Mahendra tengah menahan malu akibat aksi mereka sendiri yang mengacaukan acara peresmian Argaka Company. Beberapa jam sebelum acara peresmian dimulai, Fanya dan Tania memasuki perusahaan Star Company sesuai dengan janji yang mereka buat seminggu lalu yaitu pertukaran pemimpin yang akan diserahkan pada Fanya.
Namun saat mereka mencoba masuk ke perusahaan itu, mereka dicegat oleh para pengawal dan tidak diperkenankan masuk kesana.
"Maaf bu, anda tidak boleh masuk ke perusahaan, saat ini sedang ada acara yang berlangsung yang hanya boleh dihadiri oleh anggota perusahaan," ucap Pengawal itu mencegat langkah kaki Fanya dan Tania.
"Apa maksudmu, aku akan menjadi pemilik resmi perusahaan ini, awas jangan halangi jalanku sialan," pekik Fanya namun tak digubris oleh para pengawal itu.
"Maaf kami tidak mengenal anda nona, jika memang kalian anggota perusahaan ini maka tunjukkan kartu identitas kalian," ucap penjaga itu tegas.
"Arhhh....awas biarkan kami masuk dasar penjaga sialan, kau hanya makan gaji kecil saja sudah sesombong itu, awas kalian!!" kesal Tania semakin marah.
fanya dan Tania terus berusaha memasuki perusahaan itu namu hasilnya nihil, mereka mengoceh terus menerus di depan pintu perusahaan itu. Hingga tampak Celo serta petinggi-petinggi lain sedang berjalan mengawal seorang pria berbalut jas hitam, tubuh tinggi atletis serta wajah berkarisma dengan sorot mata tajam berjalan beriringan menuju pintu keluar. Disaat yang sama deretan mobil mewah berjajar di depan perusahaan itu dengan supir masing-masing yang sudah setia menyambut para petinggi itu.
Arkan melenggang melewati mereka berdua tanpa melirik mereka sedikitpun, "Hei Celo apa yang terjadi kenapa kami tak diijinkan masuk ke perusahaan?" ketus Fanya menarik lengan pria itu.
Celo menepis tangan wanita itu lalu menyeringai jahat di hadapannya," anda siapa nyonya?" tanya Celo.
"Apa maksudmu? jangan bercanda bukankah hari ini pertukaran pemimpin dan aku akan menjadi presdir utama?" ucap Fanya kesal, ucapannya menghentikan langkah kaki Arkan dan juga petinggi-petinggi lainnya.
__ADS_1
"Siapa wanita ini Celo? apa kau meladeni peminta minta menjijikkan ini?" sindir Arkan dengan wajah datarnya.
"Tampan sekali, siapa dia? kenapa sepertinya aku mengenalnya? arghh aku tak ingat, wah lihat proporsi tubuhnya itu dia lebih hebat dari Robin," ucap Tania dalam hati sambil memandang Arkan dengan tatapan menggoda membuat pria itu merasa risih.
"Tolong kondisikan mata pel**curmu itu, kau mencoba menggoda suami orang, cepat bereskan mereka aku tak ingin ada masalah istri dan anak-anakku sudah menunggu," perintah Arkan lalu ia masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya sedari tadi.
"Siapa mereka ini ?" tanya Tania lagi.
"Mereka pemilik perusahaan ini nyonya, ah dan lagi Anda telah menanamkan 20% saham anda disini, terimakasih atas dana cuma-cuma yang anda berikan hahahaha," tawa Celo yang membuat kedua wanita itu geram.
"Apa maksudmu hah? aku akan menuntut kalian atas penipuan, lagipula presdir kalian sudah menandatangani perpindahan saham itu," ucap Fanya tak mau kalah.
"Astaga Nyonya Mahendra yang terhormat, siapa presdir yang kau katakan itu? apakah wanita ini?" ucap Celo sambil menunjukkan foto Karina.
"Tentu, dia sudah tidur dengan keponakanku, jika dia macam-macam maka aku bisa membongkar aibnya," ucap Fanya penuh kemenangan.
"Ck....ck...ck...kasihan sekali kau nyonya, asal kau tahu Karina bukanlah presdir perusahaan ini, bukankah nona Tania pernah bertemu dengan Ms. Chan di festival bunga beberapa waktu lalu? ck...ck...ck sudahlah aku malas meladeni kalian," ucap Celo meninggalkan mereka berdua yang tengah bingung di depan perusahaan itu.
"Oh iya dan lagi, kalian tak bisa menarik uang itu, jika kalian lakukan maka kalian harus membayar 5 kali lipat dari nilai uang itu pada Ms. Chan presdir kami, ini salinan perjanjian yang sudah kalian tanda tangani, jika ada yang perlu ditanyakan hubungi aku hahahahahaha," tawa Celo puas dengan semua kejadian itu.
Tania dan Fanya membaca lembar demi lembar salinan perjanjian yang meyatakan bahwa mereka memberikan dana secara cuma-cuma kepada Star Company tanpa syarat apapun serta menerima segala konsekuensinya.
"Apa ini? kenapa jadi seperti ini ma? astaga Papi akan mengamuk jika tahu semua saham itu terbuang percuma," ucap Tania mulai khawatir.
"Arkhhhh sialan, mereka berani beraninya mempermainkan kita, uangku hangus begitu saja tidak tidak," teriak Fanya hingga orang-orang memandang aneh kepada mereka berdua.
.
.
__ADS_1
.
like, vote dan komen