
Kini hari sudah menjelang siang, Olivia sudah selesai dari tugasnya. Siang ini Olivia sudah berjanji untuk mekan siang bersama dengan Taylor. Sebenarnya ia ingin sekali menolak, tapi jika kemarin ia menolak pasti Taylor tidak akan pulang.
Tok
Tok
Suara ketukan pintu
“Masuk” Ucap Olivia
“Dokter Olivia, Tuan Taylor sudah menunggu anda di lobby” Ujar salah satu perawat.
“Baiklah” Olivia berjalan meninggalkan ruang kerjanya.
Di lobby, Olivia melihat Taylor sudah menunggunya. Ia berjalan menghampiri Taylor.
“Maaf, aku membuat mu menunggu” Ucap Olivia.
“Tidak apa”
Olivia dan Taylor berjalan menuju parkiran mobil. Kini mobil Taylor mulai meninggalkan Queen Hospital. Di dalam mobil, Olivia memulai percakapannya.
“Taylor, kita makan siang dimana ?” Tanya Olivia ke arah Taylor.
“Kita akan ke Marrien Caffe” Jawab Taylor sambil menyetir.
“Marrien Caffe? Itu tempat pertama kali Callista dengan Daniel bertemu” Tutur Olivia.
“Ya, kamu benar. Dan aku pun pertama kali melihat mu” Balas Taylor.
Mendengar ucapan Taylor sontak membuat Olivia terkejut.
“Kau pernah melihat ku di Marrien Caffe?” Tanya Olivia yang memastikan.
“Ya, aku melihat mu saat bersama sahabat mu yang tangguh itu” Jawab Taylor.
“Aku melihat wajah mu yang ketakutan saat Callista mengahabisi pria yang memaksanya untuk ikut dengannya” Ucap Taylor kembali.
“Aku pun melihat mu, tapi aku tidak begitu memerhatikan. Kalau boleh jujur mata ku teruju pada Daniel yang menabrak Callista”
“Ya, aku tahu. Semua gadis pasti akan jatuh hati saat pertama kali melihat Daniel”
“Tapi sebenarnya kau pun tampan dan memiliki pekerjaan yang tidak kalah hebat dengat Daniel” Ucap Olivia yang langsung menutup mulutnya dengan tangannya.
“Astaga bicara apa aku ini” Gerutu Olivia dalam hati.
“Jadi kau mengakui jika aku tampan?” Taylor menarik sudut bibirnya membentuk senyuman.
“Tidak! Aku hanya sembarang bicara” Seru Olivia.
__ADS_1
“Tidak perlu berbohong. Aku pun mengakui jika kau ini Dokter Cantik” Ujar Tarlor yang membuat Olivia tersenyum.
Mobil sport milik Taylor, sudah terpakir di Marrien Caffe. Taylor dan Olivia berjalan masuk ke dalam caffe. Taylor memesan prawn dengan mashed potato dan dori fish dengan mashed potaato lalu orange juice.
“Aku jadi ingat saat aku melihat mu” Ucap Taylor sambil menatap Olivia.
“Aku tahu, pasti kau terpesona dengan Callista sahabat ku kan?” Tanya Olivia.
“Ya, kamu benar. Tapi sebenarnya aku lebih sering memerhatikan gadis yang berdiri menatap sahabatnya ketika menghajar pria-pria itu” Jawab Taylor sambil menikmati makanannya.
“Ck! Kau jangan berbicara yang tidak-tidak” Seru Olivia.
“Aku berbicara sebenarnya. Bahkan sebelum Callista dan Daniel menikah, Callista mengatakan pada ku jika kamu menuduh ku suka berganti wanita karena aku pemliki club” Tutur Taylor yang kini benar-benar memuat Olivia terkejut.
“Callista mengatakan itu?” Tanya Olivia memastikan dan Taylor pun mengangguk.
“Dia itu yang benar saja!” Gerutu Olivia dalam hati.
“Jangan mempercayainya” Seru Olivia.
“Jadi kau mengatakan jika sahabat mu berbohong?” Tanya Taylor kembali.
“Astaga! Aku tidak mengatakan jika Callista berbohong”
“Lalu?”
“Iya-iya aku mengatakan jika kau selalu berganti wanita. Memangnya aku salah? Aku hanya kesal karena Callista selalu menjodohkan kita” Gerutu Olivia.
“Aku tidak pernah seperti itu. Jika kau memiliki hubungan, aku akan selalu menjaga dan mencintai kekasih ku. Hanya saja, aku tidak memilikinya. Tapi bukan berarti aku berganti wanita setiap malam” Tutur Taylor.
