Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
Tante Menor dan Om Gembul


__ADS_3

Setelah mendapatkan perawatan intensif yang mengharuskan Arkan dan Arta bolak balik rumah sakit selama 3 hari, akhirnya si kembar Jo dan Jen diizinkan pulang ke rumah.


Sebelum keluar rumah sakit, Jo dan Jen dipasangkan masker agar tidak dikenali oleh orang- orang mengingat kejadian yang menimpa mereka sebelumnya.


"Jo dan Jen sayang, kalian pakai masker dan topinya ya sayang" ucap Arta pada si kembar.


"Kenapa Ma?" tanya mereka bersamaan.


"Begini, Mama dan Papa takut orang-orang jahat itu akan mengenali dan menculik kalian. Mama dan Papa gak mau kejadian seperti kemarin terjadi lagi" jelas Arta pada si kembar.


"Oke deh Ma" balas mereka kompak sambil tersenyum menunjukkan gigi kecil mereka.


Arta memasangkan topi dan masker kepada mereka berdua. Beberapa saat kemudian Arkan datang setelah mengurus masalah administrasi si kembar.


"Kalian sudah siap?" tanya Arkan masuk ke ruangan itu.


"Siap Papa!" ucap mereka penuh semangat.


Arkan, Arta dan si kembar masuk ke dalam lift menuju lantai 1 sebab rumah sakit itu punya 6 lantai dan kamar mereka berada di lantai 6 . Arkan dan Arta masih dengan penampilan lama mereka yang pasti mencuri perhatian orang-orang untuk mencibir dan menjelek-jelekkan mereka.


"Keluarga miskin!" ejek seorang pria dalam lift itu.


"Lihat penampilan buluk mereka, cih gak selevel dengan kami" ucap istri pria itu yang menggandeng seorang anak laki-laki seumuran Jo dan Jen.


"Lihatlah anak mereka seperti tidak terurus" ucapnya lagi pada suaminya.


"Tidak selevel dengan kita Mami, bagaimana mereka membiayai administrasi rumah sakit ini? pakaian mereka saja buluk! " ejek suaminya lagi dengan suara agak dikeraskan.


Arkan dan Arta hanya diam tak menanggapi cibiran orang-orang itu.


Namun, Jo yang digendong Arkan dan Jen yang dipangkuan Arta menatap mereka dengan tatapan tajam.


"Maaf Om gembul dan Tante menor, Papa dan Mama orang baik jangan bilang yang nggak-nggak ya " ucap Josua sambil membuka maskernya.


"Jangan ejek Mama dan Papa ya Om Gembul dan Tante menor!" ucap Jeni dengan tatapan tak suka.


"Cih dasar anak-anak tidak tahu sopan santun!" cibir wanita itu.


"Dasar tidak sopan! kalian sama seperti orangtua cupu dan cacat kalian itu!" bentak suami wanita itu.


Arta dan Arkan berbalik lalu memandang tajam ke arah mereka berdua.


"Jaga sopan santun Anda tuan, Nyonya!" tegas Arkan dengan tatapan tajam.


"Apa perlu ku buat wajah menormu itu cacat seperti wajahku ini hah?" gertak Arta kesal.


"Cih orang miskin! kalian tak selevel dengan kami yang bekerja di Mars Company, kami orang kepercayaan disana, kalian hanya orang orang miskin yang menyedihkan!" ejek wanita itu pada mereka.


Ting


Lift sampai di lantai pertama.


"Minggir, orang kaya mau lewat!" ucap wanita itu dengan angkuh bersama dengan anak dan suaminya.


Mereka bertiga keluar dari lift, Wanita itu berjalan sambil sengaja menyenggol bahu Arta dan hampir membuat ia jatuh, beruntung Arkan segera menarik tangan Arta.


"Dasar orang-orang jahat!" ucap Arta kesal.


Mereka pun keluar dari lift itu lalu berjalan menuju pintu keluar.


"Kalian tak usah dengar ejekan mereka ya sayang!" ucap Arkan pada si kembar.


