Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
Karina dan Roki


__ADS_3

Di balik layar LCD yang cukup lebar membuat kedua pasang mata secara leluasa mengamati setiap gerak-gerik target mereka.


Di Acara Resepsi Pernikahan.


Fanya mendekati Roki yang tengah mencari-cari sosok adiknya dan adik iparnya itu, tiba-tiba Fanya datang menghampiri Roki saat ia melihat Karina yang mereka anggap sebagai pemilik Star Company.


"Roki !! cepat kau lakukan seperti yang kuperintahkan tadi !" bisik Fanya menghampiri Roki yang tengah berdiri di antara para tamu undangan.


"Tapi tan...,"ucap Roki tak yakin.


"Jika tidak kau akan melihat adikmu yang cacat itu menderita seumur hidupnya, kau harus tahu Roki jika kau masih di bawah tanggung jawab kami karena kau belum menikah," ancam Fanya membuat Roki seketika ketakutan dengan ancaman Fanya.


Keluarga Mahendra tahu Roki adalah pria yang lemah dan bisa dimanfaatkan hanya dengan menggunakan ancaman, menurut mereka Roki pasti bisa menjebak Karina karena paras Roki yang sangat Tampan pasti bisa menarik hati para perempuan terutama Karina.


"Ba..baikllah tan, tapi apa yang harus kulakukan?" tanya Roki dengan wajah pucat dan takut membuat kedua manusia yang menonton misi mereka di balik layar tertawa tebahak-bahak melihat akting Roki yang sangat mumpuni.


.


.


"Hahahhaha....lihat wajah kak Roki, hebvat sekali dia," tawa Arkan yang dianggukkan oleh Arta yang juga tertawa puas dengan permainan mereka.


"iya kau benar kak, Kak Roki yang terbaik ," ucap Arta sambil tertawa puas seolah menonton sebuah film komedi gratis di layar itu.


.


"Kau cukup ikuti saja permainanku, tugasmu hanya mendekatinya sisanya serahkan padaku," bisik Fanya lalu membawa Roki berjalan menemui Karina yang baru saja mengucapkan selamat kepada kedua mempelai diikuti oleh Celo sebagai asistennya.


" Selamat malam nona Karina, wah anda sangat menawan hari ini," ucap Fanya seraya memegang tangan Karina dan tersenyum dengan lembut diikuti oleh Roki di belakangnya.


"Ah selamat malam nyonya, terimakasih anda juga menawan hari ini dan selamat atas pernikahan putri anda, suatu kehormatan besar perusahaan kecil seperti kami bisa menghadiri acara sepenting ini," balas Karina dengan senyuman lembut di wajahnya.


"Terimakasih sudah hadir di acara pernikahan anak saya nona, sungguh kami merasa sangat terhormat karena perusahaan besar seperti perusahaan nona mau menghadiri acara kecil ini," ucap Fanya dengan beribu rayuan maut yang dia rancangkan untuk dapat menarik perhatian Karina. Sementara itu Celo yang berada di dekat Karina menjauh dan menjalankan misinya membantu Tito.


"Ah nyonya terlalu melebih-lebihkan," balas Karina dengan senyuman malu-malu.


Karina mencuri-curi pandang dengan pria tampan berambut bllonde di belakang Fanya, Roki tampil memukau dengan stelan tuksedo yang sudah disiapkan oleh Fanya untuk menjalankan misinya dan membuat banyak tamu undangan terutama para wanita menatap kagum pada pria tampan itu.


Sementara Karina dalam hatinya sudah menggerutu kesal karena para wanita menatap calon suaminya itu dengan tatapan liar namun berusaha ditahannya agar aktingnya tidak terbonngkar.


"Ck....kenapa dia harus setampan itu sih? kan jadi dilihatin sama cewek cewek gatel itu, arghhhhh.....," gumam Karina kesal dengan wajah sedikit masam menatap para perempuan yang histeris dengan penampilan Roki.


Roki yang  menyadari gelagat kekasihnya hanya tersenyum tipis hampir tak terlihat,"Dia cemburu hahahah..." tawa Roki di dalam hati.


Fanya yang menyadari Karina tertarik dengan Roki dengan senyuman kemenangan ia menarik lengan Roki agar sejajar dengan dirinya berhadapan dengan Karina.

__ADS_1


"Ah nona perkenalkan pria tampan ini adalah keponakan kesayangan saya," ucap Fanya sambil memperkenalkan Roki pada Karina.


"Roki," ucap Roki memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangnnya ke hadapan Karina yang tengah malu.


"Ha..halo tuan Roki," ucap Karina membalas jabatan tangan Roki dengan gelagat malu-malu kucing seperti anak ABG yang baru jatuh cinta dan Fanya menyadarinya membuatnya semakin senang karena ia berpikir bahwa rencananya akan berjalan lancar.


