
Ceklek
Pintu ruangan serba putih itu dibuka oleh pengawal yang berjaga di depan pintu. Dua orang wanita dengan gaya sombong dan arogannya masuk ke dalam ruangan itu. Tampak di dalam ruangan itu netra penghuni ruangan besar itu menatap tanpa ekspresi ke arah mereka berdua. Para petinggi hanya diam menatap kedatangan mereka sampai akhirnya Celo memulai aksinya.
"Selamat datang nyonya Mahendra dan nona Tania," sapa Celo sambil berdiri yang diikuti petinggi lain menjalankan peran masing-masing dengan senyuman yang menurut Tania sangat lembut namun begitu menyeramkan bagi seluruh karyawan yang menyaksikan mereka melalui layar komputer masing-masing.
"Drama dimulai !" seru seluruh karyawan yang menyaksikan aksi mereka dalam ruangan itu.
"Hmmm duduklah tak perlu menyambutku seperti itu," ucap Fanya sambil menggoyang-goyangkan tangannya memerintah mereka untuk duduk seolah-olah dia adalah bos di perusahaan itu. Celo dan para petinggi yang berjumlah 7 orang itu sangat geram dengan kesombongan wanita ular itu. Mereka menurut meski menahan rasa kesal di dalam hati.
"Selamat bergabung di Star Company nyonya," ucap Celo membuka pembicaraan.
"Iya terimakasih, seperti yang kalian ketahui, saya adalah pemegang saham terbesar kedua setelah Ms. Chan, tapi mengapa beliau tidak hadir disini?" tanya Fanya penuh selidik.
"Beliau jarang sekali datang ke kantor nyonya, beliau melimpahkan seluruh tugasnya pada kami," jelas Celo yang memang pada kenyataannya Arta jarang ke kantor namun seluruh laporan harus dikirim ke email perempuan itu sesuai dengan jadwal dan permintaan sang bos besar.
"Apa? jadi kalian semua yang melakukan pekerjaan ini?" ucap Fanya sedikit terkejut namun ia menyeringai mendengar penuturan Celo.
"Iya begitulah nyonya," ucap Celo seolah-olah bersikap pasrah.
"Apa kalian menyukai bos kalian itu? tidak kah menurut kalian dia harus memimpin perusahaan ini agar tidak bangkrut?" pancing Tania.
"Ehmm....sejujurnya nyonya kami kurang menyukainya," jawab para petinggi itu meskipun dengan perasaan bersalah.
"Lalu kenapa tidak kalian ajukan saja penggantian presdir?" tanya Fanya blak-blakan saat ia mengetahui ada kesempatan baginya.
"Ahh itu, kami memang sedang merencanakannya, kami semua setuju untuk menurunkan presdir lama namun kekuatan saham kami tidak cukup untuk melakukan hal itu," ujar seorang wanita.
"Aku akan membantu degan syarat bahwa aku akan menjadi penggantinya karena sahamku yang terbanyak diantara kalian semua, dan aku akan menanamkan 20% saham milikku dari Mahendra grup agar posisiku semakin kuat, bagaimana?" tawar Fanya dengan senyuman jahat di wajahnya.
Mereka yang berada di dalam ruangan itu langsung tersenyum pura-pura bahagia dengan ucapan Fanya.
"Nyonya anda sungguh baik, saya setuju dengan usulan ini, bagaimana dengan kalian?" tanya Celo antusias.
"Kami setuju !" ucap mereka bersamaan dengan wajah berbinar-binar membuat Fanya dan Tania menyunggingkan senyumannya.
Mereka pun membahas perpindahan kepemilikan perusahaan itu, hingga akhirnya Fanya menandatangani penyerahan saham 20 % miliknya kepada Star Company pada surat pernyataan yang bahkan tidak ia baca dan asal tanda tangan saja.
Dengan demikian saham 20% milik Fanya resmi tertanam di Star Company dan tak bisa ditarik kembali, jika ditarik maka ia harus membayar penalti sebesar 5 kali lipat dari total saham itu, kejam tapi sangat brilian.
__ADS_1
"Lalu kapan kita akan mengumumkan pemilik yang baru?" ucap Fanya puas setelah menandatangani dokumen-dokumen yang sudah dipersiapkan oleh Celo.
Tanpa curiga, Fanya dan Tania menyetujui semua isi dokumen itu, mereka telah dibutakan oleh uang, jabatan dan harta yang justru membawa mereka ke lubang yang curam dan terjal penuh batu kerikil yang tajam.
"Satu minggu lagi saat Ms. Chan kembali ke perusahaan ini," ujar Celo dengan tatapan yang berubah menjadi datar membuat Tania dan Fanya bergidik ngeri. Bahkan bukan hanya Celo yang berubah sikap, perubahan sikap itu juga diikuti oleh 7 orang lain yang berada di dalam ruangan itu, seketika suasana kembali mencekam seperti saat mereka tiba di perusahaan itu.
"Ada apa dengan mereka, kenapa auranya langsung berubah seperti ini?" gumam Fanya merinding ngeri menghadapi perubahan sikap mereka.
"Seram sekali," gumam Tania namun masih berusaha menepis rasa takutnya.
Mereka menyelesaikan pembicaraan itu, Fanya dan Tania diantarkan keluar oleh dua orang pengawal bertubuh besar tanpa ada ucapan perpisahan dari Celo dan yang lainnya.
"Hahahahaa," Terdengar suara tawa yang sangat mengerikan dari ruangan rapat itu, Tani dan Fanya bergidik ngeri mendengarnya sementara kedua pengawal itu hanya memasang wajah datar.
