
Arta berdiri di dekat pintu keluar rumah sakit. Dia baru saja menerima panggilan dari Fanya tantenya.
"Apa lagi yang kalian rencanakan manusia licik!?" ucap Arta mengetatkan rahangnya.
"Sayang!!" teriak Arkan membuat Arta malu karena menjadi pusat perhatian orang-orang. Seperti biasa mereka akan selalu mengenakan masker sehingga tidak mudah dikenali.
Arta berlari ke arah suaminya yang menggendong si kembar yang terlelap karena lelah.
"Sshhhhtttt jangan teriak teriak, orang liatin kita loh!" bisik Arta sambil meletakkan jarinya di depan bibirnya.
"Heheheh maaf, sudah selesai? " tanya Arkan lembut.
"Sudah, sini berikan Jeni padaku" ucap Arta.
"Nggak usah sayang, biar suamimu ini saja " ujar Arkan sambil mengedipkan sebelah matanya. Arta merasa malu sekaligus senang dengan tingkah mengejutkan suaminya itu.
"Apaan sih, ya udah ayo pulang aku yang jadi supir" ucap Arta sambil mengambil Kunci mobil dari dalam kantong jas Arkan.
"Ta..tapi" Arkan terdiam.
"Udah tenang aja, Kakak gendong anak-anak yang benar" ucap Arta sambil berlari ke arah parkiran.
"Jangan lari-lari, entar jatuh!" teriak Arkan memperingati, Arta mengacungkan Ibu jarinya lalu berjalan dengan cepat.
Mereka pulang menuju mansion utama Whitegar, Arta menyetir, sementara Arkan duduk di kursi penumpang bersama si kembar. Mereka bertiga terlelap mungkin karena sudah kelelahan.
Sementara itu, Karina dan Tito masih dirawat di rumah sakit untuk pemulihan. Dengan penjagaan ketat
Arta melirik mereka bertiga dari kaca, ia tersenyum melihat 3 manusia beda usia itu terlelap dengan tenang.
"Aku menyayangi kalian" ucapnya dalam hati sambil tersenyum.
Saat di persimpangan, Arta berhenti karena lampu merah. Ia melirik kembali ke arah tiga orang yang masih terlelap itu. Sambil tersenyum ia melihat lagi ke arah jalan raya, dilihatnya seorang gadis tengah merintih kesakitan karena rambutnya ditarik dengan kasar oleh seorang laki-laki yang tidak lain adalah Robin.
"Hah! bajingan itu, apa yang dilakukan pria bangsat itu pada gadis malang itu!!" gumam Arta sambil terus memperhatikan Robin dan gadis yang menangis kesakitan itu, hingga mereka masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan tempat itu.
Lampu berubah menjadi hijau, Arta melesatkan mobilnya menuju rumah utama Whitegar. gerbang dibuka, tampak beberapa pelayan menyambut kedatangan tuan dan nyonya mereka.
Jam menunjukkan pukul 7 malam saat mereka sampai di mansion. Arta membangunkan Arkan, lalu menggendong Jeni yang masih terlelap, sementara Arkan menggendong Josua.
Mereka masuk ke kamar si kembar dan meletakkan keduanya disana.
"Kak kakak mandilah dahulu, Arta mau ganti pakaian anak-anak dulu" ucap Arta.
"Kita lakukan sama-sama, kamu juga pasti lelah" ucap Arkan sambil mengelus pucuk kepala Arta membuat nya tersenyum merona.
__ADS_1
"Apa kakak tidak ngantuk?" tanya Arta karena melihat wajah lelah suaminya.
"Ngantuk sih, tapi mereka kan juga anakku, aku ingin merawat mereka bersama-sama denganmu. Kita ini satu keluarga, aku menikahimu bukan untuk dijadikan pembantu atau pengasuh anak-anak , tapi menjadi pendamping yang menemaniku sampai akhir hidupku" ucap Arkan sambil menatap Arta dengan senyuman indah di wajahnya.
Arta terdiam, ia menatap dalam kedua manik cokelat suaminya itu. Wajahnya merona, jantungnya berdegup kencang.
"Ayo cepat bersihkan mereka, supaya kita bisa istirahat" ucap Arkan menoel hidung mancung istrinya.
"Eh...ba baiklah, Arta ambil pakaian mereka dahulu" ucap Arta gugup lalu berlari menuju lemari pakaian si kembar.
"Aku ambil air hangat buat membersihkan tubuh mereka" ucap Arkan sambil tersenyum gemas melihat wajah istrinya yang memerah seperti tomat itu.
"Huffft....astaga mengapa disini panas sekali ya" gumam Arta sambil mengibaskan tangannya.
"Arghhh aku malu sekali " gumamnya lagi sambil memegang kedua pipinya yang terasa panas.
"Sayang, apa yang kau lakukan di depan lemari itu? cepat kemari dan bantu aku" panggil Arkan yang tengah memegang wadah berisi air hangat.
"Eh i..iya sebentar, aku sedang mengambil piyama mereka" ucap Arta gugup.
