
Di jalanan Kota Bunga, padat dengan kendaraan yang lalu lalang. Seorang pria tengah mengendarai mobil sportnya dengan kecepatan sedang menuju sebuah pusat perbelanjaan. Pria tampan pemilik kulit putih itu melenggang masuk menuju parkiran Mall terbesar di kota tersebut.
" Selamat datang tuan," sapa seorang pelayan toko perlengkapan kebutuhan anak-anak.
Arkan menganggukkan kepalanya lalu masuk ke dalam toko tersebut sambil melihat-lihat beberapa barang yang mungkin akan cocok untuk kedua anaknya.
"Hmmm, anak-anakku suka mainan yang seperti apa ya?" gumam Arkan sambil mengitari toko tersebut.
Arkan tertuju pada mainan anak perempuan berupa satu set mainan rumah-rumahan lengkap dengan bonekanya. Arkan mendekati mainan tersebut, ia tersenyum membayangkan wajah Jeni yang akan menerima mainan itu.
"Jeni pasti suka maianan ini," gumam Arkan sambil mengambil mainan tersbut.
Seorang wanita yang tengah hamil mendekati Arkan, " sedang cari mainan untuk anaknya ya pak?" tanya wanita tersebut.
Arkan menoleh ke arah sumber suara, dan matanya tertuju pada wanita cantik dengan perut besar di sebelahnya.
"Ah iya bu, saya lagi cari mainan untuk anak kembar saya," balas Arkan ramah.
" Wah anaknya kembar ya? Saya jadi teringat dengan anak sepupu saya, mereka juga kembar tapi sayang mereka sudah tidak di dunia ini lagi," ujar wanita hamil itu dengan raut wajah sedih.
"Aduh maaf Bu, Saya jadi mengingatkan Anda dengan mereka," ucap Arkan tak enak hati.
" Ah tidak apa-apa pak, oh iya apa ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu menawarkan bantuan.
" Tidak perlu Bu, Saya tidak enak," balas Arkan dengan sopan.
"Saya hanya ingin membantu saja Pak, Saya sedang mengidam," ujar wanita tersebut sambil mengelus perutnya yang sudah membuncit membuat Arkan tidak tega menolak permintaan wanita hamil tersebut.
" Ya sudah baiklah, oh iya perkenalkan saya Arkan," ucap Arkan memperkenalkan dirinya.
" Saya Hana, apa yang bisa saya bantu pak?" tanya Hana berbinar-binar.
" Saya ingin mencari hadiah untuk istri saya, apa Ibu Hana punya saran?" tanya Arkan yang memang sedari tadi tengah berpikir untuk membeli hadiah untuk istrinya.
"Hmmm, bisa Pak Arkan deskripsikan bagaiman sifat istri Bapak?" tanya Han sopan.
"Dia wanita yang kuat, pintar, cerdik dan tutur katanya sopan, dia telah melalui banyak hal dalam kehidupannya. Dia seorang wanita berhati sekuat baja, tak pernah ku jumpai wanita sekuat dirinya. Dia wanita yang sangat cantik, seorang Ibu yang sangat protektif, ia melindungi anak-anaknya dan mengajarkan banyak hal positif bagi mereka. Hanya saja sering kulihat gurat kesedihan di matanya saat melihat anak-anak kami. Mungkin dia tidak ingin anak-anaknya terluka, dia wanita yang hebat," jelas Arkan.
" Wah berarti Pak Arkan sangat mencintai istri Bapak ya. Menurut saya, wanita dengan karakter seperti istri Bapak bukan penyuka barang-barang mewah bahkan istri Bapak pasti sering menolak membeli barang-barang branded bukan?" tanya wanita hamil tersebut yang dianggukkan oleh Arkan.
" Seorang wanita seperti istri bapak, akan sangat bahagia jika selalu mendapat kasih sayang dari suaminya, ia akan sangat bahagia saat suaminya memberikan banyak perhatian. Pelukan bisa menjadi salah satu hal yang paling disukai olehnya. Mungkin dia pernah melewati masa-masa yang sulit berdasarkan tebakan saya, oleh karena itu untuk menebus masa-masa itu, orang terdekatnya harus mampu menggantikannya menjadi masa-masa yang indah dan bahagia," ujar wanita hamil itu.
__ADS_1
" Tapi kalau memang sangat ingin memberikan barang, berikan dia kalung yang sangat indah dan mewakilkan dirinya maka dia akan sangat senang dengan hadiah tersebut," tambah wanita hamil tersebut.
" Baiklah saya mengerti, terimakasih banyak Bu Hana," ucap Arkan mengerti dengan penjelasan Arkan.
" Ah iya Pak tak perlu sungkan, maaf kalau saya banyak bicara hehehe," kekeh Hana sambil menggaruk tengkuknya.
" Saya justru sangat berterimakasih dengan saran Ibu, sekali lagi saya ucapkan terimakasih. Saya doakan persalinan Ibu lancar dan kalian sekeluarga sehat dan diberi kebahagiaan," ucap Arkan sambil tersenyum ramah.
