
Indah masih menangis mengingat semua penderitaan yang dialaminya selama ini, Celo menenangkan gadis itu.
"Hey gadis roti, sudah nangisnya tanganku kebas nih," ucap Celo yang masih memeluk gadis itu.
"Hishhh...siapa suruh meluk-meluk," ketus Indah mendorong dada Celo pelan.
"Bercanda Indah, udah hapus air matamu itu jangan menangis terus nanti bisa mati aku di tangan kak Arta," ucap Celo memberikan tisu.
"Terimakasih Cel udah mau denger ceritaku, huffftt hahhh...lega sekali rasanya," ucap Indah sambil tersenyum. Celo melirik gadis itu, ia tersenyum samar namun tak bisa dilihat oleh Indah.
"Secepat itu moodnya kembali, dasar gadis roti," gumam Celo sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Ehmm Cel, aku boleh bertanya?" tanya Indah.
"Kau kan sedang bertanya," jawab Celo asal.
"Haishh aku serius Cel," ucap Indah.
"Hahahha baiklah apa yang ingin kau tanyakan?" ucap Celo terkekeh.
"Sudah berapa lama kamu kenal kak Arta?" tanya indah.
"Sejak umurku lima belas tahun," ucap Celo singkat.
"Ohh, jadi orangtuamu juga kenal dong sama kak Arta," ujar Indah.
"Aku tak punya orangtua," jawab Celo datar.
"Ah ma..maafkan aku, aku tak bermaksud menyinggungmu," ucap Indah.
"Tak apa Ndah, apa kau nyaman bekerja di mansion Whitegar?" tanya Celo.
"Aku nyaman, mereka semua baik padaku sungguh menyenangkan bekerja dengan mereka," ucap Indah yang memang merasa senang bekerja di rumah itu.
"Baguslah," ucap Celo sambil tersenyum.
"Wah kau bisa senyum semanis itu ya, eh ups," ucap Indah keceplosan.
"Hahahah, apa kau mulai tertarik dengan pria tampan ini gadis roti?" goda Celo.
"Ck...dasar jangan kegeeran deh," balas Indah, walaupun sebenarnya ia sangat malu karena tak sadar memuji ketampanan pria itu.
"In, mau jadi temanku kan?" tanya Celo tiba-tiba.
"Bukankah kita sekarang sudah bisa disebut teman?" ucap Indah balik bertanya.
"Benar juga hahah, jadi kita teman yes!" seru Celo.
"Astaga kau seperti tak punya teman saja," ledek Indah.
"Punya sih, tapi ya gitu deh, mereka berteman hanya karena melihat harta, jabatan dan sebagainya, orang munafik," gerutu Celo.
"Ternyata kau pria cerewet ya," ledek Indah.
"Hahahha, hanya cerewet dengan orang yang dekat denganku," ucap Celo dengan percaya diri.
"Hah terserahmu saja tuan tampan, cerewet tetap cerewet!" balas Indah.
Mereka melaju menuju perusahaan dengan pembicaraan ringan diantara merqq
Arkan dan yang lainnya tiba di perusahaan, kebetulan saat mereka tiba sudah jam istirahat sehingga suasana cukup ramai dengan karyawan yang lalu lalang.
__ADS_1
"Sayang bangun, kita sudah sampai, kalau mau tidur di kantor saja," ucap Arkan membangunkan istrinya.
"Hemm...erghhh hooaaamm kita udah sampai ya," ucap Arta meregangkan tubuhnya setelah ia bangun dari tidurnya tadi.
"Iya sayang, kamu masih ngantuk? kalau ngantuk kamu tidur di kantor deh, disana ada ruang pribadiku," ucap Arkan sambil merapikan rambut istrinya yang sedikit acak-acakan.
"Nggak, mau jalan-jalan, bunganya mana?" tanya Arta teringat akan pesanannya.
