Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
imut


__ADS_3

Arkan memasuki mansion mewah Whitegar, setelah memarkirkan mobilnya, ia melangkah masuk dan menyimpan snack yang dia bawa lalu membawa pesanan istrinya ke dalam kamar mereka. Sebelum ke kamar, Arkan teringat perkataan kasir tadi, ia pergi ke dapur lalu membuatkan wedang jahe untuk istrinya.


" Hmmm beres," ucap Arkan menatap 2 gelas wedang jahe yang sudah selesai di atas meja.


Arkan melangkahkan kakinya pelan membawa wedang jahe menuju kamarnya. Setelah sampai di kamar diletakkannya wedang di atas meja dan pesanan istrinya. Arkan duduk di pinggir kasur di samping Arta. Ditatapnya wanita itu dengan tatapan lembut, disingkirkannya anak rambut istrinya agar tak mengganggu tidur wanita yang dicintainya itu.


Matanya terkejut melihat wajah sembab Arta, dipegangnya kening istrinya dengan lembut untuk mengecek suhu tubuh wanita itu.


" Hufft kupikir dia demam, ada apa dengannya? apa dia menangis?" gumannya sambil memperhatikan wajah Arta yang sedikit pucat. Arta terbangun, ia menatap Arkan yang sedari tadi mengamati wajahnya dengan serius.


" Kamu sudah pulang hmmm?" ucapnya dengan suara parau.


" Iya baru saja, apa sesakit itu sampai kau menangis seperti ini hmmm?" tanya Arkan seraya mengelus pipi Arta.


Arta menggelengkan kepalanya lalu tersenyum menatap suaminya.


" ini minum dulu," ucap Arkan sambil membantu Arta duduk bersandar di tempat tidur. Arta terkejut dengan minuman ramuan jahe yang disediakan oleh suaminya. Bagaimana suaminya bisa tahu minuman seperti ini untuk membantu meredakan rasa nyeri untuk wanita halangan.


" Tadi ada ibu-ibu yang baik hati ngasih saran supaya istriku ini diberi minuman herbal seperti ini," ucap Arkan seolah tau jika istrinya itu penasaran.


Arta tersenyum lalu menerima minuman itu dan meminumnya dengan bantuan Arkan, " terimakasih sayang!" seru Arta yang membuat arkan terkejut,


" Ka...kamu manggil apa? coba ulangi sekai lagi," ucap Arkan tak percaya.


" Sayang" ucap Arta lantang dengan senyiuman manis di wajahnya.


Arkan terjingkat bahagia, ia meremas rambutnya tak kuasa menahan rasa bahagia hanya karena dipanggil sayang oleh istrinya apalagi dengan senyuman yang begitu manis dan indah membuat jantungnya berdebar tak karuan.


" Argghhhh kau imut sekali sih sayang !" teriak ArkanĀ  meremas kedua jarinya gemas dengan istri cantiknya itu.


" Kamu tahu tidak, kau selalu membuatku berdebar jika didekatmu huh, beruntung aku punya jantung yang kuat!!" celetuk Arkan sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah Arta membuat mereka berdua saling menatap satu sama lain.


" Kau tahu? sejak pertama bertemu denganmu aku tahu jika aku sudah jatuh cinta pada pandangan yang pertama, " ucap Arkan sambil duduk di dekat Arta dengan posisi saling berhadapan.


" Masa sih?" tanya Arta tak percaya.


" iya, mungkin waktu itu aku belum sadar, tapi setelah berada di dekatmu selama ini akhirnya aku sadar kapan cinta itu tumbuh disini," ujar Arkan sambil menunjuk ke arah dadanya.

__ADS_1


Arta tersenyum tipis, dibelainya lembut rambut hitam Arkan yang sudah tumbuh agak panjang namun membuatnya semakin tampan dan berkarisma.


" Terimakasih telah memberiku banyak cinta sampai saat ini, aku mencintaimu!" ucap Arta sambil menatap lekat netra cokelat suaminya itu.


" Aku juga mencintaimu sayang," balas Arkan sambil mengecup kening istrinya dan menarik Arta ke dalam pelukannya.


" Oh iya sayang, tadi Tante Fanya menghubungiku saat di rumah sakit ia ingin bertemu katanya ada yang mau disampaikan mengenai wasiat kedua orangtuaku," jelas Arta. Sontak Arkan menatap Arta dengan tatapan terkejut.


" Apa dia merencanakan sesuatu lagi? apa lagi yang dikatakannya padamu?" tanya arkan khawatir.


"Itu yang sedang ku pikirkan, apa yang tengah direncanakan oleh keluarga Mahendra setelah menculik Tito dan Karina, dan kau tahu tidak aku curiga dengan mereka, mungkin mereka berkaitan dengan kecelakaan yang kami alami 2 tahun yang lalu," ujar Arta dengan nada lirih.


"Aku akan menyelidiki ini, dan kau ingatlah jangan melakukan apapun sendirian. Aku tak mau kau kenapa-kenapa," tegas Arkan membuat Arta menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


" Jadi kapan dan dimana kalian akan bertemu?" tanya Arkan.


