Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
49


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 6 pagi, Arta membuka matanya lalu mengedarkan pandangannya ke arah Arkan suami tampannya. Dia memandang wajah tampan paripurna itu.


"Hmm, tampan" bisiknya pelan sambil membelai wajah Arkan.


"Aku memang tampan sayang" bisik Arkan mendekatkan bibirnya ke telinga Arta membuat wanita itu berdesir geli.


"Hahahah, pria tampan ini dulu seorang pria cupu yang dihindari banyak orang dan sekarang dia jadi milikku" ucap Arta sambil terkekeh kecil menatap wajah Arkan yang masih enggan membuka matanya.


"Hmmm ketampananku hanya milik nyonya Argaka seorang" ucap Arkan membuka matanya menatap dalam manik mata biru milik istrinya.


"Dan kecantikakku hanya milik tuan Argaka seorang" bisik Arta sambil membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


"Kau sudah pintar menggoda sekarang ya" ledek Arkan sambil membalas pelukan Arta.


"Heheheh, menggoda suami adalah kewajiban istri" celetuk Arta sambil tersenyum yang dibalas belaian lembut di kepalanya.


Arkan mendaratkan kecupan di bibir mungil istrinya itu.


"Morning kiss sayang" seru Arkan.


"Huss kau ini, mengambil kesempatan dalam kesempitan!" seru Arta sambil memukul pelan dada pria itu.


"Hahahah, tapi kau suka kan?" goda Arkan menaikkan satu alisnya membuat Arta malu dan menyembunyikan dirinya di dada bidang suaminya itu lagi.


"Jangan menggodaku kak, malu ahk" cicit Arta dengan suara pelan.


"Iya iya, kalau begitu kita mandi bareng okkay"


tanpa basa basi, Arkan mengangkat tubuh mungil istrinya ke dalam kamar mandi. Arta sangat malu saat ini sebab kondisi mereka sama-sama polos setelah kegiatan penanaman bibit unggul semalam.


Drama pagi pasangan itu berakhir dengan canda tawa. Setelah selesai mandi, mereka menuju kamar anak kembar mereka untuk membantu mereka bersiap-siap karena hari ini mereka akan membawa si kembar bertemu dengan Kart di rumah sakit sekaligus melakukan konsultasi dengan dokter anak yang sudah dipersiapkan oleh Arkan sebelumnya.


Arta membuka pintu kamar si kembar secara perlahan.Saat mereka membuka pintu, pemandangan yang menyejukkan hati terpampang nyata di hadapan mereka.


Josua memeluk Jeni kecil yang tertidur pulas dengan erat, wajah damai keduanya membuat hati terenyuh ketika mengingat penderitaan yang harus mereka lewati.

__ADS_1


"Sayang, apa kau bahagia mengadopsi mereka?" bisik Arkan yang berdiri di belakang istrinya sambil memeluk Arta dari belakang memandang si kembar yang tidur sangat lelap.


"Tentu kak, mereka anak-anak kita dan akan tetap seperti itu sampai selamanya. Josua Hillary Argaka anak pertama kita, Jeni Hillary Argaka anak kedua kita dan akan disusul oleh anak kita yang lain nanti" ucap Arta meneteskan air mata bahagianya karena dikaruniakan. anugerah yang begitu indah meskipun bukan berasal dari rahimnya.


"Aku juga sangat bahagia, memiliki anak kembar sehebat mereka, seperti yang kamu katakan, mereka anak kita dan akan tetap seperti itu sampai selamanya" balas Arkan sambil meletakkan dagunya di atas bahu Arta.


"Ampun....ampun!!!! jangan pukul Jeni, jangan pukul kakak!!" teriak Jeni kecil yang sedang mengalami mimpi buruk. Josua terbangun,dengan cepat ia memeluk tubuh kecil adiknya itu.


Arta dan Arkan terkejut mendengar teriakan Jeni langsung menghampiri Jeni yang menangis namun masih dalam dunia mimpinya. Josua yang khawatir memanggil manggil nama Jeni agar gadis itu bangun, ia tak menyadari kedatangan orangtuanya.


Arkan langsung memeluk Josua yang terlihat menahan tangisannya. Arta menggenggam tangan Jeni sambil membelai lembut wajah anak kecil itu.


"Anakku sayang, tenang Mama dan Papa disini" bisik Arta di telinga Jeni yang masih menangis namun belum juga bangun.


