Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
Tito, Indah


__ADS_3

Karina dan Roki melanjutkan akting mereka di kamar hotel yang disiapkan oleh Fanya untuk menjebak mereka. Sementara disisi lain, Tito, Celo dan seorang gadis tengah berdiskusi di dalam sebuah kamar yang juga disiapkan Jaya untuk menjebak mereka dengan cara yang sama.


Beruntung tidak terjadi apa-apa dengan mereka. Tampak mereka bertiga tengah  berdiskusi, dan beberapa kali gadis itu meminta maaf sambil sesekali mengusap air matanya di hadapan kedua pria itu.


Flashback on,


"Selamat atas pernikahan putra dan putri  Anda tuan Mahendra, tuan Jaya," ucap Tito sambil tersenyum.


"Terimakasih atas kehadiran Anda Mr. Lu, kami sangat menghargai kedatangan pemimpin perusahaan terhebat di negeri ini,"ucap Jaya sambil dengan senyuman bangga bersama Sanjaya yang menggandeng gadis cantik nan seksi di sampingnya.


Namun ada yang aneh dengan raut wajah gadis itu, tampaknya ia begitu terpaksa mengikuti pria tua bangka itu, bahkan raut wajah khawatir dan takut tergambar jelas di wajah gadis cantik itu dibalik senyum yang ia umbar dihadapan mereka.


"Putri Anda sangat menawan hari ini tuan dan Robin sangat cocok bersanding dengannya," ucap Tito mulai menjalankan aksinya.


"Ah anda terlalu memuji Mr. Lu, bukankah anda juga memiliki pasangan?" ucap Jaya Mahendra memancing Tito.


"ya saya sudah punya tunangan, kami dijodohkan," ucap Tito dengan senyum penuh arti.


"Wah sungguh beruntung gadis yang mendapatkan anda Mr. Lu, jika pernikahan Anda digelar mohon kirimkan undangannya," ucap Sanjaya melakukan tarik ulur walaupun sebenarnya ia sangat kesal mengetahui bahwa pria tampan itu sudah bertunangan.


"Ahhh seandainya saya bisa melakukan itu, tapi tunangan saya sudah lama tidak kembali, Saya tidak tahu apakah ini akan berlanjut," ucap Tito dengan nada sedih, sementara di sudut lain seorang gadis yang tengah menyamar menjadi salah satu pelayan di acara pernikahan itu tersenyum simpul melihat sandiwara pria tampan itu.


"Ohh jadi kau punya tunangan ya, kalau begitu bagaimana dengan hubungan kita?" ucapnya pelan namun masih bisa di dengar oleh semua orang yang mengenakan earphone nirkabel itu sehingga membuat mereka tak mampu menahan tawanya.


"Mampus kau Tito, Vika mendengar mu," gerutu Tito dalam hati namun masih tetap tenang walau hatinya sudah galau merana karena kata-kata Vika tadi.


.


.


"Bwahahahaha.....mampus kau Tito, senjata makan tuan hahahha," ledek Arkan dari balik earphone nya membuat para pendengarnya semakin tak bisa menahan diri, beruntung mereka adalah pelakon yang hebat.


"Kasihan Tito hahaha," ucap Arta sambil menikmati bakso yang di pesannya melalui anak buahnya, sungguh sangat enak menonton aksi mereka sambil makan bakso pedas di dalam Van mini itu.


.


.


.


"Ahh maafkan kami Mr. Lu sudah lancang menyinggung masalah pribadi Anda," ucap Jaya Mahendra dengan senyuman licik di wajahnya.


"Mr. Lu kenalkan ini putri angkat saya, dia gadis yang sangat cantik," ucap Sanjaya sambil memegang kedua bahu gadis itu dengan sedikit keras membuatnya menahan sakit.


"Ah cantik sekali........ehh..maafkan Saya lancang nona, tuan," ucap Tito tak enak hati.


"Cih memang cantik, apa kau menyukainya hah?" gerutu Vika dengan suara kecil dan bisa di dengar Tito.

__ADS_1


"Astaga, Vika maafkan aku tolong jangan salah paham, Tuhan sampaikan padanya ini hanya sandiwara arghhhhh..." teriak Tito frustasi dalam hatinya namun wajahnya tak menunjukkan reaksi apa pun sama sekali.


