
Arkan berdiri di depan mereka semua sedangkan istrinya duduk di samping Indah, Celo dan anak-anak.
Semua mata terpusat pada pria tampan dan berkharisma itu.
"Paman dan Bibi Whitegar Rouland serta Vika, mungkin ini akan menjadi berita yang mengejutkan bagi kalian, bahkan aku pun tak menyangka bahwa hal ini terjadi," ucap Arkan memulai pengumumannya.
Paman dan Bibi WR serta Vika mengerutkan kening mereka masing-masing.
"Tujuh belas tahun lalu, kita kehilangan sosok bayi mungil yang cantik, menurut penjelasan dokter, dia meninggal karena sakit yang dialaminya iya kan?" ucap Arkan seraya bertanya.
Paman dan Bibi WR mengangguk pelan, mereka sedih jika mengingat kejadian itu.
Vika memeluk lengan suaminya untuk mendapatkan kekuatan, sebab hatinya kembali sakit saat mengingat bagaimana adiknya meninggal.
Tito memeluk Vika dengan erat, ia tahu hati istrinya pasti sakit, namun ia masih menunggu apa maksud tuannya.
"Anak Paman dan Bibi, sepupu kami, adik kandung Vika tidak meninggal di hari itu!" ucap Arkan tegas.
Tampak Paman dan Bibi WR, Vika, orangtua Arkan, bahkan Tito terkejut dengan pernyataan Arkan. Celo sendiri diam karena ia sudah tahu, Celo lah yang juga ikut ambil bagian dalam mencari tahu semua kebenaran tentang kematian adik Vika.
Arta tampak tenang, begitu juga dengan Indah yang tidak tahu menahu tentang masalah keluarga Whitegar.
"Nak jangan bermain-main, apa maksudmu? Angel sudah meninggal, tidak usah kita ungkit lagi, jangan membuka luka lama nak," ucap Mama Lily yang kini merangkul Bibi WR yang sedang sedih.
"Ma, Arkan tidak pernah bermain main, Arkan sudah menyelidiki ini semua, dan Arkan tahu apa yang sebenarnya terjadi," ucap Arkan.
"Jelaskan Arkan!" ucap Papa George.
"Paman, Bibi, Vika, adik sepupuku tidak meninggal di hari itu, suster dan dokter yang merawat angel di hari itu dibayar oleh rival kalian untuk menyatakan bahwa angel telah meninggal dunia karena penyakitnya," ucap Arkan.
"Memang yang kita lihat adalah wajah angel namun saat kremasi, petugas mengganti bayi angel dengan bayi lain," jelasnya.
"Apa!!" teriak Bibi WR histeris.
"Mommy!" lirih Vika yang mulai menangis di samping suaminya.
"Tenanglah sayang, kita dengarkan dulu," ucap Paman WR berusaha tenang meskipun perasannya tak karuan.
"Bayi Angel yang kita makamkan tujuh belas tahun lalu bukanlah bayi Angel anak paman dan Bibi,"
"Angel diletakkan di depan sebuah panti asuhan dengan keadaan masih sakit, kain pembungkus serta sapu tangan dengan lambang WR dan matahari menjadi satu-satunya yang melekat di tubuh bayi mungil itu,"
Indah yang mendengar ucapan Arkan menjadi terdiam, ia teringat dengan sapu tangan yang selalu di bawanya kemana-mana, sapu tangan yang selalu menemaninya sejak ia kecil dan ditemukan di panti asuhan.
"Setelah dirawat di panti, dua tahun kemudian sebuah keluarga yang sangat kita kenal mengadopsi Angel, awalnya mereka sangat menyayangnya, tapi setelah kelahiran bayi perempuan mereka, kasih sayang itu berangsur-angsur menghilang,"
"Bahkan saat anak perempuan mereka meninggal, mereka menyalahkan bayi Angel dan menyiksa anak itu sampai ia dewasa," ucap Arkan .
