
Setelah sarapan pagi, Arkan dan keluarganya berangkat menuju rumah sakit tempat Tito dan Karina di rawat.
Sementara itu di rumah sakit Celo sudah tiba lebih dahulu untuk mengantarkan pakaian Kart.
"Kak ini pakaiannya, bersih-bersih dahulu biar gue yang jaga disini" ucap Celo sambil memberikan paper bag berisi pakaian Kart.
"Thanks Cel , jaga mereka sebentar" ucapnya sambil menatap dua orang yang masih tidur di ruangan itu.
Kart masuk ke kamar mandi yang ada di dalam ruang VIP tersebut. Kamar itu cukup besar dan memiliki fasilitas lengkap di dalamnya.
Karina mengerjakan matanya, melihat sekeliling ruangan itu. Matanya tertuju pada Tito yang masih belum bangun, lalu dilihatnya Celo yang tengah berkutat dengan laptopnya, tampaknya ia sedang memeriksa beberapa laporan perusahaan.
"Cel.." panggil Karina pelan, Celo mengangkat kepalanya melihat ke arah sumber suara.
"Eh dah bangun Lo nyonya Kartier?" ledek Celo .
"Cih...Lo pagi-pagi dah ngajak gelud aja ya, mana Kart?" tanya Karina dengan tatapan kesal ke arah Celo.
"halah....bangun bangun bukannya nanya kabar gue gimana, udah makan apa belum, lagi ngapain atau apa gitu, ini langsung cari pacarnya" decak Celo sambil memicingkan matanya dan melipat tangannya di depan dada.
"Kampret lu ! dasar bebek liar!" kesal Karina sambil memberikan tatapan permusuhan pada Celo .
"Eh tikus got, ya kali ganteng-ganteng gini dikata bebek, mata lu katarak ?" ledek Celo tak mau kalah.
"Ck..ck...ck gak di rumah, gak di kantor, dimana-mana dua manusia bar bar ini bakal gelud Mulu, gak malu sama ponakan hah?" ucap Arta yang sudah tiba bersama Arkan dan si kembar.
"Dia yang mulai!" seru keduanya tak mau kalah.
"Ck...ck...ck dasar manusia bar bar kalian" ejek Arta sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sungguh kedua manusia bar-bar ini tak bisa dibiarkan bersama. Selalu saja ada perdebatan di antar keduanya.
"Sayang, ayo salam om dan tantenya" ucap Arta mengalihkan pandangannya pada si kembar.
Jo dan Jen mendatangi Celo lalu menyalam dan mencium tangan Celo.
"Halo Om tampan heheheh" seru Jeni sambil tersenyum manis.
"Halo Om" ucap Josua ikut tersenyum sambil menyalam Celo.
"Hai sayang, Om tampan kangen sama kalian" ucap Celo memeluk keduanya dengan erat
Si kembar lalu berjalan menuju tempat tidur Karina.
"Halo tante, saya Josua " ucap Josua memperkenalkan dirinya sambil menyalam dan mencium punggung tangan Karina.
"Hai tante cantik, saya Jeni" ucap Jeni mengikuti apa yang dilakukan kakaknya.
"Wah tampan dan cantik sekali kalian sayang, Arta boleh gue bawa pulang gak?" ucap Karina memegang kedua tangan si kembar dengan lembut.
"Apaan Lo, itu anak gue kali jangan diembat. Kalau mau buat anak Sono " goda Arta membuat Karina mencebikkan bibirnya lalu kembali tersenyum melihat si kembar .
__ADS_1
"Om yang itu kenapa tidur tante? sakit ya?" bisik Jeni pelan sambil melihat Tito yang masih belum bangun.
"Om itu sakit sama kayak Tante, bentar Tante bangunkan ya" ucap Karina.
"Kak bangun, ada Arkan dan keluarganya" ucap Karina membangunkan Tito.
"Hmmm bentar lagi Mi, abang masih ngantuk" racau Tito membuat semua orang di ruangan itu terkejut.
Arkan mendekati mereka lalu memberi kode agar Karina tak membangunkan nya.
"Biarkan dulu Kar,Tito memang sering seperti ini. Mungkin dia sedang bermimpi" bisik Arkan yang diberi anggukan oleh Karina.
Arta duduk di samping Celo, ia ikut memeriksa beberapa dokumen perusahaan melalui email di laptop Celo.
"Kak Kart dimana Cel?" tanya Arta.
"masih di kamar mandi kak" jawab Celo yang dibalas anggukan oleh Arta.
"Jo dan Jen, sini duduk sama Papa, biar tantenya istirahat dulu" Panggil Arkan pada si kembar.
Si kembar menurut lalu duduk di pangkuan Arkan di sebuah meja tak jauh dari ranjang Karina dan Tito.
"Papa paman Kart yang mana?" tanya Jeni mencari-cari paman yang dimaksud.