"Ah tidak apa-apa Mr. Lu, dia gadis yang baik dan masih lajang," ucap Sanjaya seraya memancing agar Tito tergoda.


"Benarkah? wah anda sangat cantik nona, perkenalkan saya ti...ehmm Mr. Lu," ucap Tito mencoba berjabat tangan dengan gadis cantik itu.


"Terimakasih pujiannya tuan, saya Indah," ucap Gadis itu menyambut uluran tangan Tito lalu mencoba melepaskannya dengan cepat namun ditahan oleh Tito membuat Jaya dan Sanjaya mengerutkan keningnya hingga sebuah senyuman tergurat di wajah mereka mendengar kata-kata Tito.


"Ahh rasanya aku ingin dekat denganmu nona," bisik Tito namun masih bisa di dengar oleh Jaya dan Sanjaya.


"A..apa? ta..tapi bukankah anda sudah punya tunangan tuan?" ucap Indah gugup sekaligus takut.


"Ahh sejujurnya dia sudah menghianatiku, oleh karena itu pertunangan kami sudah batal," ucap tito dengan nada sedih seraya melepas jabatan tangannya karena matanya sempat beradu tatap dengan Vika  yang sedang menatapnya dengan tajam.


"Mr. Lu sebuah kehormatan besar jika Anda menginginkan anak gadisku ini, tentu dia akan mau, iya kan nak?" ucap Sanjaya menekankan kata Mau sambil memegang bahu gadis itu dengan kuat.


"eh..i..iya tuan suatu kehormatan bila anda menyukai saya," ucap Indah gugup, ia sungguh merasa sangat sedih melakukan hal ini.


"Ahh benarkah? kalau begitu apa dia boleh bermalam denganku tuan Sanjaya yang terhormat?" ucap Tito sambil menekan kata-katanya.


"Tentu Mr. Lu silahkan anda bawa gadis itu, tapi saya harap akan ada hubungan yang baik antar perusahaan kita Mr. Lu," ucap sanjaya mengajukan syaratnya secara halus membuat Tito tertawa seram hingga yang mendengarnya bergidik merinding.


"Hahahahaha......tentu...tentu saja tuan Sanjaya, selama dia bisa memuaskanku, akan kuberikan yang kalian mau," ucap Tito dengan senyum menyeringai walau sebenarnya terlinganya sudah sangat sakit mendengar gerutuan Vika di balik earphonenya serta ocehan-ocehan Arkan dan Arta yang membuatnya semakin kesal karena digoda habis-habisan oleh mereka.


"Ahh ternyata Mr.Lu sangat agresif," ucap Jaya seraya memberikan segelas minuman ke tangan Tito.


Tito pura-pura meminum minuman itu dan secara sengaja ia membuatnya seolah-olah terjatuh dari tangannya hingga memecahkan gelas itu membuat isinya berceceran ke bajunya sendiri.


"Astaga maafkan aku, padahal minumannya sangat enak, aku hanya meminumnya seperempat," kilah tito membuat Jaya dan Sanjaya yang tadinya panik menerbitkan senyuman di wajah mereka karena mangsa sudah memakan umpannya.


" Ahh tak apa  Mr. Lu biar saya suruh pelayan mengambilkan yang baru," ucap Sanjaya.


"Tidak perlu," jawa b Tito dengan cepat.


"Aku hanya ingin mengganti jasku yang basah, tapi...arhhhh kepalaku terasa sangat pusing," ucap tito berpura-pura merasakan reaksi obat yang ditaburkan mereka ke dalam mminuman tadi.


.


.


.


"Awas kau nanti Tito, kau berani menggoda gadis lain di hadapanku hmm?" gerutu Vika dengan suara kecil,


"Hati-hati tito, Vika sudah mengeluarkan taringnya hahahha," tawa Arkan dari seberang sana.


"Kak Tito, semangat ya hahaha, hmm baksonya enak hahah," ucap Arta yang setia dengan baksonya.

__ADS_1


.


.


.


"Awas kalian grrrrrrr," geram tito namun masih dengan wajah tenang sebab ia tak ingin aktingnya berantakan.


"Indah sebaiknya kamu temani Mr. Lu, sepertinya Mr.Lu butuh bantuan," ucap jaya dengan senyuman liciknya.


