
Setelah Grace dari perusahaan Edward, ia memutuskan untuk datang ke Queen Hospital. Saat ini ia sangat membutuhkan seseorang yang mendengar curahan hatinya. Grace benar-benar beersyukur karena memiliki kakak ipar yang meyayangi dirinya. Jika ia tidak memiliki kakak ipar, mungkin Grace tidak tahu harus bercerita dengan siapa. Tidak mungkin baginya bercerita pada kakaknya yang memilki sifat dingin seperti itu. Grace akan dimarahi jika memiliki kekasih, kakaknya selalu menganggap dirinya seperti anak kecil.
Mendengar ungkapan hati Edward tadi, sebenarnya Grace sangat tersentuh. Jika ditanya bagaimana perasaannya dia dengan Edward, ia sendiri masih belum yakin. Tapi sejak saat Edward menolongnya dan memeluknya rasa nyaman dihati Grace dan merasa terlindungi oleh Edward.
Sejak saat Mike mengatakan jika ia tidak menyukai Grace, sebenarnya Grace pun sudah tidak lagi mengharapkan Mike. Terlebih saat kejadiaan terakhir yang membuat Grace trauma, Grace benar-benar membenci sosok Mike. Pria licik yang tidak memiliki hati nurani.
Saat hati Grace benar-benar sudah melupakan Mike, muncul Edward yang bersikap lembut dan hangat. Membuat Grace sangat nyaman berada disisi Edward. Rasanya Grace selalu ingin bersandar disisi Edward. Terlebih Edward sangatlah pekerja keras. Membuat Grace sangat kagum dengan Edward.
Kini Grace sudah tiba di Queen Hospital, ia pun langsung berjalan menuju ruang kerja Callista.
Tok..Tok
Suara ketukan pintu.
"Masuk"
"Kakak ipar" panggil Grace yang kini sudah berjalan masuk ke ruang kerja Callista.
"Grace?" Callista menatap Grace yang masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Duduklah" pinta Callista dan Grace pun langsung duduk di hadapan Callista.
"Ada apa Grace?" tanya Callista yang menatap wajah Grace.
"Hem begini, aku ingin bercerita dengan mu" ucap Grace dengan wajah yang masih ragu.
"Katakanlah" Callista tersenyum dan menyentuh tangan Grace.
"Ini tentang Edward"
"Edward?" Callista mengernyitkan dahinya.
Grace pun langsung mengangguk " Hari ini aku datang ke kantor Edward untuk berterimakasih sekaligus mengembalikan jas miliknya. Hem, tapi-" Grace menundukan kepalanya tidak berani melanjutkan ucapannya.
"Grace, ceritakan semuanya dengan ku. Aku akan bahagia dan selalu mendukung mu" ucap Callista dengan lembut.
"Aku tidak sengaja menumpahkan minuman di jas milik Edward, dan kami tidak sengaja berciuman" lanjut Grace yang tidak berani menatap Callista. Sedangkan Callista yang mendengar ucapan adik iparnya, ia pun langsung tersenyum bahagia.
"Grace, kamu tidak salah dalam memilih seorang pria di hidup mu. Aku yakin, Edward adalah pria yang baik untuk mu Grace. Kamu berhak mendapatkan kebahagian itu" tutur Callista dengan lembut.
__ADS_1
"Aku hanya takut terluka" lirih Grace.
"Grace, aku dan kakak mu tidak akan membiarkan mu terluka. Jika sampai itu terjadi, aku pastikan akan membunuh Edward dengan tangan ku sendiri" canda Callista yang membuat Grace tersenyum.
"Grace, kamu harus tahu jika kita sudah memiliki pasangan, hidup kita tidak lagi kosong. Kamu tahu Olivia? kekasihnya meninggalkannya karena berselingkuh, bertahun-tahun Olivia takut untuk membuka hatinya. Tapi sekarang Olivia sudah memiliki Taylor yang menjaga, mencintai dan mengobati luka di hati Olivia" lanjut Callista.
"Kamu benar kakak ipar, harusnya aku yakin Edward tidak akan menyakiti ku. Tapi apa kakak ku akan menyukai Edward?"
"Kakak mu?" Callista terkejut karena Grace takut jika Daniel tidak menyukai Edward.
"Sejak kecil, kakak ku selalu melarang ku memiliki kekasih. Bahkan kekasih terakhir ku yang di Paris saja, aku tidak berani mengenalkannya pada keluarga ku. Ya meskipun mereka sudah tahu, tapi jika membawa kekasih ku aku takut. Kakak ku selalu melarang ku menjalin hubungan" ujar Grace yang membuat Callista tersenyum.
