Si Cupu Dan Si Cacat

Si Cupu Dan Si Cacat
Pak Kus meninggal


__ADS_3

Seminggu telah berlalu sejak kejadian di Mansion Whitegar. Tampak suasana rumah utama masih dipenuhi kabut duka, sebab Pak Kus telah berpulang untuk selamanya 3 hari yang lalu.


Mark dan Ziko terus saja menangisi kepergian Sang Papa untuk selamanya.


"Sayang jangan menangis terus, Ayah dan Bunda disini, Bunda juga sedih kalau kalian menangis terus," lirih Arta sambil memeluk kedua pria kecil.


"Huhuhuhu Bunda, Papa sudah pergi, sekarang Mark dan Ziko nggak punya siapa-siapa lagi," tangis Ziko di dalam pelukan Arta.


"Mark dan Ziko punya Ayah, Bunda dan si kembar, jangan menangis kita harus ikhlas dengan kepergian Pak Kus, kalian harus ingat nasehat Pak Kus, Bunda janji akan menjaga kalian jadi jangan menangis, bunda juga sedih sayang," ucap Arta meneteskan air matanya di hadapan anak-anaknya.


Flashback


Di ruangan serba putih tampak pria berusia hampir kepala empat itu terbaring lemah di atas ranjang pasien.


Berbagai alat medis terpasang di tubuh kekar itu. Mark,Ziko,si kembar bersama Arkan dan Arta duduk disamping ranjang pria itu.


Mark dan Ziko terus saja menggenggam tangan Papa mereka,berharap agar pria itu sadar setelah 3 hari lamanya tak sadarkan diri.


"Papa bangun dong,Mark mau main sama Papa, Papa udah lama gak gendong Mark huhuhuhu," lirih Mark sambil tersedu-sedu di samping Pak Kus.


"Papa main mobil mobilan yuk, Ziko janji gak nakal lagi deh, bangun ya Pa," ucap Ziko,air matanya terus saja menetes membasahi pipi pria kecil itu.


Pak Kus merespon suara anak-anaknya, perlahan Pak Kus membuka matanya, ditatap dengan penuh cinta kedua anaknya.


"Nak, " ucap Pak Kus lemah.


"Papa!" teriak mereka saat mendengar Pak Kus memanggil mereka.


"Pak Kus sudah sadar," ucap Arkan langsung menekan tombol darurat di dekat ranjang pasien.


Beberapa menit kemudian dokter masuk lalu memeriksa kondisi pasien.


"Mohon tunggu di luar Pak, Bu" ucap dokter yang menangani Pak Kus.


Mereka keluar dari ruangan itu, setelah menunggu beberapa saat,dokter keluar dengan ekspresi yang tak bisa di baca.


"Kepada keluarga pasien, silahkan menemui beliau," ucap Dokter lesu.


"Ada apa dok?" tanya Arta khawatir.


"Kondisi pasien semakin melemah, luka tusuk mencapai dinding jantung, ini merupakan sebuah keajaiban beliau bisa sadar, segera temui pasien, waktunya mungkin tak lama lagi," ucap dokter tersebut dengan wajah muram dan lesu.


Arta, Arkan dan anak-anaknya memasuki ruang perawatan itu.


"Nak kemarilah, peluk Papa," ucap Pak Kus dengan suara yang sudah melemah.

__ADS_1


"Papa, huhuhu," tangis Mark dan Ziko tersedu-sedu dalam pelukan Pak Kus.


"Nak, kalian harus jadi orang yang berguna saat dewasa nanti, jadilah orang yang rendah hati dan tidak semena-mena, hormati orang yang lebih tua, Papa mungkin tak akan bisa menemani kalian sampai kalian dewasa, tapi Papa yakin akan ada orang orang baik yang menjaga kalian," ucap Pak Kus sambil menatap kedua anaknya.


"Tuan, nyonya satu permintaan saya tolong jaga kedua putra saya, Saya hanya akan tenang jika mereka berada dalam pengawasan kalian, dan saya berterimakasih kepada keluarga besar Whitegar yang telah menerima dan membantu saya selama sepuluh tahun terakhir, Saya meminta maaf jika saya memilik banyak kesalahan sebelumnya,saya titip salam pada tuan dan nyonya besar juga tuan muda Samuel," ucap Pak Kus dengan nafas yang mulai tersengal-sengal.


"Pak Kus jangan bicara seperti itu,PakKus pasti kuat," ucap Arta menguatkan pria itu.


"Saya mohon berjanjilah menjaga mereka nyonya, karena saya tahu nyonya adalah orang baik, beri mereka kasih sayang seorang Ibu yang tak pernah didapatkan mereka saya mo....mohon nyo...nya," ucap Pak Kus.


"Kami berjanji Pak Kus," ucap Arkan dan Arta. Arta meneteskan air matanya, rasanya begitu sedih saat melihat orang yang dipercayainya harus terbaring lemah karena melindungi tuannya.


"Nak, berjanji pada Papa bahwa kalian akan menjadi anak yang menurut pada Ayah dan Bunda kalian, mereka orang-orang baik, Jo dan Jen Pak Kus mohon terima Mark dan Ziko ya," ucap Pak Kus menatap si kembar.


"Pak Kus jangan pergi dong, Pak Kus kan superhero, pliss ya huhuhuhuh," ucap Jeni tersedu-sedu sambil memegang lengan pria itu.


"Papa, Mark janji akan menjadi anak yang kuat, Mark akan melindungi orang-orang yang Mark sayangi, Ayah, Bunda, Ziko dan si kembar pasti akan Mark jaga!" ucap Mark dihadapan Papanya.


