
Arkan melangkahkan kakinya menuju kediaman Whitegar, jam menunjukkan pukul 8 malam, sebelumnya ia singgah di apartemen Roki menyelesaikan beberapa urusannya.
Arkan mencari keberadaan istri dan anak-anaknya, "dimana mereka Pak Kus?" tanya Arkan sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Nyonya muda, tuan dan nona sedang berada di kamar tuan," jawab Pak Kus dengan hormat.
"Apa kak Sam sudah pulang?" tanyanya lagi.
"Belum tuan, sepertinya tuan Samuel akan kembali larut malam," balas Pak Kus lagi.
"Hmm...baiklah aku ke atas dulu, terimakasih pak Kus!" ucap Arkan berjalan meninggalkan Pak Kus.
Dengan sangat pelan,Arkan membuka pintu kamarnya, terdengar suara tawa di dalam kamar itu. Tampak Arta dan si kembar tengah asik membaca sebuah buku cerita sambil sesekali bercanda dan tertawa satu sama lain,sungguh pemandangan yang menyejukkan hati.
"Ehem....," deham Arkan membuat ketiga orang itu menghentikan candaan mereka.
"Papa!" teriak Jo dan Jen langsung bangkit berdiri dan turun dari kasur disusul oleh Arta, mereka menghamburkan pelukan mereka pada Arkan.
"Kalian asik sekali berceritanya sampai tidak mendengar Papa hmm?" ucap Arkan gemas, ia mencium kedua anaknya berkali-kali membuat mereka berdua kegelian.
"Maaf kak, kami tidak dengar tadi," ucap Arta ikut tersenyum melihat kedekatan mereka.
Arkan bangkit berdiri, ia menatap Arta dengan hangat.
cup
Satu kecupan mendarat di kening istrinya, membuat Arta memerah karen malu sekaligus senang mendapat perhatian seperti itu.
"Ayo sini, Papa punya hadiah buat kalian," seru Arkan membawa mereka bertiga duduk di atas kasur.
"Hadiah? hadiah apa Pa?" tanya Jeni penasaran.
"Duduk dulu sini," ucap Arkan.
Lalu ia membuka paper bag yang dibawanya tadi, pertama ia mengeluarkan dua buah kalung yang sangat indah dengan mata kalung berinisial J.
"Ini untuk kalian, pakai terus ya sayang jangan dilepas. Papa pasang pelacak disini supaya Papa tahu posisi kalian dimana," ucap Arkan sambil memasangkan kalung itu dibantu oleh Arta.
"Wah cantik Pa, Jeni suka heheheh..." kekeh Jeni dengan mata berbinar-binar menerima hadiah kecil itu.
"Terimakasih Papa," ucap Josua sambil melihat kalungnya dengan bahagia.
"Wah bagus sekali kak," ucap Arta selesai memasang kalung milik Josua.
__ADS_1
"Nah dan ini untuk istri tercintaku," ucap Arkan sambil mengeluarkan sebuah kalung yang tak kalah indahnya.
Arta terkejut melihat kalung cantik itu, sungguh ia sangat menyukai bentuk bintang di kalung itu. Dengan lembut Arkan memasangkan kalung indah itu di leher istrinya.
"Perfect!!" seru Arkan melihat kalung itu sangat cocok dengan Arta.
"Hiks...hiks...hiks....terimakasih kak," ucap Arta terharu bahagia dengan pemberian sederhana itu. Arkan tersenyum melihat Arta, ia bahagia ternyata usulan wanita yang ditemuinya tadi sangat berguna.
"Apa kau suka?" tanya Arkan, Arta mengangguk bahagia, ia tak menyangka akan mendapatkan hadiah semanis ini.
"Syukurlah, aku sampai konsultasi pada Ibu hamil loh untuk menemukan hadiah yang tepat untukmu, mana dia istri polisi lagi heheheh," kekeh Arkan membuat Arta tersenyum bahagia dengan penuturan suaminya.
"Terimakasih Sayang," ucap Arta sambil tersenyum malu-malu. Sungguh jika tidak ada si kembar di kamar itu, maka Arta sudah habis dilahap oleh Arkan.
Arta melihat mata kalung itu, tertulis disana Argaka, nama keluarga kecilnya, ia tersenyum sekilas melihat ukiran itu.
"Nah ini lagi ada hadiah untuk anak-anak Papa" ucap Arkan mengambil paper bag yang lebih besar.
Arta membulatkan matanya, ia melihat betapa borosnya suaminya itu.