"Beberapa hari lagi di pesta pernikahan Tania dan Robin, dia memintaku menemuinya di acara pernikahan itu," jelas Arta .


" Oh iya, tadi aku melihat robin menarik-narik seorang gadis, tampaknya gadis itu sangat familiar tapi aku tak ingat pernah bertemu dimana," ujar Arta memberitahukan apa yang dilihatnya tadi.


" Mungkin selingkuhannya," ledek Arkan dengan raut kesal.


" Tak perlu terlalu dipikirkan sayang, nanti akan kucoba cari tahu siapa gadis itu hingga berani mengusik pikiran istriku ini," balas Arkan sambil menoel hidung Arta.


" Hemmm.... ya sudah lah," balas Arta mencebikkan bibirnya membuat Arkan terkekeh.


"Asal kau tahu, saat aku tadi pergi ke supermarket, ada beberapa wanita mencoba menggodaku... ihkk sungguh menjijikkan padahal jelas jelas aku memakai cincin pernikahan kita, mereka masih saja berusaha mencari perhatianku. Ternyata mereka sudah berulang kali mencari mangsa di supermarket itu, beruntung Ibu kasir yang baik hati itu kasih tahu ke aku, jadinya mereka sekarang mendekam di penjara," jelas Arkan.


" Hahahha astaga ternyata aku akan punya banyak musuh ya karena suami tampanku ini, haruskah kau kukarungi agar tidak ada yang menggodamu? dan untuk perbuatanmu itu aku setuju, baguslah mereka masuk penjara karena sudah meresahkan banyak orang dan akan membuat citra buruk bagi supermarket," ucap Arta sambil mengacak-acak rambut suaminya layaknya seorang Ibu yang bangga dengan Anaknya yang pintar.


" Arhgggg imutnya... Cup cup cup" seru Arkan sambil menyerbu Arta dengan ciuman berulang kali di bibir kecil istrinya itu.


" Hahahhahahaha......."


Malam itu mereka lewati dengan banyak cerita dan tawa hingga akhirnya mereka terlelap delam tidurnya dengan posisi saing berpelukan. Tampak segurat senyuman terlukis di wajah keduanya. Sungguh tidur yang sangat damai dan hangat membuat keduanya merasa tenang dan bahagia.


Malam berganti menjadi pagi, tampak Arta tidak nyaman dengan dirinya. Beberapa kali ia merintih kesakitan karena sedang datang bulan. Arkan menyadari itu, ia terbangun dan langsung memeriksa keadaan tubuh istrinya yang sudah gelisah.

__ADS_1


"Apakah masih sakit sayang?" tanya Arkan sambil mengelus kening istrinya.


"Arghhh biasanya tak sesakit ini," rintih Arta sambil memegang perutnya.


"Ada yang kamu butuhkan?" tanya Arkan khawatir.


"Hemmm bisakah kamu buatkan aku wedang jahe seperti kemarin? rasanya itu akan membantuku," ujar Arta.


""Baiklah, tapi kau sarapan dahulu setelah itu baru minum wedangnya," ucap Arkan dan dibalas anggukan oleh Arta.


Arkan meninggalkan Arta di dalam kamar, Arta mencoba bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Walaupun tertatih-tatih ia berhasil menyelesaikan urusannya di kamar mandi.


"Datang bulan saja diperlakukan sebaik ini, bagaiman kalau aku hamil? dia mungkin akan membuatku seperti seorang ratu hahahha" kekeh Arta mengingat semua perhatian istrinya.


"Hmmm tapi kami sudah berhubungan, aku masih datang bulan berarti akan butuh waktu lama untuk hamil" lirih Arta, ia sangat ingin membahagiakan suami dan anak-anaknya dengan berita kehamilan tapi tampaknya mereka harus menunggu dan berusaha.


.


.


.


Arkan berjalan menuju dapur, ia mempersiapkan beberapa bahan yang akan dimasak untuk istrinya. Sontak pelayan disan terkejut melihat tuan muda mereka memasak.


"prrfffttt....uhuk uhuk uhuk apa mataku tak salah lihat?" ucap Samuel yang menyemburkan minumannya saat melihat Arkan berkutat dengan alat dapur.


"Apaan sih kak," ketus Arkan tak suka dengan ekspresi kakaknya.


"Hahahah sejak kapan Arkan si pria maskulin dan gila kerja ini pintar memasak," ledek Samuel sambil menghampiri Arkan.


"Sejak dulu aku pintar memasak bro, hanya tak pernah kutunjukkan disini," sergah Arkan sambil memotong motong sayuran dengan keras.


"Hahahah, untuk siapa ini? adik ipar dimana? kenapa bukan dia yang masak?" cerca Samuel dengan berbagai pertanyaan yang membuat Arkan kesal dan menatap Samuel sambil mengarahkan pisaunya ke arah Samuel.


"Hahahahha astaga kau ini pemarah sekali ya bos mafia," ledek Samuel tak henti hentinya membuat Arkan jengah.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2