Indah menunduk," Bagaimana kisah hidup kami bisa sama? ini mungkin hanya sebuah kebetulan," batin Indah.
Celo dan Arta melihat Indah menunduk. Arta mengambil tangan gadis itu dan menggenggamnya, Indah menatap bingung ke arah Arta namun ia tetap berusaha untuk tersenyum.
"Angel masih hidup sampai saat ini, seorang wanita cantik yang sangat kalian kenal telah membantunya, istriku Arta," ucap Arkan sambil menatap Arta Sambil tersenyum.
__ADS_1
Semua mata tertuju pada wanita cantik dengan perut mulai membuncit itu. Arta membalas senyuman Arkan, bersama Celo Arta menggandeng tangan Indah.
Indah yang tidak tau apa-apa menjadi kebingungan.
"Kita mau kemana kak? ada apa ini Cel?" bisik Indah saat melihat Arta dan Celo menggandeng tangannya dan bangkit berdiri berjalan menuju tempat berdirinya Paman dan Bibi WR serta Vika dan yang lainnya.
"Tenang Indah, ada kejutan besar untukmu," bisik Celo sambil tersenyum lembut.
Beberapa hari lalu Celo dan Indah resmi me jalin kasih setelah saling menyatakan perasaan masing-masing.
"Vika, Paman, Bibi Angel sudah bersama kita sejak jauh-jauh hari, Vik Angel adik kamu yang sagat kamu sayangi mendatangi kita sendiri, dia adalah Indah!" ucap Arkan.
Deg.....
Mereka semua tercengang dengan ucapan Arkan, Vika, Paman dan Bibi WR menatap ke arah Indah dengan tatapan sayup.
Tangan dan tubuh mereka bergetar tak karuan, pantas saja saat melihat Indah pertama kali di pesta itu jantungnya berdetak kencang, ada perasaan yang tak bisa diartikan olehnya.
"A....apa itu benar Arkan?" ucap Bibi WR berusaha menguatkan dirinya.
"Benar Bi, Arkan sudah melakukan tes DNA dan hasilnya, Indah adalah anak kandung kalian yang kita kira meninggal dunia," ucap Arkan.
"Kak...." Indah terdiam, ia menatap Paman, Bibi dan Vika dengan mata berkaca-kaca, tangannya menggenggam erat tangan tangan Arta dan Celo.
"Pergilah, mereka keluarga kandungmu sayang," ucap Arta.
"Indah," ucap Celo masih setia menggenggam tangan kekasihnya.
Indah menatap Arta dan Celo bergantian, matanya berkaca-kaca.
"Adik kakak...hiks...hiks....huhuhuh....adikku sayang, adikku, Mommy, Dad ini angel huhuhuh," tangis Vika histeris sambil memeluk Indah.
Arta dan Celo melepaskan tangan Indah dan berpindah ke sisi lain untuk memberi ruang bagi keluarga itu.
Paman dan Bibi WR langsung mendekap Indah, mereka menangis bersama. Rasa haru, rindu dan sedih bercampur menjadi satu.
Indah menangis tersedu-sedu saat mengetahui kebenaran tentang keluarga kandungnya, ternyata mereka sangat menyayangi dirinya.
"Anak Daddy sudah besar...a..anak Daddy sayang," ucap Paman WR menangis haru. Tak ada yang menyangka peristiwa ini akan terjadi, mereka yang sudah menerima kematian putri bungsu mereka ternyata mendapati kenyataan bahwa Angel mereka belum meninggal.
"Anak Mommy, hiks hiks hiks, maaf sayang, maaf Mommy rindu sama kamu, anak Mommy," tangis Bibi WR tersedu-sedu.
"Ja..jadi aku punya orangtua, Ka...kalian orangtuaku? hiks dan kakak kandungku?" ucap Indah menangis tersedu-sedu dalam pelukan mereka.
