Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
Keluarga Argaka


__ADS_3

Hari berganti menjadi pagi, cahaya mentari masuk melalui celah-celah jendela kamar itu.


Brughh.....


Seseorang terjatuh dari atas tempat tidurnya.


"Awh....Aihsss sakit sekali bokongku!" gerutu Arkan yang terjatuh karena terkena tendangan maut dari sang istri yang masih lelap tertidur sambil mengigau dan tersenyum tak jelas.


"Hehehehe.....hmmm," racau Arta masih dalam dunia mimpi padahal ia tak tahu ada lima pasang mata sekarang menatap dirinya.


"Good morning Papi!" sapa keempat anak kecil yang sejak setengah jam yang sudah bangun dan malah memperhatikan kedua orangtuanya yang terlelap. Mereka bahkan sudah merapikan tempat tidur mereka, dan melaksanakan doa pagi seperti yang diajarkan Arta.


"Good Morning, Papi?" balas Arkan sedikit bingung, ia bangkit berdiri dan menatap ke empat anaknya, dan terheran melihat kasur tambahan di kamar yang cukup luas itu.


"Mami bilang kita harus panggil Papi dan Mami biar kompak," ujar Jeni dengan senyum manisnya, rambut cokelat ikalnya sedang dikuncir dua oleh Ziko.


"Ah... benarkah? Wah Papi suka hahahhahaha," kekeh Arkan malah ikut bertingkah seperti anak kecil.


Arkan mendekati istrinya yang masih terlelap, ia memperbaiki selimut wanita yang sangat dicintainya itu.


"Terimakasih sayang," ucap Arkan, ia meneteskan air matanya mengingat ucapan Mamanya yang mengatakan bahwa Arta tengah mengandung buah cinta mereka.


"Ergghhh....kak, kak kenapa menangis? Hmm?" Arta bangun dari tidurnya dan didapatinya wajah suaminya ada dihadapannya, pria itu sedang menangis terharu menatap dalam kedua manik istrinya.


"Ahh....aku hanya bahagia saja, kamu semakin membuat hidupku sempurna sayang," ucapnya sambil memeluk istrinya dengan erat.


"Good morning Mami cantik!" sapa keempat anaknya yang naik ke kasur kedua orangtuanya lalu memeluk mereka berdua dengan penuh kasih.


"Good morning anak-anak mami, hmm kak apa tak masalah mereka memanggil Papi dan Mami, kurasa itu terdengar imut hehehe," kekeh Arta menatap mereka satu persatu setelah dipeluk oleh mereka.


"Terserahmu saja nyonya Argaka," ucap Arkan sambil mengelus pucuk kepala wanita itu dengan lembut membuat Arta merona.


"Mami, Dedek bayinya sehat kan? Mami juga sehat kan? tadi malam Mami pingsan katanya kecapean, kata dokter ada Dedek bayi di perut Mami," ucap Jeni seraya memegang perut rata milik Arta.


Arta menatap Arkan, ia belum tahu kabar kehamilannya sendiri. Arkan mengangguk dan tersenyum lembut menatap istrinya.


Arta meraba perut ratanya, matanya mulai menganak sungai, pantas saja selama beberapa hari ini ia merasakan hal yang aneh dengan tubuhnya, moodnya berubah-ubah, cengeng, dan banyak makan.


"Kak, aku aku bahagia sekali huhuhuh," ucap Arta terharu, air matanya membasahi pipinya. Arkan menarik tubuh Arta ke dalam pelukannya. Ia membelai lembut kepala wanita itu.


"Terimakasih kasih sayang, terimakasih banyak," ucap Arkan ikut terharu.


"Mami, Mark akan jadi abang yang hebat buat dedek bayi, Mark janji akan jaga dedek bayi jika sudah lahir nanti!" seru Mark penuh semangat.


Arkan dan Arta melepas pelukan mereka lalu menatap keempat anaknya satu persatu.


"Ziko juga, Ziko Abang yang keren hehhe," seloroh Ziko dengan senyum sumringah di wajahnya.


"Eitss...Josua juga akan jaga dan sayang sama dedek bayinya, hmmm dedek bayinya ada berapa Mami?" tanya Josua seraya menatap perut rata Arta.

__ADS_1


"Mudah-mudahan ada empat, biar pas satu-satu hahahah," celetuk Jeni yang berharap Maminya mengandung sekaligus empat orang anak.


"Hahahhahaha, ada-ada aja kamu kakak Jeni yang cantik," ucap Arta mencubit gemas kedua pipi anaknya itu.


"Kakak Jeni? Hehehehe yes Jeni jadi kakak, Jeni senang sekali, Jeni punya adik hehehehe, senangnya, sehat-sehat ya dedek bayi ummah," ucap Jeni mengecup perut rata Maminya dengan gemas.


Arkan dan Arta saling pandang, mereka tersenyum dengan reaksi Jeni, namun ada yang membuat mereka tiba-tiba bingung, ekspresi Josua yang tadinya senang tiba-tiba menjadi sendu.


Arkan menarik Josua ke pangkuannya, Mark dan Ziko serta Jeni duduk di samping Kiri Arta.


"Loh Josua kenapa sedih?" tanya Ziko sedikit khawatir. Josua hanya diam dan menunduk.


Arta tahu bahwa trauma anak itu pasti masih menghantuinya.


