
Fanya dan Tania berjalan melenggak-lenggok masuk ke dalam gedung Star Company dengan pakaian branded dan mahal melekat di tubuh keduanya.
Tania seorang publik figur yang banyak dikenal orang langsung saja menjadi pusat perhatian namun tak ada yang berani berbicara, suasana kantor tampak sunyi padahal banyak orang lalu lalang disana.
"Kenapa perusahaan ini sunyi seperti kuburan Mami?" bisik Tania bergidik ngeri melihat wajah datar setiap karyawan yang berpapasan dengan mereka.
Dengan aura kesombongan tingkat Dewa mereka masuk dan disambut oleh resepsionis perusahaan itu.
"Selamat datang nyonya Fanya, nona Tania," sambut resepsionis yang langsung mengenali mereka berdua.
"Hmmm....tunjukkan dimana ruangan Presdir!" titah Fanya sambil meniup-niup kukunya dengan pandangan meremehkan ke arah kedua resepsionis itu.
"Ck...jika bukan karena perintah Ms. Chan aku sudah mencabik-cabik habis wajah sombong penuh tepung kanji mu itu!!" gerutu resepsionis itu dalam hatinya namun wajahnya tetap tersenyum menatap Fanya dan Tania.
"Jangan senyum-senyum kau sangat Jelek! cepat tunjukkan dimana ruangannya!" ucap Tania sedikit membentak, sontak wajah resepsionis itu berubah menjadi datar.
"Silahkan ikut saya nyonya, nona kalian sudah ditunggu di ruang rapat!" ucap resepsionis lain yang berada dihadapan mereka.
Mereka berdua mengikuti arah langkah kaki resepsionis itu menuju lift khusus karyawan. Saat Lift terbuka betapa terkejutnya mereka berdua harus satu lift dengan karyawan yang memandang mereka datar bisa dibilang tanpa ekspresi seperti patung.
"Apa perusahaan ini isinya setan semua? kenapa wajah mereka datar seperti itu," ucap Tania dalam hati, ia sedikit takut melihat orang-orang dalam lift itu namun berusaha disembunyikannya.
"Apa tidak ada lift khusus petinggi? kenapa kami harus satu lift dengan orang-orang rendahan seperti kalian ck..." kesal Fanya menatap sinis ke dalam lift itu.
"Maaf nyonya, lift tersebut hanya boleh digunakan oleh Presdir dan keluarganya, silahkan menaiki lift ini, karena ini satu-satunya yang bisa digunakan tamu," ucap resepsionis itu sambil mempersilahkan mereka masuk.
"Ck....kami juga orang penting disini, aku adalah pemegang saham terbesar kedua di perusahaan ini kenapa aku tak bisa menaiki lift itu," gerutu Fanya sebelum akhirnya karyawan yang datang dari belakang mereka dengan sengaja menerobos masuk hingga mereka berdua ikut terseret ke dalam lift yang menurut mereka penuh sesak itu padahal liftnya cukup besar.
"Eh...eh..kalian karyawan yang tidak becus!!! lihat saja setelah aku menguasai perusahaan ini akan ku tendang kalian dari perusahaan ini!!" gerutu Fanya sambil memperbaiki gaunnya yang berantakan akibat ulah karyawan itu.
"Kenapa kalian diam saja hah!" kesal Tania, namun apa daya orang-orang itu hanya diam dengan ekspresi datar dan memandang kosong ke depan membuat kedua wanita itu bergidik ngeri.
"Mami, mereka seram sekali seperti malaikat pencabut nyawa saja," bisik Tania pada Fanya.
"Sssstt....sudah diam, nanti Mama yang urus mereka, mungkin penghuni perusahaan ini setan semua," ledek Fanya dengan suara agak dibesarkan padahal tangan dan tubuhnya sudah bergetar ketakutan karena hanya mereka bertiga bersama resepsionis itu perempuan di dalam lift itu.
Sedangkan Tania sudah meremas jarinya sedari tadi untuk meredakan rasa takutnya dengan orang-orang itu.
__ADS_1
Para karyawan itu tersenyum tipis hampir tak terlihat.
"Pffttt...lihat ekspresi nya itu hahahah, ku harap tuan Celo melihat ini pasti beliau akan terpingkal-pingkal," tawa seorang karyawan yang biasa dipanggil si mata elang, kini ia tengah menyamar menjadi karyawan biasa atas perintah Celo untuk mengawasi kedua manusia rakus itu.
"Wah.....wah ternyata kesombongan mereka sangat nyata, sudah dikepung begini pun mereka masih berusaha mempertahankan harga diri nya, hahahah the show is coming!!" tawa yang lain dalam hatinya.
Sementara di dalam ruangan asisten Presdir, Celo tengah terpingkal-pingkal melihat kedua manusia laknat itu tengah bergetar ketakutan di dalam lift.
"Huahahahhah....lucu sekali mereka ini hahahah, luar biasa sudah ketakutan tapi masih bisa bersikap angkuh seperti itu dasar rubah licik !!!" Celo terbahak-bahak menatap layar yang menunjukkan kedua orang itu, padahal saat ini ia tengah menghukum 5 orang mata-mata yang dikirimkan Jaya Mahendra untuk mengawasi perusahaan itu.
