
"Sudah nangis-nangis nya apa kalian tidak lapar hmm?" cerocos Arta sambil memegangi perutnya yang sudah keroncongan.
...--------------------------...
"Sial sial sial!!" teriak Si Pria tua sambil menghancurkan seluruh barang-barang di dalam ruangan itu. Pria tua itu marah besar karena melihat markasnya luluh lantak, penjaganya tewas dan tawanan mereka melarikan diri. Bahkan kamera CCTV hancur di tembak oleh orang tak dikenal.
"Cepat lacak kalian siapa yang melakukan ini semua!!!" bentak Pria tua itu.
"Ma..maaf tu..tuan, semua rekaman sudah hancur, anak buah kita tewas semua" jelas Storm pada bosnya.
"Kurang ajar!!! bagaimana mungkin tak ada yang bisa kalian lakukan!! apa saja kerja kalian bajingan!!" teriak pria tua itu marah. Ia hanya pergi sebentar karena ada yang menyabotase perusahaa nya namun saat ia kembali, sumber uangnya malah kabur dan hilang entah kemana.
"Cepat kalian cari mereka!! jika sudah ketemu bawa dan seret kesini!!" perintahnya pada anak buahnya.
Flashback
Arta telah berdiskusi dengan Kart mengenai penculikan Karina. Dengan arahan dari Arta, Kart melaju menuju sebuah rumah kosong di tempat terpencil tempat Karina diculik sesuai dengan posisi GPSnya.
Arta dan kelompoknya tidak melakukan penyerangan secara langsung pada pihak lawan. Mereka memancing bos mereka agar keluar dari markas itu dengan bermain-main dengan cara menyabotase data perusahaan pak tua itu untuk sementara waktu.
Dan benar saja, pancingan mereka dimakan oleh lawan, sehingga saat mereka pergi dengan sigap Kart melaju kesana diikuti beberapa orang anak buah. Di perjalanan, Kart justru berpapasan dengan Arkan yang juga sedang menyusuri daerah itu untuk mencari keberadaan Tito diikuti oleh anak buahnya.
Dan arah tujuan mereka sama, yaitu sebuah rumah yang tampak mencurigakan dan dijaga oleh beberapa penjaga serta dilengkapi dengan kamera pengawas.
Dengan sigap atas perintah Kart dan Arkan, anak buah mereka menembaki kamera CCTV dengan menggunakan pistol yang memakai peredam sehingga tidak menimbulkan suara.
Saat mereka mengamati dari jauh, tiba-tiba 3 penjaga di luar masuk, sepertinya ada yang sedang terjadi di dalam rumah itu.
Perlahan namun pasti,Arkan, Kart dan anak buahnya mendekat lalu memeriksa keadaan sekitar. Arkan dan Kart masuk berdua sementara anak buahnya diperintahkan memeriksa apakah masih ada kamera tersembunyi di tempat itu. Bila perlu putus aliran listrik ke rumah itu, begitulah perintah Arkan pada anak buahnya.
Saat masuk mereka melihat pintu gudang terbuka dan ada keributan disana, hingga saat mereka melihat seorang anak buah menodongkan pistolnya ke arah Karina dan Tito,dengan cepat Arkan menembak kepala pria itu.
Flashback end
"Siapa yang berani bermain-main denganku?apakah kedua perusahaan baru yang ceroboh itu memiliki kekuatan yang lebih dari Perusahaanku?" ucapnya bingung dengan kejadian ini.
...---------------------...
Hari menjelang malam, Tito dan Karina masih dirawat di rumah sakit, Kart tinggal bersama mereka. Kini kamar mereka disatukan atas permintaan kakak beradik itu dengan alasan karena banyak yang ingin mereka bicarakan.
"Kak, apa kakak tak mau ikut kami saja? " tanya Arta yang sudah kelaparan sejak tadi.
"Nggak, kakak disini aja " jawab Kart datar.
"Baiklah, kalau begitu kami permisi kak, nanti Arta kirimkan makan malam buat kakak" ucap Arta sambil memegang pundak pria itu.
__ADS_1
"Kak,jangan terlalu sedih" bisik Arta. Kart terkejut dengan bisikan Arta, dia menatap heran dengan Arta bagaimana adiknya itu tahu jika dia sedang bersedih.
"Hmm ya sudah, Karina, Tito aku dan Kak Arkan pulang dulu, semoga kalian cepat pulih" ucap Arta pada kakak beradik yang sedang asyik berbincang itu sehingga membuat Kart merasa terabaikan.
"Dan ku titip kakakku " ucapnya sambil melangkah keluar menggandeng tangan Arkan.
"Eh...i..iya Terimakasih Arta" ucap Karina tersadar.
