
Mereka berdua turun ke ruang makan sambil terus tersenyum dan bergandengan tangan.
"Arkan!!!" teriak Mama Lily saat mereka turun dari tangga.
Semua orang di meja makan itu melihat ke arah Arkan yang membuat Mama Lily berteriak terkejut.
"Wow!!" ucap Samuel terkejut dengan penampilan baru Arkan.
"Wah tampannya kamu nak!" ucap Papa George bangga dengan penampilan baru putra bungsunya itu.
"Papa keren!" seru si kembar Jo dan Jen.
Para pelayan di rumah itu pun tak kalah terkejut melihat penampilan baru tuan mudanya yang sangat berbeda dengan dirinya dahulu.
"Hehehe siapa dulu yang rias," ucap Arkan menggenggam tangan Arta dengan bangga.
"Ini semua berkat Arta, Ma, Pa, Kak Sam," ucap Arkan bangga.
"Tapi apa kamu tidak apa-apa nantinya nak?" ucap Mama Lily sedikit khawatir.
"Buktinya Arkan baik-baik saja kan Ma selama Arkan dekat dengan Arta," ucap Arkan.
"Syukurlah nak, Arta sayang terimakasih ya," ucap Mama Lily bangkit dari kursinya lalu memeluk erat menantu dan anaknya itu.
"Sama sama Ma, Arta juga akan berubah kok," ucap Arta dengan senyuman ceria di wajahnya.
"Hiks hiks hiks terimakasih sayang, terimakasih banyak," ucap Mama Lily terharu, pasalnya ia selama ini sangat khawatir dengan kesehatan mental putra bungsunya itu.
" Iya Ma, Mama jangan nangis ya nanti Arta ikut sedih," ucap Arta menenangkan ibu mertuanya itu.
" Ya sudah kalian duduklah, nanti makanannya keburu dingin," ucap Papa Arkan .
Mereka pun duduk lalu melaksanakan makan malamnya dengan hening, Arta dengan telaten menyuapi si kembar karena permintaan mereka. Tingkah Arta yang sangat menyayangi si kembar tak luput dari perhatian ke empat orang di meja makan itu.
"Beruntungnya keluarga ini mendapatkan seorang wanita selembut adik ipar. Ya Tuhan sisakanlah satu wanita sepertinya untuk diriku ini," ucap Samuel dalam hati.
"Kami tidak salah pilih menantu, dia gadis baik kami akan melindungi mu sayang," gumam Mama Lily.
"Papah akan melindungi keluarga kecilmu nak," Ucap Papa George.
"Terimakasih sudah mau menerimaku istriku," ucap Arkan memandang Arta dalam-dalam.
Setelah selesai makan malam, mereka beristirahat. Namun Arta dan Arkan tidur bersama si kembar karena mereka merengek ingin di temani orangtuanya.
__ADS_1
Namun sebelum beristirahat, Arkan dan Arta di panggil oleh Papa George dan Mama Lily ke dalam kamar mereka.
"Ada apa Ma, Pa?" tanya Arkan yang duduk di sofa bersebelahan dengan Arta.
"Papa dan Mama akan terbang ke London mungkin akan memakan waktu yang lama disana. Papa akan menitipkan perusahaan pada Kamu, Samuel dan Arta. Kami butuh bantuan kalian untuk mencari musuh dalam selimut di perusahaan kita, apa kalian bisa membantu ?" ucap Papa George serius.
"Hmmm bagaimana Arta? apa kamu bisa?" tanya Arkan balik pada istrinya.
" Arta akan bantu Pa, Ma kebetulan Arta juga punya masalah yang sama di Star Company. Ada musuh dalam selimut," ucap Arta hingga membuat mereka terkejut.
"Bagaimana bisa?" tanya Papa George.
"Entahlah Pa, tapi sepertinya mereka terhubung dengan perusahaan Whitegar. Ada hal yang aneh dengan laporan perusahaan. Mereka tampaknya begitu lihai menyembunyikan kebusukan mereka," ucap Arta menaruh curiga pada beberapa karyawannya.
"Benarkah itu? kalau begitu kita akan bertindak langsung untuk mencari penghianat-penghianat itu," ucap Arkan.
"Kami serahkan pada kalian nak!" ucap Papa George.
"Oh iya, bagaimana dengan kalian?" tanya Mama Lily.
"Kami? kenapa dengan kami ma?" ucap Arkan bingung.
" Hmm Kami menantikan kabar bahagia dari kalian," ucap Mama Lily menaik turunkan alisnya.
"Apa kalian tak mau memberikan kami cucu ?" bisik Mama Lily pada keduanya yang sontak membuat keduanya terkejut. Wajah Arta memerah sementara Arkan berusaha tetap tenang mendengar permintaan Mamanya itu.
"Hahahaha Mama hanya bercanda sayang. Astaga Pa lihatlah menantu kita ini sudah seperti kepiting rebus," goda Mama Lily yang membuat wajahnya semakin memerah.
