Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
lemah


__ADS_3

"Kurang ajar!" teriak Celo keluar dari kamar mandi tepat setelah kedua tua bangka beserta anak buahnya itu keluar dari dalam kamar itu.


"Mereka sungguh tak punya hati, dasar tua bangka bajingan," ucap Celo karena teramat kesal mendengar percakapan mereka tadi.


Indah masih saja terus menangis, ia merasakan sakit yang teramat dalam karena telah dibuang oleh orang yang sudah dianggapnya sebagai keluarganya sendiri. Vika menghampiri gadis belia itu lalu memeluknya dengan erat sambil menenangkan gadis malang itu. Bukannya tenang gadis itu malah semakin memperkeras tangisannya.


"Sudah jangan menangis semuanya akan baik-baik saja," ucap Vika menenangkan gadis muda itu.


Arta dan Arkan tak kalah terkejut dengan mereka, beruntung Arta sudah selesai dengan baksonya, bisa-bisa wanita itu keselek bakso kan gak lucu bos mafia keselek bakso saat terkejut.


"Jahat sekali mereka," ucap Arta di balik earphone.


"Kalian cepatlah pergi dari ruangan itu, mungkin mereka akan melakukan hal lain yang lebih kejam, bawa gadis itu keluar !" perintah Arkan yang langsung diiyakan oleh mereka semua.


"Ayo Indah, kamu ikut sama kami ya, ini perintah bos," ucap Vika yang dibalas anggukan oleh Indah, sebab jika ia tak ikut dengan mereka, bisa saja kedua tua bangka itu kembali menyiksanya dan memperalat gadis belia itu.


"Celo biar mereka yang pergi, kita bantu Kart dan Karina !!" ucap Tito sambil merapikan pakaiannya, mereka mendengar laporan Roki yang meminta bantuan mereka karena kondisi Karina saat ini cukup lemah akibat pengaruh obat itu.


"Baik, kalian berhati-hatilah jangan sampai ketahuan," ucap Vika sambil membantu Indah memakai pakaiannya dan mengenakan masker agar tidak diketahui oleh orang-orang terutama anak buah Jaya Mahendra yang tersebar di sekitar gedung itu.


"Iya, kau hati-hati sayang, jangan sampai kenapa-kenapa, jika terjadi sesuatu cepat laporkan," ucap Tito dengan raut wajah khawatir.


"Tenanglah, kau tahu aku siapa kan," ucap Vika menenangkan kekasihnya itu seraya menggenggam tangan pria itu agar dia tenang.


"Ahhh manis sekali hubungan mereka, untung saja mereka cepat mengetahui rencana tua bangka itu, jika tidak kakak itu akan sakit hati huhh," ucap Indah di dalam hati sambil menatap mereka dengan senyuman bahagia di wajahnya.


"Hei jangan menatap mereka begitu, nanti kau dikira pelakor," bisik Celo yang entah sejak kapan sudah berada di belakang Indah membuat Indah terlonjak kaget karena bisikan pria itu, spontan ia berbalik hingga mata mereka saling menatap beberapa detik.


"Ma..maaf," ucap Indah gugup lalu menundukkan kepalanya karena malu, sebab wajah mereka begitu dekat hingga menimbulkan getaran aneh diantara keduanya. Celo terdiam, dia memundurkan dirinya lalu menatap datar ke arah gadis itu walau jantungnya sudah tak bisa diatur detaknya.


"Kenapa kau jadi gagap begitu hah? aku tahu aku ini tampan jadi itu wajar jika kau terpesona dengan diriku," ucap Celo dengan percaya dirinya walaupun sebagai cara untuk menghilangkan rasa gugupnya.


"Cih percaya diri sekali kau tuan,"ledek Indah dengan tatapan mengejek lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.

__ADS_1


"Cel, sepertinya kau ditolak mentah-mentah hari ini hahahah," ledek Arta dari balik earphone membuat Celo mencebikkan  bibirnya kesal sementara para pendengarnya kembali tertawa terbahak-bahak karena kata-kata Arta.


"Cel, jangan coba ganggu gadis itu kalau tidak mau kena mental breakdown hahahah," ledek Vika membuat Celo semakin kesal.


