Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
Ibu angkat


__ADS_3

"Heh kamu cewek kampung! kerja yang bener jangan sampai aku aduin kamu sama nyonya!" bentak seorang pelayan wanita pada Indah yang sedang menyiapkan bekal untuk anak-anak di dapur mansion.


"Maaf anda siapa ya?" ucap Indah dengan nada lembut.


"Aku pelayan kepercayaan kedua setelah Pak Kus di rumah ini, panggil aku Ria," ucap pelayan itu dengan nada angkuhnya.


"Ria Ria entah makhluk jadi-jadian dari mana dirimu ini ck...ck...ck," gumam Indah dalam hati namun wajahnya tersenyum lembut ke arah Ria.


"Baik mbak Ria, mohon bimbingannya saya masih baru soalnya," tutur Indah dengan lembut.


"Ya ya ya, sudah sana!" ketus Ria mengusir Indah dengan tangannya layaknya seorang bos.


Indah menyelesaikan bekal untuk mereka bawa nanti lalu beranjak pergi menemui Arta dan yang lainnya.


"Ehmm....mbak Ria," panggil Lina yang baru saja datang dengan membawa gelas bekas susu anak-anak.


"Eh ada apa Lin?" tanya Ria masih dengan gaya sombongnya padahal statusnya cuma pelayan di rumah itu.


"Mbak udah lama ya kerja di rumah ini?" tanya Lina sambil meletakkan nampannya di atas wastafel.


"Sudah satu tahun Lin, kenapa nanya nanya?" ketus Ria dengan wajah sombongnya.


"Mbak kan udah lama kerja di rumah ini, mbak juga cantik malah lebih cantik dari nyonya Arta kenapa bukan mbak yang jadi nyonya di rumah ini?" tanya Lina dengan suara pelan.


"Ternyata mata kamu berfungsi dengan baik ya Lina, dulu aku gak mau sama tuan Arkan karna dia jelek dan cupu, dan tuan Samuel sulit didekati, jadi aku bertahan saja di rumah ini. Nah waktu tuan Arkan menikah dia masih cupu, hingga suatu hari tuan berubah jadi setampan itu, aduh jatuh hati aku," ucap Ria menjelaskan.


"Ck....kalau begitu tikung aja mbak, secara mbak itu lebih cantik, seksi bahenol dan segalanya daripada si Arta itu!" usul Lina yang langsung membuat Ria menutup mulut gadis pengasuh itu.


"Ssst jangan keras-keras bodoh!" bisik Ria, lalu menarik lengan Lina masuk ke dalam kamarnya di bagian belakang mansion.


"Duduk," titah Ria.


"Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Ria penuh selidik.


"Seperti yang kubilang tadi mbak, mbak itu sebenarnya jauh di atas si Arta itu," tukas Lina.


"Kamu ada dendam ya sama nyonya?" tanya Ria lagi.


"Ck....iya mbak, jadi saya itu pengasuhnya Mark dan Ziko, tapi sejak tiba disini mereka tidak menganggap saya lagi, padahal selama ini mereka menurut pada saya, seharusnya saya bisa menarik perhatian mereka berdua dan menjadi Ibu sambung mereka karena saya mencintai Pak Kus, pelayan tampan itu," ujar Lina dengan wajah kesal.


"Memang si jalang itu pintar sekali menarik perhatian semua orang, kamu tahu tidak? tadi dia berpelukan dengan seorang pria bahkan sampai ciuman tepat setelah tuan pergi," ucap Ria.


Ria adalah perempuan di balik pintu yang mengamati Arta secara diam-diam.


"Apa!!" teriak Lina terperanjat kaget.


"Sssst...jangan ribut Lina," ucap Ria panik.


"Maaf, jadi dia membawa selingkuhannya ke sini?" ucap Lina tak percaya.


"Cih ternyata dia sok lembut selama ini, dasar wanita murahan!!" ucap Lina.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita sebarkan foto ini ke seluruh pelayan lalu kita buat gosip agar si Arta jelek itu ditendang keluar dari rumah ini," usul Ria.


"Wah ide bagus itu!" ucap Lina setuju.