"Hahahah hahahhaha hahhahah, sialannnn!!" tawa Celo berubah menjadi teriakan menyeramkan saat ia menatap kelima orang suruhan itu. Tiga pria muda dan dua orang wanita yang diselipkan di bagian keuangan.
brukk brakk....plakk...plakk...krakkk....sreettt
Terdengar suara pukulan, tendangan ,tamparan bahkan suara patah tulang memenuhi ruangan itu.
Seluruh karyawan melihat aksi itu, sebab seperti biasanya Celo akan menampilkan aksinya menyiksa siapa saja yang berani berkhianat di perusahaan kakaknya.
Oleh karena itu, hari ini suasana kantor sangat sepi, tak ada yang berani tertawa keras, berbicara pun takut karena bagi mereka hari ini adalah hari hukuman.
Ini sebabnya tak ada karyawan yang berani menghianati perusahaan ini, mereka akan disiksa dan dipermalukan di depan mata karyawan lain.
Seperti hari ini ia memanggil seluruh jajaran petinggi Star Company dan membawa mereka menonton secara langsung acara penghukuman itu.
glek
Seluruh karyawan menelan Salivanya dengan kasar, mereka bergidik ngeri dengan kekejaman asisten itu, bahkan Presdir mereka saja tak pernah terlihat semenyeramkan itu, tentu saja karena Arta jarang ikut campur dan menampakkan dirinya di perusahaan secara langsung.
"Berani sekali kalian memata-matai perusahaan ini bajingan!!" teriak Celo sambil menghancurkan meja yang terbuat dari kaca yang berada tepat dihadapannya hingga hancur berkeping-keping.
Prangggg.....
Luka akibat pecahan kaca itu tak terasa sakit baginya walaupun darahnya sudah menetes kemana-mana. Yang ada dipikirannya adalah bagaimana menghabisi orang-orang itu.
"Am... Ampuni kami tu..tuan," mohon salah seorang pegawai itu.
"Hahahha ampun katamu? dasar jalang!!!' teriak Celo.
__ADS_1
"Seret mereka, potong lidahnya lalu kirim sebagai hadiah untuk orang yang menyuruh mereka, buat mereka lumpuh lalu kirim ke keluarganya!!" titah Celo lalu duduk di atas sofa di ruangan itu.
"Tidak tuan jangan!! saya mohon jangan!!!" teriak mereka berlima memohon namun apa daya mulut mereka telah dibekap oleh anak buah Celo dan menyeret mereka menuju ruang penyiksaan untuk melaksanakan tugas yang dititahkan Celo.
"Cih.....hahahahahahah," tawa Celo menggelegar dalam ruangan itu. Keberingasan Celo sekali lagi disiarkan secara langsung pada karyawan-karyawannya.
Karyawan di Star Company hanya diberi satu syarat agar bisa diterima bekerja dengan gaji fantastis namun dengan segala resiko yang harus ditanggung jika melanggar syarat itu. Syaratnya hanya satu yaitu Setia dalam segala hal, hanya itu.
"Kalian lihat kan bagaimana nasib mereka? aku tak mau ada kejadian seperti ini lagi, pastikan kalian ingat syarat utama saat menjalin hubungan dengan perusahaan ini!" ucap Celo dengan nada datar, emosinya mulai terkendali.
"Ah jika sekali lagi ada kejadian seperti ini, mungkin bukan aku yang turun tangan tapi bos besar dan suaminya!!" ujar Celo pada seluruh karyawannya.
"Mereka lebih kejam dariku, mungkin saja jika berhadapan dengan mereka kalian akan mencari kematian kalian sendiri," ucap Celo dengan seringai di wajahnya membuat siapa pun merinding dengan wajah itu.
Celo tahu betapa beringasnya pasangan suami istri Mafia itu jika sudah marah, bahkan satu kota bunga ini bisa dibumihanguskan mereka jika ada yang mengganggu mereka.
Hanya saja saat ini tampaknya situasi aman sentosa.
"Huh....aku lelah, sudah jangan tegang aku tahu kalian semua setia, kuharap tak ada yang mengikuti jejak mereka," ucap Celo dengan senyum lebar yang membuat semua karyawan terkhususnya jajaran staf eksekutif yang berdiri di hadapannya menghela nafas lega karena pria itu kembali normal dengan cepat.
"Sebentar lagi kedua wanita itu sampai di ruangan rapat, cepat kesana dan kita lakukan tugas kita dengan benar!" perintah Celo yang dianggukkan oleh mereka dengan cepat.
"Baik Pak!" jawab mereka serentak.
"Buat semua karyawan yang menyaksikan kejadian ini, kuharap kalian mengerti dan selalu ingat dengan syarat utama masuk perusahaan ini, jadikan ini pelajaran ke depannya, kami tak masalah jika kalian melakukan kesalahan dalam bekerja, tapi yang jadi masalah adalah saat kalian tidak Setia!" tegas Celo berbicara yang bisa didengar seluruh karyawannya.
Kembali ke lift, wajah tegang karyawan dalam lift itu terlihat semakin menyeramkan, ternyata mereka mendengar semuanya melalui earphone yang terpasang di telinga masing-masing. Mereka ini bukan karyawan biasa, mereka anggota Blood Tears yang menyamar.
"Astaga kenapa suasananya semakin mencekam, kenapa lama sekali sampainya arghhh..." gerutu Tania dengan suara kecil yang masih bisa di dengar oleh mereka namun tak ada tanggapan dari orang-orang itu.
.
.
.
.
__ADS_1
Tegang banget ya Tania??🤣
Like, komen dan Vote ya, maaf typo bertebaran 🤪🤪🤪