
"Hus siapa juga yang mau dirindukan sama anak tengil sepertimu, aku sudah punya menantu cantik dan dua jagoan kecil jadi kamu sudah expired" ketus Papa George.
"Hahahaha " mereka semua tertawa bahagia dengan candaan receh di siang hari itu.
"Terimakasih Tuhan" gumam Arta terharu karena mendapatkan keluarga baru yang hangat seperti mereka.
...____________...
Setelah makan siang yang penuh keramaian serta drama Arkan yang tiba-tiba manja minta disuapi oleh Arta seperti Jo dan Jen juga celotehan Papa George dan Mama Lily yang menghiasi acara makan siang itu kini mereka bersiap-siap berangkat ke mall.
Mereka hanya menggunakan pakaian sederhana tak menunjukkan kekayaan yang mereka miliki.
Sebelum berangkat terjadi lagi drama baru mengenai mobil yang akan mereka tumpangi. Hingga pada akhirnya mereka semua menaiki mobil yang cukup besar untuk mereka gunakan.
"Pokoknya Jo dan Jen sama Kakek dan Nenek!!"tegas Papa George memegang pergelangan tangan kedua cucunya.
"Ya ampun Pa mereka anakku aku tak mau pisah dari mereka!" balas Arkan tak mau kalah.
"Tidak!! Mereka harus berangkat bareng kami" balas Mama Lily.
"Ma please jangan pisahkan kami dari anak-anak kami" ucap Arkan ala-ala sinetron ikan terbang.
"Mama bilang sama Mama ya sama Mama" balas Mama Lily tak mau kalah.
Arta yang jengah dengan drama yang tak ada akhirnya pergi ke garasi lalu meminta supir mengeluarkan mobil yang kapasitasnya besar di rumah itu.
" Berhenti!" ucap Arta menatap kesal ke arah suami dan mertuanya itu.
Mereka semua terdiam tak berkutik mendengar kata-kata dingin dan datar Arta.
"Kita naik mobil yang besar, kak Arkan yang bawa. Mama dan Papa juga si kembar duduk di kursi penumpang, Arta di samping kak Arkan!" tegas Arta dengan nada datar menatap mereka.
"Ayo keluar dan masuk ke dalam mobil!" perintah Arta kesal.
Mereka semua diam dan menurut dengan perintah Arta.
"Hihihi Pa menantu kita galak ya" bisik Mam Lily cengengesan pada Papa George.
"Seperti Mama hahah" bisik Papa George yang dibalas cubitan lembut di pinggangnya.
__ADS_1
Mereka pun masuk ke dalam mobil seperti yang diperintahkan Arta tadi.
"Arta maaf ya bikin kamu kesal" ucap Mama Lily dengan nada menyesal yang di buat-buat.
"Heheh Arta juga minta maaf Ma, Pa dan Kak Arkan udah marah-marah" balas Arta malu.
"Hahahaha Pa,Ma istriku bukan cuma galak loh tapi cerewet juga " ucap Arkan menggoda Arta.
"ihk kak Arkan " balas Arta malu dengan wajah meronanya.
"Hahahhaha" mereka tertawa sepanjang perjalanan menuju mall, apalagi si kembar yang sangat aktif berbicara.
Mereka pun sampai di sebuah mall terbesar di kota itu dan tentunya milik keluarga Whitegar.
Terlebih dahulu mereka masuk ke dalam toko pakaian yang menjual semua jenis pakaian untuk anak-anak dan orang dewasa.
si kembar Jo dan Jen dibantu Papa George dan Mama Lily untuk memilih pakaian mereka. Sementara Arta memilih beberapa potong pakaian untuk mengubah penampilan suaminya itu.
"Kak kemarilah coba ini" seru Arta menunjukkan beberapa pakaian kantor formal pada Arkan.
"Kakak gak nyaman sepertinya Ar" ucap Arkan.
"Ehmm gini Ar, kemarin kakak terpaksa dan malah kamu lihat sendiri kakak seperti apa saat festival itu" ucap Arkan menjelaskan penyakitnya yang kambuh saat menjadi perhatian banyak orang.
"Kalau pakai pakaian seperti ini akan terlalu mencolok, kakak takut akan kambuh lagi" lanjut Arkan.
"Kak, lihat Arta!" ucap Arta menatap Arkan dengan seksama.
