
"Maaf telah membuatmu kecewa Tito, aku yang salah hiks hiks hiks," ucap Vika tersedu-sedu menuju pintu kamar, ia berjalan dengan sedikit pincang karena lututnya terluka cukup dalam.
Vika membuka pintu perlahan, hatinya sakit, ruk dan sangat berat rasanya meninggalkan pria yang dicintainya, tapi apa daya ini semua karena kebodohannya yang tanpa alasan yang jelas menjauh dan menghindar dari Tito.
Greppp
Sepasang tangan memeluknya erat dari belakang, belum sempat ia membuka pintu, Tito memeluk dirinya dari belakang, tangis Vika semakin menjadi-jadi kala pria itu berada di dekatnya.
"Hiks...hiks...hiks...maaf, maaf maaf, aku bodoh hiks hiks, maafkan aku Tito.." tangis Vika tak sanggup menahan rasa sesak di dalam hatinya.
"Ssstt....diamlah, jangan menangis maafkan aku," ucap Tito membalik tubuh Vika. Kini mereka berada dalam posisi saling berhadapan.
Tangan kanan Tito mengelus pipi basah gadis cantik itu, tangannya yang lain merapikan rambut gadis itu, tatapan matanya tidak lepas dari wajah Vika.
"Maaf membuatmu menangis, maafkan aku terlalu egois, maaf membentakmu tadi, maaf karena membuatmu terluka," ucap Tito berderai air mata di hadapan gadis yang sangat dicintainya.
Saat mendengar Vika akan pergi meninggalkannya, hatinya tidak rela, ada rasa takut kehilangan yang sangat besar di dalam hati Tito. Vika gadis yang dicintainya, tak akan dibiarkannya gadis itu pergi dari sisinya.
Vika cukup terkejut saat melihat kekasihnya ikut menangis, Vika memeluk Tito dengan erat, ia menenggelamkan kepalanya di dada bidang kekasih hatinya.
"Hiks hiks jangan menangis, maaf membuatmu kecewa," lirih Vika.
"Kamu juga jangan menangis, maaf aku egois," ucap Tito.
"Aku sangat mencintaimu, aku tak mau kehilangan orang yang kucintai, cukuplah aku kehilangan kedua orangtuaku, aku sudah menemukan adikku dan aku tidak mau kehilangan dirimu," ucap Tito.
"Kumohon jangan ragu denganku, dan jahgan pernah mengatakan kau ingin pergi meninggalkanku, aku tidak akan sanggup, aku akan mati jika kau pergi," ucap Tito sambil mendekap erat kekasihnya.
"Hiks...hiks...hiks maafkan aku meragukanmu, terimakasih dan beri aku kesempatan untuk memperbaiki ini semua," lirih Vika.
Tito merenggangkan pelukannya, ia menatap wajah sembab Vika sambil tersenyum.
"Kau selalu mempunyai kesempatan untuk kembali, karena di hati ini sudah terukir namamu," ucap Tito sambil menunjuk dadanya.
Air mata Vika mengalir begitu deras, ia begitu bahagia saat mendengar ucapan kekasihnya.
"Terimakasih banyak, aku mencintaimu," ucap Vika sambil tersenyum.
"Aku juga mencintaimu Vika," ucap Tito sambil mengecup kening gadis itu.
"Terimakasih," ucap Vika.
Cukup lama mereka saling berpelukan dan mencurahkan seluruh isi hati mereka. Rasa rindu dan rasa bersalah yang selama beberapa waktu ini berkuasa atas diri mereka kini telah hancur karena kekuatan cinta keduanya.
"Emmm Tito, bisa kita duduk? kakiku sakit," ucap Vika di tengah pelukan mereka.
__ADS_1
"Ah iya, baiklah nona cantik, mari duduk dulu," ucap Tito sambil mengangkat tubuh Vika dan mendudukkannya di atas sofa dengan hati-hati.
"Kenapa kau mengangkat ku, aku bisa jalan sendiri tau," ucap Vika yang wajahnya kini Semerah tomat matang karena gugup sekaligus malu.
"Kau malu ya hahaha," goda Tito yang merasa gemas melihat wajah merona kekasihnya.
"Emm..i.. iya," ucap Vika menundukkan kepalanya.
Tito tersenyum, ia berjalan ke arah lemari dan mengambil kotak P3K yang selalu disediakan di setiap kamar di rumah itu.
Tito duduk berlutut di hadapan Vika, ia melihat luka gores di lutut gadis itu, kebetulan Vika memakai celana pendek seperti biasanya, penampilan tomboy yang menjadi ciri khasnya.
"Sebentar kuobati," ucap Tito sambil membuka kotak obatnya.
Tito menuangkan pencuci luka dan mengoleskannya pada lutut Vika.
"Ssshhhhhh...." Vika merintih kesakitan.
"Fuhhhhh....fuhhhh, tahan ya sakitnya sebentar kok," ucap Tito sambil meniup pelan luka di lutut Vika.
