Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
Jordan


__ADS_3

Hari menjelang malam, Arta tiba di rumah sakit tempat Tito dan Karina di rawat sendirian sebab Celo kembali ke perusahaan karena ada klien yang mendesak bertemu.


Ia menemui Kart yang sedang menunggu di ruang tunggu, sementara Arkan pergi keluar untuk mengambil baju ganti untuk dirinya dan Kart.


"Kak!" panggil Arta pada Kart yang tengah duduk bersandar di kursi tunggu itu sambil memainkan benda pipih di tangannya.


"Tuan putri, kau sudah sampai" ucapnya berdiri sambil merentangkan kedua tangannya.


"Wah, kemana kok Roki? " tanya Arta sambil masuk ke dalam pelukan Kart.


"Hmm, apa kau tak mau bertemu denganku? mengapa semua orang tampaknya kecewa karena dia tidak bangun?" ucap Kart dengan nada sedih sambil memeluk Arta dengan erat.


"Hushh siapa yang kecewa, hanya heran saja karena ini belum waktu kakak" jelas Arta sambil mendongakkan kepalanya menatap mata kakaknya itu.


"Arta rindu kakak " ucapnya manja.


"Adikku yang manis ini ternyata masih ingat kakaknya ya hahha" kekeh Kart sambil mengacak acak rambut Arta dan melepas pelukannya.


" Bagaimana keadaan mereka kak?" tanya Arta.


"Duduklah dahulu, mereka masih istirahat" ucap Kart sambil menggenggam tangan Arta dengan erat.


"Lalu kondisi kakak?" tanya Arta menatap Kart dengan sendu, ia tahu jika Kart saat ini sedang dalam masa yang buruk. Apalagi Roki tidak bangun tidak seperti biasanya.


Kart menatap Arta dengan sendu, tampak gurat kesedihan di matanya.


"Kakak takut dia pergi Ar, kakak belum siap melepasnya" ucap Kart lirih. Roki adalah alter ego yang dia andalkan selama ini untuk bertemu dengan orang-orang di luar sana, jika Roki hilang maka hidupnya akan kacau.


"Kak, sebaiknya kakak konsultasi, jangan membuat asumsi yang belum pasti hanya akan menambah beban kakak" ucap Arta sambil mengelus punggung pria tampan itu.


"Karina juga akan sedih jika melihat kakak seperti ini" lanjut Arta.


"Hufftt entah sampai kapan aku akan begini" ucapnya sendu. Kart hanya menunjukkan sisi lemahnya di hadapan adiknya dan Karina.


Sebab dua wanita inilah yang menemaninya sejak kecil, Karina adalah teman masa kecil Kart dan mereka sempat terpisah karena penculikan di masa lalu yang menewaskan seluruh keluarga Karina dan menyebabkan trauma pada Kart.


Mereka berdua diculik oleh kelompok perdagangan manusia selama seminggu, selama itu pula Kart mengalami kekerasan dan pelecehan yang seharusnya dialami Karina, beruntung ia bisa melindungi karina agar gadis itu tidak diperkosa dengan mengorbankan dirinya sebagai objek nafsu para penculik itu.


Pelecehan anak di bawah umur oleh para pedofil, penyiksaan dan kekerasan fisik menyebabkan trauma bagi Kart hingga saat ia kehilangan kesadarannya, Roki bangun dan menyelamatkan dirinya dan Karina dengan beragam rencana licik yang di karangnya.


Roki lebih licik dan cerdik dibanding Kart tetapi dia lemah dalam berkelahi berbanding terbalik dengan Kart. Roki lebih banyak menggunakan otak sedangkan Kart banyak memakai otot.


Mereka bisa selamat waktu itu karena Roki memasukkan racun yang seharusnya diberikan pada mereka ke dalam minuman para penjahat itu. Sejak saat itu,Karina dan Roki/Kart selalu bersama.


"Ayo kita masuk ke ruangan Karina kak" ajak Arta.

__ADS_1


"Ayo" jawabnya sambil membuka pintu ruangan VIP tempat Karina di rawat.


"Karina, apa kau tak bosan tidur begitu, lihat kakakku ini sudah sangat merindukanmu" ledek Arta sambil menatap Kart dengan tatapan mengejek.


Karina membuka matanya perlahan-lahan, matanya berkedip-kedip menelusuri seluruh ruangan, dan didapatinya Arta dan Kart berdiri dengan raut wajah bahagia di sampingnya.


"Kamu udah sadar? mana yang sakit? perlu sesuatu? hmm?" tanya Kart dengan beragam pertanyaan karena melihat Karina sadar.


"Aku dimana?" tanya Karina dengan suara paraunya.


"Di surga kak hahahah" kekek Arta menggoda Karina.


"Arta please!" ucap Kart dingin.


"Huhhh es balok marah, aku takut kakak ipar" ucap Arta menghamburkan pelukannya pada Karina. Kart menatap jengah dengan tingkah kekanakan adiknya itu.


"Hahah,kalau esnya marah peluk matahari dong biar cair" balas Karina dengan senyuman teduh di wajahnya.


" no..no..no..jangan belum boleh peluk-peluk, Arta dulu yang peluk" ucap Arta tak mau melepaskan pelukannya dari tubuh Karina.


"Arta, lepas gak? gitu amat sama kakak sendiri" ketus Kart tak mau kalah seperti rebutan mainan dengan adiknya.