"Ah dan kita kirim foto ini ke nomor tuan Arkan, tuan Samuel serta tuan dan nyonya besar!" ujar Ria dengan ide briliannya.


"Wah idemu hebat sekali, aku akan memprovokasi anak-anak itu agar mereka menurut padaku dan menolak wanita murahan itu!" ucap Lina.


"Baiklah, kita jalankan sekarang," seru Ria semangat.


Ria adalah seorang pelayan yang diterima karena cara kerjanya yang memuaskan selain itu dia lulusan universitas terbaik di kota itu, sehingga membuat Tuan dan Nyonya besar Whitegar menerima nya dengan senang hati.


Selama satu tahun bekerja ternyata Ria memiliki niat menjadi nyonya baru di rumah itu, ia menerima tawaran menjadi pelayan karena gajinya yang lebih besar jika dibandingkan dengan bekerja di perusahaan lain.


Rasa percaya dirinya yang tinggi menjadikannya tamak dan sombong, hanya saja ia pandai menyembunyikan segala kelakuannya dari majikannya.


Dengan segera Ria mengambil data seluruh pelayan yang bekerja di mansion itu, totalnya ada 30 orang yang mengurus mansion besar itu, mulai dari penjaga gerbang, supir pribadi, tukang kebun, pelayan rumah, pengasuh anak termasuk ke empat pengasuh baru, juru masak, tukang cuci dan yang lainnya.


Ria mengirim foto itu ke nomor ponsel mereka yang tertera di kertas itu.


Sementara itu, Arta dan anak-anak sudah siap-siap menuju kantor Arkan.


"Pak Kus saya izin bawa Mark dan Ziko ya Pak," ucap Arta meminta izin pada Pak Kus.


"Baik nyonya, maaf merepotkan Anda,"ucap Pak Kus tak enak hati.


"Santai saja Pak Kus, saya suka dengan mereka hanya saja saya sedikit kecewa dengan Pak Kus," ucap Arta membuat Pak Kus kebingungan.


"Kenapa nyonya?" tanya Pak Kus gelagapan.


"Indah dan Vika, kalian tinggal disini lakukan seperti yang kukatakan tadi," ucap Arta.


"Baik Nyonya muda," ucap keduanya serempak.


"Baik nyonya," ucap Pak Kus menunduk hormat, meski demikian hatinya masih gundah mendengar kekecewaan dari majikannya itu.


"Kalian siap?" tanya Arta pada anak-anak dan dua pelayan bohongan yang ikut serta dengan mereka.


"Siap Mama, Bunda, Nyonya!" ucap mereka bersamaan.


Arta, Si kembar beserta Mark dan Ziko naik mobil dengan kapasitas lebih besar, sehingga mereka bisa berangkat bersama.


Sedangkan Karina dan Kath naik mobil yang berbeda agar leluasa mengganti penampilan masing-masing, sebab mereka akan masuk kantor hari ini berhubung banyak dokumen yang harus mereka selesaikan.


Perjalanan menuju kantor memakan waktu 40 menit karena jalanan kota macet akibat kecelakaan lalu lintas yang menghambat perjalanan mereka.


"Bunda gedung-gedungnya tinggi sekali ya," ujar Ziko menatap gedung-gedung yang mereka lewati.


"Gedung Ayah juga pasti tinggi seperti itu kan Bunda?" tanya Mark menunjuk sebuah gedung pencakar langit yang merupakan perusahaan periklanan salah satu perusahaan dimana Arta menanamkan sahamnya.


"Tentu nak, gedung perusahaan Ayah kalian menjulang tinggi ke atas langit," ucap Arta.

__ADS_1


"Mama, Jeni kalau udah besar akan sukses seperti Papa dan Mama, punya gedung besar dan bisa bantu banyak orang!" celetuk Jeni di pangkuan Arta.


"Abang juga akan jadi orang sukses, nanti kalau udah sukses Abang akan bawa Mama sama Papa keliling dunia jadi Papa dan Mama nggak usah kerja lagi," ujar Josua yang duduk di samping Arta.


"Mark juga akan jadi orang sukses!" seru Mark dari belakang.


