Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
Papa George yang hebat


__ADS_3

Vika, Karina dan Kath melepas semua pernak pernik Penyamaran mereka, dan tampillah tiga gadis cantik dengan daya tarik mereka masing-masing.


"Hehehe, maaf ya Tan tadinya Vika dan yang lain mau ngasih kejutan sama Tante dan Om tapi akhirnya ketahuan deh," ucap Vika cengengesan sambil berjalan memeluk Mama Lily yang melihatnya dengan tatapan sedikit kesal.


"Tan, Vika kangen banget tau, Vika balik dari Kanada tau taunya Tante dan Om pergi ke London," rengek Vika seperti anak kecil dipelukan Mama Lily.


"Masih ingat kamu ya sama Tante dan Om kamu, dasar gadis nakal, hmmm Tante juga kangen sama anak gadis Tante ini, kamu makin cantik aja sayang tapi tomboy ya masih tetap ya," goda Mama Lily menatap penampilan Vika yang selalu dengan kaos oblong dan celana jeans kebesaran namun sangat cocok untuknya.


"Eheheheh," kekeh Vika.


"Hmm lalu apa yang membuat Tito si manusia datar itu tertarik dengan gadis tomboy ini hmm?" goda Mama Lily lagi yang membuat Vika bersemu merah, ia menatap Tito yang kebetulan juga menatap dirinya sambil tersenyum.


"Hmmm kalau itu tanyain aja sama Titonya Tan heheh," jawab Vika malu-malu melepas pelukannya.


"Hmmm lalu siapa kedua gadis cantik ini?" tanya Mama Lily.


"Halo Tante Saya Karina Ferdinan asistennya Arta," ucap Karina memperkenalkan dirinya sambil tersenyum manis.


"Halo nyonya, saya Katherine sekretaris tuan Samuel," ucap Kath memperkenalkan dirinya.


"Halo Karina dan Katherine, senang bertemu dengan kalian, ngomong-ngomong Karina mirip sekali dengan Tito, jangan-jangan kalian saudara tapi nggak mungkin sih, Tito sudah tak punya keluarga," celetuk Mama Lily.


"Karina memang saudara saya Tan, kami baru tahu Beberapa waktu lalu dia adik perempuan yang saya pikir sudah pergi untuk selamanya," ucap Tito menghampiri mereka lalu merangkul bahu sang adik.


"Apa? benarkah? wah selamat ya nak, Tante turut senang atas berita ini," seru Mama Lily.


"Terimakasih Tan," jawab mereka berdua.


"Samuel!" panggil Mama Lily, sontak Sam yang sedang menemani anak-anak bermain beranjak dari kursi menuju sang nyonya besar.


"Ada apa nyonya besar?" tanya Samuel.


"Dia?" tanya Mama Lily sambil melirik Kath yang menunduk, sebenarnya ia sangat canggung dengan situasi ini.


"Ehkmm...Ma, Pa kenalkan Katherine Gregorius kekasih Samuel," ucap Sam dengan bangga memperkenalkan Kath sambil merangkul bahu gadis yang tengah tertunduk malu itu.


Karina sontak terkejut ia segera melepaskan tangan Samuel dan sedikit menjauh, ia merasa tak enak dengan kedua orangtua pria itu.

__ADS_1


"Ah....tu...tuan jangan bercanda," ucap Kath sedikit gugup, jujur ia takut menghadapi respon kedua paruh baya itu melihat anak lelaki mereka memiliki hubungan dengan seorang gadis biasa.


"Ahahahhaha, Mama suka dengan gadis ini siapa tadi namamu nak?" tanya Mama Lily lembut sambil memegang tangan Kath.


Kath menatap wanita itu, tatapan penuh kasih dari seorang Ibu yang tak pernah dirasakannya selama ia hidup.


"Kath nyo..nyonya," jawab Katherine singkat.


"Jangan panggil nyonya, aku bukan majikanmu, panggil Mama ya nak," ucap Mama Lily sambil tersenyum manis. Wanita paruh baya itu sungguh mudah sekali mengambil hati orang lain.


"Ah....ba..baik nyo...ehmm...Ma..ma," ucap Kath terbata, sungguh ia sangat kaku mengucapkan kata-kata itu, sebab Ibunya telah lama hilang entah kemana meninggalkan dirinya di panti asuhan sedangkan Ayahnya ia tak tahu siapa.


"Pa, bagaimana dengan mereka kau setuju kan?" tanya Mama Lily menatap Papa George yang sedari tadi diam sambil menggendong Jeni yang asik makan cemilan di pangkuannya.


