
Setelah kakaknya menghubunginya, Callista kini bersama dengan Olivia tengah asik menikmati makan siang mereka.
"Cal, bagaimana keadaan Grace?" tanya Olivia sambil menikmati makan siangnya.
"Dia sudah jauh lebih baik. Mungkin besok dia sudah bisa bekerja" jawab Callista.
"Aku benar-benar tidak menyangka. Mike benar-benar sangatlah gila" ucap Olivia.
"Ya, aku pun tidak pernah menyangka ada pria gila seperti itu."
"Eh liv, kamu terlihat jarang bersama dengan Taylor?" tanya Callista.
"Iya, belakangan ini dia sangat sibuk."
"Hem, maaf ya. karena dia memimpin perusahaan ku dia jadi sibuk"
"No, tidak masalah. itu malah sangat baik kan buat masa depan dia"
"Yasudah, ayo kita kembali" ajak Callista dan kini mereka pun langsung berjalan meninggalkan restaurant.
Olivia dan Callista berjalan masuk menuju lobby rumah sakit. Olivia sedikit terkejut kenapa banyak bunga di lobby rumah sakit. Terakhir saat ia meninggalkan rumah sakit untuk pergi ke restaurant, masih tidak ada bunga.
Olivia dan Callista mulai berjalan di atas bunga. Tidak hanya Olivia tapi Callista juga sedikit bingung, kenapa ada bunga bertaburan di lantai lobby rumah sakit.
"Cal, ini apa kok banyak bunga?" tanya Olivia smabil menatap bunga-bunga yang bertebaran di lantai rumah sakit.
"Liv, aku juga enggak tahu. Ini apa ya" Callista ikut menatap bunga-bunga cantik yang bertebaran di lantai dan banyak rangkaian bunga.
Tidak lama kemudian, muncul Taylor, Daniel dan juga Andre. Daniel memberikan kode pada istrinya untuk menghampirinya. Callista yang mengerti dengan kode dari suaminya ia pun langsung berjalan meninggalkan Olivida ke arah suaminya.
"Sayang ada apa ini" bisik Callista di telinga Daniel.
"Nanti kamu juga tahu" ucap Daniel yang langsung mengecup pucuk kepala Callista.
Olivia yang di tinggal Callista, ia kini semakin bingung. Olivia melihat Taylor dengan masih mengenakan jas kerjanya berjalan menuju Olivia. Taylor pun membawa bunga mawar merah yang cantik dan langsung memberikannya pada Olivia.
"Olivia, saat aku mengenal mu tidak pernah terpikir oleh ku jika aku akan mendapatkan mu. Aku sangat beruntung memiliki kekasih yang sangat cantik dan juga seorang dokter" puji Taylor yang membuat Olivia tersenyum.
"Mungkin ini terlalu cepat, tapi aku ingin sekali segera memiliki mu" lanjut Taylor.
Seluruh orang yang berada di lobby rumah sakit, kini menatap ke arah Taylor dan Olivia.
"Olivia, maukah kau menjadi istri ku dan menjadi ibu dari anak-anak ku?" Taylor berlutut dan memberikan cincin berlian yang cantik di depan Olivia. Sedangakan Olivia terkejut saar Taylor berlutut di hadapannya. Air mata Olivia mulai menetes membasahi pipinya. Bahkan ia tidak bisa mengeluarkan kata-kata.
Callista yang melihat sahabatnya kini dilamar, air matanya pun ikut menetes. Ia benar-benar bahagia Olivia tengah mendapatkan kebahagiannya.
Daniel pun langsung memeluk Callista dengan erat saat air mata Callista mulai menetes.
"Yess Taylor! i will" seru Olivia dengan isakan tangisnya.
__ADS_1
Mendengar Olivia menerimanya, Taylor langsung bangkit dan mencium bibir Olivia di depan semua orang. Orang yang melihat seorang pria melamar kekasihnya mereka semua bertepuk tangan. Terlebih banyak orang yang menetahui Olivia adalah dokter di Queen Hospital.
"Terimakasih sayang" ucap Taylor yang sudah melepaskan ciumannya. Taylor langsung memasangkan cincin di jari manis Olivia.
Callista, Daniel dan Andre pun langsung berjalan menghampiri Taylor dan Olivia.
"Liv, selamat" seru Callista yang langsung memeluk Olivia dengan erat.
"Aku akan menikah Cal" balas Olivia dan Callista pun langsung mengangguk.
