
Di sebuah ruangan yang kotor, penuh debu dan usang terdengar tawa seorang pria yang tampaknya sangat puas dengan dua sandera di hadapannya.
Sandera tentu bukan orang sembarangan, mereka adalah seorang wanita cantik dan seorang pria tampan yang terkulai lemas tak berdaya karena mengalami tindak kekerasan yang cukup mengerikan.
"Bos apa yang akan kita lakukan dengan mereka?" tanya Storm.
"Tunggu dan laksanakan saja perintahku. Apakah mereka sudah menandatangani surat itu?" tanya pria tua jelek itu.
"Belum tuan, mereka sudah kami siksa namun hasilnya nihil" jawab Storm.
"Cih masih keras kepala rupanya, padahal sudah disiksa begitu. Wanita itu jangan kalian cicipi biar aku yang pertama hahahhaha" seringai licik dan liar tergambar di wajah pria tua mesum dan menjijikkan itu, ia sangat bersenang-senang menekan lawannya dengan cara licik dan curang seperti saat ini.
"Bagaimana dengan pria itu, apa dia sudah tiba ?" tanyanya lagi.
"Belum tuan, anak buah kitaasih mengawasinya. Informasi terakhir ia sedang dalam perjalanan" ucap Storm.
"Baiklah, kalian berjaga-jagalah jangan sampai mereka berdua melarikan diri" ucap pria tua itu.
Sebenarnya bukan hanya sekali mereka melakukan ini sudah ratusan kali. Target mereka sebelumnya hanyalah perusahaan-perusahaan kecil yang mudah ditindas dan dikendalikan di bawah naungan pria tua itu.
Namun lawannya kali ini lebih menarik yakni Star dan Mars Company, 2 perusahaan raksasa yang sedang dalam masa emasnya.
Ia dengan sedikit perjuangan akhirnya bisa mengakses data penting kedua perusahaan itu, sedangkan Whitegar tampaknya ia menyerah karena cukup sulit untuk menyabotase perusahaan besar yang sudah berdiri puluhan tahun itu.
Jadilah targetnya pada kedua perusahaan yang baru naik daun 5 tahun belakangan ini yang menurut analisis para ahli yang dia miliki, bahwa kedua perusahaan ini cukup ceroboh dalam masalah keamanan data perusahaan.
Padahal ia tidak tahu bahwa ia sudah mengibarkan bendera perang pada pasangan devil yang sangat disegani dalam dunia mafia maupun dunia bisnis.
"Sungguh menarik, tampaknya keponakanku itu cukup pintar memilih pasangan. Ia memilih seorang penghasil uang hahahahhaha" tawa pria tua itu menggelegar ke seluruh ruangan.
"Shhhhh.....sial dasar pria tua bau tanah!!" maki Karina sambil menahan perih di tubuhnya karena mendapat cambukan beberapa kali.
"Hei....kau!" bisik seorang pria yang baru tersadar dari pingsannya akibat pengaruh obat bius serta beberapa lebam di tubuhnya.
"Ssssttt jangan ribut, disini banyak pengawal" balas Karina.
Kini mereka berada dalam ruangan kumuh, lembab, dan bau yang minim cahaya. Bahkan banyak mahkluk hidup kecil berkeliaran disana sungguh membuat jijik dan ngeri.
"Kau bisa berkelahi tidak?" tanya pria itu pelan sambil perlahan-lahan membuka ikatannya dan berhasil lepas.
"Tentu saja bisa, apa kau punya rencana?" tanya Karina.
Pria itu menggeser tubuhnya mendekat lalu membuka ikatan Karina, saat membuka ikatan tangannya, ia tak sengaja melihat sebuah tanda lahir merah di bahu gadis itu karena bajunya robek akibat tindakan para penculik itu.
"Tan...tanda i..ini.... da....darimana kau mendapatkannya?" tanya pria itu terkejut melihat tanda yang tak asing baginya.
"Itu simbol keluargaku, tapi mereka sudah musnah" jawab Karina lirih.
__ADS_1
Pria itu hanya di, ia tak melanjutkan perkataannya. Ia dengan sigap melepaskan ikatan gadis itu lalu memberikan jasnya untuk menutupi tubuh gadis itu.
"Ini pakailah,berapa umurmu?" tanya pria itu.
"25, kenapa kau bertanya?" tanyanya balik.
"Hanya memastikan" jawab pria itu datar.
"Memastik...hmmph" ucapannya terpotong karena pria itu membekap mulutnya supay tidak berbicara lagi.
"Ssst....diamlah, dan panggil aku Kakak" ucapnya.
"Karena aku lebih tua" lanjutnya lagi sambil membenarkan pakaian gadis itu layaknya seorang kakak yang melindungi adiknya.
"Siapa namamu?" tanyanya lagi.
"Karina, bukankah kita sudah berkenalan di acara tuan dan nyonya?" bisik Karina bingung.
"Diamlah, hanya memastikan itu saja, dan sekali lagi panggil aku Kakak" ucapnya tegas.
Karina ingin berontak dan ingin menanyakan alasannya namun ia tak berani karena pria itu menatapnya dengan tatapan tajam namun terasa lembut, tapi bagaimana mungkin?
"ahh aku jadi merindukan kakak hiks hiks hiks" tangisnya dalam hati.
"Kuharap kau adalah dia, gadis kecilku yang malang, gadis kecilku yang kurindukan" lirih pria itu dalam hatinya.
"Sebentar aku akan melihat keadaan, kau siapkan tenagamu untuk melawan mereka mengerti?" ucap pria itu menatap Karina dengan tatapan lembut.
