Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
Arta


__ADS_3

Fanya, Tania dan Jaya Mahendra dibawa ke kantor polisi untuk segera ditindak setelah sebelumnya melewati hukuman yang diberikan oleh Kart.


Si mata elang tidak langsung membawa mereka ke kantor polisi, atas perintah Kart mereka dibawa ke markas besar Dead Rose dan memberikan hukuman pada mereka.


Mengapa tidak dibawa ke markas Blood Tears? tentu agar mereka tidak tahu letak markas Blood Tears yang berada di gedung Star Company. Selain menjaga keamanan, juga untuk melindungi rahasia Star Company dari karyawan non anggota dan masyarakat.


Bayangkan saja jika mereka mengetahui ada markas mafia di gedung pencakar langit itu, bisnis mereka bisa hancur.


Ketiga orang itu diurus oleh seorang kepala kepolisian yang pernah bertemu dengan Arkan ketika dia membelikan hadiah untuk istri dan anak-anaknya.


"Wah banyak sekali buktinya, kalian akan mampus setelah penggugat tiba," seringai pak polisi dengan name tag Hendrik itu.


"Pak Hen, masih ada lagi bukti yang dikirim oleh pengirim tak dikenal, mereka langsung mendrop seluruh bukti ke file kepolisian," ucap salah satu rekan kerja Pak Hendrik.


"Baiklah, dimana Beni? bukankah dia yang mendampingi ku?" tanya Hendrik mencari Beni yang dikenal sebagai si mata elang di markas besar Tears Blood.


"Saya disini Pak Hendrik," jawab Si mata elang yang baru tiba sambil membawa dua kantongan di tangannya.


"Makan siang untuk tim!" ucap si mata elang seolah mengerti arah mata Pak Hendrik.


"Ah...kau selalu melakukan itu, terimakasih berkatmu kantor ini jadi lebih sehat, tapi kuharap kau tidak melakukannya karena terpaksa," ucap Pak Hendrik.


"Saya tulus melakukan ini Pak, mereka bekerja keras sampai saat ini," ucap si mata elang sambil tersenyum samar.


Mereka melanjutkan pekerjaan mereka, nasib ketiga manusia yang dikurung di balik jeruji itu akan ditentukan beberapa hari lagi saat persidangan dilakukan.


"Ayo bekerja, aku tak tau orang hebat mana yang melakukan ini, tapi kita sangat terbantu dengan keberadaan mereka," ucap Pak Hendrik sambil melanjutkan pekerjaannya.


Sementara itu Arkan dengan tergesa-gesa melangkahkan kakinya keluar gedung padahal masih ada beberapa acara yang Hasri dihadiri namun ia limpahkan semuanya pada Tito, Celo, Karina dan Vika yang sudah menyelesaikan tugasnya juga ikut andil membantu Tito menghandle semua acara itu.


Hari sudah gelap,


Saat keluar dari perusahaan, tampak Fiko tersenyum ke arah Arkan namun tak digubris oleh pria itu.


"Arkan hey,kau kenapa? aku baru tiba di negeri ini tapi kau cuek sekali padaku!" kesal Fiko mendekati Arkan yang menunggu mobilnya.


"Ck....kau bawa mobil?" tanya Arkan tanpa menjawab ucapan Fiko. Fiko melirik mobil miliknya yang tak jauh dari posisi mereka.


"Bawa, kena..." ucapannya terhenti ketika Arkan masuk ke dalam mobil itu.


"Fiko mana kuncinya, cepat kau ikut atau tidak?" teriak Arkan yang sudah duduk di bangku supir.


Dengan cepat Fiko berlari menuju mobil itu dan duduk disebelah Arkan, ia memberikan kunci mobilnya tanpa banyak bertanya karena ia tahu pasti ada keadaan darurat saat ini.

__ADS_1


Arkan menyalakan mobilnya dan langsung melesat secepat kilat meninggalkan perusahaan dan acara peresmian itu.


"Ada apa? kenapa kau khawatir sekali?" tanya Fiko membuka percakapan.


"Istriku pingsan di rumah!" ucap Arkan tanpa menoleh pada Fiko, ia fokus pada jalanan.


Beberapa menit yang lalu saat ia tengah berbincang-bincang dengan beberapa kolega setelah acara peresmian berakhir, Tito membisikkan sesuatu yang membuatnya kalang kabut, bahkan ia hampir saja ambruk di depan para tamu.


Mereka mendapatkan telepon dari rumah utama yang mengatakan bahwa Arta pingsan dan tubuhnya melemah. Seketika itu juga tubuhnya lemas dan hampir pingsan saat mendengar kabar itu.


Setelah 20 menit mengemudi seperti orang kesurupan, Arkan dan Fiko tiba di mansion Whitegar. Arkan bergegas mencari keberadaan istrinya. Jam menunjukkan pukul 20.30 saat ia sampai di mansion itu.


"Bagaimana keadaan istriku ma?" tanya Arkan yang langsung masuk ke dalam kamar mereka, disana Mama Lily duduk disamping Arta sambil mengompres tubuh menantunya itu. Dokter pribadi keluarga Whitegar mengatakan bahwa Arta hanya butuh istirahat.


"Tenanglah, mereka baik-baik saja!" ucap Papa George sambil menepuk bahu anak bungsunya itu.