"Tapi mereka jahat Pa" ucap Josua kesal.

__ADS_1


"Ia mereka ngomong gak benar huh" kesal Jenny mengerucutkan bibirnya.


"Biarkan saja sayang, Papa akan urus mereka nanti" ucap Arkan menatap benci kepada orang-orang tadi.


"Sudahlah, jangan pedulikan mereka. Ayo pakai lagi maskernya" ucap Arta memperbaiki masker si kembar.


"oh kalian karyawan di perusahaanku ternyata. Lihat saja nanti" gumam Arkan kesal.


Mereka keluar dari rumah sakit menuju parkiran mobil. Saat di parkiran lagi-lagi keluarga sombong itu melayangkan ejekan bahkan dengan suara yang sengaja dibesarkan .


"Wah ada orang miskin! mau ngapain hah? mau ngemis? nih ada yang merah buat kalian!" ujar wanita menor itu sambil melemparkan beberapa lembar uang merah ke hadapan Mereka.


"Dasar manusia sombong! heh nyonya kaya, berkaca dahulu itu wajahmu seperti ondel-ondel , Menor!!" gertak Arta yang sudah sangat kesal.


Wanita itu menatap kesal ke arah Arta.


"Berani-beraninya kau Jalang!!" teriak wanita menor itu.


"Mommy sudahlah biarkan saja mereka!" ucap suaminya menarik tangan istrinya yang hampir mendekati Arta.


"Ayo pulang" ucap Arta pada keluarganya.


Mereka mendekati sebuah mobil mewah yang tentunya limited edition yang terparkir rapi di sana.


"Eh... eh.. eh ngapain kalian dekat-dekat mobil itu? bisa lecet nanti!" sindir wanita menor itu.


"Astaga apa lagi aksi ondel-ondel Menor ini huh" kesal Arta dalam hatinya.


Arkan mengerutkan keningnya menatap datar ke arah wanita itu.


"Heh jangan tatap tatap istriku dasar cupu!" bentak Pria gembul itu.


Arkan dan Arta tak habis pikir mengapa ada orang yang begitu sombong seperti mereka ini.


"Sudah-sudah biarkan saja, ayo kita masuk ke mobil" ucap Arkan.


Arkan mengeluarkan kunci mobilnya lalu membuka mobil limited edition itu.


"tit tit"


Sontak Keluarga sombong itu terkejut, dan mencari cari siapa kira-kira pemilik mobil mewah itu.


Arkan membukakan pintu belakang lalu memasukkan si kembar di kursi penumpang. Kemudian membukakan pintu depan disamping supir untuk Arta. Lalu masuk ke kursi pengemudi dan melajukan mobilnya meninggalkan keluarga sombong itu.


Mulut keduanya menganga tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Orang yang mereka teriaki miskin punya mobil semewah dan semahal itu. Apa dunia ini sudah terbalik pikir mereka.


"Apa!! Bagaimana mungkin orang miskin itu punya mobil semewah itu??" ucap Wanita menor itu.


Pria gembul itu hanya diam terpaku saat ia melihat plat nomor khusus yang sepertinya sering ia lihat di perusahaan tempat ia bekerja.


"Sepertinya aku pernah melihat plat itu, tapi dimana?" bingungnya.


"Mommy, Daddy !!!! " teriak anak mereka yang sedari tadi sudah geram dengan aksi sombong orangtuanya itu.


"Eh iya sayang iya, sebentar ya" ucap Wanita menor itu gelagapan karena tak mau anaknya marah.


"Mommy dan Papi apa apaan sih? dari tadi Egi malu karena Mommy dan papi ejek ejek orang lain" ketus Egi pada kedua orangtuanya.


"Iya maaf sayang. Ya sudah kita pulang" ucapnya.


Arta dan Arkan sampai di rumah utama keluarga Whitegar. Mereka disambut antusias oleh para pelayan disana, terutama kehadiran anggota keluarga baru yang akan mewarnai rumah yang sangat sepi itu.


