
Mansion Utama Whitegar
Ria dan Lina mengirim foto Arta yang tampak seperti sedang bermesraan dengan pria lain ke beberapa nomor yang tertera di dalam daftar itu.
Sontak pelayan disana terkejut dengan kiriman foto itu,namun banyak dari mereka yang memilih tutup mata dan telinga dengan masalah itu, sebab mereka sadar bahwa mereka diberi gaji yang besar untuk tetap diam dan melupakan masalah seperti ini.
"Kenapa para pelayan itu tidak terkejut?" bisik Lina yang bingung melihat ekspresi rekan kerjanya yang lain yang terlihat biasa-biasa saja setelah melihat foto itu.
"Asal kau tahu mereka itu terlalu bodoh karena sudah digaji dengan besar di rumah ini, sudah ayo kita cari orang lain yang mau diajak kerja sama!" ucap Ria dengan liciknya.
"Baiklah, tapi bagaimana kita melakukan rencana kita?" tanya Lina penasaran.
"Begini......" ucap Ria menjelaskan rencananya untuk menjebak Arta.
Tiba-tiba Vika dan Indah yang tengah menyamar datang mendekati mereka berdua yang duduk di dapur belakang.
"Mbak Ria, Mbak Lina ini maksudnya foto apa?" tanya Indah pura-pura bodoh.
"Ndah, kamu tau nggak ada hubungan apa nona Arta dengan pria itu?" tanya Ria antusias.
"Setahuku mereka dekat sekali, bahkan aku direkomendasikan untuk bekerja disini karena kedekatan mereka berdua," ucap Indah yang memang kenyataannya seperti itu.
"Wah benar dong yang kudengar tadi, mereka peluk-pelukan sambil sayang-sayangan tepat setelah Indah pergi," ujar Ria.
"Berarti mbak Ria ngintip nona dong," ucap Vika dengan polosnya padahal maksudnya adalah untuk menyindir.
"Eh si bodoh jelek ini, mulut tonggosmu itu jangan asal ngomong dong, ngapain pulak aku ngintipin mereka, gak penting banget lagian kebetulan aku lewat ya kufoto saja," tukas Ria sambil memandang rendah ke arah Vika.
"Ya maaf mbak," ucap Vika mengerucutkan bibirnya.
"Tapi apa rencana mbak Ria dengan foto ini, kalau dikasih tau ke tuan pasti bakal ada perang dunia ke sepuluh nanti!" ucap Indah.
"Kalian nggak perlu tahu, emang kalian mau bantuin hmmm?" tanya Ria.
"Maulah mbak, secara mbak itu kan pinter terus cantik lagi Vika pengen tau dong rahasia mbak, apalagi Vika nggak bisa dandan, sebagai balasannya entar Vika bantuin deh," ujar Vika sambil menggoyang-goyangkan lengan Ria dengan gaya sok imut.
"Lepasin duku, ihk udah jelek megang-megang lagi, tompel kamu besar banget, giginya juga tonggos bakal mahal perawatan kamu nanti," ledek Ria sambil menggulung gulung ujung rambutnya.
"nggak apa-apa mbak, yang penting Vika cantik heheh," kekeh Vika.
"Iya mbak Indah juga sebenarnya setuju ngebantuin mbak Ria, masa iya majikan kita diselingkuhin sama nona Arta," gerutu Indah.
"Baiklah, entar aku kasih imbalan buat kalian, jadi rencananya begini...." Ria menjelaskan rencananya pada Vika dan Indah, sementara itu Lina fokus mendengarkan mereka.
Tanpa mereka sadari, di rumah sakit tempat si kembar di rawat tampak orang-orang dewasa itu terpingkal-pingkal mendengar rencana licik pelayan pelayan itu, apalagi cara Vika yang meminta diajari berdandan padahal dia sangat benci hal itu.
__ADS_1
"Buahahahahahah.....Tito hebat sekali kekasihmu ini, momen langka saat Vika minta diajari hal paling dia benci," tawa Samuel terpingkal-pingkal.
"Hahahah...eh tapi Indah aktingnya hebat juga ya kan Cel," ucap Karina sengaja menyindir 'Celo yang lagi asik memakan cemilan bersama anak-anak di ruangan itu.
"Apaan sih tikus got jangan mancing deh!" kesal Celo karena namanya dikait-kaitkan.
"Vika tanpa minta diajari pun dia udah mahir," ucap Tito memandang layar laptop yang menunjukkan rekaman CCTV saat mereka berbincang.
"Lalu bagaimana kalian akan menghadapinya para cecunguk ini Arkan?" tanya Kart mulai serius.
"Kita ikuti saja rencananya, setelah itu permalukan dia!" ucap Arkan menyeringai.
"kurasa itu bukan ide yang bagus," ucap Kart membuat semuanya menatap ke arah pria tampan itu.
"Lalu bagaimana kak?" tanya Arta yang tengah mengupas buah untuk anak-anaknya.
"Kita buat mereka mengikuti rencana kita, setelah itu hancurkan mereka! aku tak suka ada pelakor di sekitar orang-orangku!" ucap Kart.
"Ya Kart benar, apalagi seorang perempuan licik seperti dia yang bisa kapan saja mengubah rencananya, bahkan kita harus berhati-hati dengan semua tindakannya!" ucap Karina serius.
