Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
Pernikahan dan Kart 2


__ADS_3

Arta meneteskan air matanya untuk kesekian kalinya. Dia merasa benar-benar bahagia memiliki orang-orang yang mengasihinya serta seorang suami yang berani berjanji untuk membahagiakannya.


_______________________________________________


"Acara ini milik kalian, nikmatilah. Sebenarnya gue mau buat party yang lebih mewah tapi entar aja deh, gak keburu waktunya" ucap Kart.


"Thanks banget kak, kita sebenarnya udah siapin resepsi yang sederhana tapi kakak udah nyiapin yang keren begini kita ngikut aja" balas Arta.


"Hilih... resepsi ala ala kalian itu parah banget! masa iya polos gitu? gak banget tau" ejek Kart pada mereka berdua


"Maaf kaka, kita gak pengen terlalu heboh dulu" balas Arkan.


"Iya iya gue tau kok,makanya gue nyiapin ini semua. Gih nikmatin aja" seru Kart.


Pesta resepsi yang seharusnya sederhana menjadi pesta yang cukup mewah hingga membuat para tamu undangan berdecak kagum dengan pesta itu.


Seluruh mata tertuju pada pasangan yang tengah meniup lilin di tengah pesta itu. Paras mempesona mempelai wanita serta kegagahan sang mempelai pria menjadi perhatian dan perbincangan di antara tamu yang hadir.


"Selamat ya sayang, kamu sudah resmi menjadi bagian keluarga Whitegar" ucap Mama Lily menggenggam tangan Arta.


"Terimakasih Ma" balas Arta tersenyum manis.


"Selamat ya anak-anakku, Papa doakan pernikahan kalian sekali dan untuk seumur hidup" ucap Mr. George.


"Amin Pa" ucap mereka bersamaan.


"Selamat ya bro, Lo udah punya tanggung jawab baru sekarang. Gue bangga sama Lo, bahagiain istri Lo " ucap Samuel


"dan ingat cepat-cepat berubah jangan gini Mulu penampilan Lo, demi istri Lo yang cantik ini" seru Samuel seraya meledek Arkan yang masih terlihat cupu.


"Peduli amat, yang penting Arta mau sama gue aja gue dah seneng" celetuk Arkan.


"Hahahahahahah" tawa mereka mendengar ucapan Arkan.


Satu per satu tamu undangan memberi selamat pada mereka. Tapi berbeda dengan keluarga Mahendra, mereka datang ke pesta itu hanya untuk menuntut hak mereka setelah Arta menikah. Yang ada di otak mereka hanya uang, uang dan uang.


"Kak Arta cantik banget " bisik seorang tamu yang adalah karyawan Arta.


"Sssst jangan keliatan banget mujinya, entar yang itu dengar lagi," bisik karyawan yang satu sambil menunjuk Tania dan keluarganya yang hadir di pesta itu.


"CK kok bisa sih pestanya megah kek begini?" kesal Tania melihat pesta yang luar biasa itu.


"Heh paling juga cuma pake WO murahan, mana mewah kek begini," cibir Mama Fanya.


"Heh iya iya pasti mah, gak mewah deh tapi dipaksa mewah hahaha," ledek Tania.


Mereka asik menjelek-jelekkan Arta dan Arkan. Sementara Robin dan Papa Jaya hanya diam mengamati.


Mr. George dan Mrs.Lily serta Samuel juga tampak gagah dan cantik. Mereka juga terkejut dengan pesta yang terbilang mewah ini. Sebelumnya, Kart sudah meminta izin pada mereka walaupun dengan identitas sebagai Roki.


Hanya Arta, Arkan dan beberapa orang lainnya yang tahu bahwa Roki memiliki alter ego bernama Kart.

__ADS_1


Hari menjelang malam, pesta pernikahan yang hanya dihadiri orang-orang penting dan terpercaya dari kedua belah pihak pun mulai berakhir.


Tania dan keluarga menemui kedua mempelai dan duduk di sebuah meja.


Pak Bram juga ikut disana, Mr. George dan Mrs. Lily sudah istirahat terlebih dahulu, Samuel juga duduk bersama mereka. Tampak raut menyeramkan dari wajah Kart saat melihat kedatangan keluarga Mahendra, namun berusaha untuk dia tutupi.


"Ehem, baiklah Bram bagaimana dengan warisan itu? " tanya Jaya to the point.


"Baiklah karena semua keluarga sudah berkumpul disini, Saya akan menyerahkan kepemilikan Hotel Kartier sebagai satu-satunya aset yang tertinggal milik mendiang Nyonya Kartier kepada keluarga Mahendra sebagai balasan telah merawat Arta dan Roki selama ini" jelas Pak Bram sambil mengeluarkan beberapa lembar dokumen kepemilikan hotel itu.


"Cepat serahkan itu, kami tak tahan duduk dengan orang-orang miskin seperti mereka!" cibir Mama Fanya .


Samuel, Kart alias Roki, Arkan dan Arta sudah sangat geram mendengar cibiran dari mereka. Ingin rasanya mereka menenggelamkan orang-orang itu ke dalam sungai Amazon supaya habis di makan piranha.


Akhirnya, Hotel Kartier resmi menjadi milik keluarga Mahendra. Kart menatap mereka dengan tajam dan penuh kebencian.


"Hei Roki! jaga mata kamu itu, sangat tidak sopan cih" ejek Tania.


Kart mengubah raut wajahnya menjadi dingin hingga membuat Tania bergidik ngeri namun masih bisa ditutupi.


"Kalau begitu kami pergi, kita sudah tak ada hubungan! jijik saya duduk dengan orang-orang miskin" ucap Mama Fanya sambil berdiri diikuti oleh Tania, Jaya dan Robin.


