Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
orang miskin belagu (Revisi)


__ADS_3

"Obat apa Kek?" tanya Josua kecil yang mendengar percakapan mereka.


"Eh nggak sayang, gimana bajunya cocok?" ucap Papa George.


"Keren Kek!" seru si kembar kompak.


......-------------......


Arkan dan Arta masih asik memilih perlengkapan yang mereka butuhkan. Lebih tepatnya perabotan rumah tangga yang mereka perlukan dan kebutuhan untuk anak kembar mereka.


Mr. George dan Mrs. Lily sudah pulang bersama si kembar Jo dan Jen karena keduanya sudah tampak lelah, apalagi mereka baru keluar rumah sakit langsung ikut berbelanja. Mereka di jemput oleh Irwan Asisten Mr. George.


"Kak coba lihat ini, menurutmu si kembar akan menyukainya?" ucap Arta menunjukkan sepasang ransel untuk anak kembar.


Mereka berencana akan memasukkan si kembar ke sekolah formal.


"Hmm, bagaimana kalau yang ini?" ucap Arkan menunjuk tas lain dengan desain yang cukup elegan dan mewah dengan nuansa warna hitam putih.


"Astaga Kak, mereka masih anak-anak gak usah yang begitu" ucap Arta.


"Tapi aku ingin mereka menikmati semua kemewahan itu Ar" ucap Arkan lagi.


Arta menggeleng-gelengkan kepalanya heran dengan perkataan Arkan.


"Kak dengar ya, apa kakak mau mengajari anak kakak jadi orang yang manja dan terbiasa hidup glamor? " tanya Arta dan ditanggapi dengan gelengan dari Arkan.


"Nah, kita sebagai orang tua harus menanamkan sifat rendah hati pada mereka. Lagi pula tas seperti itu hanya akan mengundang bahaya tau, oh iya aku bukannya pelit loh, tapi cuma mau menerapkan kebiasaan yang benar di keluarga kecil kita," jelas Arta panjang lebar yang ditanggapi senyuman penuh arti dari Arkan.


Arkan tiba-tiba memeluk Arta dari belakang sontak membuat gadis itu terkejut apalagi saat itu mereka di depan umum.


"Kak, jangan peluk peluk disini ah malu tau!" gerutu Arta sambil melepaskan pelukan Arkan.


"Heheheh, iya maaf maaf. Aku bangga sama kamu," bisik Arkan lalu beranjak ke arah lain untuk melihat lihat tas di toko itu.


Sementara Arta wajahnya bersemu mendapat perlakuan manis dari suaminya itu. Ia tersenyum sambil memilih tas yang sekiranya cocok untuk anaknya.


Saat Arkan sedang melihat-lihat beberapa koleksi tas keluaran terbaru rumah Gucc*, ia dikejutkan dengan kedatangan pasangan yang baru menggelar pertunangan nya.


"CK CK CK , apa toko ini sudah mengalami kebangkrutan hingga orang miskin sepertinya bisa sembarangan masuk ke sini?" sindir Robin yang kini tengah berdiri di samping Arkan.


Arkan tak menghiraukan suara itu, ia tetap fokus pada karya seni yang indah dan menurutnya sangat cocok jika dikenakan oleh istrinya.


"Cih, sudah Cupu, jelek, miskin ternyata tuli juga ya!" ejek Tania menatap sinis pada Arkan yang hanya diam mengamati tas-tas limited edition di hadapannya.


"Heh cupu! mana istri cacatmu itu hah? apa kau sudah muak dengan wajahnya itu. Tenang saja kau bisa menikmati bekasku aku tidak menginginkan manusia cacat!" ucap Robin dengan nada mengejek.

__ADS_1


"Hahaha, dia bukan barang bekas dia berlian yang kalian buang dan aku sungguh beruntung menemukannya!"


BRUGHH


Sebuah hantaman keras terbang tepat di rahang pria itu hingga membuatnya jatuh ke lantai.


"Sekali lagi ku dengar kau menghinanya, maka bersiaplah mengunjungi akhirat!" ucap Arkan tegas dan dingin hingga membuat Tania dan Robin merinding mendengarnya.


"Kau tidak apa apa beb? astaga wajahmu jadi lecet gara-gara si cupu ini!" bentak Tania sambil membantu Robin berdiri.


"Apa-apaan kau hah? dasar Cupu, jelek dan Miskin! pantas saja hanya si cacat itu yang mau mendampingi mu! beruntungnya diriku tak jadi menikah dengan manusia menyedihkan sepertimu!"


"Cukup!!" Tegas seorang wanita dengan suara datar dan tatapan mengintimidasi.


glek


"mengapa auranya begitu menyeramkan," gumam Tania dalam hati.


"Apa maumu Tania Mahendra!!" bentak Arta masih dengan tatapan mengintimidasi.


"Cih, dasar orang miskin belagu! aku hanya ingin mengundang kalian ke acara pernikahan kami! dan kalian harus datang!" ucap Tania.


