
"Ada apa ini? kenapa kalian melarang kami masuk? asal kalian tahu pemilik perusahaan ini akan menikah dengan putriku!" teriak Sanjaya ayah Robin yang jahatnya sebelas dua belas dengan Jaya Mahendra.
"Kenapa kalian menghalangi jalan kami? minggir sana!" bentak Jaya Mahendra yang sudah kesal karena mereka tidak diberi ijin masuk ke gedung Mars Company.
"Maaf tuan tapi siapa yang anda maksud akan menikah? sebab Mr. Lu sudah menikah dengan wanita yang sangat cantik," ucap penjaga tersebut yang ternyata adalah Vasko yang sedang menyamar menjadi pengawal.
"Apa?" teriak kedua pria paruh baya itu, sementara Robin hanya diam menyaksikan perdebatan mereka.
"Mohon maaf tuan Sanjaya dan tuan Jaya Mahendra yang terhormat, perusahaan sedang ada acara penting mohon tidak menimbulkan keributan di sekitar perusahaan," ucap Vasko.
Tito tiba di perusahaan sambil di kawal oleh beberapa anak buah. Ia keluar dari mobilnya lalu berjalan memutar membukakan pintu mobil untuk CEO sesungguhnya.
"Hei bukankah di presdir kalian, minggir aku ingin bicara!" tegas Jaya Mahendra, ia berjalan mendekati Tito yang berdiri didepannya mobil mewah itu.
"Mr. Lu lama tidak berjumpa,Anda masih ingat dengan saya bukan?" tanya Jaya Mahendra berbasa-basi.
Tito melirik pria itu, ia menaikkan satu alisnya menatap aneh pada Jaya, "Mohon maaf siapa yang anda bilang Mr. Lu?" tanya Tito dengan seringai jahat diwajahnya.
"Ah tentu saja Anda tuan, ternyata Anda memiliki selera humor yang bagus hahahah," ucap Jaya sok akrab.
"Ahh....saya ingat Anda pria tua bangka yang menjual seorang gadis pada saya demi saham di Mars Company," ucap Tito membuat mereka bertiga bungkam.
"Apa maksudmu Mr. Lu kau telah menodai adikku,dan sekarang kau berkilah ingin melarikan diri?" teriak Robin yang langsung mendapat perhatian dari karyawan yang lalu lalang di sekitar mereka.
"Cihh....kau yakin memberikan adikmu untuk Mr. Lu? Kapan dan dimana? apa aku pernah mengatakan bahwa aku Mr Lu?" cerca Tito menyudutkan ketiga pria rakus uang itu.
"Jangan main main bajingan! adikku dimana dia? kau apakan dia?" kesal Robin, ia mencoba menekan Tito dengan mencari adiknya.
"Adik anda? sepertinya dia bukan adik bagi Anda,dia hanya budak untuk keluarga kalian! Pengawal seret mereka dari sini,aku tak ingin ada keributan di perusahaan," titah Tito, dengan sigap pengawal menyeret tiga pria itu menjauh dari hadapan Tito sebab sang Presdir akan keluar.
Pintu mobil mewah itu dibuka, tampak seorang pria gagah, dengan kacamata hitam, stelan jas Formal berwarna Biru tua lengkap dengan sepatu hitam mengkilat dan jam tangan Rolex keluaran terbaru melekat di pergelangan tangan kirinya.
Wajah tampan, kulit putih bersih ditemani cologne yang menenangkan siapa saja yang berdekatan dengan pria itu.
"Lama sekali, apa kau bertelur dulu baru membukakan pintu untukku?" gerutu Arkan menatap Tito dengan wajah sedikit marah.
"Maaf tuan, ada sedikit masalah tadi," jawab Tito dengan penuh hormat.
"Hmmm.....baiklah," jawabnya cuek.
"Hei kenapa kalian menghadang orang-orang itu? apa mereka butuh sumbangan? berikan saja mungkin mereka tidak makan setelah menjual seseorang," ledek Arkan sambil menatap mereka dengan tatapan merendahkan.
__ADS_1
"Sialan kau! siapa kau berani-beraninya menghina kami !" teriak Robin mencoba memberontak dari pegangan para pengawal itu.
"Lepaskan aku bajingan!" ucap Robin meronta-ronta.
"Ck.....tukang selingkuh tak layak berada disini, seret mereka keluar dari sini, jangan sampai mereka menginjakkan kaki di perusahaanku!" titah Arkan dengan suara tegas dan menggelegar.
"Sialan! asal kalian tahu, kamu mempunyai 20% saham disini, jika kalian main-main maka akan kami tarik!" tantang Sanjaya ayah Robin.
"Hahahahah....ternyata kalian mudah dibodohi! Tito serahkan dokumen palsu itu di hadapan bajingan ini!" perintah Arkan dengan suara datar.
"Tito? bukankah dia Mr. Lu?" gumam Robin tak mengerti.
"Baik Mr. Lu!" tegas Tito sambil mengambil beberapa dokumen palsu yang digunakan oleh mereka untuk menjebak orang-orang rakus itu.
"Mr. Lu? jadi Mr. Lu adalah pria ini? tapi bukankah hasil penyel...." Sanjaya terdiam saat melihat tatapan menusuk Jaya Mahendra, hampir saja ia mengatakan bahwa mereka meretas sistem keamanan perusahaan itu.