"Nona jangan gugup seperti itu, keponakan saya ini memang tampan, dan dia belum punya pasangan loh," ucap Fanya setengah berbisik menggoda Karina.


"Ah untunglah...eh ma.maaf saya tidak bermaksud lancang," ucap Karina gugup dan melepas jabatan tangan mereka.


"Tak apa nona manis," balas Roki dengan senyuman menggoda di wajahnya,


"Ah sepertinya kita butuh minum, tunggu sebentar kalian duduklah agar kuambilkan minum," ucap Fanya meninggalkan kedua sejoli yang tengah menahan tawanya itu disana.


Mereka berdua duduk di meja  tamu sambil melanjutkan akting mereka, mereka berbicara seolah-olah pertama sekali bertemu, dari kejauhan Fanya tersenyum miring melihat mereka yang mulai tampak dekat menurutnya apalagi saat Roki dengan berani memegang tangan Karina yang tampak malu-malu membuatnya semakin senang dengan semua rencana yang sudah dirancangnya.


"Lihatlah wajahnya nenek lampir itu, dia sangat senang melihat kita hahaha..." bisik Karina mendekatkan dirinya ke telinga Roki, sehingga dari jauh tampak mereka seperti sedang berciuman yang sengaja mereka lakukan agar Fanya semakin puas.


"Hahah....apalagi wajah syoknya saat ini, dia pasti berpikir kita sedang berciuman hahahah...." balas Roki melakukan hal yang sama dengan Karina membuat Fanya yang menatap mereka sontak membelalakkan matanya terkejut untung dia tidak terkena serangan jantung bisa bisa acara itu menjadi acara pemakamannya.


"Wah hebat sekai memang pesona keponakanku itu, sebaiknya kulanjutkan rencanaku, akan kujebak mereka seolah-olah berbuat mesum, hahaha rencanaku akan berhasil," gumam Fanya di dalam hatinya sambil membawa tiga gelas minuman diman dua diantaranya sudah diberi obat prangsang.


Roki dan Karina terus berbincang seolah mereka tak menyadari kedatangan Fanya padahal mereka tahu karena Arta dan Arkan memberitahukan gerak-gerik musuh mereka melalui earphone nirkabel yang terpasang di telinga mereka masing-masing. Semua orang yang ikut dalam rencana itu juga dipasang alat tersebut sehingga memudahkan mereka untuk mengetahui keadaan masing-masing.


"Ehem....sepertinya kalian sangat cocok jika dilihat dari jauh," goda Fanya membuat Karina sontak merasa malu sementara Roki hanya diam saja dengan senyuman tipisnya yang sangat menggoda.


"Kalian sangat cocok," ucap Fanya sambil memberikan dua gelas yang sudah dimasukkan obat tadi kepada Karina dan Roki.


"Kalian pasti haus karena tampaknya pembicaraan kalian cukup panjang, minumlah, ini minuman terbaik disini," ujar Fanya sambil menenggak minuman yang berada di tangannya.


"Ah terimakasih nyonya," ucap Karina dengan lembut.


"Jangan panggil nyonya, panggil tante saja seperti Roki," ucap Fanya tersenyum yang dianggukkan oleh Karina.


Mereka berdua menenggak minumannya sampai habis membuat Fanya mennyunggingkan senyumannya, beberapa menit kemudian keduanya mulai merasakan efek obat yang diberikan oleh Fanya, kepala Karina dan Roki terasa berat dan pusing, tubuh mereka panas akibat obat itu.


"Arhkk...kepalaku terasa berat," ucap Karina mulai gelisah begitupun dengan Roki.


"Sialan, aku sudah menduga ini tapi sepertinya dosisnya cukup tinggi," gumam Roki yang sudah tahu akan rencana Fanya.


"Kamu kenapa Karina?" tanya Fanya tanpa merasa bersalah dan terus tersenyum.


"Kepalaku sedikit pusing tan, dan disini kok tiba-tiba gerah ya," ucap Karina yang memang baru kali ini merasakan minuman bercampusr obat perangsang seperti itu membuat Roki merasa sangat geram dengan perbuatan Fanya. Roki masih bisa menjaga kesadarannya, ia memegang lengan Karina yang hampir terjatuh karena pusing.


"Roki cepat bawa dia, pengawal akan menunjukkan kamar untuk kalian," ucap Fanya seraya menjentikkan jarinya memanggil pengawal yang sudah diperintahkannya mempersiapkan kamar untuk mereka sebagai bagian dari rencananya.

__ADS_1


"Ba...baik,arhkk kepalaku tersa berat juga," ucap Roki tetap mempertahankan aktingnya, ia tak sanggup melihat kekasihnya menderita seperti itu.


Dengan cepat Roki membawa Karina menuju kamar yang sudah disiapkan oleh Fanya, ia masih bisa menjaga kesadarannya meskipun gairahnya mulai memuncak akibat pengaruh obat itu. Lain halnya dengan Karina yang sudah semakin gelisah, ia meronta ingin melepas pakaiannya namun segera di tahan oleh Roki.