"Ziko akan jadi orang sukses,agar tak ada yang semena-mena dengan keluarga Ziko!Ziko janji Pa huhuhuh," tangis Ziko masih setia memeluk Papanya.


Tiitttt.......


Pak Kus menghembuskan nafas terakhirnya dalam dekapan kedua anaknya, ia meninggalkan dunia ini dengan senyuman bahagia di dekat orang-orang yang sangat berharga baginya.


"Papa...Papa...Papa.. arghhhh....huhuhuhu," Mark dan Ziko berteriak histeris saat Papanya menutup mata untuk selama-lamanya.


Arkan memeluk Arta dengan erat, " Kak Pak Kus, huhuhuhu Kak bagaimana ini, ini semua karena Arta, harusnya Arta yang ditusuk huhuhuh," tangis Arta tersedu-sedu, ia menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi dengan Pak Kus.


Brukkk


Arta pingsan tak kuasa menahan dirinya.


"Bunda, Mama, Arta!!" ucap mereka bersama-sama saat melihat tubuh kecil itu melemah.


Keesokan harinya pemakaman dilaksanakan di kediaman Whitegar atas permintaan kedua putra Pak Kus. Papa George dan Mama Lily kembali dari London begitu mendengar apa yang menimpa kepala pelayan kepercayaan mereka. Duka yang mendalam menyelimuti Mansion itu, Arta masih terus saja menangis, ia terus-menerus menyalahkan dirinya atas kejadian ini.


"Maafkan Bunda nak huhuhuh ini semua karena bunda, harusnya bunda yang ditusuk! harusnya bunda yang mati huhuhuhu," tangis Arta bersimpuh di hadapan Mark dan Ziko.


"Bunda jangan menangis huhuhuh, ini bukan salah bunda, Tante Lina memang jahat, dia orang jahat, dia yang bunuh Papa, jangan menangis Bunda, please!" ucap Mark sambil memeluk tubuh Arta yang lemah.


"Sayang, jangan seperti ini, kau harus kuat mereka butuh bunda mereka, si kembar juga butuh Mamanya, aku juga membutuhkanmu, jangan menangis seperti ini," ucap Arkan sambil memeluk tubuh wanita itu.


"Husshh...sudah jangan menangis ini bukan salahmu, kau kuat kau wanita kuat," ucap Arkan menenangkan Arta.


"Arta sayang, kamu yang kuat ya, ini sua sudah takdir yang di atas, kamu harus kuat anak-anak mu membutuhkan dirimu," ucap Mama Lily .

__ADS_1


"Kemari cucu-cucu nenek, jangan menangis ya kalian harus kuat!" ucap Mama Lily memeluk Mark dan Ziko, sementara si kembar berada si pangkuan Papa George.


Pak Kus dimakamkan di TPU khusus keluarga Whitegar, mereka sudah menganggap pria ini bagian dari keluarga Whitegar.


Flashback end


"Abang jangan nangis ya, kalau Abang nangis Jeni juga ikutan sedih," ucap Jeni memeluk kedua Abangnya.


"Nak jangan menangis lagi ya, Bunda disini, Bunda akan lindungi kalian," ucap Arta.


"Baik bunda, Mark gak akan nangis lagi,Mark janji ini terakhir kalinya Mark menangisi Papa," ucap Mark berusaha tegar.


"Abang jangan sedih terus, kita kan punya Mama dan Papa, Jo dan Jen juga dulu ditinggal sama Mami dan Papi Hillary tapi kita gak mau sedih sedih lagi karena sekarang Papa dan Mama yang harus dijaga dan dilindungi adalah Papa Arkan dan Mama Arta," celetuk Josua.


"Kamu benar dek, Ziko sayang sama bunda dan Ayah, Ziko gak akan nangis lagi supaya bunda dan Ayah gak sedih," ucap Ziko memeluk Arta dan ketiga saudaranya.


"Pintarnya anak-anak Mama," ucap Arta bangga dengan anak-anaknya.


"Sayang bagaimana kalau kalian manggilnya Mami dan Papi saja biar samaan dan kompak gimana?" usul Arta sambil menatap ke empat Anaknya.


"Baiklah Mami cantik heheheh," kekeh keempatnya sambil tersenyum manis.


"Argghhh....kalian tampan-tampan dan juga cantik, Mami bangga sama kalian!" ucap Arta memeluk mereka lagi.


"Mami, Papi dimana?" tanya Mark.


"Ah iya Mami hampir lupa, sini kita tonton Papi kalian dari Televisi, hari ini peresmian perusahaan keluarga kita, kalian harus ingat bahwa nama keluarga kita adalah Argaka, Argaka Family!" ucap Arta sambil membuka siaran tv nasional yang menayangkan berita peresmian Argaka Company.


"Kalian sedang apa sayang?" tanya Mama Lily yang baru datang dari dapur bersama Papa George.


"Sedang menonton Ma, kemari bergabung dengan kami Ma, Pa!" ucap Arta mengajak mertuanya.


Mereka berkumpul di ruang santai sambil menunggu program yang dinantikan dengan ditemani beberapa cemilan di atas meja.


"Sayang kamu nggak apa-apa makan itu?" tanya Mama Lily pada Arta yang sangat lahap memakan es krim seperti anak-anaknya.


"Nggak Ma,Arta lagi pengen aja," ucap Arta sambil terus memakan es krimnya.


Sreett...........


Darah bercucuran di seluruh tubuh mereka. Rintihan dan teriakan kesakitan memenuhi ruangan itu.


.


.

__ADS_1


.


Like vote dan komen


__ADS_2