"Grace, kakak mu adalah suami ku. Aku sangat mengerti maksud suami ku melarang mu, karena dia tidak ingin adiknya terluka walau hanya sedikit saja. Tapi Grace, kakak mu tidak akan menghentikan kebahagian yang datang di hidup mu.. Percayalah" tutur Callista kembali.
"Aku akan membantu mu untuk berbicara dengan Daniel, tenang saja. Sekarang aku hanya mau kamu membuka hati mu, singkirkan rasa takut mu yang terluka. Karena kita tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya jika kita tidak pernah mencoba" lanjut Callista.
"Terimakasih Callista, kamu sudah menjadi kakak ipar ku. Aku selama ini selalu menginginkan memilki kakak perempuan yang penyayang.Meskipun usia kita seumuran, tapi kamu lebih dewasa dan pantas saja jika kakak ku sangat mencintai mu" ujar Grace yang langsung berdiri dan memeluk Callista dengan erat.
"Tugas ku adalah menyayangi mu. Aku akan menjadi orang yang sangat bahagia jika kamu menemukan pria yang tepat untuk diri mu" jawab Callista dengan lembut dan Grace pun tersenyum mendengar ucapan Callista.
"Terimakasih telah meyayangi ku" ucap Grace.
"Hati-hati"
Grace pun langsung berjalan meninggalkan ruang kerja Callista. Saat Grace meninggalkan ruang kerja Callista, handphone Callista berdering, Callista pun langsung mengambil handphonenya yang terletak di atas meja.
"Kakak?" gumam Callista saat melihat layar ponselnya.
"Hallo" sapa Callista saat panggilannya terhubung.
"Callista, apa kamu ingat minggu depan adalah hari apa?" tanya Jessica yang membuat Callista mengernyitkan dahinya. Ia bingung dengan pertanyaan kakaknya.
"Hari apa? maksud kakak apa?"
"CK! kau jangan bilang lupa" Jessica berdecak kesal.
"Sungguh ka, aku tidak mengerti" balas Callista.
"Minggu depan itu ulang tahun papa, bagaimana kau ini bisa lupa dengan ulang tahun ayah mu sendiri" seru Jessica yang kesal adiknya lupa dengan ulang tahun ayahnya.
__ADS_1
"Astaga" Callista langsung menepuk dahinya dan segera melihat kalender yang terletak di atas mejanya.
"Kenapa aku bisa lupa" gumam Callista pelan, namun Jessica masih mendengarnya.
"Ya, kau ini parah sekali! bisa lupa dengan tanggal ulang tahun papa mu sendiri." seru Jessica.
"Maaf ka, aku lupa belakangan ini aku mengurus Grace. Kakak sudah tahu tentang Grace bukan?"
"Iya, kakak sudah tahu. Kakak juga sudah kirim pesan pada Grace. Kakak benar-benar turut prihatin"
"Yasudah, minggu depan rencananya kakak akan merayakannya di rumah saja. Jangan lupa undang Paman Gio dan Bibi Alin" lanjut Jessica.
"Tenang ka, aku akan mengundang semuanya"
"Kalau begitu kakak matikan dulu ya"
"Iya ka"
Callista pun langsung memutuskan panggilan teleponnya.
Kini Callista berpikir kado apa untuk ayahnya. Karena ayahnya sudah punya semua, tahun lalu Callista membelikan sepatu untuk ayahnya dan juga memasak makanan spesial untuk ayahnya. Tahun ini Callista ingin sekali memberikan kado yang sangat special untuk ayahnya.
"Bagaimana ini Mike belum ditemukan" gumam Callista pelan.
Callista masih khawatir karena Mike belum ditemukan, terakhir dia mendapat kabar jika Mike dan Alvonso kabur ke Meksiko. Rasanya Callsta sudah tidak sabar untuk menghajar Mike dan juga Alvonso. Tapi ia pastikan saat ia meliat Mike, Callista akan menghanjar Mike tanpa ampun. Kalau oerlu Callista akan membunuh Mike dengan tangannya sendiri. Akibat Mike, Grace harus mengalami trauma yang parah.
***
Follow Ig Author : abigailranadewi
Like,coment dan vote terus yaa.
engga bisa balas satu-satu, tapi jujur aja author love banget sama para readers.
Tinggalin jejak kalian saat kalian membaca karya author yaa.
Maaf sekali telat up, tapi author sudah berusaha untuk bisa membuat para readers seneng kok hehe.
Terimakasih atas dukungan kalian selama ini.
__ADS_1