"Iya sayang, kamu anak Mom dan Dad, adik kak Vika, nama Kamu Angel Whitegar Rouland, putri kecil kami yang malang, hiks hiks hiks," ucap Bibi WR sambil mengelus wajah putrinya yang baru ditemuinya setelah sekian belas tahun dianggap meninggal.
Mereka menangis sambil berpelukan, pemandangan yang sangat mengharukan bagi seluruh keluarga, bahkan semua tamu undangan menyaksikan hal itu. Keluarga Sanjaya yang diundang ke acara itu tak berkutik, mereka terdiam saat mengetahui bahwa gadis yang selama ini mereka siksa adalah anak dari keluarga besar Whitegar.
Mama Robin, istri Sanjaya menatap kedua tangannya, ia mengingat betapa kejamnya ia kepada gadis malang yang menjadi korban rival bisnis orangtua kandungnya.
"Aku jahat Pa, aku sudah menyiksanya padahal dia mengalami kejadian yang begitu malang," lirih Nyonya Sanjaya menyesal.
"Terimakasih Arkan, Arta, terimakasih banyak hikss...hiks..hiks," ucap Vika di hadapan kedua orang itu.
__ADS_1
"Kak, ini hadiah pernikahan untuk kalian, ku harap tidak ada lagi yang mengganggu pikiranmu kak semoga kalian berbahagia," ucap Arta sambil memegang tangan Vika dan tersenyum.
"Dan pria tampan yang kakak anggap sebagai adik kakak itu," ucap Arta sambil menunjuk Celo yang tersenyum menatap Indah dan orangtua kandungnya.
"Dia yang mengambil peran paling besar saat mencari tahu semua ini, dia kekasih adikmu kak," bisik Arta.
"Benarkah?" ucap Vika yang dianggukkan oleh Arta.
Vika berjalan mendekati Celo yang terharu, tampak sesekali pria muda itu menghapus air matanya.
"Ehemm....dek makasih ya," ucap Vika.
"Hmmm...eh kakak," ucap Celo sambil tersenyum pada Vika.
"Jadi bagaimana? masih mau jadi adikku atau jadi adik iparku?" goda Vika.
"Ka..kakak sudah tau?" ucap Celo gugup.
"Tau dong, siapa yang tidak tau kalau kalian pasangan, pakaian kalian saja senada," ucap Vika.
"Heheheh, apa kakak memberi ijin?" ucap Celo.
"Aku pasti merestui kalian Cel, karena kamu sudah menjaganya bahkan melindunginya," ucap Vika yakin.
"Terimakasih kak, aku janji akan melindungi Indah," ucap Celo sambil memeluk wanita yang sudah dianggapnya kakak itu.
"Ekhm..." terdengar dehaman seseorang yang tak lain adalah Tito.
"Heheheh, maaf kak Tito hanya sekali, kau sangat pencemburu," ledek Celo lalu meninggalkan mereka disana dan mendekati Indah.
"Kau bahagia?" tanya Tito.
"Sangat bahagia, ini hadiah pernikahan yang tidak akan pernah ku lupakan," ucap Vika sambil memeluk suaminya.
"Terimakasih sayang," ucap Arta sambil memeluk Arkan di sisi lain ruangan itu.
"Aku yang berterimakasih sayang," ucap Arkan sambil tersenyum.
Mereka semua berbahagia di hari yang indah itu, akhirnya seseorang yang mereka rindukan kembali bersama mereka setelah sekian lama.
Happy ending untuk mereka semua
.
.
.
Terimakasih sudah membaca, masih ada season 2 nya tapi setelah Author revisi ya, cerita season satu akan diubah lebih menarik, season duanya silahkan dinantikan.
Maaf kalau terkesan buru-buru, Author akan mengubah sebagian besar cerita.
Masih ada yang belum terungkap disini.
__ADS_1
sampai jumpa, untuk sementara baca novel author yang lain.
👉"Terikat Skandal dengan CEO Lumpuh"