Mendengar ucapan Talor, Olivia langsung terdiam dan tidak menjawab.
“Apa kau mempercayai ku?” Tanya Taylor memastikan.
“Aku tidak tahu. Tapi semoga yang kau katakan itu benar.” Jawab Olivia.
“Baiklah, kau akan mengenal ku lebih jauh jika kau sudah lama berkenalan dengan ku” UjarTaylor.
“Olivia, aku masih belum memiliki nomor handphone mu. Bisakah kau memberikannya pada ku?” Tanya Taylor.
“Baiklah, ini nomor ku” Olivia yang langsung memberikan kartu namanya.
“Memiliki kekasih seorang dokter bedah sangat menganggumkan” Gumam Taylor pelan saat membaca kartu nama Olivia.
“Apa kata mu tadi Taylor?” Tanya Olivia yang memastikan, karena ia sempat mendengar gumaman Taylor.
“Tidak, aku tidak mengatakan apapun” Bantah Taylor.
“Olivia aku ingin bertanya sesuatu dengan mu?” Tanya Taylor.
__ADS_1
“Iya, ada apa?”
“Apa alasan mu menjadi seorang dokter?”
“Aku dan Callista memiliki cita-cita yang sama. Kami sudah bersahabat sejak kecil. Tujuan ku menjadi dokter adalah aku ingin selalu menolong orang. Terlebih orang yang aku sayangi” Tutur Olivia.
“Lalu apa kau memiliki kekasih saat ini?” Tanya Taylor kembali.
“Tidak, untuk saat ini aku memfokuskan diri ku pada pekerjaan ku. Aku belum memikirkan memiliki kekasih” Jawab Olivia.
“Tapi bagaimana jika ada pria yang mendekati mu?”
“Aku tidak tahu. Saat ini memang aku tidak ingin membuka hati ku untuk siapapun” Jelas Olivia.
“Baiklah aku akan menunggu” Ucap Taylor.
Uhuggg.... uhuggg
Mendengar ucapan Taylor, membuat Olivia yang tengah meminum juicenya langsung batuk.
“Pelan-pelan” Taylor langsung memberikan mineral water untuk Olivia.
“Terimakasih” Ucap Olivia seraya menerima mineral water memberian Taylor.
“Aku memang menyukai mu Olivia” Ucap Taylor kembali.
“Tapi aku tidak akan memaksa mu. Aku menyukai mu sejak lama, hanya saja kau bersikap dingin dan seperti tidak membalas ku” Tutur Taylor.
“Taylor aku..” Belum selesai Olivia mengucapkannya, Taylor langsung memotong ucapan Olivia.
“Olivia, aku tidak akan memaksa mu. Kamu bisa mengenal ku lebih dekat terlebih dahulu” Ujar Taylor.
“Terimakasih Taylor” Ucap Olivia sambil tersenyum.
“Bahkan aku tidak tahu apa bisa aku membuka hati ku.Setelah dulu aku mendapatkan luka yang begitu dalam. Aku hanya takut tersakiti” Gumam Olivia dalam hati.
“Aku tahu semuanya, sahabat mu sudah menceritakannya pada ku. Hanya saja aku memilih untuk tidak mengatakannnya pada mu.” Gumam Taylor dalam hati.
Sebelum Callista menikah, ia sempat meminta nomor handpohone Taylor pada Daniel. Callista menanyakan bagaimana perasaan Taylor pada sahabatnya Olivia. Callista tahu, Taylor selalu menatap kagum wajah sahabatnya. Akhirnya Callista memberanikan diri untuk bertanya langsung pada Taylor. Dan ternyata benar jika Taylor memang menyukai Olivia. Hanya saja setiap Taylor berusaha mendekati Olivia, gadis itu tidak merespon Taylor.
Callista pun akhirnya menceritakan pada Taylor. Jika Olivia pernah terluka tiga tahun lalu. Kejadian dia di khianati oleh kekasihnya membuat Olivia enggan menjalin hubungan dengan pria mana pun. Meskipun ia tahu tidak semua pria seperti itu. Hanya saja Olivia terlalu takut untuk membuka hatinya dan kembali mendapatkan luka yang begitu dalam. Saat Olivia terluka, Callista selalu berada di sisi Olivia. Memberikan dukungan dan menguatkan Olivia untuk melupakan rasa sakit yang dia alami. Callista selalu mengatakan selalu ada pelangi sehabis hujan. Callista yakin setiap luka yang di dapat oleh sahabatnya akan berkahir dengan kebahagian.
***
Baca juga karya author yang lain
"Love In Milan"
Like,coment dan vote terus setiap karya author yaa.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungan kalian.😘