"Oh iya ingat besok acara pertunangan kami, kalian boleh datang lumayan untuk melihat bagaimana orang kaya berpesta" ucap Tania sambil bergelayut manja di lengan Robin berusaha membuat Arta cemburu.


Arta hanya diam dan memilih memeluk lengan suaminya karena ia sudah lelah. Arkan cukup terkejut dengan tingkah Arta namun ia bahagia sepertinya Arta mulai membuka hatinya untuk Arkan.


Mereka meninggalkan tempat itu dengan gaya angkuh dan sombongnya. Mereka sengaja menyempatkan diri mendatangi pernikahan itu hanya karena Pak Bram mengancam tidak akan memberikan hak mereka jika tak hadir di pernikahan itu.


Walaupun pertunangan mereka akan diadakan esoknya, demi harta apa yang tak mereka lakukan.


Pak Bram kembali ke kediamannya, sebenarnya Pak Bram sekarang menjadi asisten Roki untuk mengurus perusahaan Kartier yang berubah nama menjadi R&A Company tanpa sepengetahuan keluar Mahendra.


Sebenarnya, Roki menjalankan misi untuk mencaritahu penyebab kecelakaan yang menimpanya dan keluarganya 2 tahun yang lalu.


Perusahaan Kartier dibuat seolah-olah bangkrut dan dibeli oleh R&A company, padahal hanya terjadi perubahan nama saja untuk mengelabui musuh-musuhnya.


Arkan dan Arta beristirahat di kamar hotel yang telah disediakan oleh Kart sebagai kejutan untuk sepasang pengantin baru itu.


Arta merasa canggung berada dalam ruangan yang sama dengan Arkan. Arkan sebenarnya sangat gugup namun ia sebisa mungkin bersikap biasa-biasa saja.


"Bersihkan dahulu tubuhmu, kau pasti lelah" ucap Arkan memecah keheningan malam itu.


"Ba baik Kak" ucap Arta gugup.


"Hey jangan gugup seperti itu, aku tak akan minta hakku sekarang" celoteh Arkan dengan santainya sambil duduk bersandar di sofa ruangan itu.


"Benarkan kak?" tanya Arta gugup.


Arkan mendekat lalu menggenggam tangan Arta.


"Hey, kau pikir aku akan memaksamu? aku bukan pria berengsek yang akan memaksamu memberikan dirimu seutuhnya. Tapi aku juga pria normal loh" ucap Arkan meyakinkan istrinya yang tampak gusar itu.

__ADS_1


"Terimakasih Kak" ucap Arta tersenyum.


"Sudah sana bersihkan dirimu" ucap Arkan mengacak-acak rambut Arta.


"Baiklah, tapi aku tak punya pakaian ganti kak" ucap Arta bingung.


Arkan melihat ada beberapa paper bag di sudut ruang kamar hotel itu. Ia beranjak memeriksanya dan benar saja sudah ada beberapa potong pakaian yang disiapkan untuk mereka.


"Ini pakailah" ucap Arkan menyerahkan sebuah paper bag kepada Arta.


Saat Arta membuka dan mengangkat isinya matanya terbelalak melihat sebuah lingerie seksi dalam paper bag itu. Arkan juga terkejut melihat isinya, ia tak menyangka bahwa isi benda itu sebuah lingerie.


"Kak!! ini apaan sih?" pekik Arta malu, wajahnya memerah melihat lingerie itu.


"Waduh! pasti kerjaan Mama nih," ucap Arkan gelagapan melihat lingerie seksi itu.


"ihk masa Arta pakai beginian," ucap Arta mengangkat lingerie itu dan mengarahkannya ke Arkan.


"Udah letakin aja, biar Kakak telpon asisten kaka ngantarin baju buat kita," balas Arkan.


Arkan menelepon asistennya untuk mengantarkan pakaian ganti untuk mereka berdua.


Tak beberapa lama, pakaian mereka sampai. Secara bergantian Arta dan Arkan membersihkan diri mereka lalu bersiap untuk tidur.


Arkan yang sudah sedari tadi duduk di atas tempat tidur menatap Arta bingung karena sedari tadi gadis itu tampak mengantuk tapi tak juga naik ke tempat tidur.


"Ar, kamu ngantuk banget kayaknya tidurlah," ucap Arkan pada Arta.


"hmm itu kak hmm," ucap Arta gugup.


"Udah sini,Kakak gak bakal macam-macam kok," ucap Arkan seolah mengerti kegundahan istrinya itu.


Arta naik ke atas tempat tidur lalu mendaratkan tubuhnya di pinggir kasur.


"Ya ampun Arta! segitu takutnya kamu sama aku?" ucap Arkan sambil menarik tubuh Arta lalu membenarkan posisi gadis itu.


Arta cukup terkejut tapi ia menurut saja karena rasa gugupnya belum juga berhenti.


"Nah gini kan bagus, udah tidur gak usah mikir yang macam-macam," Ucap Arkan menyelimuti tubuh Arta.


Arta memejamkan matanya, tak beberapa lama ia sudah terlelap karena terlalu lelah selama resepsi.


Cup


Arkan mencium kening istrinya yang sedang tidur itu.


"Ku harap kamu mau buka hatimu Arta, Aku mencintaimu," ucap Arkan memandang wajah Arta.


Arkan sudah memastikan bahwa hatinya telah jatuh cinta pada istri sahnya itu. Kini tinggal menunggu apakah Arta memiliki rasa yang sama dengannya atau apakah dia butuh perjuangan lebih untuk mendapatkan hati istrinya itu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2