Tiba di kamar hotel, Roki mengeluarkan pil penawar obat perangsang yang disiapkannya sebelumnya untuk menghadapi situasi seperti ini. meski ia mencintai Karina, ia tak mau membuat gadis kesayangannya itu terluka dengan merenggut hartanya dengan cara yang tidak sah apalagi dengan jebakan seperti ini.


"ehmm...panas..." desah Karina membuat gairah Roki semakin memuncak, ia takut khilaf dengan cepat ia mengambil air putih.


Roki menenggak pil itu dengan cepat, kemudian membantu Karina meminum pil yang sama juga. Setelah itu, Roki mengangkat tubuh Karina ke dalam kamar mandi dan meletakkannya ke dalam bath tube walaupun harus menghadapi godaan besar Karena Karina dengan penuh hasrat mencium bahkan menjil*t leher pria itu karena obatnya masih belum bereaksi, lalu dia mengisinya dengan air dingin untuk membantu meredakan efek obat yang sangat kuat itu.


Roki mengguyur tubuhnya dengan air dingin di bawah shower membiarkan dirinya basah untuk meredam hasratnya dan menunggu reaksi obat itu.


"Hah...hah....beruntung aku bangun hari ini, Kart tak akan mampu menghadapi situasi seperti ini, dia akan panik, syukurlah Karina sudah mulai tenang," ucap Roki sambil menatap Karina yang mulai tenang dan sedikit demi sedikit kesadarannya mulai kembali meski membutuhkan waktu hampir 30 menit berendam di dalam bath tube.


"Kurang ajar kau Fanya, akan ku buat perhitungan denganmu !!" ucap Roki geram.


beberapa menit kemudian, Karina sudah sadar, ia menatap seluruh ruangan yang terasa asing baginya, ia masih di dalam bath tube dengan gaun yang basah dan tubuhnya yang direndam di sana. Matanya tertuju pada Roki yang terduduk lesu di bawah guyuran air shower.


"Roki ," panggil Karina dengan suara lemah, kepalanya masih sedikit pusing dan tubuhnya menggigil kedinginan, dia menatap Roki dengan tatapan sayup, matanya berkaca-kaca mengingat  kejadian tadi. Ia sangat bersyukur karena Roki bisa mengendalikan dirinya bahkan menahan hasratnya karena ia tahu itu sangat sulit.


"Kau sudah sadar? apa ada yang sakit? kenapa kau menangis hmm? apa kau takut?" tanya Roki lembut yang sedari tadi sudah berada di samoingnya sambil menjongkokkan badannya sejajar dengan Karina.


"Roki....huhuhuh te...ri..makasih," ucap Karina sambil menangis sesenggukan memeluk pria yang berjongkok di sampingnya itu.


"Sudah jangan menangis, kau hebat bisa bertahan sampai sejuh ini," ucap Roki sambil mengusap pipi gadis itu denganlembut. Ia melepas pelukannya dan  berdiri lalu mengambil jubah mandi yang tersedia di dalam kamar hotel itu lalu meletakkannya di kamar mandi.


"Kau pakailah dahulu ini, bajumu sudah basah, aku akan menunggu di luar sambil menyuruh seseorang mengantarkan pakaian kita," ucap Roki sambil meletakkan jubah mandi di dekat Karina.


"Baiklah, terimakasih sayang," ucap Karina yang dibalas senyuman lembut oleh Roki.


"Kau memang sangat bejat Fanya, akan kubalas perbuatanmu, permainan ini masih berlanjut !" ucap Karina sambil membersihkan dirinya.


Sementara di sebuah Van mini, pasangan suami istri itu tengah khawatir dengan kondisi mereka berdua, beruntung mereka bisa mendengar semua percakapan mereka dan masih tetap fokus mengamati gerak-gerik Fanya, dengan cepat anak buah mereka mengirimkan pakaian atas perintah Arta dan Arkan sesuai dengan yang diminta Roki saat berkomunikasi dengan mereka.


"Ternyata dia sebejat itu, beruntung kita mengetahui rencana mereka dengan cepat, Kak Roki aku sakut dengannya, ia sanagt menghargai wanitanya," ucap Arkan menatap layar LCD itu.


"Huftthh....permainan baru dimulai, kita semua harus menikmati ini bukan?" ucap Arta dengan senyum menyeringai yang bisa didengar oleh semua orang termasuk Karina dan Roki, walaupun earphonenya basah, benda itu tetap berfungsi dengan baik.


Semua yang turut menjalankan misi tersenyum tipis mendengar ucapan Arta, ya mereka akan menikmati permainan ini lalu menghancurkan orang munafik itu dengan serangan bertubi-tubi.


.


.


.

__ADS_1


like,vote,komen ^_^


__ADS_2