"Selamat siang tuan, nyonya, tuan dan nona muda" sapa pelayan yang biasa dipanggil Pak Kus itu.

__ADS_1


"Selamat siang Pak Kus, dimana orangtuaku?" tanya Arkan.


"Tuan dan Nyonya besar di ruang keluarga tuan" balas Pak Kus dengan hormat.


"Baik, terimakasih tak usah antar kami" ucap Arkan lalu menggandeng Arta dan si kembar masuk ke dalam rumah mewah itu.


"Ayo sayang kita ketemu Kakek dan Nenek" ucap Arkan pada si kembar.


Mereka masuk ke dalam ruang keluarga dan mendapati Papa George dan Mama Lily yang tengah menonton Tv disana.


"Siang Pa, Ma!" sapa Arkan mengejutkan kedua orang tua itu.


"Wah siapa yang datang ini" seru Mama Lily menoleh ke arah Arkan dan keluarganya.


"Wah menantu dan cucu-cucuku sudah sampai, kemarilah kami rindu kalian" ucap Papa George senang.


"Kakek Nenek! " teriak si kembar menghampiri mereka.


"jangan lari-lari sayang" ucap Mama Lily merentangkan tangannya untuk memeluk cucu angkatnya itu.


"Heheheh,Jen Rindu Nenek cantik dan Kakek tampan. Jen nggak suka di rumah sakit" celoteh Jenny kecil di pangkuan Mama Lily.


"Jo juga rindu sama Kakek hero dan Nenek super!" ucap Josua tak kalah semangat.


"Hahahahahha kami juga rindu sayang" ucap Papa George memeluk Josua.


"Kemarilah Arta, Mama rindu kamu sayang" ucap Mama Lily merentangkan tangannya dan dibalas pelukan oleh Arta.


"Arta juga Ma, kalian sehat kan?" tanya Arta yang memang selama beberapa hari ini tak bisa bertemu dengan mertuanya itu.


"Sehat sayang, ya sudah duduk dulu sini. Nanti kamu temani Mama belanja ya heheh" ucap Mama Lily antusias.


"Baik Ma" balas Arta tersenyum manis.


"Jen ikut ya Nek" ucap Jenny dengan mata memelas.


"Heheheh boleh sayang boleh. Jo mau ikut?" ucap Mama Lily .


"Mau!!" seru Josua antusias.


"Oke kita nanti ke Mall sama-sama. Kalau begitu kita makan siang dulu ya" ucap Papa George tak kalah semangat.


"OKi Doki Kakak Hero!" seru Jo dan Jen semangat sambil membulatkan jarinya.


"Hahahahhah Oki doki cucu kakek" balas Papa George dengan gaya yang sama.


Mereka tertawa bahagia hingga suara deheman seseorang yang sedari tadi dicueki menghentikan tawa mereka.


"Ehem...Ehem, mentang-mentang ketemu menantu dan cucunya, anak sendiri tak dianggap ya" ketus Arkan yang sedari tadi dikacangin oleh mereka.


"Hahahahah, Mama bosan sama kamu nak ke dapur aja gih masak buat kita" celetuk Mama Lily.


"Arkhh apa salahku Tuhan? Aku sudah tak dianggap disini" gerutu Arkan dengan wajah ditekuk tekuk seperti kain kusut.


"Hahahahah bercanda sayang, kemarilah Mama kangen" ucap Mama Lily.


"Hehehe,Arkan juga rindu kok sama Mama, tapi sama Papa nggak hahahah" ucap Arkan memeluk Mama Lily.


"Hus siapa juga yang mau dirindukan sama anak tengil sepertimu, aku sudah punya menantu cantik dan dua jagoan kecil jadi kamu sudah expired" ketus Papa George.


"Hahahaha " mereka semua tertawa bahagia dengan candaan receh di siang hari itu.


"Terimakasih Tuhan" gumam Arta terharu karena mendapatkan keluarga baru yang hangat seperti mereka.

__ADS_1


__ADS_2