"Aku pernah mengatakannya pada mu. Akan selalu ada pelangi sehabis hujan" tutur Callista dengan lembut.
"Terimakasih Cal"
"Tidak perlu berterima kasih" balas Callista sambil tersenyum.
Daniel dan Andre pun memberi selamat pada Olivia dan Taylor. Taylor sengaja membawa sahabatnya untuk datang ke rumah sakit menemani Taylor. Daniel pun setuju agar ia bisa menjemput Callista pulang.
***
Malam hari, Daniel dan Callista pun sudah tiba di apartemen mereka. Mereka pun sudah membersihkan diri dan menggangganti pakaian tidur mereka.
Daniel merebahkan tubuhnya di samping istrinya dan langsung memeluk istrinya dengan erat.
"Sayang" panggil Callista
"Hem?"
"Ada apa?" tanya Daniel yang penasaran.
"Ini tentang Grace dan Edward"
"Ada apa dengan Grace dan Edward?"
"Tadi pagi Edward menyatakan perasaannya, lebih tepatnya Edward mengatakan jika dia nyaman berada di sisi Grace. Apa kamu kebertan jika Edward menjalin hubungan dengan Grace?"
Daniel menghela nafas dalam mendengar ucapan istrinya.
"Edward dulunya menyukai mu, jika adik ku tahu nanti dia akan terluka seperti dia tahu Mike menyukai mu" balas Daniel.
"Sayang, orang berhak menyukai siapapun. Sebelum aku mencintai mu, akupun menyukai seorang pria dan aku tidak bisa memilikinya" tutur Callista.
"Jangan membahas pria yang kau suka" seru Daniel yang kesal.
"Astaga itu masa lalu. Lagi pula kau ini kekasih pertama ku yang langsung menjadi suami ku" seru Callista yang membuat Daniel tersenyum.
"Aku sebenarnya melihat Edward adalah pria yang baik. Dia memang bukan berasal dari keluarga kaya, tapi dia bekerja keras untuk bisa seperti saat ini. Jujur saja, aku pun kagum dengan sosok Edward. Tidak mudah menjadi seperti Edward." tutur Daniel.
"Menurut ku, jika memang adik ku bahagia dengan pria seperti Edward. Aku tidak akan melarangnya, karena aku lihat Edward mempunyai sifat yang baik" lanjut Daniel yang membuat Callista tersenyum.
__ADS_1
"Terimakasih atas sikap mu yang bijaksana sayang" ucap Callista yang langsung memeluk suaminya dengan erat.
"Grace adalah adik ku, tentu aku akan menginginkan dia bahagia dalam hidupnya" balas Daniel.
"Oh ya sayang bagaimana dengan mobil baru untuk Grace?" tanya Callista kembali.
"Sudah aku pesankan, bulan depan baru datang. Aku membeli keluaran terbaru untuknya" jawab Daniel.
"Kau memang kakak terbaik dan suami terbaik" balas Callista yang langsung mengecup bibir suaminya.
"Sayang, minggu depan papah ku ulang tahun, Kamu harus kosongkan jadwal mu ya" pinta Callista.
"Papa Michael berulang tahun?"
"Iya, papa ulang tahun"
"Baiklah, kalau begitu aku akan menyiapkan kado untuk Papa Michael" jawab Daniel.
"Sayang, sepertinya aku ingin hadiah dari mu" pinta Daniel.
"Hadiah? memangnya kau berulang tahun?" seru Callista.
"Memangnya hanya berulang tahun saja yang mendapatkan hadiah" balas Daniel.
Callista menghela nafas dalam.
"Baiklah, katakan suami ku apa kau ingin aku membelikan mobil seperti adik mu? kalau iya aku akan segera membelikannya dengan uang mu. Karena aku tidak memiliki uang sebanyak diri mu" canda Callista sambil menahan tawanya.
Daniel langsung menyentil dahi istrinya.
"Kau ini aku tidak butuh itu" sahut Daniel.
"Lalu apa yang kau butuhkan?"
"Aku ingin hadiahnya adalah anak" jawab Danilel yang membuat Callista terkejut.
"Tapi-" ucap Callista terpotong akibat Daniel langsung membungkam bibir istrinya dengan bibirnya.
"Kita harus proses membuatnya" bisik Daniel saat pagutannya terlepas.
"Kenapa dia selalu meminta setiap hari" gerutu Callista dalam hati.
Daniel kembali melanjutkan hasratnya kembali.
***
Follow Ig Author : abigailranadewi
Like,coment dan vote terus setiap karya author yaa.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungan kalian.