"Arghh...pusing, cepat...cepat aku perlu bantuanmu," ucap Tito yang langsung saja secara agresif menarik tangan gadis cantik itu keluar dari ruangan pesta menuju kamar yang ditunjukkan oleh pengawal yang tak lain adalah Celo yang berubah menjadi seorang pengawal dadakan dengan mengenakan masker agar tidak di kenali.


Sanjaya dan Jaya Mahendra tersenyum dengan rencana mereka yang sukses besar, mereka  sangat puas karena akhirnya bisa melakukan misi mereka dengan lancar dan mulus.


"Hahahah, ternyata rumor yang beredar itu benar bahwa Mr. Lu adalah seorang pemain perempuan, dia dengan cepat mengetahui mana yang sedap untuk dinikmati hahah," tawa Jaya Mahendra sambil memutar-mutar wiski yang berada di tangannya.


"Kau benar, sebentar lagi kita akan menguasai pasar perdagangan dalam segala bidang di negeri ini Jaya," timpal Sanjaya dengan senyuman kemenangan.


"Hahahah, tentu saja," ucap Jaya Mahendra.


"Cih...setelah kukuasai semua perusahaan itu, kau akan kubuat tak berkutik denganku Sanjaya yang bodoh," ucap Jaya Mahendra dalam hatinya.


Tito menarik tangan gadis itu dengan kasar karena amarahnya sudah di ubun-ubun akibat ulah dua tua bangka itu, dengan cepat ia masih menarik tangan Indah dan mengikuti Celo yang berjalan di depan mereka.


"Tuan.....saya mohon lepaskan saya," ringis Indah menahan rasa sakit di pergelangan tangannya akibat  cengkraman tangan Tito yang sangat kuat.


Tito hanya diam, ia membawa gadis itu ke dalam kamar yang lain, bukan kamar yang disediakan oleh Jaya sebuah kamar yang di dalamnya terpasang alat-alat canggih.


Mereka memasuki kamar tersebut, saat Indah masuk terdengar suara peringatan membuat kedua pria itu sontak menatap gadis itu dengan intens, Celo mendekati Indah lalu memeriksa pakaian gadis itu namun tak ditemukannya apa apa, mereka hanya diam namun melakukan tugasnya dengan cepat.


Hingga mata Celo tertuju pada anting yang digunakan gadis itu, ternyata disana dipasang alat penyadap yang entah untuk apa.


Tito mengambil sebuah kertas dan menuliskan sesuatu disana sesuai permintaan Arta lalu menunjukkannya pada gadis itu, sontak gadis itu menganggukkan kepala membuat keduanya heran, namun setelah dijelaskan oleh Arta melalui earphone mereka berdua mengerti.


isi tulisan itu adalah" kau gadis penjual roti itu kan? jika ia maka ikuti permainan kami, jangan bicara yang tidak-tidak jika kau masih sayang dengan nyawamu," sesuai dengan yang diperintahkan oleh Arta melalui earphone, Celo hanya menatap dingin ke arah gadis itu, mereka menjalankan rencana sesuai skenario yang diatur oleh Arta dan Arkan.


Sanjaya dan Jaya Mahendra tertawa puas dengan rencana mereka, sebab mereka bisa mendengar percakapan kedua orang itu dengan jelas hingga terdengar seperti suara rintihan dan akhirnya tak terdengar apa-apa lagi.


"Hahahaha, rencana kita berhasil, Mr. Lu ternyata sangat agresif," ucap Sanjaya menyeringai.


"Tentu saja, obat itu sangat kuat kurasa Fanya juga berhasil melakukannya dengan wanita pemilik Star Company itu," ucap Jaya Mahendra dengan bangganya.


Flashback end


Arta dan Arkan tertawa terbahak-bahak di dalam mobil van mengingat percakapan sedikit vulgar yang dilakukan oleh tito dan Indah dalam keadaan terpaksa tadi. Lain halnya dengan  Vika, wajahnya memerah mendengar kata-kata itu, sehingga sontak ia berjalan meninggalkan ruangan pesta itu lalu masuk ke dalam ruangan tempat Tito, Celo dan Indah berbicara.


Braakk.......

__ADS_1


__ADS_2