
Alice membuka kedua matanya, saat ia membuka matanya ia melihat dirinya berada di rungan putih. Dan melihat sosok pria tengah duduk di sofa.
"Ma, mama sudah sadar?" ucap Micahael dengan lembut.
"Papa?" Alice menyentuh pelipisnya.
"Pa, mama dimana?"
"Mama di rumah sakit ma"
"Kenapa mama bisa di sini?" tanya Alice yang mencoba mengingat kenapa ia bisa di rumah sakit.
"Mama hanya kelelahan saja" jawab Michael yang terpaksa berbohong.
Tidak lama kemudian, kepaala Alice semakin sakit. Memori putrinya tersungkur di lantai dengan penuh darah mulai memenuhi pikirannya.
"Pa, dimana Callista pa?" Alice yang panik mulai mengingat kejadian kenapa ia bisa di rumah sakit.
Michael menghela nafas dalam.
"Callista sudah dalam perawatan ma, tenang saja ma"
"Tidak pa, bagaimana putri ku. Dia tertembak karena menyelamatkan ku, antarkan aku pada Callista pa. Mama tidak akan bisa tenang sebelum melihat putri mama" ujar Alice yang mulai meneteskan air matanya.
"Ma, papa janji akan mengantarkan mama tapi tidak sekarang. Saat ini Callista masih dalam perawatan ucap Michael.
"Apa Callista akan selamat kan pa? tidak terjadi sesuatu pada putri kecil ku kan pa? jawab paa?" rentetan pertanyaan Alice yang membuat Michael memeluk istrinya.
"Ma, tenanglah. putri kecil kita saat ini akan menjadi seorang ibu" ucap Michael sambil mengelus rambut istrinya.
"Ma....kssudd papa apa?"
"Putri kecil kita saat ini sedang mengandung ma, kita akan punya cucu dari Jessica dan Callista" jawab Michael.
Alice meneteskan air matanya, ia merasa bersalah karena dia putrinya harus terluka.
"Kenapa tidak mama saja yang tertembak pa, harusnya mama yang terluka bukan Callista pa" ujar Alice.
"Ma, bukankah kita memiliki putri kecil yang sangat tangguh? apa mama lupa dia bisa melindungi mama dan juga Jessica dengan baik. Papa yakin Callista akan cepat sadar" tutur Michael dengan lembut.
Alice pun mengangguk dan kembali memeluk suaminya dengan erat.
***
Daniel masih tetap menatap istrinya dari balik kaca, kini Callista sudah di pindahkan di ruang ICU. Olivia mengatakan jika keadaan Callista kali ini sangat tidak baik. Meskipun operasi berjalan dengan lancar tapi Callista mengalami koma. Pelurunya hampir menembus jantung Callista, Daniel yan mendengar penuturan Olivia ia terus merutuki dirinya karena tidak datang menemani istrinya.
Daniel sudah menyerahkan pekerjaanya pada Harry, seluruh meeting akan di wakilkan oleh Harry. Daniel berjanji akan terus menjaga istri dan anaknya hingga mereka sadar. Bahkan terkadang Alin memaksa Daniel untuk makan, karena selama Daniel menjaga Callista ia tidak pernah mau untuk makan. Ia takut jika terjadi sesuatu dengan istinya.
__ADS_1
"Daniel" panggil Alin.
"Ma?"
"Sayang, kamu makan dulu" bujuk Alin kembali.
"Tidak ma, aku tidak ingin meninggalkan anak dan istri ku"
"Nak, mama akan menjaga Callista dan cucu mama, kamu makanlah sayang. Jika kamu sakit kamu tidak akan bisa menjaga anak dan istri mu" balas Alin.
"Baiklah ma, tapi aku mohon mama jaga Callista dengan baik ya ma" ucap Daniel.
"Iya nak, mama akan menjaga anak dan istri mu dengan baik"
Sebenarnya Danile tidak ingin meninggalkan istrinya, hanya saja ia pun harus tetap sehat agar bisa menjaga istri dan anaknya.
***
Selesai operasi, Olivia kembali ke ruang kerjanya. Olivia tidak sanggup melihat sahabatnya kini tidak sadarkan diri. Ia benar-benar merasakan sakit jika melihat sahabatnya terluka. Tidak pernah di bayangkan oleh Olivia jika ia akan berada di ruang operasi bersama Callista tapi kali ini berbeda. Biasanya mereka berdua membantu pasien tapi ini Olivia yang melihat sahabatnya tergeletak di meja operasi. Sepanjang Olivia melaksanakan operasi, Olivia sudah berusaha untuk menahan air matanya. Tapi air matanya pecah saat ia sudah berhasil menyelesaikan operasinya. Bahkan Olivia masih belum keluar ruang operasi karena ia tidak enak jika keluarga Callista melihat Oliva dengan mata merahnya akibat menangisi sahabatnya.