Vika menatap Tito dengan perasaan haru, betapa bodohnya dirinya yang malah takut dengan hal hal yang tidak pasti. Hampir saja ia kehilangan seorang pria yang benar-benar mencintai dan menghormatinya sebagai seorang wanita. Vika kembali meneteskan air matanya.
"Loh kenapa menangis? sesakit itu ya? maaf," ucap Tito dengan raut wajah khawatir, ia menghentikan kegiatannya dan menatap wajah Vika.
"Apa sakit sekali?" tanya Tito.
"Hiks...hiks..hiks, Tito, ma..maukah kau menikah denganku?" tanya Vika tiba-tiba sambil memeluk Tito dengan erat.
Mendengar ucapan Vika, Tito bak mendapatkan angin segar, sebag sejujurnya ia takut menanyakan hal itu lagi pada Vika, ia tak ingin membebani gadis itu.
Tito tersenyum, ia membalas pelukan Vika lalu kembali menatapnya dengan lembut.
"Seharusnya aku yang bertanya Vika, Will you marry me?" tanya Tito sambil mengeluarkan kotak cincin yang tidak sempat diterima oleh Vika dan selalu dibawanya kemana-mana.
Vika terkejut melihat cincin itu, air matanya membasahi pipi cantiknya.
"Yes i Will!" ucap Vika yakin.
Tito tersenyum, ia mengambil cincin berlian yang sangat cantik itu lalu menyematkannya di jari manis gadis itu.
"Terimakasih sayang, aku mencintaimu," ucap Tito sambil mengecup punggung tangan gadisnya.
Vika tersenyum, hubungan mereka selama ini hanya sebatas cium kening pipi dan punggung tangan, Tito sangat menghargai Vika sebagai seorang wanita, ia tak pernah meminta lebih pada Vika.
Hubungan mereka adalah hubungan yang sehat, jika orang di luar sana di masa pacaran sudah melakukan hubungan **** tanpa ikatan, Tito dan Vika tetap menjaga kehormatan diri mereka di mata pasangan masing-masing.
__ADS_1
Vika tersenyum dan mengangguk pelan. Ia begitu bahagia, ia menatap cincinnya dengan mata berbinar. Senyuman tak pernah lepas dari wajah polos nan cantik itu.
Tito kembali mengobati luka Vika dengan sangat pelan agar gadis itu tidak kesakitan.
"Tito, kenapa aku bodoh sekali ya," ucap Vika tiba-tiba.
"Kenapa kau mengatakan seperti itu?" tanya Tito.
"Karena aku takut dengan suatu hal yang bahkan belum pasti akan terjadi, aku terlalu takut sampai mengorbankan perasaanmu," ucap Vika.
"Ternyata kau sadar juga kalau kau bodoh hahahah," ledek Tito yang mendapat tatapan tajam dari Vika.
"Ck...kau ini selalu meledekku," ucap Vika kesal.
"Hahah, jangan marah, aku juga bodoh terlalu memaksakan kehendakku padamu tanpa berbicara dulu denganmu," ucap Tito.
"Ya kau memang bodoh, bodoh sekali sampai kau merusak dirimu sendiri dengan alkohol!"kesal Vika.
"Hahahahha, jangan marah sayang itu semua karena dirimu yang mengabaikan ku, semakin lama kau mengabaikan ku maka semakin parah aku merusak diriku," ucap Tito sambil mencolek hidung Vika.
"Dasar kau ini, aku tak mau kau meminum minuman seperti itu lagi, aku tak mau kau sakit!" tegas Vika.
"Hahah baiklah sayang," balas Tito.
"Hemmm, jadi kita ini sama-sama bodoh ya, satu egois satunya lagi rada-rada gila sampai gak makan dan gak minum ck...ck...ck," ucap Vika menggelengkan kepalanya saat mengingat pertengkaran mereka yang didasari hal sepele.
"Hahahah, pasangan bodoh, aku suka itu saat menjadi bodoh bersamamu!" ucap Tito tertawa terbahak-bahak.
"Dasar kau ini, hahahah," Vika malah ikut tertawa bersama kekasihnya.
Sementara itu ketiga bumil cantik yang tengah menikmati mangga muda mereka sambil menonton film horor di ruang santai tiba-tiba bergidik ngeri saat mendengar suara tawa dari lantai dua.
"Ihkk kak, apa mereka berdua kerasukan setan yang ada di film itu? kenapa mereka tertawa seperti itu?" ucap Arta merinding ngeri tapi masih fokus dengan mangga muda rasa saos tiram di mulutnya serta film horor di hadapannya. Entah bagaimana rasa mangga ya itu.
"Entahlah, mungkin saja mereka berdua tidak waras," ucap Karina yang fokus dengan tomat mentah dengan parutan keju dan film horornya.
"Hadeh tambah lagi pasien rumah sakit jiwa," imbuh Kath dengan popcorn rasa cokelat di tangannya, namun matanya tidak beralih dari televisi.
Para pelayan hanya bisa tertawa kecil saat melihat tiga Bumil yang kalau sudah berkumpul selalu kocak dengan permintaan yang aneh aneh seperti saat ini.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 😊😉