"Cih sudah sana pergi, nanti saja kalian kencannya, misi belum selesai, sana sana...." kesal Celo lalu mendorong kedua gadis itu keluar dari ruangan itu.


"cie elah ngambek hahahah," ledek Vika, sementara Indah hanya bisa menahan tawa melihat wajah kesal Celo.


Celo menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya dengan pelan untuk menenangkan dirinya yang selalu saja dibuat kesal oleh kakak-kakaknya itu, walau demikian dia selalu merasa bahagia karena dia merasa diperhatikan dan merasakan kasih sayang dari mereka.


"Cel, tenang entar gue kasih cara buat dapetin hati cewek setipe sama Vika itu," ucap Tito sambil menepuk bahu Celo.


"Hah...siapa juga yang mau deketin cewek model begitu ogah gue erggghh...." dalih Celo yang merasa malu terus terusan di goda.


"Hahahahah...terserah lo deh Cel," kekeh Tito.


.


.


.


"Ar masih ada gak baksonya?" tanya Arkan dengan wajah lapar.


"Yah udah habis, kakak sih tadi ditawarin sok soan nolak," ejek Arta membuat Arkan menggaruk-garuk tengkuknya karen malu dengan perkataan istrinya.


"Heheh tadi kan gak lapar sayang, sekarang laparnya,"kilah Arkan membuat Arta  memandangnya dengan tatapan mengejek.


"Ya udah pesan lagi aja, sekaligus juga buat yang ikut jaga, kasihan mereka gak makan," usul Arta.


"Uluh-uluh baiknya istri siap sih hmm?" ucap Arkan gemas, sungguh hari ini mereka layaknya anak ABG yang sedang kencan berdua di bioskop sambil di jaga sama penjaga biar gak ada yang gangguin.


"Istrinya suamiku ini lah, heheh" ucap Arta mencubit gemas pipi suaminya, sementara beberapa orang yang bisa mendengar mereka tersenyum simpul dengan perbicangan pasangan yang membuat iri itu.

__ADS_1


"Ya udah pesan gih," ucap Arta menyadarkan Arkan yang sedari tadi asik senyum-senyum sendiri menatap istrinya.


"iya sayang iya," ucap Arkan sambil memanggil anak buahnya yang berjaga di luar.


Arkan memesan makanannya, tak beberapa lama makanan mereka sampai serta beberapa cemilan yang dipesan Arta tadi. Arkan menikmati makanannya begitupun Arta yang sibuk memandangi laptop sambil mengawasi markas dan perusahaan sembari mengunyah cemilannya.


Anak buah yang berjaga juga kebagian cemilan dari Arkan dan Arta.


.


.


.


Sementara itu di kamar lain, Roki tengah membantu Karina berbaring di atas tempat tidur sebab tubuh Karina masih lemah karena berendam dan pengaruh obat.


"istirahatlah, aku akan menyelesaikan hal ini," ucap Roki sambil membelai lembut wajah gadis itu,


"Terimakasih untuk semuanya, aku menyayangimu," ucap Karina pelan dengan senyuman lembut di bibirnya. Roki membalas senyuman itu lalu memberikan satu kecupan di kening Karina.


"Istirahatlah," ucap Roki sambil membenarkan selimut gadis itu.


Roki keluar dari kamarnya, lalu ia berjalan menuju ruangan pesta sambil membawa dokumen yang sebelumnya diberikan Fanya padanya untuk ditandatangani oleh Karina. Isi dokumen itu terkait pengalihan 25% saham milik Karina sebagai presdir Star Company kepada Fanya, dengan demikian maka Fanya menjadi pemegang saham terbesar kedua setelah Karina sebab saham pemilik perusahaan itu diketahui sebesar 70% dan 30% lainnya milik beberapa investor.


"Ini yang kau minta kan, ambillah !!" ucap Roki dengan wajah penuh amarah, ia melemparkan dokumen itu begitu saja ke hadapan Fanya. Fanya bersorak kegirangan karena kini dirinyalah pemilik saham terbesar kedua setelah Karina sebagai pemilik perusahaan.


"Hahahah, kami berhasil !!" ucap Fanya begitu senangnya sambil memeluk-meluk dokumen palsu itu dalam dekapannya.


.


.


.

__ADS_1


Cie yang megang dokumen palsu hahahahah


__ADS_2