"Sudah Ma, jangan menggodanya, kalau masalah itu biar kami yang urus," ucap Arkan menarik tangan Arta keluar dari kamar itu.
"Hahaha, kami sangat menantikan itu sayang!" goda Mama Lily lagi.
Arkan menarik tangan Arta keluar kamar, ia khawatir jika istrinya itu akan merasa terbebani dengan permintaan orang tuanya.
"Ar, Maafkan Mama tadi ya Mama gak maksa kok," ucap Arkan menjelaskan.
"I..iya gak apa apa kak. Lagian itu juga hak kakak dan kakak berhak tapi mohon kasih Arta waktu 2 Minggu ya kak," ucap Arta gugup.
"Iya iya, Kakak gak memaksa kalau kamu belum siap. Yang penting kamu mau melakukannya karena memang sudah memantapkan hatimu untuk menjadi milikku seutuhnya," ucap Arkan tak mau membebani Arta.
" Terimakasih kak," ucap Arta menundukkan wajahnya.
"Ya sudah ayo kita istirahat, kita panggil anak-anak," ucap Arkan menarik Arta menuju ruang keluarga dimana si kembar sedang menonton bersama pamannya Samuel.
__ADS_1
"Jo, Jen ayo sudah waktunya tidur nak," panggil Arkan dengan lembut.
" Iya Pa, Josua udah ngantuk," balas Josua mengucek-ucek matanya sambil berjalan menghampiri kedua orangtuanya.
"Jeni mau dibacakan cerita sebelum tidur," ucap Jeni melompat ke arah Arta disambut pelukan oleh Arta.
" Baiklah ayo sayang ucapkan selamat malam dulu sama Paman Sam," ucap Arta.
"Selamat Malam Paman Sam, kami tidur dulu ya," ucap si kembar bersama sama.
" Yah Paman ditinggal, kalian tidur bareng paman aja ya biar Papa Mama bisa menabur benih," goda Samuel yang dihadiahi tatapan tajam dari Arta dan Arkan.
"Huuu takut Singa jantan dan singa betina sudah bangun, Paman Sam pergi dulu ya Bu bay hahahahaha cepat kasih ponakan baru ya!!" ledek Samuel meninggalkan mereka masuk ke kamarnya untuk menyelamatkan diri dari tatapan membunuh pasangan itu.
"Pah,Ma maksud Paman Samuel menabur benih seperti film kartun petani itu ya ?" tanya Jeni dengan polos.
"Eh... i iya sayang. Sudah sudah jangan dengarkan pamanmu itu, ayo kita tidur," ucap Arta gelagapan dengan pertanyaan Jeni. Arkan tersenyum melihat tingkah gugup Arta setiap membahas mengenai hal itu. Wajar saja karena mereka memang belum melakukannya, berciuman saja baru pertama kali.
Arta menggendong Jeni dan Arkan menggendong Josua di pangkuannya.
Arkan tidur di sisi Kanan sementara Arta di sisi Kiri dan tengah tengah mereka Josua dan Jeni. Arta membacakan beberapa dongeng sebelum tidur, Arkan juga ikut mendengarkan Arta membacakan cerita itu dengan sangat menarik. Hingga akhirnya ketiga pendengar itu terlelap mendengar cerita Arta.
Arta memperbaiki selimut mereka, Arta mendekati Arkan lalu mengecup kening suaminya dengan lembut.
"Selamat malam Sayang," ucap Arta tersenyum manis sambil membenarkan posisi tidur suaminya.
Cup
Cup
Arta mengecup kening anak kembarnya secara bergantian.
"Selamat Malam kesayangan Mama," ucap Arta lalu membaringkan tubuhnya di samping Jeni kecil sambil memeluk anak perempuan itu seperti Arkan memeluk Josua.
Malam yang hangat itu mereka lalui dengan dunia mimpi masing-masing. Arkan merasakan kehangatan dalam tidurnya. Semenjak ia tinggal dengan Arta, ia tak pernah mengalami mimpi buruk bahkan penyakitnya tidak pernah kambuh.
Arta akhirnya merasakan kehangatan dari keluarga yang selama ini sangat ingin dia rasakan. Akhirnya dia bisa merasakan tidur nyenyak setelah sekian lama.
Si kembar Jo dan Jen kembali merasakan kasih sayang dari orang tua setelah mengalami banyak kejadian mengerikan.
Tapi ini bukan akhir dari perjalanan mereka. Masih banyak misteri yang harus dibongkar satu per satu mengenai Arta,Roki dan Alter ego-nya, kematian orang tua Arta, Pembunuh orangtua si kembar serta masalah perusahaan yang harus mereka hadapi satu persatu.
Belum lagi menghadapi keluarga Tania yang sangat menyebalkan. bagaimana kelanjutannya?
__ADS_1