Arkan sadar dirinya tengah dipelototi oleh Arta menatap Arta dengan lembut, "sayang kumohon jangan marah, aku sangat ingin melakukan ini untuk mereka," ucap Arkan dengan raut wajah tak biasa.
Arta mengerti pasti ada alasan dibalik ini, ia hanya tersenyum menanggapinya dan membantu kedua anaknya membuka hadiahnya.
"Ada apa nak?" tanya Arta lembut sambil mengusap kepala anak lelaki itu.
Josua menatap Mamanya dengan mata berkaca-kaca, tak lama tangisnya mulai pecah'.
"Hiks..hiks..hiks...Mama...hiks...hiks... terimakasih huhuhuh..." tangis Josua tersedu-sedu melihat pemberian Orangtuanya.
"Ehh...sa..sayang kamu kenapa? jangan nangis dong hmm?" ucap Arta memeluk Josua dengan erat, ia mencium pucuk kepala anak kecil itu dengan lembut dan memberikan pelukan hangat seorang ibu padanya.
"Josua kan anak yang kuat, kamu boleh nangis kalau di depan Papa, Mama dan Jeni saja ya, kalau di luar Josua harus bisa jadi orang kuat," ucap Arkan yang ikut berkaca-kaca melihat tangisan Josua. Arta masih belum mengerti situasinya, namun ia yakin akan mendengar penjelasannya nanti.
Setelah menangis sepuasnya, Josua menatap ke arah kedua orangtuanya.
"Sudah nangisnya sayang?" tanya Arkan yang dianggukkan oleh Josua.
"Ya sudah sana bermainlah, kamu bebas mau main apa, makan apa, tidur diman, berteman dengan siapa, Kami akan melindungi mu jangan takut ya," ucap Arkan sambil mengelus wajah sembab Josua.
Josua meraih mainannya dan menyusul Jeni yang tengah asik bermain di atas Karpet.
"Sayang, Josua menangis karena ia bahagia, ia bahagia bisa bermain lagi dan punya keluarga. Dia sudah melalui banyak hal...," lirih Arkan dengan mata berkaca-kaca menatap anaknya sembari mengingat video yang ditontonnya saat di apartemen Kart/Roki.
__ADS_1
"Dia anak yang kuat kak hiks hiks, aku akan menjaganya dia anak kita," ucap Arta sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Oh iya, kita harus cari donor ginjal untuknya," ucap Arkan mengingat jika Josua saat ini hanya memiliki satu ginjal karena ginjalnya di ambil paksa oleh orang yang membelinya.
"Iya, kakak benar kita harus cari secepatnya, aku tak inggin anakku kenapa-kenapa," ucap Arta masih dalam posisi yang sama.
Mereka menatap anak-anak mereka yang tengah menikmati mainan baru mereka.
.
.
.
"Lusa adalah pernikahan Tania dan Robin pa, itu artinya kita harus menjalankan rencana kita," ucap Fanya yang duduk di samping Jaya.
"Iya Mama benar, lusa kita akan gunakan kesempatan itu menjebak mereka dan menguasai perusahaan baru itu," ucap Jaya dengan senyuman menyeringai di wajahnya.
"Tapi bagaimana masalah keamanan Pa?" tanya Fanya khawatir.
"Maksudmu?" balas Jaya tak mengerti.
"Pa mereka itu perusahaan besar, apa menurutmu presdirnya tidak curiga dengan kedua alat kita itu? Mama takut mereka justru akan mengetahui rencana kita.l," ucap Fanya mengungkapkan kekhawatirannya.
"Tenang Ma, Papa sudah punya semua informasi tentang kedua perusahaan itu, seperti yang papa bilang mereka sangat ceroboh, sistem keamanannya belum sekuat milik Whitegar sehingga hacker handal kita bisa membobolnya dengan mudah," ucap Jaya dengan seringai di wajahnya.
"Baiklah, Mama akan culik Arta, lalu apakah gadis itu sudah diamankan, dia tidak akan berani buka mulut bukan?" tanya Fanya mengenai wanita yang akan mereka peralat.
"Sanjaya yang mengurus gadis itu, sepertinya rencana kita akan berjalan mulus kali ini ma, dan kita akan mendapatkan sumber uang paling besar di negeri ini hahahah," tawa Jaya puas.
Pasangan suami istri itu menikmati minuman mereka dengan serangkaian rencana jahat di otak mereka.
.
.
.
***I am Back guys,
like, vote and comment below!!👌😊😊😊
thanks for your time, send virtual hug from here! 🤗🤗***
__ADS_1