"Kalau Ziko mau berkeliling dunia ke berbagai negara," ucap Ziko.


"Wah, emang cita-cita anak-anakku apa ya?" tanya Arta.


"Mark ingin jadi seorang Dokter Bun, Mark yang akan merawat Ayah, Bunda, Papa dan adik-adik nanti kalau Mark sudah jadi dokter yang hebat," ucap Mark penuh semangat.


"Kalau Zico mau jadi seorang Aktor Bunda, kalau Ziko jadi Aktor, wajah Ziko akan dipasang dimana-mana, nanti sewaktu Ziko jadi Aktor Ziko pasti akan bawa kalian semua keliling dunia dan kalian akan bangga punya aktor yang hebat seperti Ziko," ucap Ziko tak kalah semangat.


"Wah hebat, Bunda sangat menantikan itu sayang," ucap Arta menatap mereka sambil tersenyum.


"Kalau Abang mau jadi pengusaha sukses seperti Papa dan Mama, Abang mau buka banyak usaha pasti seru!!" celetuk Josua.


"Jeni mau jadi Mama!!" seru Jeni menatap Arta dengan tatapan berbinar binar.


"Loh, Jeni kalau mau jadi Bunda nggak mungkin dong sayang, Jeni harus punya cita-cita Jeni sendiri, karena hanya ada satu bunda di dunia ini dan juga hanya ada satu Jeni di dunia ini," nasehat Mark dari belakang.


"Benar kata Abang Mark, adik belum ketemu ya sama cita-citanya?" tanya Josua sambil mengelus kepala adik kembarnya itu.


"Hehehehe, Jeni sebenarnya mau jadi seorang polisi yang hebat, bisa menangkap penjahat dan membela yang lemah seperti di film-film itu Abang," ucap Jeni sambil tersenyum manis.


"Hahahahhaha, " mereka semua tertawa mendengar suara Jeni. Tak terkecuali pak Supir yang mendengar celetukan mereka sedari tadi, bahkan pengawal lain dan juga Karina serta Kath tertawa kecil mendengar percakapan mereka yang terhubung melalui earphone yang sengaja diaktifkan oleh Arta.


"Wah berarti keluarga kita akan lengkap dong, ada Abang Dokter Mark, Aktor tampan Ziko, Pengusaha hebat kita Abang Josua dan polisi cantik kita Jeni," ucap Arta.


"Iya dong Bun, anak-anak Bunda kan hebat!" seru Ziko.


"Iya sayang, apa pun cita-cita kalian, mau jadi apa pun kalian suatu saat nanti, nasihat bunda selalu ingat mengucap syukur pada Tuhan yang selalu memberkati kita, lakukan apa yang membuatmu bahagia, dan ingat dengan keluarga dan orangtua kalian, selalu berbuat baik dan benar dan jadi anak-anak yang bijak dan berhikmat ya sayang," ujar Arta menatap mereka satu-persatu.


"Ketika kalian sedih, takut, ada masalah, ingat berdoa pada Tuhan dan juga ingat kami orangtua kalian akan melindungi kalian apa pun yang terjadi, meskipun kalian bukan darah daging kami, kalian sudah menempati ruang spesial di hati kami, anggap kami sebagai orangtua kalian karena bagi kami kalian adalah anak-anak yang kami sayangi dan cintai," ujar Arta.


"Bunda.....huhuhuh... terimakasih banyak huhuhuh....," tangis Ziko tumpah mendengar nasehat yang baru kali ini didapatkannya dari seorang Ibu meski bukan Ibu kandung.


"Terimakasih mau menerima kami Bunda," lirih Mark.


"Sama-sama sayang, kita adalah keluarga kalian anak-anak bunda, Jo dan Jen juga anak-anak Mama," ucap Arta dengan tulus.


"Nona Arta berhati malaikat ya," ucap Kath mematikan earphone miliknya.


"Iya, Ibu angkat serasa Ibu kandung kalau seperti ini ceritanya," ucap Karina yang dianggukkan oleh Kath.


.


.


.

__ADS_1


.


Like, komen dan Vote guys!!!!😊😊😊


__ADS_2