Arkan tersenyum melihat tingkah menggemaskan istrinya itu.
"Bagaimana mungkin seorang mafia bisa seimut ini ya Tuhan" teriak Arkan dalam hati. Matanya tak lepas dari Arta yang tengah memilih pakaian untuk si kembar sambil sesekali menggelengkan kepalanya entah memikirkan apa.
"Sini kubantu" ucap Arta menghampiri Arkan.
Arta memegang beberapa bekas luka lama ditubuh Josua, matanya berkaca-kaca mengingat betapa menderitanya kedua anak angkatnya itu.
Arkan memperhatikan Arta yang menundukkan kepalanya. Ditariknya tubuh Arta ke dalam dekapannya.
"Hei jangan menangis, kau tahu kan kalau mereka bisa mendengar mu?" bisik Arkan.
"Aku hanya sedih mengingat mereka disiksa, apalagi melihat bekas luka ini sungguh membuat hatiku sakit kak" ucap Arta menahan tangisnya di dalam pelukan Arkan.
"Sudahlah, kita selesaikan dahulu ini" ucap Arkan yang diberi anggukan oleh Arta.
Setelah keduanya selesai, mereka keluar kamar itu lalu beranjak menuju kamar mereka di samping kamar si kembar.
Mereka juga membersihkan diri dan mengenakan pakaian tidur mereka. Arkan dan Arta duduk bersandar di atas tempat tidur. Arta sedari tadi menahan rasa sakit di perutnya, wajahnya pucat dan kepalanya terasa pusing.
"Ar, kau sakit?" tanya Arkan khawatir sambil memegang kening istrinya.
"Bukan, ini sudah biasa kok" jawab Arta lemas.
"Kau sedang datang bulan ya?" ucap Arkan begitu saja membuat wajah Arta merona karena malu, bagaimana mungkin suaminya ini tahu padahal ia tak mengatakan apa apa.
__ADS_1
Arta mengangguk pelan, sesekali ia memegang perutnya yang terasa keram itu.
"Istirahatlah, apa stokmu masih ada?" tanya Arkan lagi.
"ehmm...itu kak sebenarnya tinggal sedikit lagi tapi biar Arta yang beli besok" ucapnya gugup bercampur malu.
Arkan bangkit berdiri lalu berjalan menuju lemari pakaian mereka, ia membuka laci tempat Arta menyimpan stok pembalutnya.
"Tinggal 1 biji lagi, biar aku yang belikan kau catat saja merk-nya" ucap Arkan mengangkat sisa pembalut Arta.
Arta menahan rasa malunya, wajahnya memerah membuat Arkan gemas dan tersenyum sendiri.
"Sayang tak usah malu, kamu itu istriku jadi hal seperti ini juga jadi tanggung jawabku" ucap Arkan mendekat ke arah Arta, ia duduk di samping Arta lalu mengelus kepala wanita itu.
"Heheheh.....kakak kok bisa tau?" tanya Arta malu.
"Batin seorang suami" ucap Arkan sambil tersenyum.
"Apa ada yang kau butuhkan? biar sekaligus kubelikan nanti" ucap Arkan sambil memandang Arta dengan lembut.
"ngg.....tapi apa kakak tidak lelah?" tanya Arta tak mau membuat suaminya capek.
"Setelah mandi tubuhku tidak lelah, lagian cuma ke supermarket kok gak masalah" ucap Arkan mengelus kepala istrinya lagi.
"Baiklah, nanti aku SMS barang yang kuperlukan" ucap Arta malu.
"Ya sudah, istirahat lah aku keluar sebentar" ucap Arkan mengecup kening istrinya lalu membantunya berbaring.
Arkan keluar dari kamar menuju parkiran. Sementara Arta segera mengirimkan pesan teks berisi pesanannya.
Arta memegang keningnya, "Wah malu sekali ahk, dia manis sekali ya ampun....." seru Arta bahagia.
"Astaga jantungku sudah mau copot tadi, sejak kapan suamiku seromantis ini hehehehe " gumamnya lagi sambil tersenyum bahagia, ia memandang foto pernikahan mereka yang dipajang di dinding kamar itu.
"Terimakasih Tuhan telah mengirimkan seorang yang begitu mencintaiku" ucap Arta tersenyum, matanya berkaca-kaca menatap jari manisnya yabg dihiasi cincin pernikahan serta cincin merah pemberian anak kembarnya.
"Siapa pun yang mengganggu keluarga ku akan kuhancurkan, aku akan melindungi anak-anak ku. Akan kucari orang yang telah menjual dan menyiksa mereka hiks hiks hiks" gumamnya lagi sambil menangis saat ia teringat dengan luka luka di tubuh si kembar.
Arta larut dalam tangisannya, mengingat betapa menyedihkan kehidupan si kembar, trauma yang menghantui suaminya dan juga pembunuhan terhadap kedua orangtuanya membuat ia begitu sedih hingga terlelap dalam tangisnya.
.
.
.
__ADS_1
.