"Tapi apa mereka ada hubungannya dengan orang-orang jahat itu?" tanya Arta sedikit khawatir mengingat kondisi si kembar yang masih drop.
"Sepertinya tidak, ini murni hanya orang-orang munafik yang mencoba mencari uang kaget dari majikannya," ucap Samuel dengan seringai di wajahnya.
"Ck....apa kita juga harus mengurus manusia-manusia munafik ini,sungguh merepotkan,aku tak menyukai gadis yang bernama Linu atau apalah itu, dia menyakiti anak-anak ku!!" kesal Arta sambil menusuk-nusuk buah yang ada di hadapannya hingga hancur tak berbentuk membuat mereka merinding melihat wanita itu.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja," ucap Arkan, mendengar ucapan Arkan hati Arta sedikit tenang.
"Hufftt....aku tak ingin anak-anak ku disakiti, Mark dan Ziko juga mengalami kejadian buruk bersama gadis tepung kanji itu!!" kesal Arta mengingat cerita Mark dan Ziko.
"Apa yang mereka perbuat?" tanya Kath.
"gadis itu sepertinya menyukai Pak Kus, dia sering menggunakan Mark dan Ziko sebagai alasan agar ia selalu menempel dengan Pak Kus, bahkan Mark dan Ziko sering dipukuli saat di rumah lamanya, mereka tak berani memberitahukan Pak Kus karena ancaman gadis ular itu!" ucap Arta yang membuat mereka semua terdiam.
"Kenapa ada saja orang-orang yang menyiksa anak-anak sehebat dan sebaik mereka?" ujar Kath tak habis pikir dengan pola pikir gadis jahat itu.
"Entahlah, mungkin hal seperti ini menjadi euphoria bagi mereka," ucap Kart.
"Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Arta.
"Begini...." Kart menjelaskan rencananya, mereka sebisa mungkin menghindari resiko yang berkaitan dengan senjata tajam kalau kalau kedua gadis ular itu menggila.
"Tak bisakah langsung dieksekusi?" ujar Arta yang membuat mereka semua geleng-geleng kepala dengan wanita itu.
"Kak ternyata kau seorang psikopat ya,"ledek Celo yang dihadiahi tatapan tajam oleh Arta.
__ADS_1
"Ehhei canda kak canda," ucap Celo mengangkat jarinya membentuk huruf V.
"Mama!" panggil Jeni dari atas ranjangnya.
Arta menoleh dan langsung menghampiri putri kecilnya itu, " ada apa sayang?" tanya Arta lembut.
"Jeni bosan di rumah sakit, bisa kita pulang?" tanya Jeni dengan mata bulat bersinarnya yang sangat menggemaskan itu.
"Iya Ma, kita pulang ya Abang udah sehat kok," ucap Josua merengek minta pulang.
"Sebentar Mama tanya Papa dulu ya," ucap Arta.
"Kak apa kita bisa rawat jalan saja si kembar?" tanya Arta pada Arkan.
"Aku bukan dokternya sayang, sebentar biar kutanyakan pada dokter yang merawat mereka tadi," balas Arkan.
"Biar saya saja tuan," ucap Tito masih dengan nada formalnya, tanpa menunggu jawaban dari Arkan dia langsung keluar dari ruangan itu menemui dokter anak.
"Kenapa kak Tito seperti itu?" tanya Karina heran.
"Dia masih merasa bersalah atas kejadian itu, dia baik-baik saja aku sudah mengenalnya sejak lama," ucap Samuel menanggapi pertanyaan Karina.
"Hmm... baiklah, tapi aku sedikit khawatir," ucap Karina.
"Sudahlah Karina, kalian itu sama persis, kalau kau juga melakukan kesalahan pada Arta kau akan terus berbicara formal dengannya,aku sudah mengenalmu dan sekarang aku semakin percaya bahwa kalian itu kakak beradik," ujar Kart yang dibalas senyuman oleh Karina.
"Kau benar Kart," jawab Karina.
Tak beberapa lama Tito kembali dari ruangan dokter, "tuan, si kembar diberi ijin untuk rawat jalan namun dokter mengatakan harus segera membawa mereka ke psikolog," ujar Tito dengan sopan.
"Hmm baiklah, terimakasih Tito!" balas Arkan sambil menganggukkan kepalanya.
"Sudah menjadi tugas saya tuan," jawab Tito.
"Kak Tito!!!" teriak Arta membuat semua yang berada di ruangan itu terkejut dengan suara wanita itu, apalagi Tito hampir saja ia terjatuh akibat suara nona mudanya itu.
"Ada apa nona?" tanya Tito sopan.
"Bisakah kau tidak berbicara formal seperti itu? ini bukan kantor dan jam kerja sudah berakhir hentikan kekonyolan mu itu lalu bersikaplah normal, kau ini sama saja dengan adikmu itu ck...ck...ck memang darah lebih kental daripada air," gerutu Arta yang tak tahan dengan sikap formal Tito persis seperti Karina asistennya.
"Hahahahahah," mereka semua tertawa mendengar celetukan perempuan itu, baru kali ini mereka mendengar seorang wanita yang merepet lebih parah dari Mama Lily yang terkenal bisa jadi rapper dadakan.
.
.
__ADS_1
.
like, vote komen guys 😉😉😉