Stolen Heart

Stolen Heart
BAB 118 - Menenangkan Alice


__ADS_3

Esme yang tengah menikmati minumannya, kini menatap berita di TV. Ia menarik sudut bibirnya membentuk senyuman simpul.


"Putri bungsu Keluarga Hutomo tertembak, hingga kini Tuan putri dari keluarga Hutomo masih belum sadar" ucap Reporter.


"Callista Hutomo, beruntungnya kau. Cantik, pintar, kaya dan memiliki suami sempurna. Kau mengambil Thomas ku bukan? Aku yakin Daniel akan berada di pelukan ku" gumam Esme seraya menatap TV.


"Daniel adalah pria yang sangat sempurna. Dia adalah pria yang paling tepat untuk bersanding dengan ku" seru Esme kembali.


***


Daniel merasakan hatinya benar-benar tidak tenang. Ia meremas rambutnyaa dengan keras, pikiran buruk terus membayangi dirinya. Berkali-kali Grace mencoba menenagkan kakaknya namun sia-sia.


Michael yang sudah mengantarkan Alice, ia meminta David untuk menjaga Alice sementara. Michael langsung berlari ke ruang perawatan putrinya.


“Grace, kenapa putri ku?” tanya Michael yang cemas.


“Paman, paman tenanglah. Dokter sedang melakukan perawatan. Jantung Callista sempat melemah tapi percayalah paman. Callista akan baik-baik saja” ujar Grace yang mencoba menenagkan Michael.


Michael yang mendengar itu, ia merasakan dadanya sangat sesak. Ia langsung duduk dan tidak bisa lagi menahan air matanya.


“Putri ku, sadarlah nak” lirih Michael.


Tidal lama kemudian Olivia keluar dari runag perawatan Callista. Daniel dan Michael langsung menghampiri Olivia.


"Olivia bagaimana istri dan anak ku?" tanya Daniel yang cemas.


"Olivia bagaiamana putri ku?" tanya Michacel.


Olivia menghela nafas dalam "Kondisi Callista jauh lebih baik, tapi Tuan Daniel dan paman ada hal penting yang harus aku katakan" ucap Olivia.


"Katakan liv" ucap Daniel dan Michael.


"Jantung Callista masih berdetak hingga saat ini karena bantuan dari mesin, tapi jika mesin itu di lepas sebenarnya Callista sudah tidak tertolong" lirih olivia yang meneteskan air matanya.


"Tidak tidak" seru Daniel.


"Olivia, aku tidak perduli berapa uang yang harus aku keluarkan. Buat istri dan anak ku selamat" seru Daniel.


"Ka, tenanglah ka" ucap Grace.


"Olivia, jangan biarkan putri kecil ku tidak tertolong" lirih Michael.


"Aku tidak tahu bagaimana menjalani hidup tanpa putri ku" lanjutnya.

__ADS_1


"Tuan Daniel dan Paman Michael, aku akan berusaha sebaik mungkin. Callista adalah sahabat baik ku, aku bahkan tidak akan sanggup kehilangannya. Kita berdoa agar Callista bisa segera pulih" tutur Olivia.


"Liv, apa aku bisa melihat istri ku?" tanya Daniel.


"Silahkan" ucap Olivia.


"Daniel, kamu masuklah dulu nak. Biar papa menjaga mama dulu." ucap Michael dan Daniel pun langsung mengangguk.


Olivia dan Grace langsung berjalan meninggalkan Daniel. Sedangkan Michael kembali ke ruang rawat Alice.


Daniel langsung masuk ke dalam ruang rawat istrinya.


"Sayang, kenapa kamu belum sadar? aku tidak bisa tidur tanpa mu. Aku selalu terbiasa tidur di peluk mu, di cium oleh mu. Cepat sadar sayang" ujar Daniel sambil mengelus pipi istrinya.


"Apa kamu tahu dulu saat pertama kali aku melihat mu? kamu adalah gadis yang sangat cantik. Pemberani, tangguh dan sikap mu yang keras kepala membuat aku benar-benar jatuh cinta pada mu" lanjutnya.


"Aku sangat beruntung memiliki istri yang sangat cantik seperti mu, kamu itu sangat lucu. Kamu sering membujuk ku untuk mengikuti kemauan mu. Tapi akhirnya kamu menuruti ku"


"Sayang, sudah berapa hari ini kamu tidak sadar. aku benar-benar rindu dengan suara mu, sentuhan mu, Bangunlah sweet heart"


"Nak, bilang mommy nak. Cepat sadar Daddy tidak bisa hidup tanpa kalian" lirih Daniel yang kembali meneteskan air matanya.