"Gak mau week, eh dokternya udah datang kakak meluknya nanti ya heheheh" ledek Arta melepas pelukannya saat dokter tiba karena Arta menekan tombol darurat di bawah tempat tidur Karina.


"Sabar sabar, untung adek kalau nggak" ucapnya terhenti.


"Tuan, nona, keadaan nona Karina sudah stabil namun masih harus di rawat inap untuk pemulihan" jelas Dokter tersebut.


"Baik dok, terimakasih atas bantuannya" ucap Kart dan Arta bersamaan dan di balas senyuman oleh dokter itu.


"Astaga gak sabaran amat meluknya!!, ya udah Kak, aku lihat kak Tito ya, bentar ya kak Karina Arta mau lihat kak Tito" ucap Arta pada kedua manusia yang tengah berpelukan itu.


"Ar, boleh aku ikut?" ucap Karina sambil bangkit dari tempat tidurnya.


"Tunggulah sebentar lagi Kar, aku takut kau kenapa-kenapa" ucap Kart khawatir.


Arta menaikkan alisnya heran,


"Kakak mau ketemu kak Tito? mau ngapain?" tanya Arta heran.


"Tolonglah bawa aku kesana" pinta Karina dengan lembut.


"Hufft baiklah, sebentar aku cari kursi roda ya kak" ucap Arta lalu berlari keluar .Saat ia membuka pintu ia melihat Arkan membawa Tito dengan kursi roda menuju ruangan itu.


"Kak Arkan, Kak Tito!" seru Arta.

__ADS_1


"Loh kapan kamu datang sayang?" tanya Arkan memanggil Arta dengan ucapan sayang di hadapan orang-orang itu. Wajah Arta bersemu, jantungnya dag Dig dug tak karuan karena malu.


"Ehmm setengah jam yang lalu kak" ucapnya menundukkan kepala lalu masuk ke dalam ruangan rawat Karina.


"Loh kok gak bawa kursi rodanya dek?" tanya Kart bingung.


"Tuhh" ucap Arta menunjuk Arkan yang membawa Tito di atas kursi roda.


Pandangan mata Tito dan Karina terkunci,ada rasa sedih, rindu, penasaran dan rasa khawatir yang mendalam di mata keduanya.


Tito mendekati Karina dibantu oleh Arkan. Sementara Arta hanya bingung, ingin bertanya tapi belum dapat timenya.


"Karina" ucap Tito menatap wajah Karina dengan sendu. Karina hanya diam terpaku.


"Ini kakak, Kak Jordan, Supermannya Karina. I am the Superhero for my little princess Karina" ucap Tito sambil menggenggam tangan Karina, tak terasa air matanya jatuh dan membasahi pipinya.


Karina tak mampu berkata-kata, kata-kata yang dirindukannya, kata-kata yang selalu diucapkan Kakaknya saat ia jatuh sakit, saat ia sedih, saat ia terjatuh dan di setiap moment hidupnya. Mata Karina berkaca-kaca, dadanya terasa sesak, ia membelai lembut wajah Tito, menghapus air mata itu.


"Kak,I am your little Princess always until forever hiks hiks hiks Kakak...." tangisnya tersedu-sedu, ia langsung turun dari tempat tidurnya dan memeluk erat tubuh kakaknya itu.


Tito menangis bahagia, karena adiknya yang sudah lama hilang sejak tragedi yang menghancurkan seluruh keluarganya dan mengambil nyawa kedua orangtuanya akhirnya ditemukan.


"Hiks hiks hiks, kupikir kakak sudah pergi bersama Papa dan Mama hiks hiks hiks" tangisnya tersedu-sedu di dalam dekapan Tito.


"Kak Jordan hiks hiks hiks kakak....."


"Hushh kakak merindukanmu adikku sayang, hiks hiks waktu itu kakak pikir kau sudah dijual oleh penculik itu. Saat kau hilang, terjadi demonstrasi saat di pasar, Mama dan Papa terseret ke dalam dan akhirnya meninggal. Kakak sudah tidak ada harapan lagi saat itu" jelas Tito.


"Kak Jordan, Karin pikir Kakak juga meninggal, karena tetangga bilang kalau Mama, Papa dan Kak Jordan sudah dikebumikan hiks hiks hiks hiks. Sejak hari itu, Karin tinggal di sebuah panti asuhan dan berakhir diadopsi saat Karina berumur 10 tahun, tapi 5 tahun kemudian, mereka meninggal dan Karina hidup sebatang Kara hingga dipertemukan kembali Dengan Arta dan Kart, sejak saat itu kami hidup bersama " jelas Karina.


Arta, Kart dan Arkan turut bahagia, karena akhirnya kakak beradik itu dipertemukan.


"Hah.... syukurlah kau selamat, Kart,Arta terimakasih telah menjaga adikku selama ini hiks hiks hiks" ucap Tito.


"Jadi kami memanggilmu Tito atau Jordan nih?" goda Arkan.


"Heh terserahmu saja " jawab Tito tak peduli.


"Sudah nangis-nangis nya apa kalian tidak lapar hmm?" cerocos Arta sambil memegangi perutnya yang sudah keroncongan.


.


.


.

__ADS_1


.


Give like, comment and vote 😊😊😊


__ADS_2