Arta mengangkat tubuh Jeni lalu meletakka nya dalam pangkuannya. Ia menepuk-nepuk pundak gadis itu, memberikannya kehangatan dan rasa nyaman. Seketika Jeni berhenti menangis lalu perlahan membuka matanya sambil melihat sosok wanita dihadapannya.


"Mama !" seru Jeni kecil sambil tersenyum bahagia karena melihat wajah mamanya.


Josua juga tenang dalam pangkuan Arkan, ia menahan tangisnya dan itu semua tak luput dari perhatian Arkan.


"Apa ada yang kalian sembunyikan dari Papa dan Mama hmm?" tanya Arta pada keduanya.


Josua terdiam, sebenarnya beberapa hari ini,Jeni terus mangalami mimpi buruk namun tak diberitahukan nya pada Papa dan Mamanya.


Arkan merasa Josua menyembunyikan sesuatu, ia merasa ada yang tidak beres dengan keduanya.


"Ada apa sebenarnya sayang, Mama juga gak tenang beberapa hari ini tapi Mama pikir cuma perasaan Mama aja" tukas Arta.


"Hiks hiks hiks ..Pa...Ma..maafin Abang huhuhuh" tangis Josua dalam pelukan Arkan.


" Kenapa sayang ,cerita sama Papa dan Mama" ucap Arkan membelai punggung pria kecil itu.


"Sebenarnya beberapa hari ini, adik sering mimpi buruk, Abang gak kasih tahu Papa Mama karna takut Papa Mama akan khawatir dan berada dalam bahaya" lirih Josua sambil menundukkan kepalanya, sesekali ia menyeka air matanya yang terus menetes.


"Kenapa begitu sayang?" tanya Arta lembut.

__ADS_1


"Kalau adik mimpi buruk, berarti akan terjadi sesuatu dengan kami hiks hiks hiks" tangis Josua lagi.


"Abang takut Papa dan Mama jadi sasaran orang jahat hiks, Abang takut Papa dan Mama pergi seperti Papi dan Mami dulu" tangis Josua semakin keras .


Arkan dan Arta saling menatap,mereka sedih dengan penjelasan Josua tadi.


"Sayang, Papa dan Mama orang kuat,Papa dan Mama akan melindungi kalian jadi jangan takut. Dan jika hal seperti ini terjadi lagi segera cerita sama Papa dan Mama mengerti?" ucap Arkan sambil menatap lembut Josua dalam pangkuannya.


"Abang jangan nangis, tadi Jeni mimpi Papa dan Mama melindungi kita. Jeni juga akan lindungi Papa dan Mama dari orang-orang jahat" seru Jeni dengan penuh semangat.


"Benarkah itu? Berarti Abang harus kuat biar bisa lindungi Papa, Mama dan Adik dari orang-orang jahat itu!" seru Josua yang moodnya sudah kembali normal begitu mendengar ucapan Jeni dan kedua orangtuanya.


"Nah gitu dong anak-anaknya Mama, harus kuat! Kalian pasti bisa mengalahkan trauma kalian, dan ingat Papa dan Mama melindungi kalian!" seru Arta tak kalah semangat dengan anak-anaknya.


"Hahahhah, kalian ini lucu sekali sayang, baru aja nangis nangis sekarang udah menggebu-gebu seperti semula" celetuk Arkan yang ditanggapi dengan kekehan kecil dari mereka bertiga.


"Abang dan Adik adalah super Hero buat Papa dan Mama!" teriak Josua girang, ia sudah melupakan kesedihannya tadi begitupun dengan Jeni yang berhenti menangis seolah tidak terjadi apa-apa.


"Ya sudah kesayangan Mama dan Papa mandi dulu ya, kita mau ketemu sama paman kalian, Paman Kart!" seru Arta sambil membawa Jeni kecil menuju kamar mandi diikuti oleh Arkan yang menggendong Josua.


"Wah ketemu paman baru ya Mama?" celetuk Jeni dengan begitu polosnya.


"Hahaha, paman yang baru kalian lihat pastinya" kekeh Arta sambil menyiapkan air hangat sementara Arkan menyiapkan pakaian mereka


Sungguh mereka ini adalah gambaran keluarga yang sangat harmonis.


.


.


.


.


beri Like, komentar dan vote, terimakasih 😉😊😊

__ADS_1


__ADS_2