Karina menatap Kart yang duduk bersandar di sofa ruangan itu sambil termenung menatap layar ponselnya, ada perasaan bersalah dalam hatinya karena sejak tadi dia mengacuhkan pria itu. Kart memiliki perasaan yang lebih sensitif dibandingkan dengan Roki.
"Kak, sebentar ya" ucap Karina pada Tito.
"Ada apa?" tanya Tito bingung, lalu matanya mengikuti arah mata Karina dan ia mengerti.
Karina hanya tersenyum lalu bangkit dari tempat tidurnya, ia memegang botol infusnya lalu berjalan ke arah Kart yang sedang termenung.
"Sayang!" panggil Karina berdiri dihadapan Kart.
Kart mengangkat kepalanya lalu menatap Karina dengan mata biru sendu miliknya. Kart sudah melepas lensa kontak nya.
"Kenapa kau berdiri? apa ada yang kau butuhkan? apa masih sakit? sini kubantu" ucap Kart yang sudah bangkit berdiri sambil meraih botol infus milik gadis itu dan mengecek kondisinya dengan teliti.
Karina memeluk pria itu dengan erat, tak terasa bulir-bulir bening membasahi pipinya.
"Hei...kenapa kau begini hmm?" tanya Kart bingung.
"Maaf sedari tadi aku tak menghiraukan mu, maaf aku egois, maaf aku membuatmu sedih dan khawatir dan terimakasih untuk semuanya hiks hiks hiks" tangisnya lagi sambil membenamkan kepalanya di dada bidang pria itu.
"Hemmm.....ternyata kau masih ingat denganku ya heheheh sudah sudah kau ini cengeng sekali" ledek Kart sambil mengusap air mata di pipi gadis itu.
"jangan khawatir, aku tidak apa-apa selama kau bersamaku dan tidak melupakanku. Dan selamat telah bertemu dengan kakakmu sayang" ucapnya sambil mengusap pundak gadis itu dengan lembut.
"Hiks hiks hiks Terimakasih banyak, aku mencintaimu" lirih Karina dalam pelukan pria itu.
"Hemmm" jawabnya asal.
"Huh dasar es batu hiks hiks hiks" balas Kerina sambil sesenggukan.
"Pegang ini" ucap Kart memberikan botol infusnya pada Karina.
Hap
Kart menggendong Karina dengan kedua tangannya.
"Eh apa, ja..jangan begini aku malu tau" bisik Karina menahan rasa malunya.
__ADS_1
"Sudah diam" balas Kart lalu membawa karina ke atas ranjangnya yang bersebelahan dengan Tito.
Perlakuan manis Kart tak lepas dari pandangan Tito. Tito tersenyum simpul melihat betapa Kart menjaga dan menyayangi adiknya.
"Ehem.." ucap Tito.
"Eh kak hheheheh, kakak kenalkan sama Kart?" tanya Karina untuk mengusir kecanggungan.
"Tentu kenal, dia temanku dan sekarang sepertinya akan menjadi adik iparku hahahahah" tawa Tito menggoda sepasang sejoli itu.
Karina bersemu sementara Kart terlihat biasa-biasa saja namun kupingnya sudah memerah menahan malu.
"Apa kakak juga tau kalau Kart" ucap ya terputus.
"Aku tau" ucap Tito .
Kart menaikkan alisnya, sebab ia tak pernah memberitahukan perihal penyakitnya pada orang lain selama ini.
"Awalnya aku sering bertemu dengan Roki saat bekerja bersama Arkan dan kami juga sudah cukup akrab. Namun, pernah beberapa kali aku berpapasan dengannya tapi ia tak mengenal ku. Hingga saat aku di rumah sakit menemui psikiater, aku melihat Kart atau Roki tengah konsultasi dengan dokter yang juga menanganiku. Lalu karena penasaran aku sedikit mendengar pembicaraan mereka, dari situ aku tahu jika Kart punya alter ego" jelas Tito.
"Namun, kudiamkan saja karena tidak membahayakan bosku. Dan aku tetap berteman dengannya" tambahnya lagi.
"Kakak ternyata orang yang terlalu kepo ya" ledek Karina.
"Yah begitu lah hahah" balas Tito terkekeh.
"Sayang?" tanya Karina pada Kart yang melamun disampingnya.
"Hei, kenapa kau banyak melamun hari ini hmm?" tanya Karina sambil memegang tangan Kart dengan lembut.
"Kar, sepertinya dia sudah pergi, eh bukan bukan sepertinya kami sudah menyatu" ucap Kart tiba-tiba.
"Apa !!" ucap Karina terkejut.
.
.
.
.
next
like like like , vote vote vote, comment,comment comment
__ADS_1