"Mereka?" tanya Arkan tak mengerti.


" Selamat nak, istrimu sedang mengandung, usia kandungannya baru dua minggu, sayangi dia dan jaga dia dengan segenap hatimu," ucap Mama Lily sambil berdiri menatap anak bungsunya itu.


"A...apa? aku aku akan punya anak dari Arta? benarkah Ma, Pa?" ucap Arkan kegirangan, namun tiba-tiba...


Brukkk


"Kenapa dia Om, Tan?" tanya Fiko ikut panik sambil membaringkan tubuh Arkan di samping istrinya.


"Dia tiba-tiba saja pingsan saat kami memberitahukan bahwa istrinya sedang hamil," jelas Mama Lily dengan raut wajah khawatir. Si kembar, Mark dan juga Ziko yang ada di ruangan itu juga khawatir melihat kondisi kedua orangtuanya.


"Kakek...Papi dan Mami kenapa? mereka baik-baik saja kan? apa dedek bayinya lagi sakit?"tanya Jeni dengan rasa khawatirnya.


"Tenang saja sayang, Mami, Papi dan Dede bayinya baik-baik saja kok, mereka butuh istirahat saja," ucap Papa George sambil mengusap pucuk kepala gadis kecil itu.


" Boleh kami tidur disini kek?" tanya Mark.


"Uhmmm kita dengar dulu hasil pemeriksaan dokter itu ya sayang," jawab Papa George sambil menunjuk Fiko yang tengah memeriksa kondisi Arkan.


"Bagaimana keadaannya nak Fiko?" tanya Mama Lily.


"Dia hanya kelelahan Tan, sekarang dia malah tertidur pulas di samping istrinya, dasar si bucin ini, mungkin ini gejala kehamilan simpatik, lebih pastinya besok mereka harus melakukan pemeriksaan dengan dokter kandungan, akan ku atur jadwal mereka," ucap Fiko seraya membereskan alat-alat kedokterannya.


"Apa mereka bisa tidur disini?" tanya Papa George sambil menunjuk ke empat anak yang sedari tadi menatap gerak-gerik pria itu.


"Si kembar? dan mereka siapa om?"tanya Fiko menatap Ziko dan Mark yang baru ditemuinya hari ini. Mark menatap Fiko dengan mata berbinar-binar, ia sangat senang melihat dokter itu, tentu saja karena ia ingin menjadi seorang dokter.

__ADS_1


"Mereka anaknya mendiang kepala pelayan, Pak Kus, mereka sekarang menjadi anak angkat Arta dan Arkan," jelas Mama Lily dengan nada sendu.


"Pak Kus meninggal? astaga aku tidak tahu itu, padahal dia orang yang sangat baik," ujar Fiko.


"Halo anak-anak tampan, siapa nama kalian?" tanya Fiko menatap Mark dan Ziko bergantian.


"Halo Paman dokter, saya Ziko," jawab Ziko yang tengah menggendong Jeni.


"Kalau kamu?" tanya Fiko pada Mark yang sedari tadi bengong nun matanya tertuju pada Fiko.


"Bang Mark, bang itu ditanyain paman Fiko," ujar Josua sambil menggoyangkan lengan Mark membuat Mark tersadar dari lamunannya.


"Eh...ma..maaf, Saya Mark Paman," jawab Mark sedikit gugup.


"Panggil Paman Fiko ya," jawab Fiko sambil mengacak-acak rambut pria muda yang beranjak remaja itu.


"Om, Tan mereka boleh kok tidur disini, mungkin Arkan dan Arta akan lebih relaks jika berada di dekat anak-anaknya," jelas Fiko yang dianggukkan oleh Papa George dan Mama Lily.


"Mark, panggilkan kak Indah untuk membantu kalian menyiapkan tempat tidur ya, kamu juga Fik, bantu Indah, oh iya Indah anggota baru di rumah ini dia masih sangat muda, jangan kau goda karena ia sangat sensitif!" ucap Papa George memperingatkan Fiko si dokter playboy yang selalu menggoda wanita cantik yang ditemuinya.


"Ck....om aku tidak seperti itu lagi, aku juga sudah punya pasangan om," ucap Fiko sambil menggaruk tengkuknya.


Fiko membantu mereka menambah kasur tambahan untuk keempat anak yang ingin dekat dengan orangtuanya. Setelah selesai, Fiko dipaksa menginap di mansion itu, karena hari sudah gelap, dan lagi mungkin mereka akan butuh bantuan Fiko kalau-kalau terjadi apa-apa dengan Arkan dan Arta.


"Tak kusangka kau bisa pulih dengan baik Arkan, kuharap keluarga kecilmu bahagia sampai selamanya," gumam Fiko dalam hatinya.


"Terimakasih Paman Dokter yang tampan!" ucap Si kembar yang belum terlelap.


"Paman Dokter terimakasih," ucap Mark dan Ziko sambil tersenyum manis.


"Sudah tidurlah, Paman juga akan tidur, selamat malam," ucap Fiko menutup pintu kamar itu.


Hari berganti menjadi pagi, cahaya mentari masuk melalui celah-celah jendela kamar itu.


Brughh.....


Seseorang terjatuh dari atas tempat tidurnya.


.


.


.

__ADS_1


Like vote dan komen 😊


__ADS_2