" Amin..... terimakasih pak," balas Hana tersenyum tulus.
Tiba-tiba seorang lelaki bertubuh tinggi dan tegap dengan seragam polisi mendekati mereka berdua.
" Sayang ternyata kau disini, aku mencarimu kemana-mana siapa tuan ini?" ucap pria tersebut sambil menatap Arkan penasaran.
" Ah maafkan aku sayang, tadi aku sedang mengidam untuk membantu seseorang akhirnya aku berada disini, dan kenalkan dia Pak Arkan," jelas Hana pada suaminya yang baru saja datang.
" Maafkan istri saya telah mengganggu Pak, perkenalkan Saya Hendrik," ucap pria itu mengulurkan tangannya.
" Arkan, Saya justru berterimakasih pada Istri Bapak karena telah membantu saya mencarikan hadiah untuk istri saya," jelas Arkan sambil menerima uluran tangan Hendrik.
"Baiklah, akhir-akhir ini dia memang sering mengidam yang aneh-aneh, terkadang ia membantu nenek-nenek menyeberang, pernah juga ia nekat menolong kucing yang tengah terjebak disemak-semak padahal perutnya sudah buncit begini," ucap Hendrik sambil merangkul istrinya dengan gemas.
Arkan tersenyum melihat kemesraan pasangan tersebut, ia mengingat dirinya dengan Arta dan membayangkan jika suatu saat nanti dia juga akan kelimpungan memenuhi keinginan istrinya saat hamil nanti, pasti akan sangat menyenangkan pikirnya.
" Kalau begitu kami permisi Pak, kebetulan sedang ada acara keluarga disekitar sini," ucap Hendrik berpamitan.
" Ah baiklah, oh iya ini kartu nama saya, jika suatu saat kalian membutuhkan bantuan hubungi saja nomor itu," ucap Arkan sambil menyodorkan kartu namanya.
"Wah, Bapak pemilik Mall ini dong," ucap Hendrik terkejut melihat nama dan jabatan Arkan di kartu kecil itu yang hanya ditanggapi senyuman oleh Arkan.
" Baiklah, ini kartu nama Saya, jika ada apa-apa anda bisa menghubungi Saya," balas Hendrik yang dibalas anggukan oleh Arkan.
Mereka pun berpisah, Arkan kembali melakukan pencarian hadiah untuk anak-anaknya.
Setelah mendapatkan barang untuk si kembar Arkan melakukan pembayaran dan membawa barang belanjaannya dibantu oleh beberapa pengawal yang dihubunginya sebelumnya.
" Hmmm, aku akan membelikan sesuai saran Wanita tadi, akan kubelikan yang paling cantik," gumam Arkan.
Ia melangkahkan kakinya menuju sebuah toko perhiasan paling laris di Mall tersebut. Gedung itu memang miliknya, tapi belum banyak yang mengenali Arkan sebab selama ini dia selalu diwakilkan oleh Tito.
Arkan memasuki toko perhiasan tersebut namun tidak diikuti oleh pengawalnya, mereka menunggu di luar toko tersebut.
__ADS_1
Para pengunjung menatap kedatangan Arkan, semua seolah terpana dengan ketampanan pria tersebut.
"Astaga ada artis ya, tampan sekali!" ucap seorang wanita pada teman di sebelah nya.
"Iya, ganteng banget tuh cowok, wah mantap banget nih, " ujar gadis lain.
"Kharisma nya ya ampun, gak kuat adek bang!" seru yang lain.
"Halo kak, salam kenal ya," goda yang lain.
Arkan tidak peduli dengan bisikan-bisikan wanita-wanita tersebut. Ia fokus mencari perhiasan yang ia inginkan.
"Ambilkan aku perhiasan yang paling indah tapi harus terkesan elegan," ucap Arkan pada pelayan toko tersebut.
Dengan sigap pelayan tersebut menunjukkan beberapa pilihan kalung sesuai dengan permintaan Arkan.
Arkan melihat dan mengamati kalung-kalung tersebut.
"Aku pilih yang ini," ucap Arkan menunjuk sebuah kalung berlian bertali tipis dengan mata kalung berbentuk bintang berhiaskan permata yang indah.
Setelah menyelesaikan pesanannya, Arkan beranjak untuk keluar dari toko tersebut dan berjalan menuju parkiran.
"Pa, bukankah itu Mr.Lu ?" ucap Tania yang melihat Arkan berjalan keluar gedung.
"Bukan, dia hanya wakilnya saja," ucap Jaya.
"Ah, begitu ya tapi mengapa aku seperti pernah melihat wakilnya itu?" ucap Tania bingung.
"Bukankah kita bertemu dengannya di Festival hunga beberapa waktu lalu?" ucap Robin.
"Hmmmm, selain hari itu, sepertinya pernah kulihat...ah tapi ya sudahlah," ucap Tania cuek.
Mereka tengah makan siang di sebuah restoran mewah di dalam mall tersebut sambil merayakan pesta pernikahan yang akan digelar beberapa hari lagi.
.
.
.
next
__ADS_1