"Seram sekali," gumam Tania.
Sementara itu, tampak Arta dan Arkan bersama anak-anaknya tiba di rumah sakit dengan perasaan yang tidak tenang. Arkan menyerahkan si kembar ke tangan dokter untuk segera di rumah sakit. Mereka tak lagi menutup identitas mereka, toh juga tak ada yang tahu wajah asli mereka selama ini jadi buat apa ditutupi.
"Cepat periksa mereka !" titah Arkan dengan suara menggelegar di rumah sakit itu sehingga menyebabkan mereka menjadi pusat perhatian orang-orang di rumah sakit itu. Ada yang melihat mereka karena keributan yang disebabkan Arkan, ada yang melihat mereka justru karena visual langka nan indah yang baru kali ini mereka tampilkan ke hadapan publik. Arta dengan mata biru khas keluarga Kartier dan Arkan si pria tampan berkulit putih menarik perhatian setiap orang yang melihat mereka.
"Cepat siapkan ruangan !" teriak dokter anak yang memeriksa tubuh Josua yang pucat dan dingin sepertinya ada masalah dengan anak itu, begitulah pikir dokter tersebut.
"Ayah, Bunda tadi adek ketakutan saat melihat orang orang ini," ucap Mark sambil menyodorkan ponselnya ke arah Arta dan Arkan, seketika wajah mereka memerah, mereka tahu bahwa orang itu adalah orang yang sama dengan orang yang berpapasan dengan mereka tadi.
"Bagus nak, jika ada kejadian seperti ini lagi segera hubungi Ayah dan Bunda, kalian abang yang hebat, kalian menemani mereka berdua saat ketakutan tadi," ujar Arkan sambil mengelus kedua pucuk kepala anak lelaki itu.
Tito datang menghampiri mereka, langsung saja Arta berdiri dan melampiaskan amarahnya pada pria itu.
brughh.....
"Sudah kukatakan padamu untuk menjaga anak-anakku dengan benar!!" teriak Arta tepat setelah ia melayangkan pukulan mentah ke wajah pria itu, tubuh Arta memang kecil tapi tenaganya mampu membuat wajah pria membiru dan sudut bibirnya berdarah akibat bogeman wanita itu.
"Bunda !!" teriak MArk dan Ziko saat melihat wanita itu memukul telak Tito padahal ini bukanlah kesalahan pria itu. Bahkan Arkan tak berkutik saat melihat kemarahan di mata istrinya itu, inikah sosok mafia yang selama ini tak pernah menunjukkan dirinya itu?
"Huhuhuhuh......anak-anakku, kak bagaimana ini, kau jahat kak Tito kenapa membiarkan mereka melihat para bajingan itu arghhhhhh," tangis Arta pun pecah di depan Tito yang diam mematung setelah mendapat pukulan mentah dari Arta.
"Maafkan saya nona," ucap Tito yang juga merasa bersalah dengan kejadian tak terduga itu. Seharusnya dia tahu bahwa orang-orang itu akan berkunjung ke perusahaan hari ini, namun karena terlalu asik dengan anak-anak ia melupakan semua itu.
Arkan menarik Arta dari hadapan Tito dan mendekap wanita itu dengan erat, "tenanglah, kau memukul orang yang salah," ucap Arkan menyadarkan Arta.
__ADS_1
"Aku tak ingin kejadian seperti ini terulang Tito, kau sudah pasti tahu kan siapa mereka dan jadwal mereka hari ini di perusahaan, Fokuslah dalam bekerja," perintah Arkan membuat pria itu tertunduk menyesal.
"Maaf tuan," ucap Tito menyesal.
"Kak maaf," lirih Arta menatap Tito, ia menyesali perbuatannya tadi.
"Maaf sudah memukul kakak, pasti itu sakit," ucap Arta lagi dengan penuh penyesalan.
"Tak apa nona, ini juga kesalahan saya tidak memperhatikan skedul dengan baik," ucap Tito.
"Sana obati lukamu itu, dan maafkan istriku sudah melampiaskan kemarahannya padamu," ucap Arkan yang juga ikut meras bersalah.
"Baik tuan," ucap Tito menunduk hormat lalu pergi ke ruang perawatan untuk merawat luka lebam di pipinya akibat kemarahan sang bos mafia.
"Nona Arta tak kalah mengerikan dengan tuan Arkan saat ia marah, ini benar-benar sakit," gumam Tito sambil mengelus wajahnya.
Dokter keluar dari ruangan dan menemui Arkan dan keluarganya.
"Bagaimana keadaan mereka dok?" tanya Arkan khawatir.
"Mereka berdua mengalami syok berat, namun yang paling parah adalah anak lelaki itu, tubuhnya melemah akibat stress dan tekanan, apakah anak itu memiliki trauma?" tanya dokter anak itu.
"Ada dok, mereka bertemu penyebab traumanya hari ini," terang Arta.
"Sebaiknya tuan dan Nyonya membawa mereka ke psikolog, trauma seperti ini harus segera dihilangkan agar tidak mengganggu kehidupan anak malang itu," ucap dokter anak itu.
"Baik dok, terimakasih atas bantuannya," ucap mereka.
"Sudah tugas saya tuan, nyonya," ucap dokter itu.
Setelah berdiskusi dengan dokter, si kembar dipindahkan ke ruangan yang lebih nyaman yang telah disiapkan oleh Tito sebelumnya.
.
.
.
Naik turun ya, kalau jelek bilang ya , maaf saya author yg suka halu jadinya begini deh alurnya, maaf kalau gak suka, 🤪🤪🤪
__ADS_1