"Aku taruh di kursi paling belakang," ucap Arkan.
"Oke, terimakasih sayang cup," Arta mengecup pipi Arkan dengan singkat lalu langsung keluar dari mobil mengambil bunga mawarnya.
"Ayo nak kita turun," ucap Arkan.
"Ziko dan Jeni masih tidur Pa,," ucap Mark.
"Astaga nyenyak sekali mereka, Mark kamu bisa bantuin Papi gendong Jeni? biar Papi gendong Ziko, dan Josua pegang tangan Mami ya, jagain Mami sama baby twinnya" ucap Arkan.
"Baik Papi," jawab mereka serentak.
"Jeni dan Ziko masih tidur ya, mereka pasti kelelahan," ucap Arta sambil merapikan rambut putrinya yang berada dipangkuan Mark.
"Iya sayang, kita bawa mereka ke ruangan ku dulu, setelah itu aku temani kalian jalan-jalannya," ucap Arkan setelah mengunci mobilnya yang terparkir di halaman perusahaan.
"Kakak bawa aja mereka dulu, biar Arta sama Josua keliling-keliling sebentar, nanti kalian menyusul saja," usul Arta.
"Tapi sayang," balas Arkan tak rela jika istrinya harus pergi berdua dengan Josua.
"Udah gak apa-apa, sana bawa mereka, Mark nanti kelelahan loh kak," ujar Arta yang sudah tidak sabar mengelilingi kantor baru Argaka Company itu.
"Lagian kamu kan presdirnya, kamu juga udah dicariin pasti," ucap Arta.
"Heheheh, aku juga kerja loh sayang, tinjauan langsung dari Presdir cantik," kekeh Arta seperti anak kecil.
"Baiklah, hati-hati kalau ada apa-apa langsung hubungi aku, karyawan masih belum kenal sama kamu, kalau begitu aku ke atas dulu sama Mark," ujar Arkan pasrah pasalnya istinya ini pasti akan selalu menang jika berdebat dengannya.
"Tapi aku beli siomay dulu ya, lapar," ucar Arta sambil menatap ke arah penjual siomay di dekat gedung perusahaan.
"Astaga sayang, makanan apa lagi itu? kamu gak boleh makan sembarangan loh, ingat kamu lagi hamil," jelas Arkan sedikit khawatir dengan permintaan sang istri.
"Itu aman deh kayaknya sayangku, please ya baby-nya mau soalnya," pinta Arta dengan suara memelas seperti anak kecil sambil mengelus perutnya yang rata membuat Arkan tidak tega membiarkan Ibu hamil itu harus kelaparan.
"Hufftt...baiklah tapi jangan banyak banyak," ucap Arkan yang dianggukkan oleh Arta.
"Kami ke atas dulu ya sayang," ucap Arkan.
Arkan dan Mak membawa Jeni dan Ziko ke dalam perusahaan, saat mereka tiba seluruh karyawan terpaku dengan ketampanan Presdir mereka yang bisa mereka saksikan secara langsung.
"Wahhh...pak Presdir tampan dan berkharisma sekali," ucap karyawan A
"Kyaaaakkkk.....Presdir aku padamu!" seru yang lain.
"Wah kalau presdirnya tampan gini aku mah betah kerja disini," ucap karyawan yang lain.
"Eh tapi pak Presdir udah nikah Lo," ujar karyawan lain.
"Iya emang sih, tapi aku belum lihat istrinya, beberapa waktu lalu mereka pernah berkunjung kesini bersama tiga anak kecil itu," ujar karyawan itu.
"Ekhmm...." terdengar suara deheman seseorang yang menghentikan percakapan mereka.
"Kalian mau dipecat sekarang atau bagaimana?" suara berat khas milik Tito lengkap dengan tatapan dingin menusuknya itu mengejutkan karyawan yang bergosip itu.
__ADS_1
"Ma..maaf pak jangan pecat kami," ucap karyawan itu meminta maaf.