***


Grace tengah duduk di ruang kerjanya. Ia kembali termenung mengingat perkataan Olivia. Ia tidak bisa membayangkan jika hal buruk terjadi pada kakak iparnya.


Suara pintu terbuka.


Grace terkejut melihat sosok pria yang dia rindukan kini berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya.


Grace langsung berlari memeluk pria yang sangat ia rindukan ini.


"Edward" seru Grace yang langsung memeluk Edward.


"Hi, everything is gonna be alright" bisik Edward dan Grace pun langsung mengangguk.


"Tadi aku ke ruang rawat Callista, tapi aku melihat Daniel sedang berbicara dengan Callista. Aku tidak enak mengganggunya." ucap Edward.


"Aku juga sempat ke ruang kerja Olivia, menanyakan tentang Callista. Aku tahu sayang ini akan berlalu. She is very kind. Dia akan baik-baik saja, dia akan sehat seperti sebelumnya" tutur Edward.


"Edward, aku baru pertama kali dalam hidup ku. Melihat kakak ku menangis" ujar Grace.


"Pria tetap memiliki perasaaan, ia akan menangis jika ia ketakutan kehilangan orang yang ia cintai" ujar Edwrad.

__ADS_1


"Aku pernang mengingat perkataan Callista jika selalu ada pelangi sehabis hujan" ucap Grace dan Edward langsung mengangguk setuju.


"Tuhan tidak akan tega memisahkan Daniel dan Callista, terlebih sekarang Callista sedang mengandung bukan? aku yakin Tuhan akan menyelamatkan Callista" tutur Edwrad.


"Iya aku yakin itu, keponakan ku adalah anak ku juga. Aku ingin kakak ipar ku dan anak ku terus sehat" balas Grace.


"Lebih baik, kamu harus sering menguatkan kakak mu. Berikan dia keyakinan jika istri dan anaknya akan selamat" ucap Edward.


"Iya, terimakasih sudah berada di sisi ku Edward" ucap Grace yang kembali memeluk Edward.


"Berada disisi mu adalah sebuah keberuntungan terbesar dalam hidup ku Grace" balas Edward dan Grace pun tersenyum.


***


Michael yang baru saja kembali dari ruang rawat Callista, kini ia menjaga istrinya.


"Pa" panggil Alice.


"Iya ma, mama sudah bangun?" tanya Michael dengan lembut.


"Callista sudah sadar kan pa?" tanya Alice.


"Sudah ma, Callista sudah sadar." jawab Michael yang terpaksa berbohong.


"Kalau begitu bawa mama ke putri kecil kita pa, mama ingin memeluknya" ucap Alice dengan antusias.


"Saat ini Callista sedang tidur ma, ia masih merasa sakit di lukanya. Nanti kita temui jika dia sudah bangun ya" tutur Michael dengan lembut.


"Tapi papa benar kan pa? putri kita sudah sadar kan pa?" tanya Alice kembali yang kini menatap suaminya.


"Iya ma sudah, putri kita sudah sadar. Bukankah mama tahu jika kita memiliki putri kecil yang sangat kuat?" ujar Michael yang membuat Alice tersenyum.


"Benar pa, putri ku bukanlah wanita lemah. Dia sangat kuat pa, tidak mungkin terjadi sesuatu pada putri ku" balas Alice dan Michael pun langsung memeluk istrinya.


"Aku pun berharap putri kita segera sadar, aku tidak bisa membayangkan hal buruk terjadi pada putri kita" gumam Michael dalam hati.


Sebelumnya Michael tengah bertemu dengan dokter. Saat ini tidak mungkin memberikan berita buruk pada Alice. Itu akan menganggu kejiwaa Alice. Akhirnya Michael memilih untuk berbohong jika putri bungsunya baik-baik saja. Entah harus sampai kapan ia berbohong, tapi tidak mungkin ia mengantakan sejujurnya pada istrinya.


Bahkan tadi saat Jessica menghubungi Michael pun, Michael menjawab semuanya akan baik-baik saja. Dia tidak sanggup untuk mengatakan keadaaan Callista sekarang. Michael terpaksa harus berbohong pada putri sulungnya dan juga istrinya. Michael sangat tahu mereka akan terguncang jika tahu kenyataanya.


***


Follow Ig Author : abigailranadewi

__ADS_1


Like,coment dan vote terus yaa.


Terimakasih atas dukungan kalian.


__ADS_2