Stolen Heart

Stolen Heart
BAB 184 - Sangat Aktif dan Sehat


__ADS_3

Callista duduk di ranjang dengan punggung yang bersandar di kepala ranjang. Ia sedang berkutat dengan ipad miliknya. Ia membaca email masuk dari Leora assistantnya yang menangani restauran miliknya. Sejak perut Callista sudah membesar, dia memang memeriksa restaurannya dari jarak jauh, Semua dia percayakan pada Leora assistantnya.


Callista juga sudah mengurangi jadwalnya di rumah sakit. Dia lebih memilih menghabiskan waktu di rumah. Sejak perut Callista sudah membuncit. Daniel memang semakin overprotective. Daniel banyak melarang Callista untuk melakukan pekerjaan berat. Tentu saja Callista harus menuruti perkataan suaminya, Jika tidak Callista akan dilarang bekerja.


Ceklek


Suara pintu terbuka. Callista menoleh ternyata Daniel sudah pulang. Callista meletakan ipadnya di atas nakas. Lalu beranjak dari ranjang dan melangkah mendekat kearah Daniel.


"Kau sudah pulang?" sapa Callista smabil membatu Daniel melepaskan dasi dan jasnya,


"Ya." Daniel menundukan kepalanya dan mengecup bibir Callista.


"Kau sudah makan?" tanya Callista.


"Sudah.Aku ingin mandi dulu."


Callista mengangguk. "Ya, aku akan menyiapkan baju untuk mu."


Daniel berjalan menuju kamar mandi. Callista menyiapkan baju Daniel. Ia mengambil piyama suaminya dan meletakannya disofa. Setelah itu ia kembali melangkah menuju ranjang dan membaringkan tubuhnya di ranjang.


Lima belas menit kemudian, Daniel sudah selesai membersihkan diri dna sudah mengganti bajunya dengan piyama yang sudah disiapkan oleh istrinya.


Daniel melangkah menuju ranjang dan membaringkan tubuhnya di samping istrinya. Mengelus dengan lembut perut istrinya yang sudah membuncit. "Kau sangat seksi dengan perut seperti ini."

__ADS_1


"Seksi dari mana Daniel. Apa kau tidak melihat pinggang ku bahkan tidak berbentuk." dengus Callista kesal.


Daniel mengulum senyumannya. "Bagi ku kau sangat cantik dan seksi sayang."


"Ya, terserah kau saja. Sekarang kau ceritakan pada ku tadi kau kemana? bukannya kau bilang kau akan menceritakannya pada ku?"


"Aku bertemu Rossa. kau masih mengingatnya bukan?"


Callista memincingkan matanya. Menatap tajam suaminya. "Maksud mu Rossa mantan kekasih mu?"


Danile mengangguk. "Ya. anak buah ku menangkapnya. Dia sekarang berada di gudang ku."


"Menangkap? kenapa kau menangkapnya?"


"Kenapa kau tidak mengirimkannya ke penjara lagi Daniel? kenapa kau menangkapnya?" seru Callista.


Daniel mengelus pipi istrinya dengan lembut. "Penjara terlalu indah untuknya sayang. Aku ingin menyiksanya lebih dari itu. Dia berani melukai mu dan anak kita. Aku bersumpah tidak akan membiarkannya hidup."


Callista menghela napas dalam. "Apa yang kau lakukan padanya Daniel?"


Daniel menarik Callista masuk ke dalam pelukannya. "Aku melakukan sesuatu yang pantas dia dapatkan sayang. Kau percayalah pada ku."


"Baiklah, awww." ringis Callista.

__ADS_1


"Kenapa sayang?" tanya Daniel khawatir.


"Bayi kita menendang Daniel."


"Benarkah?"


Callista mengangguk.


Daniel menjauhkan tubunya dari istrinya. Lalu menempelkan kepalanya di perut istrinya. "Dia sangat aktif dan sehat."


Callista tersenyum. "Seperti daddynya."


Daniel kini menatap wajah istrinya, mencium bibir istrinya dengan lembut. "Terima kasih sudah menjadi wanita sempurna untuk ku."


Callista mengelus rahang suaminya. "Aku juga terima kasih kau sudah menjadi pria yang sempurna untuk ku."


Daniel kembali mencium dengan lembut bibir istrinya. Mengisap dan mencecapi bibir ranum istrinya. Callista membalas ciuman Daniel. Lidah mereka saling berpagutan. Tangan Daniel meremas gundukan kembar di dada Callista yang kini bertambah besar karena hormon kehamilannya.


***


Like, comen dan vote


Terima kasih atas dukunganya.

__ADS_1


__ADS_2