"Apa kakak mau terus-terusan diejek dan dihina orang-orang di luar sana?" tanya Arta serius.
"Kakak gak masalah. Apa kamu malu jalan sama kakak yang seperti ini?" balas Arkan sendu.
"No no no duduk dulu sini" ucap Arta menarik tangan Arkan untuk duduk di kursi dalam toko itu.
"Arta gak malu kak. Arta gak masalah sama penampilan kakak, tapi Arta pengen banget Kakak kalahin rasa takut dan trauma Kakak itu, Arta gak masalah penampilan kakak seperti ini. Tapi Arta mau kakak jujur apa kakak nyaman berpenampilan yang bukan seperti diri kakak hmm?" tanya Arta pada Arkan.
Arkan menggeleng lemah, sejujurnya ia tak nyaman berpenampilan seperti itu. Namun jika harus berpenampilan seperti dirinya dulu ia takut akan kumat karena menjadi perhatian orang lain.
"Nah kakak aja nggak nyaman. Kalau begitu kakak pakailah pakaian yang akan nyaman di tubuh kakak. Kakak harus berubah untuk diri kakak! Kakak harus berani melawan trauma itu! Kakak harus jadi diri kakak sendiri!" ucap Arta meyakinkan Arkan sambil menggenggam tangan suaminya itu.
__ADS_1
"Tapi kakak takut akan kambuh" ucap Arkan.
"Kak sebenarnya Arta juga sempat trauma karena pandangan orang yang melihat seseorang hanya dari penampilan. Arta juga banyak yang bully karena cacat ini, tapi Arta juga bersyukur karena dengan ini, Arta tahu siapa musuh dan siapa teman Arta." ucap Arta.
" Tapi Arta sebenarnya gak nyaman dengan bekas luka ini. Kalau masalah hinaan Arta gak peduli, tapi bekas luka ini malah membuat Arta selalu teringat kejadian mengenaskan itu. Oleh karena itu Arta mau mengikuti prosedur operasi untuk membuang bekas luka dan masa lalu kelam Arta" ucap Arta dengan penuh keyakinan.
"Arta mau berubah untuk diri Arta, Arta mau bahagia dan menjadi seorang istri dan Mama yang cantik buat keluarga Arta" ucap Arta.
Arkan tertegun mendengar penuturan Arta. Ia sadar bahwa sekelam apa pun masa lalu kita, sebaiknya kita harus bisa mengalahkan rasa takut itu agar hidup kita bahagia. Melepaskan masa lalu yang kelam dan memulai hari yang baru, bukan untuk orang lain tapi untuk diri sendiri.
Arkan menarik tubuh Arta lalu mendekapnya dengan erat.
"Terimakasih Sayang, aku akan berubah untuk diriku dan kalian" ucap Arkan terharu.
deg deg deg
Jantung Arta berdegup kencang saat mendengar panggilan sayang dari Arkan.
"Ya.. ya sudah ayo kita pilih pakaian" ucap Arta gugup lalu melepaskan pelukannya karena degup jantung dan wajahnya tak bisa diajak bekerjasama.
"Kenapa kau gugup sayang?" ucap Arkan menggoda Arta.
Arta meninggalkan Arkan dan memilih fokus untuk mencari pakaian untuk mereka kenakan. Wajahnya memerah, dan jantungnya berdegup kencang tak karuan.
"Astaga aku malu sekali tapi senang juga sih hehehe" gumam Arta sambil senyum-senyum sendiri.
Mereka pun memilih pakaian untuk mereka kenakan. Tampak keduanya saling meminta pendapat mengenai pakaian yang akan mereka pilih. Sesekali mereka tampak tertawa sangat nyaman satu sama lain.
Mama Lily, Papa George dan si kembar tersenyum bahagia melihat kebersamaan pasangan baru itu
"Ma, Papa harap mereka bahagia. Arta adalah obat bagi Arkan" ucap Papa George menatap pengantin baru itu.
"Iya Pa, Mama bahagia melihat mereka seperti itu" ucap Mama Lily.
"Obat apa Kek?" tanya Josua kecil yang mendengar percakapan mereka.
"Eh nggak sayang, gimana bajunya cocok?" ucap Papa George.
"Keren Kek!" seru si kembar kompak.
__ADS_1