Pria itu berjalan mendekati pintu lalu mengintip berapa orang penjaga disana. Saat ia mengintip, ia melihat pria tua yang mengancam mereka tampaknya pergi terburu-buru keluar dari rumah itu dan diikuti oleh beberapa pengawal sehingga hanya tersisa sekitar 5 orang pengawal yang berjaga.
"Hey, apa kau bisa menggunakan pistol?" tanya pria itu.
"Bisa, kenapa?" tanya Karina.
"Kita akan keluar, tapi berpura-pura lah kau mau ke toilet, saat mereka masuk aku akan menghajar mereka, kau tetap di belakangku jika keadaan darurat tembak mereka" bisik pria itu pelan.
Mereka menjalankan aksinya, saat para penjaga itu masuk, dengan cepat pria itu menyerang dan melumpuhkan mereka,Karian juga ikut melakukan perlawanan.Jadilah mereka kini 2 lawan 5, saat mereka akan beranjak keluar tiba-tiba salah seorang penjaga itu bangkit lalu mengarahkan pistolnya ke kepala Karina.
"Dorr"
Terdengar suara tembakan, Karina dan pria itu terkejut melihat penjaga itu mati tak berdaya.
"Kalian baik-baik saja?" terdengar suara bariton seorang pria yang sangat khas ditelinga mereka.
"Kart / tuan Arkan!!" ucap mereka berdua bersamaan melihat kedua pria yang berada di belakang mereka.
Karina berlari ke pelukan Kart, ya saat ini Roki tidak bangun padahal siang hari adalah miliknya. Kart juga bingung mengapa Roki tidak keluar saat genting seperti ini.
__ADS_1
"Kau Kart bukan?" tanya Karina yang dibalas anggukan oleh Kart.
"Bagaimana bisa?" tanya Karina bingung.
"Entahlah" jawabnya datar.
"Es balok!!"ledek Karina kesal lalu melepas pelukannya.
"Sudah ayo kita tinggalkan markas ini sebelum tua bangka itu datang" titah Arkan sambil menyimpan pistolnya yang dia gunakan menembak penjaga tadi.
"Tito kau tidak apa-apa kan?" tanya Arkan khawatir pada asisten sekaligus sahabatnya itu.
"Saya baik tuan, tapi Karina tampaknya butuh pengobatan" ucapnya sambil menatap Karina dengan lembut.
"Hei ada apa dengan tatapanmu itu, dia milikku" sinis Kart sambil menyembunyikan Karina di belakangnya.
"Karina, bisakah kau melihat ini sebentar?" pinta Tito dengan nada memelas sambil membuka bajunya yang sudah berlumuran darah.
"Apa yang mau kau tunjukkan hah, dasar pria aneh!!" kesal Kart menutupi mata Karina dengan kedua tangannya. Kart tipe yang cukup posesif ternyata.
"Kumohon Kart dia harus melihat ini" pinta Tito sambil menunjuk tanda merah di perutnya.
Karina yang mendengar pembicaraan mereka menarik lembut tangan Kart.
"Biar aku melihatnya" ucap Karina lembut,Kart melepaskan tangannya dari mata Karina.
Karina menatap tanda merah di perut Tito, tanda yang sama dengan miliknya, tanda yang hanya dimiliki Kakak laki-laki satu-satunya.
Karina menutup mulutnya tak percaya, matanya berkaca-kaca, ia menatap lekat wajah pria itu.
"Ka...ka...kakak!!!" teriak Karina menangis menghamburkan pelukannya pada pria itu hingga akhirnya ia kehilangan kesadaran di pelukan sang kakak.
"Karina!!" ucap mereka khawatir.
Mereka pun bergegas meninggalkan tempat itu. Tak lupa Kart meninggalkan setangkai bunga di atas jenazah para penjaga itu sebagai ultimatum bagi orang yang berani bermain-main dengannya.
Kondisi Karina dan Tito melemah, awalnya Karina yang pingsan beberapa menit saat di perjalanan Tito juga turut tak sadarkan diri.
"Ternyata kau berani bermain-main denganku, ingat kau yang memulai perang, maka akan ku akhiri dengan baik !!!" geram seorang perempuan menatap layar yang menunjukkan gerak-gerik musuhnya di layar itu.
"Tak kusangka dia pelakunya nona! menurut data yang kami peroleh, dia sudah banyak melakukan hal ini pada perusahaan-perusahaan kecil hingga ia bisa mengendalikan semua perusahaan itu" ucap Seorang ahli IT dalam kelompok Arta yang dijuluki Si mata elang sebab kemampuannya menemukan target sangat cepat.
"Pantas dia bisa mengotak-atik perusahaan Papa, tapi tunggu saja tanggal mainnya. Kalian segera kumpulkan semua bukti tindakan kriminal mereka, serang pusat data mereka namun ingat selalu bermain bersih jangan sampai melibatkan nyawa orang yang tak bersalah" titah Arta dengan tegas kepada seluruh bawahannya.
"Baik nona!" jawab mereka serentak dan langsung menjalankan aksinya.
"Tak kusangka kau akan menggali kuburmu sendiri!" ucap Arta menatap gambar pria yang tertangkap di layar itu.
__ADS_1
"Perketat keamanan di sekitar mansion utama Whitegar dan juga rumah karyawan, bekerjasama-lah dengan anggota Dark Rose" titah Arta lagi pada bawahannya.
Dia melenggang keluar dari ruang bawah tanah tempat beroperasinya kelompok mafia Blood Tears.