
Hari sudah malam dan Arta masih belum bangun dari tidurnya, anak- anak juga memilih ikut menginap di rumah sakit sebab besok adalah hari Minggu mereka tidak ke sekolah.
Mami Lily dan Papa George tidak bisa menemani mereka di rumah sakit sebab kesehatan Mama Lily menurun. Kath dan Samuel memilih menemani Mama Lily dan Papa George di rumah.
Karina dan Kath memilih menyewa satu kamar VIP di sebelah kamar Arkan dan Arta untuk mereka tempati sebab mereka sama sekali tidak ingin pergi meninggalkan Adik mereka itu.
Celo, Tito, Indah dan Vika juga sibuk dengan urusan perusahaan sehingga mereka tidak bisa menginap di rumah sakit, mereka akan berkunjung jika ada waktu senggang.
Seluruh pengawal dikerahkan untuk menjaga mereka di rumah sakit, keamanan diperketat dan semua petugas yang bertugas diperiksa terlebih dahulu sebelum melakukan tugas mereka.
Mark mengambil bakul lalu mengisinya dengan air hangat, begitu juga dengan Ziko. Si kembar mengambil empat handuk kering, mereka berempat membersihkan tubuh orangtua mereka dengan handuk basah secara perlahan-lahan dan penuh kehati-hatian.
Mark bersama Josua membersihkan tubuh Arkan sedangkan Ziko dan Jeni membersihkan tubuh Arta.
"Bang, Josua kangen sama Papi dan Mami, kapan Papi sadar, kasihan Mami terus terusan menangis," Lirih Josua sambil mengelap tangan Papinya dengan lembut.
"Kita berdoa aja ya Jo, Abang yakin Papi pasti sadar dan Mami kembali seperti semula," ucap Mark menguatkan adiknya walaupun sebenarnya hatinya juga sangat sedih ketika melihat orang yang mereka sayangi terbaring lemah di hadapan mereka.
"Kasihan Mami, Baby twin juga pasti nangis di perut Mami hiks hiks, Jeni gak tega lihat Mami terus nangis dan terpuruk seperti ini," tangis Jeni sambil mengucek kedua matanya yang sudah basah, perasaan anak kecil yang sangat rapuh harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa kedua orangtuanya terkapar lemah.
Ziko menghentikan aktivitasnya, ia memeluk Jeni yang menangis di samping tubuh Arta.
"Jeni yang kuat dong, Jeni kan mau jadi kakak, jangan nangis ya biar Papi dan Mami cepat bangun," ucap Ziko sambil memeluk Jeni meskipun air matanya juga ikut menetes kala mendengar ucapan adiknya.
"Hiks...hikss..hiks, Jeni kangen sama Papi huhuhu, Jeni kangen sama Mami, Jeni pengen dipeluk huhuhuhu," tangis Jeni tersedu-sedu dalam pelukan abangnya.
Mark dan Josua ikut menangis di dekat Arkan, kini keempat anak itu menangis bersama-sama, rasa sedih dan rasa rindu bercampur menjadi satu. Selama sebulan mereka tidak bisa berkomunikasi dengan kedua orangtuanya, Papinya tertidur pulas sedangkan Maminya terpuruk dan selalu diam.
Tanpa mereka sadari, Arkan dan Arta meneteskan air mata mereka entah mereka mendengar atau tidak.
Mark dan Josua menghampiri Jeni dan Ziko, mereka berempat saling berpelukan, menguatkan satu sama lain, sungguh pemandangan yang menyayat hati.
Kart yang mendengar ucapan mereka menangis di luar pintu kamar rawat Arkan. Ia meremas rambutnya bersandar hingga terduduk di atas lantai, air matanya berderai kala mendengar ucapan menyayat hati dari keempat anak kecil itu.
"Arhhh.....Tuhan hamba mohon selamatkan lah mereka, sembuhkanlah Arkan dan Arta, argh..," tangis Kart di depan ruangan itu.
Beberapa menit yang lalu ia keluar dari kamar inapnya setelah memastikan istrinya tidur dengan nyenyak. Kemudian ia berencana untuk mengecek kondisi anak-anak di kamar inap Arkan, namun yang ia lihat dan dengarkan adalah pemandangan yang menyayat hati saat anak-anak itu menangis merindukan orangtua mereka.
Sementara itu di dalam kamar anak-anak sudah berhenti menangis, mereka menyelesaikan pekerjaan mereka dan langsung memasang tempat tidur mereka dengan beralaskan kasur tambahan yang disediakan pihak rumah sakit untuk mereka.
Mark memimpin adik-adiknya untuk berdoa sebagaimana yang mereka biasanya lakukan secara rutin setiap hari.
Mereka duduk di atas kasur membentuk lingkaran, dengan saling berpegangan tangan mereka berdoa bersama kepada Tuhan mereka untuk kesembuhan kedua orangtua mereka.
Doa yang sederhana, permintaan yang sederhana namun butuh perjuangan untuk mendapatkan hasil doa itu.
Setelah berdoa keempat anak itu berbincang-bincang, saling menguatkan satu sama lain.
Arta sedari tadi ternyata sudah sadar, namun ia enggan membuka matanya. Ia merasakan seseorang membersihkan tubuhnya dengan lembut, setelah semuanya selesai dia mendapatkan empat kecupan dari anak-anak yang ia abaikan selama sebulan ini.
Hatinya terenyuh, begitu sakit ia rasakan kala mendengar keempat anak itu mengungkapkan perasaan mereka selama sebulan ini. Rasa khawatir, cemas, sedih dan rindu menyelimuti hati dan pikiran anak-anaknya.