Ceklek
Sosok pria membuka ruang kerja Olivia.
"Sayang" panggil seorang pria yang Olivia sangat mengenali suara itu.
"Tenanglah sayang, bukankah kamu ini dokter hebat? aku tahu kamu pasti bisa menyelamatkan Callista" ucap Taylor.
Saat Callista tertembak, Grace memang mengabari seluruh sahabat Daniel dan juga Edward kekasihnya. Saat Taylor mendengar itu, Taylor langsung meninggalkan pekerjaanya. Ia tahu saat ini kekasihnya sangat terluka. Bagaimana pun Callista bukan hanya sahabatnya tapi sudah seperti saudara bagi Olivia.
"Tapi Taylor, aku tidak tahu kapan Callista akan sadar. Jika terjadi sesuatu dengan Callista aku tidak akan pernah mau lagi menjadi dokter. Aku sangat bodoh" ujar Olivia.
"Ssstttt, jangan bicara seperti itu. Yakinlah Callista akan baik baik saja" ucap Taylor sambil mengelus dengan lembut wajah kekasihnya.
***
"Lepaskan aku" bentak Mike saat melihat Daniel masuk ke dalam runagan.
Daniel memang ingin menyiksa Mike dan Alvonso terlebih dahulu sebelum menjebloskannya ke penjara. Daniel tidak akan puas jika hanya melihat Mike dan Alvonso di penjara. Ia tetap harus memberikan pelajaran untuk dua pria brengsekk yang tengah melukai istrinnya.
Bugh
Bugh
Bugh
Daniel memukul pelipis Mike berulang-ulang dan tidak hanya memukul Daniel pun menendang Mike hingga membuat Mike tersungkur.
__ADS_1
"Bersiaplah untuk mati Mike Linfard! aku akan segera mengirim mu ke neraka" geram Daniel.
"Bunuh saja aku, aku tidak takut" seru Mike.
Saat Daniel hendak memukul, Harry langsung menahannya.
"Tuan, jangan sampai tuan membunuh pria ini." ucap Harry.
"Baiklah, kau siksa dia setelah itu baru kau buang tikus ini ke penjara. Buat dia membusuk di penjara" seru Daniel.
"Baik tuan"
Danile langsung berpindah ruangan, kini ia ingin langsung menghajar Alvonso yang sudah menembak istrinya.
"Daniel Renaldy" seru Alvonso saat melihat Daniel masuk ke dalam ruangan.
Bugh
Bugh
Bugh
Danel menghajar habis Alvonso, memukul, menedang hingga melemparnya.
"Haha, apa istri mu yang cantik itu selamat?" ejek Alvonso.
Mendengar Alvonso tertawa, Daniel kembali meninju Alvonso berkali-kali.
"Aku pastikan kau akan mati" seru Daniel.
"Daniel Renaldy, aku sudah tidak perduli jika aku mati. Tapi aku akan puas jika sampai istri cantik mu ikut mati bersama dengan ku haha"
Rahang Daniel mengeras, ia kembali meninju dan menendang Alvonso hingga membuat Alvonso tidak sadarkan diri.
"Brengsekk kau Alvonso!" seru Daniel.
Setelah puas memberi pelajaran untuk Mike dan Alvonso. Daniel langsung meninggalkan Alvonso dan kembali menuju rumah sakit. Entah kenapa mendengar ucapan Alvonso membuat Daniel semakin takut. Bayang-bayang hal buruk akan terjadi dengan anak dan istrinya terus menghantui dirinya. Daniel terus merutuki kebodohannya karena tidak ikut dengan istrinya, harusnya jika ia ikut ini tidak akan terjadi. Itulah yang terus di pikirkan oleh Daniel. Daniel yang sudah lama menantikan seorang anak, ia pun sangat bahagia saat mengetahui istrinya tengah mengandung. Tapi rasa bahagia itu membuat Daniel terus menyesal dengan kebodohannya yang tidak mampu melindungi anak dan istrinya.
***
Follow Ig Author : abigailranadewi
Di Ig akan author kasih tahu kalau telat up.
Like, coment dan vote terus setiap karya author.
Terimakasih banyak atas dukungan kalian selama ini.
__ADS_1