"Kami tak perlu menghadiri acara tak penting itu," ucap Arkan menarik tangan Arta hendak keluar dari toko itu.


"Hahaha kamu benar beb, bekasku dan bekasmu sungguh jadi orang yang mengenaskan," ledek Robin dengan tawa di wajahnya.


Arkan mengeratkan kepalan tangannya. Ingin rasanya ia mencabik-cabik orang di hadapannya itu. Arta yang melihat itu menggenggam lembut tangan Arkan seraya menenangkan pria itu.


"Biarkan saja kak," ucap Arta lembut.


"Kami akan datang," ucap Arta lalu menarik Arkan meninggalkan dua makhluk astral itu disana.


"Hei datanglah dan jangan membuat malu hahahah," teriak Tania yang tak digubris oleh Arta dan Arkan.


....


"Kamu serius akan datang?" tanya Arkan pada Arta yang duduk di samping kursi pengemudi. Kini mereka dalam perjalanan pulang ke rumah utama setelah menyelesaikan acara belanja mereka.


"Iya aku serius, tapi kalau kakak mengijinkan sih," ucap Arta menatap lembut suaminya itu.


"Baiklah, kamu bisa pergi jika kita semua ikut," ucap Arkan.


"Kita?" tanya Arta bingung.


"Aku, Kamu dan anak-anak," ucap Arkan menatap Arta sebentar lalu kembali fokus pada jalanan di depannya.

__ADS_1


"Ohhh Hahahahh,ku pikir kakak mau mengajak semua orang di rumah juga para pelayan," ucap Arta terkekeh geli dengan pikirannya.


"Astaga kamu ini ya, Kamu pikir aku akan mengajak rombongan besar untuk pesta itu. Aku hanya mau memamerkan istri dan anak-anakku di hadapan kolega-kolega yang pasti akan berkumpul disana," jelas Arkan mengatakan maksudnya.


"Pfftt hahahhaha, Kalau begitu pestanya akan berakhir menjadi pesta keluarga kita kak," ucap Arta terbahak-bahak membayangkan jika mereka nanti akan menjadi sorotan disana bukan pengantinnya lagi.


"Kau ini ya. Imajinasimu berkembang kemana-mana," ucap Arkan sambil mengacak-acak rambut Arta hingga membuat wanita itu tersipu malu dan tak luput dari perhatian Arkan.


"Astaga menggemaskan sekali istriku. Sepertinya aku sudah jatuh cinta!" seru Arkan dalam hatinya sambil tersenyum-senyum tidak jelas.


20 menit kemudian mereka sudah sampai di rumah utama Whitegar. Jam sudah menunjukkan pukul 18.00 saat mereka sampai. Mereka dibantu oleh Pak Kus dan pelayan lainnya untuk menurunkan barang belanjaan mereka.


Arta memilih belanja kebutuhannya dan anak-anaknya karena ia merasa itu tanggung jawabnya sebagai seorang istri dan juga Ibu. ia tak ingin orang lain melakukan itu meskipun sudah dipaksa oleh Arkan dengan alasan ia takut Arta kelelahan.


Namun tampaknya kata kelelahan tidak berlaku bagi Arta. Saat ia sampai ia disambut oleh mertua dan kedua buah hatinya.


"Mama!! Papa!!" teriak Jo dan Jen berlari dari pangkuan Samuel yang sejak tadi menemani si kembar menonton serial Kartun, menyadari kedatangan orangtuanya mereka begitu antusias.


"Wah jagoan Papa Mama sudah wangi ya," ucap Arkan menyambut kedua anaknya itu dengan lembut.


"Tampan dan cantik putra putri Mama" ucap Arta ikut memeluk mereka bertiga.


"Ehem"


Suara deheman seseorang menghentikan acara peluk pelukan mereka itu.


"Ha..halo Kak Sam" ucap Arta kikuk menyadari kehadiran Kakak iparnya itu.


"Eh Kak, udah balek dari ngantor?" ucap Arkan.


"Hmm, udahlah walaupun gak ada yang nunggu," ucap Samuel.


"Hahahaha makanya nikah bro!" ledek Arkan sambil menggendong masuk si kembar dipangkuannya sementara Arta sibuk membereskan barang-barang mereka.


"Hush kalau dapat yang seperti Arta baru gue nikah,"ucap Samuel dibalas tatapan tajam oleh Arkan.


"Ahahha cemburuan amat Lo !" celetuk Samuel menggoda Arkan. Yang digoda malah cemberut menekuk wajahnya seperti anak kecil.


"Kalian bersihkan diri terlebih dahulu, kita akan makan malam. Biar pelayan yang membereskan barang-barang kalian," ucap Mama Lily pada Arta dan Arkan.


"Iya Ma, Arta juga udah gerah," balas Arta seraya menghentikan aktivitasnya.


"ya sudah bersihkan diri kalian," balas Mama Lily.


"Kita ke atas dulu ya Ma," ucap Arkan melangkahkan kakinya diikuti oleh Arta menuju kamar mereka.

__ADS_1


__ADS_2