"Paman.....oh itu paman Kart" ucap Arkan menunjuk Kart yang baru selesai membersihkan dirinya.
"Loh udah ramai,kapan kalian tiba?" tanya Kart pada Arta dan Arkan bergantian.
"Sana salam Paman Kart dulu sayang" ucap Arkan sambil menunjuk Kart yang tengah berbicara dengan Arta.
Jo dan Jen berjalan malu-malu mendekati Kart.
"Halo Paman!" sapa keduanya bersama-sama.
Kart memutar kepalanya, sejenak ia menatap kedua anak itu lalu menyergitkan wajahnya.
"Saya Josua" ucap Josua malu.
"Saya Jeni" imbuh Jeni bersembunyi di belakang abangnya karena melihat Kart menyergitkan wajahnya.
Kart mensejajarkan tubuhnya dengan kedua anak kembar tapi beda itu.
"Jadi ini ponakan paman yang tampan dan cantik" ucap Kart sambil memeluk keduanya dengan lembut.
"Heheheh, Paman tampan sekali, mata paman biru cantik banget" celetuk Jeni kecil sambil menatap mata Kart dengan berbinar-binar.
"Terimakasih sayang, Mama kalian juga kan sama seperti paman" ucap Kart mengalihkan pandangannya pada Arta.
Arta membuka kontak lensanya, lalu memperlihatkan mata biru terang nan indah miliknya.
__ADS_1
"Wahhh.....Mama hebat bisa tukar tukar warna mata" seru Jeni terpesona dengan mata indah Mamanya yang beru dilihat mereka hari ini. Celo membuka mulutnya tak percaya, bagaimana mungkin ia tak menyadari bahwa kakaknya itu punya mata biru terang seindah itu.
"Kak!!!! sejak kapan mata kakak biru? gue pikir kakak pakai Lensa kontak sewaktu kakak menunjukkan mata biru kakak selama ini" ujar Celo yang tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Halah biasa aja, bebek liar. emang Lo gak pernah perhatian sama Arta kali" ledek Karina membuat Celo kesal.
"Ck....tikus got diem Lo!" kesal Celo memalingkan wajahnya tak mau melihat Karina.
"Sudah sudah, kalian ini gak malu sama anak kecil. Bola mata keluarga Kartier memang seperti ini, dan kami menyembunyikannya dari publik" jelas Arta.
"Daripada berdebat, lebih baik Lo segera cari cara untuk membalas orang yang menculik Karina dan Tito. Gue belum bisa bantu soalnya hari ini ada konsultasi ke dokter" jelas Kart menatap Celo dengan tegas .
"Siap Pak Bos, by the way Kak Kart kok cara bicaranya sama kayak Roki?" tanya Celo bingung.
"Ini yang mau gue cari tahu, sebaiknya Lo kerjakan tugas Lo dengan benar. " tegasnya pada Celo sambil mengangkat si kembar dalam pangkuannya.
"Kart, Karina temani ya" pinta Karina.
"Nggak usah Kar, aku sendiri aja. Kamu juga belum pulih" ucap Kart lembut.
"Kalau gitu biar Arta yang temani" usul Arta.
"Boleh kan sayang?" tanya Arta pada Arkan.
"Boleh kok, Kart biar kita yang temani Lo buat check" usul Arkan.
"Lo kamu ikut?" tanya Arta.
"Harus, karena dia Kakak ipar sekaligus sahabatku sayang" ucap Arkan menatap Arta dengan lembut .
"Jo dan Jen ikut!!" seru keduanya kompak.
"Iya boleh deh, sekaligus kalian konsultasi juga " ucap Arkan yang disetujui oleh Arta.
"Bagaimana kak? mau kan kami temani?" tanya Arta sambil memegang lengan Kakaknya yang masih memangku si kembar.
"Baiklah, terimakasih ya tuan putri hehehe" seru Kart sambil tersenyum bahagia.
"Kalau begitu kami keluar dulu ya Kar, titip salam sama Tito kalau udah bangun" ucap Arta sambil memegang tangan Karina dengan lembut.
"Tenang aja kakak ipar, Kart pasti baik-baik saja" bisik Arta yang membuat Karina malu karena dipanggil kakak ipar oleh Arta.
"Kami keluar dulu ya sayang" ucap Kart sambil tersenyum manis pada Karina yang dibalas anggukan oleh Karina.
"Dadah Tante cantik, kita pinjam Paman Kartnya dulu ya, Tante harus cepat sembuh biar bisa nemanin Paman ganteng ini heheheh" seru Josua yang mendengar suara hati Karina yang kecewa karena tak bisa menemani Kart.
"Ehh....hehehe i..iya sayang" ucap Karina gugup.
"Ayo!" ucap Arkan menggandeng tangan Arta, diikuti Kart yang menggendong si kembar keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
"Cel, jagain mereka" pesan Arta .
"Siap buk bos!" seru Celo mengangkat jempol nya.