__ADS_1
Arta membuka matanya, air matanya menetes ia sadar ia tak boleh mengabaikan anak-anaknya lagi, ia tak boleh mengabaikan baby twins dalam rahimnya, ia harus bisa kuat agar suaminya kembali bangun.
Arta menatap keempat anaknya telah selesai berdoa, hatinya hangat saat mendengar doa doa anak- anak manis itu.
"Nak," lirih Arta dengan suara pelan.
"Mami!!" ucap Josua saat mendengar suara Arta memanggil mereka.
Sontak keempat anak itu bangkit dari kasurnya dan menghampiri Mami mereka dengan wajha bahagia saat mendengar suara sang Mami.
"Mami sudah bangun? ada yang sakit? mau Mark ambilin sesuatu?" tanya Mark.
"Ziko pijat kakinya ya Ma, entar lengannya juga," ucap Ziko.
"Mami baik-baik saja kan? ada yang mami butuhkan?" tanya Josua.
"Mami jangan sakit lagi, Jeni rindu sama Mami dan Baby twin," ucap Jeni sambil memegang lengan Maminya.
Arta menangis, ia merasa bersalah telah mengabaikan keempat anak yang begitu menyayangi mereka.
"Mami baik, Baby twin juga baik, apa kalian baik-baik saja? maaf Mami mengabaikan kalian nak hiks hiks hiks," tangis Arta tersedu-sedu di depan keempat anaknya.
"Mami jangan nangis hiks, Jeni juga ikut nangis hiks hiks," ucap Jeni memeluk Maminya.
" Mami jangan sedih, kita baik-baik aja kok, jangan sakit juga," tambah Mark.
"Mami jangan sedih," ucap mereka sambil memeluk Arta dengan lembut.
Arta menangis haru dalam pelukan anak-anaknya. Ia merasa sangat bersyukur bisa memiliki anak-anak dengan hati begitu baik seperti mereka.
Setelah puas berpelukan mereka mengobrol bersama, hal yang sudah lama tidak mereka lakukan, hal yang dirindukan anak-anak ketika Maminya berbicara dan menasehati mereka.
"Mami jangan pernah nangis lagi, jangan sakit juga ya," ucap Ziko sambil mengusap air mata Maminya, Mark merapikan rambut Maminya yang sedikit berantakan, mengikatnya kebelakang agar terlihat lebih rapi.
Josua dan Jeni memijit lengan Maminya dengan lembut dan memastikan Maminya nyaman dan tidak sedih lagi.
"Iya nak, Mami gak nangis lagi, Mami cuma berharap Papi kalian cepat bangun dan kembali berkumpul bersama kita," ucap Arta lirih.
"Mami, Papi pasti sembuh, kita harus kuat dan kita harus yakin kalau Papi itu hebat, Mami juga jangan sedih kasihan baby twin, mereka juga akan sedih kalau Mami menangis," ucap Mark menguatkan Maminya.
"Iya nak, semoga Papi kalian bisa sadar secepatnya," ucap Arta sambil tersenyum, senyuman yang sempat memudar kini telah merekah kembali.
"Kalau senyum begini kan cantik Mami, Papi pasti akan semakin cinta heheh," celetuk Ziko.
"Iya Mami, jangan sedih sedih lagi ya, kita harus banyak tersenyum supaya Papi juga bisa semangat melawan sakitnya," ucap Jeni sambil menggenggam tangan Maminya.
"Terimakasih anak-anak Mami, kalian terhebat, ya sudah ayo tidur ini sudah malam," ucap Arta.
"Good night Mami, good night Papi," ucap mereka bersamaan.
Tiitttt......tittttttt
__ADS_1
Tiba-tiba monitor Arkan berbunyi, tubuh Arkan bergetar sehingga membuat Arta dan anak-anak panik.
Mark dengan cepat menekan tombol darurat.
"Mami tenang, jangan panik, Mark panggil paman dulu!" ucap Mark menenangkan Maminya yang mulai khawatir.
"Mami jangan panik!" ucap anak-anaknya yang sudah berada di sampingnya dan memeluk Arta dengan erat supaya wanita itu tenang.
"Ada apa dengan Papi kalian nak," lirih Arta yang berusaha turun dari brankarnya.
"Mami diam disini, jangan turun," pinta Ziko.
Ziko mendekat ke brankar Arkan dia mencoba menyentuh tangan Papinya.
"Papi, Papi kenapa? Papi pasti kuat!" ucap Ziko, Arta memaksakan dirinya turun dari brankar, bersama si kembar ia berdiri dan memegang tangan suaminya.
"Sayang, kumohon bertahanlah," ucap Arta.
Seolah merespon sentuhan anak-anak dan istrinya, tubuh Arkan kembali tenang secara perlahan-lahan.
Mark, Kart dan dokter tiba di ruangan dengan tergesa-gesa.
Kart merangkul adiknya untuk menguatkan wanita itu, Arta memeluk kakaknya berusaha mencari kekuatan.
"Kak suamiku kak,"lirih Arta.
"Tenang sayang, dia akan baik-baik saja," ucap Kart menguatkan adiknya.
.
.
.
"Sayang terimakasih untuk semuanya, aku mencintaimu,"ucap Arkan, Arta menangis di samping tubuh suaminya. Wajah putih bersih dan berseri tersenyum di hadapannya.
"Kak Arkan!" tangis Arta memeluk suaminya.
Mark Ziko dan si kembar juga ikut menangis di samping tubuh Arkan.
Karina tak kuasa menahan tangisnya, ia memeluk suaminya. Mama Lily, Papa George dan yang lain tergesa-gesa menuju rumah sakit saat mendapat kabar mengejutkan itu.
.
.
.
apa yang akan terjadi???
Like, Vote, dan komen 😊😉😊😊
__ADS_1
Baca juga ini ya, gak kalah seru loh!!!!