"Papa setuju, sebulan lagi kalian menikah, tidak ada penolakan, bagaiman? jika tidak setuju maka sudahi hubungan kalian!" titah Papa George yang memang sudah jengah melihat anak sulungnya yang belum juga menikah di usianya yang hampir kepala tiga itu.


"Apaa!!" seru semua orang yang mendengar ucapan Papa George.


"Pa kalau Sam sih setuju setuju aja, lebih cepat malah lebih baik, tapi Kath juga butuh pertimbangan, Sam gak mau maksain Kath, jangan hanya karena masalah seperti ini hubungan kami jadi jauh," ujar Samuel sambil menggenggam tangan kekasihnya.


Kath terharu mendengar ucapan Samuel, ia tahu bahwa pria itu sangat menghargai pendapatnya, ia tak pernah memaksa Kath untuk menuruti semua keinginannya, bahkan sudah beberapa kali Kath menolak lamaran Sam karena hubungan mereka masih sangat baru.


"Hmmmm bagaimana nak Kath, kamu setuju atau tidak? jika tidak maka yang kukatakan tadi akan segera berlaku dan kalian berdua tidak boleh bersama jika memang tidak ada niat untuk menikah!" ucap Papa George dengan nada tegas.


Di seberang sofa, Arkan dan Arta menatap drama yang dimainkan oleh sang Papa, drama? darimana mereka tahu? tentu dari Josua yang mendengar suara hati kakek tua itu.


"Pffttt....lihatlah wajah mereka kak mereka tidak tahu saja Papa sedang menguji mereka hahahah," kikik Arta sambil terus mengunyah wortel mentah yang sangat enak menurutnya.


"Hahaah, iya kamu benar sayang Papa juga jago banget aktingnya," balas Arkan yang juga sama-sama menikmati semangkok wortel segar yang sama dengan istrinya.


"Astaga itu pasangan manusia apa kelinci yak? wortel sebanyak itu dilalap begitu doang?" ucap Celo terbelalak menatap Arta dan Arkan yang dengan lahapnya memakan cemilan sehatnya.


"Tuan makan wortel dengan cara itu juga sehat, malah bagus untuk tubuh," jawab Indah yang duduk diantara Mark dan Ziko sambil melanjutkan puzzle yang mereka mainkan.


"Ah...kau benar, hey jangan panggil aku tuan aku bukan majikanmu dasar gadis roti!" kesal Celo sambil menyambung puzzle miliknya.


"Lalu aku harus memanggil apa?" tanya Indah pelan.

__ADS_1


"Panggil namaku saja, Celo ok Celo!" ucap Celo menekankan namanya.


"Baiklah Celo," balas Indah sambil tersenyum manis yang tetunya tak luput dari pandangan Celo namun tiba-tiba kepala Mark menghalangi dirinya.


"Eits...lihat apa paman Celo?" tanya Mark menggoda Celo.


"Nggak lihat apa-apa Mark, udah lanjut aja," jawab Celo sedikit kikuk sedangkan Indah tersenyum samar saat ia melihat wajah kikuk pria tampan itu.


"Ehmmm....sa...saya setuju tuan," jawab Kath ragu-ragu.


"Jangan panggil tuan, panggil Papa oke!" ucap Papa George.


"Baik Pa," jawab Kath menurut.


"Jadi kamu bilang tadi apa?" tanya Papa George lagi.


"Ekhmmm saya setuju menikah dengan Samuel Pa," jawab Kath dengan suara lebih tenang. Samuel membelalakkan matanya, padahal baru beberapa hari lalu ia ditolak karena alasan pekerjaan namun ketika Papa George mengancam hubungan mereka gadis cantik itu langsung melunak.


"Benarkah?" tanya Samuel memastikan.


"Iya," jawab Kath mengangguk pelan.


"Yes!!! ahahahah Pa, Ma Sam akan menikah yayyyy......wuhuuuuuu" teriak Samuel sambil spontan menggendong Kath dan berputar-putar sambil menggendong tubuh gadis itu.


"Astaga Pa, apa kau yakin akan melepas Samuel untuk menikah? lihatlah kelakuannya," ucap Mama Lily geleng-geleng kepala.


"Hahahaha, akhirnya rencanaku berhasil Ma, Papa malah senang si bujang lapuk itu akhirnya punya seseorang untuk mengurus dirinya, mereka sangat cocok," ucap Papa George terkekeh.


"Jadi Papa akting tadi?" tanya Mama Lily.


"Iya hahahahha," tawa Papa George.


"Dasar tua bangka !" ledek Mama Lily, sebenarnya ia tadi takut kalau ucapan suaminya itu benar maka Sam mungkin akan membenci mereka namun justru berbuah manis bagi keluarga mereka.


.


.

__ADS_1


.


like vote dan komen 😊😉


__ADS_2