"Sudah sana jangan mengurusi sesuatu yang bukan urusan kalian, cepatlah selesaikan kegiatan kalian sebentar lagi jam kerja!" titah Tito.
"Baik Pak kami permisi," ucap karyawan-karyawan itu.
Tito menghampiri Arkan dan Mark yang terlihat tengah berjalan menuju lift khusus Presdir.
Sementara itu, Arta dan Josua tengah menikmati siomay mereka di luar gedung kantor.
"Mami ini enak ya, pedes pedes manis gitu," ujar Josua.
"He em...enak banget," ucap Arta puas dengan siomay yang ternyata higenis dan aman itu.
Saat mereka sedang makan, tiba-tiba ada seorang pria mendekati mereka dan duduk di samping Arta membuat Arta sedikit terkejut namun masih bisa mengendalikan dirinya.
"Maaf saya duduk disini gak apa-apa kan?" ucap pria itu.
"Ah iya silahkan," jawab Arta singkat lalu melanjutkan makannya.
"Wah sepertinya wanita ini sasaran empuk, mana cantik lagi, lumayanlah bisa menemaniku di ranjang, sepertinya dia punya banyak uang, ponselnya saja keluaran terbaru dan pakaiannya mahal semua, akan kumanfaatkan!" gumam pria itu.
"Pak saya pesan satu mangkok siomaynya ya," ucap pria tak dikenal itu.
"Baik tuan," jawab si bapak.
Josua mendengar suara hati si pria asing itu menjadi tidak tenang, ia memikirkan cara untuk menyampaikannya pada Maminya, dan tiba-tiba terbersit sebuah ide di kepalanya.
"Mami, pinjam ponselnya boleh?" tanya Josua.
"Boleh pakai aja, gak dikunci kok!" ujar Arta sambil terus menikmati siomaynya.
Josua mengetikkan apa yang ingin dia sampaikan pada Maminya. Sementara itu pria tadi mencoba berbicara dengan Arta.
"Halo salam kenal, saya Gerry!" ucap pria asing itu pada Arta yang fokus dengan siomaynya.
Arta tidak menjawab membuat pria itu sedikit geram,"Ekhmm," dehem pria itu.
"Eh apa tadi?" tanya Arta menatap pria itu dengan tatapan datar dan menusuk, tentu saja karena dia itu ketua mafia dan punya insting yang kuat.
Belum sempat pria itu melanjutkan ucapannya Josua memotong perkataannya.
"Mami ada pesan dari Papi!" ujar Josua menyerahkan ponsel dengan pesan yang diketik oleh Josua yang memang sudah tahu cara menulis dan membaca karena diajari oleh pak Kus sebelum beliau meninggal, selain itu saat kedua orangtuanya masih hidup, si kembar sudah diajari membaca dan sudah bisa, mereka termasuk anak jenius.
Arta memalingkan wajahnya lalu melihat ponselnya, ia membaca pesan yang ditulis oleh Josua, Arta mengeraskan rahangnya tampak kemarahan dari sorot mata Ibu hamil itu namun ia berusaha tetap tenang dan mengikuti permainan pria asing itu.
isi pesan Josua :
^^^Mami pria di samping Mami itu jahat, dia bilang seperti ini:Wah sepertinya wanita ini sasaran empuk, mana cantik lagi, lumayanlah bisa menemaniku di ranjang, sepertinya dia punya banyak uang, ponselnya saja keluaran terbaru dan pakaiannya mahal semua, akan kumanfaatkan!, kita harus pergi dari sini Mami, nanti baby twin dan Mami dalam bahaya, Abang juga takut.^^^
"Tadi tuan bilang apa?" tanya Arta pada pria asing itu.
"Ah saya hanya mau berkenalan," jawab pria itu pura-pura ramah.
.
.
.
like vote dan komen 😊😊😊😊
__ADS_1