"Abang Josua kenapa?" tanya Arkan lembut.


tes...tes....tes


Air mata Josua menetes mengenai tangan Arkan yang tengah memeluknya dari belakang.


"Sayang kamu kenapa?" ucap Arta khawatir, bahkan Jeni juga mulai sedih saat ia mendengar suara hati sang kakak, hanya saja ia menunggu reaksi kedua orangtuanya.


"Hmmpp....erghh....huhuhu, a..Abang takut, Papi dan Mami nggak sayang lagi sama Abang dan Jeni karena udah ada Dedek bayi, Abang takut kami dibuang lagi seperti dulu huhuhuhu," tangis Josua mengungkapkan ketakutannya.


Arta dan Arkan saling menatap, mereka tahu betul trauma Josua belum hilang, apalagi semenjak kejadian beberapa hari lalu saat mereka bertemu dengan para penjahat itu.


"Abang Josua dengarkan Papi, Mark, Ziko dan Jeni juga, dengar Papi, apapun yang terjadi kalian adalah anak-anak Papi dan Mami. Abang Mark sebagai putra sulung, Abang Ziko sebagai anak kedua, Abang Josua sebagai anak ketiga dan Jeni sebagai anak keempat di keluarga Argaka," tegas Arkan.


"Mengerti Papi!" seru mereka berempat serentak.


"Nah Abang jangan nangis lagi ya, nanti dedek bayinya ikutan sedih kalau abangnya nangis," ucap Arta sambil menghapus air mata Josua.


"Terimakasih Papi, Mami," ucap Josua kembali ceria, ia mengelus perut rata Maminya, dengan bangga ia berkata,"Aku menyayangi dedek bayi!"


"Kami sayang papi, mami dan dedek bayi," ucap mereka serentak.


"Tapi Mami tidurnya ngeri ya, masa Papi sampai ditendang sih, sakit tau Mami," gerutu Arkan.


"Eh masa iya? apa benar? " tanya Arta bingung.


"Benar Mami cantik!" ucap mereka bersama-sama.


"Eheheheh, tadi Mami mimpi indah jadi gak sadar kalau sampai nendang Papi kalian, heheheh," jawab Arta cengengesan.


"Mama dan Papa udah tau kak?" tanya Arta lagi.


"Sudah sayang, Mama dan Papa yang bantu jagain kamu sebelum aku tiba dan akhirnya pingsan juga disini hahahah," tawa Arkan mengingat dirinya yang terlalu khawatir ada apa-apa dengan sang istri membuat ia juga ikutan pingsan.


"Kamu pingsan? hahahha kok bisa sih?" tanya Arta sambil tertawa tak percaya.

__ADS_1


"Iya Mami, semalam Papi pingsan, untung ada dokter Fiko yang tolongin, kalau nggak Papi bakal tidur di lantai heheh," ujar Ziko.


"Sssstt jangan bilang-bilang Papi malu nih," ucap Arkan sedikit kikuk.


"Huahahahahahah," tawa mereka pecah di kamar itu.


"Ngomong-ngomong sejak kapan kamar kalian pindah kesini?" tanya Arta.


"Sejak semalam Mi, kami pengen dekat aja sama Mami, gak tau kenapa pengen dekat terus," celetuk Mark sambil memeluk Maminya.


"Iya, Josua juga pengen Deket Papi Mami terus heheh," imbuh Josua.


Arta dan Arkan begitu bahagia, hidup mereka kini semakin sempurna dengan kehadiran darah daging mereka.


"Sudah ayo semuanya bersiap-siap, kita akan ke dokter hari ini, Abang Josua dan Jeni akan konsultasi hari ini, Mark dan Ziko izin dari sekolah, nanti setelah Jo dan Jen pulih kalian akan sekolah di yayasan yang sama, supaya kalian bisa saling menjaga," ucap Arkan.


"Hmm...Jo dan Jen masuk TK ya kak?" tanya Arta.


"Sayang, sepertinya kau lupa umur anak kembar kita ini, mereka sudah 7 tahun, kamu yakin mau memasukkan mereka ke taman kanak-kanak?" ucap Arkan seraya merapikan anak rambut Arta.


"Ehehehh, habisnya si kembar mami ini masih seperti anak bayi, menggemaskan sekali heheh," kekeh Arta sambil menguyel-uyel pipi tembem keduanya.


"Ada ada aja kamu, mereka akan masuk sekolah dasar di bawah naungan Argaka Company, Ziko juga akan bergabung dengan SD yang sama dengan si kembar, dan Mark akan masuk SMP Argaka," jelas Arkan.


"Hmm baiklah, terserah padamu Papi," ucap Arta dengan suara lucu seperti anak-anak.


"Jadi kami akan satu sekolah? wah menyenangkan!!" seru Ziko.


"Mark senang heheh," ucap Mark cengengesan.


Saat mereka sedang tertawa, tiba-tiba pintu kamar digedor dari luar.


"Siapa sih?" ucap Arkan kesal.


Pintu terus diketuk dan engsel pintu diputar putar.


Arkan membuka pintu dengan cepat dan...


Brukk.......


Seseorang terjatuh dan wajahnya terjerembab ke lantai.


.


.


.


.

__ADS_1


Like, vote dan komen 😊😉


__ADS_2