Namun bukan Arkan namanya jika ia tidak tahu tentang hal ini, ia tersenyum tipis menatap jijik ke arah orang-orang itu.
"Tuan Robin Anda seharusnya sudah tahu siapa Mr. Lu yang sesungguhnya, sebab kalian pernah bertemu di festival bukan?" ucap Arkan seraya menaikkan satu alisnya dengan tatapan merendahkan pada mereka.
"A....apa? ja..jadi kau Mr. Lu?" ucap Robin terbata-bata, Jaya dan Sanjaya membelalakkan matanya tak percaya bahwa mereka telah dibodohi. Bagaimana mungkin sebuah perusahaan besar tidak memiliki sistem keamanan yang kuat? sungguh mereka tak habis pikir telah dibodohi oleh orang-orang itu.
Tanpa memperdulikan ketiga pria itu, Arkan melenggang masuk diikuti oleh petinggi-petinggi lain dari Star Company dan juga perusahaan-perusahaan besar yang telah dilobi untuk ikut bekerjasama dengan Argaka Company.
"Ada banyak virus berbahaya, kalian juga pakailah masker!" sindir Tito sambil mengenakan masker miliknya.
"Sial!!!" teriak Jaya Mahendra. Langkahnya untuk menjebak pria itu dengan menggunakan anak angkatnya justru membuatnya dipermalukan.
"Pfftt....lihatlah pria tua itu, sepertinya mereka berhadapan dengan bos galak kita kasihan sekali," ledek karyawan yang berpapasan dengan mereka.
"Hahahha....kau benar kasihan sekali, ah tapi ternyata Presdir kita sangat tampan!" ucap Pegawai itu bersemangat lalu masuk ke dalam perusahaan.
*drrttt drrrt drrtt
drrrt drrt drrttt*
Ponsel Jaya Mahendra bergetar, ada panggilan dari asistennya yaitu Storm yang merangkap menjadi asisten sekaligus pengawal bagi Jaya Mahendra.
"Ada apa? baru saja aku mau menelepon untuk mempertanyakan kinerja kalian bajingan!" kesal Jaya Mahendra.
"Maaf tuan, saya ingin memberitahukan bahwa dua puluh perusahaan yang bernaung di bawah Mahendra grup menarik saham mereka dan memutuskan kontrak kerja sama secara sepihak, bahkan kami tak bisa menghubungi perusahaan-perusahaan itu, data-data mereka juga sudah dikunci tuan!" ucap Storm.
__ADS_1
"Apaa!!! bagaimana cara kerja kalian bodoh!!" teriak Jaya Mahendra yang membuat Robin dan Sanjaya mengerutkan keningnya heran dengan pria itu.
"Maaf tuan Jaya Mahendra yang terhormat! Saya Storm selaku asisten Anda mengundurkan diri hari ini, terimakasih telah menghancurkan keluarga saya Jaya Mahendra !!" ucap Storm dengan nada berapi-api, lalu mematikan panggilan Secara sepihak.
"Halo...hei apa maksudmu? arghhh bajingan kalian semua!!" teriak Jaya Mahendra.
"Kalian ikut aku ! kita ke Star Company kurasa Fanya bisa membantu kita!" ucap Jaya Mahendra pada Sanjaya dan Robin.
"Maaf tuan Jaya, kami tak ingin terlibat lebih jauh lagi dengan segala kekonyolan Anda, mungkin kita memang besan tapi Saya masih punya harga diri! umur saya jauh lebih tua dari Anda tetapi Anda membentak-bentak saya seperti bawahan Anda, kami permisi ada hal lebih penting yang harus kami urus terkait Sanjaya Grup, Ayo Robin!" tegas tuan Sanjaya meninggalkan Jaya Mahendra sendiri disana.
"Bajingan kalian!! lihat akan kuhancurkan kalian!" ucap Jaya Mahendra lalu masuk ke dalam mobilnya.
Dia pergi menuju Star Company, berpikir bahwa istrinya telah berhasil menguasai perusahaan itu. Namun saat ia sampai ke tempat itu, penolakan yang sama juga dialaminya.
"Biarkan aku masuk!" teriak Jaya Mahendra.
Tiba-tiba Detektif dari kantor kepolisian menghadangnya lalu menunjukkan surat penangkapan.
"Selamat siang tuan Jaya Mahendra, Anda ditangkap atas kasus pembunuhan, korupsi dan perdagangan ilegal, anda berhak berbicara maupun diam, tangkap dia!" ucap pihak kepolisian itu.
"Tidak! apa yang kalian lakukan! lihat saja akan ku tuntut kalian!" teriak Jaya Mahendra meronta-ronta saat Polisi memborgol tangannya.
Jaya Mahendra semakin tidak terkendali, ia meronta-ronta bahkan sampai memukul beberapa polisi disana, hingga dia terlepas lalu berusaha lari dari mereka.
Dorr
Satu tembakan timah panas mengenai kaki pria paruh baya itu.
"Arghh..." Jaya terjerembab ke atas aspal, dengan segera petugas mengikat pria yang mulai melemah itu.
"Lepaskan aku mau bertemu anak dan istriku!" teriak Jaya Mahendra.
"Nyonya Fanya dan nona Tania sudah menunggu anda di penjara tuan!" tegas Pihak kepolisian yang ternyata adalah si mata elang dari Blood Tears.
"Apa!! Tidaaaakkkkk," teriak Jaya Mahendra.
.
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen 😊😉