
Daniel yang baru saja selesai meeting dengan salah satu clientnya dari singapore. Ia terkejut mendengar saat ia mengangkat handphonenya adiknya berteriak minta tolong. Ia mulai panik saat adiknya berteriak meminta dirinya dan juga kekasihnya.
Daniel berlari mencari Harry.
“Harry!” Panggil Daniel.
“Iya Tuan”
“Lacak GPS adik ku” Seru Daniel.
“Baik Tuan”
“Kita pergi sekarang”
“Tapi Tuan, apa tidak saya saja yang mencari Nona Garce? Tuan masih ada meeting penting dengan salah satu client dari melbourne australia” Ujar Harry.
“Tidak, adik ku dalam bahaya. Aku mendengar dia teriak meminta tolong dan juga ia menyebut nama calon istri ku. Aku tidak bisa tenang jika hanya diam saja” Seru Daniel.
“Minta salah satu direktur pemasaran menggantikan posisi ku dan catat point penting yang di ingin kan oleh client” Perintah Daniel.
“Baik Tuan”
Daniel segera meninggalkan perusahaan miliknya dan Harry pun mengikutinya. Daniel melangkahkan kakinnya dengan cepat menuju parkiran mobil.
Di dalam mobil, Daniel meminta Harry untuk mengendarai mobil dengan kecepatan penuh.
“Harry kita akan sampai berapa lama lagi?” Tanya Daniel ke arah Harry yang sudah tidak sabar.
“Tuan, dari GPS keberadaan Nona Grace saat ini sekitar 10 menit lagi kita akan sampai” Tutur Harry sambil menyetir.
“Buat itu menjadi 5 menit. Aku tidak mau tahu kau harus bisa mengendarai mobil ku ini dengan cepat. Aku membeli mobil dengan harga mahal. Kemudikan mobil dengan cepat” Perintah Daniel.
“Ba...ikk Tuan”
***
Callista berjalan maju mendekat ke pria yang menarik tanga Grace.
“Lepaskan dia! Atau aku akan membunuh mu” Teriak Callista kembali.
“Callista, bahkan wajah mu yang sudah penuh dengan luka saja. Kau masih bisa melawan ku” Seru Debora dengan senyum licik.
“Wanita gila! Kau sungguh gila. Kau Debora Alister? Tidak heran jika kakak ku membatalkan pertunangan dengan gadis iblis macam diri mu” Seru Grace yang menatap tajam Debora.
“Apa kau bilang tadi?” Bentak Debora.
“Gadis iblis! Kau wanita rendah!” Seru Grace kembali.
Plak
__ADS_1
Suara Debora menampar pipi Grace.
“Deboraaa” Teriak Callista saat melihat Grace di tampar oleh Debora.
Grace meringis kesakitan dan menyentuh pipi kanannya yang di tampar oleh Debora.
“Debora, lawan mu adalah aku. Jangan berani kau sentuh Grace” Seru Callista.
“Dan kau bodoh! Lepaskan tangan gadis yang kau sentuh dari tangan kotor mu. Atau aku akan benar-benar memotong tangan mu!” Ancam Callista dengan menatap tajam pria yang memegang tangan Grace.
“Lepaskan gadis itu. Dan lawan gadis di hadapan mu. Aku ingin lihat dengan sisa kemampuan yang di milikinya. Apa dia masih bisa melawan ku” Perintah Debor sambil melihat ke arah Callista lalu ia mulai tersenyum licik.
Pria itu pun akhirnya melepaskan tangan Grace, Grace langsung berlari ke arah Callista.
“Grace bersembunyilah” Ucap Callista dengan lembut saat Grace memeluk lengannya.
“Kakak ipar, lihatlah wajah mu sudah penuh dengan luka. Maafkan aku tidak bisa membantu mu hikss..hikss” Ucap Grace dengan tangisnya karena tidak tega melihat wajah Callista yang sudah penuh dengan luka.
“Grace, aku akan berusaha semampu ku. Jika sampai kau melihatku kalah, berlari lah dan selamat kan diri mu” Pinta Callista.
“Tidakk! Sampai kapan pun aku tidak akan meninggalkan mu” Ucap Grace yang masih dengan isak tangisnya.
“Grace, aku mohon. Jika sampai kau terluka, aku akan merasa bersalah pada Mama Alin dan juga Papa Gio. Terutama dengan kakak mu” Pinta Callista.
Grace tidak menjawab. Ia ingin sekali menghubungi kakaknya, tapi handphonenya sudah di banting saat pria itu menarik tangannya. Ia hanya berharap kakaknya mendengar teriakannnya sebelum handphonenya di rusak oleh pria yang menarik tangannya.
Callista melihat David yang masih berusaha melawan dengan sisa kemampuannya. David berkali kali tersungkur di tanah. Melihat David yang penuh dengan luka. Callista menghela nafas dalam.
Dengan sisa tenaga yang di miliki Callista, Callista maju dan melawan pria di hadapannya. Callista memukul dan mendendang pria itu tapi pria itu berhasil menepis Callista, hingga membuat Callista tersungkur.
“Callista” Seru Grace yang melihat Callista tersungkur di tanah.
“Callista bangunlah, kau harus bisa” Ucap Grace ke arah Callista.
Callista mencoba bangkit kembali.
“Dia memang benar-benar hebat. Pantas saja menjadi pembunuh bayaran” Gumam Callista dalam hati.
Kali ini Callista diam dan membiarkan dia menyerang terlebih dahulu.Callista ingin memperhatikan cara dia melawan.
Saat pria itu maju dan menyerang Callista, dengan sigap Callista menendang bagian bagian bawah pria itu. Dan memukul pelipis pria itu tanpa henti. Hingga membuatnya tersungkur di tanah.
David yang sudah sejak tadi tersungkur oleh lawannya, Callista berlari menuju David. Dan menarik kerah baju lawan David yang memukul David berkali-kali.
Callista menghajar pelipisnya dan menendang pria yang menjadi lawan David.
Bugh
Seorang pria yang menjadi lawan Callista tadi memukul tengkuk leher Callista dari belakang.
__ADS_1
Callista tersungkur di tanah, kali ini pandangannya mulai buram dan gelap. Callista mulai menutup kedua matanya.
“Calistaaaa” Teriak Grace yang melihat Callista pingsan.
David berusaha dengan sisa tenaga untuk melawan tapi ia pun tersungkur di tanah.
Kini Mobil Daniel sudah tiba di titik GPS handphone milik Grace.
Daniel berlari di ikuti oleh Harry dari belakang.
Betapa teerkejut Daniel melihat kekasihnya sudah tergeletak di tanah dengan wajah yang penuh dengan luka. Pengawal yang biasa di bawa oleh Jessica pun tergeletak di tanah.
“Kakakkk” Teriak Grace yang langsung berlari kepelukan kakaknya.
“Kakak hikkss.hiksss” Garce dengan isakan tangisnya.
“Grace, masuk ke dalam mobil” Perintah Daniel yang langsung membuat Grace menurutinya.
Daniel melihat tiga pria sudah tergeletak di tanah. Ia yakin kekasihnya berhasil melawan ke tiga pria itu. Sisa dua pria di hadapannya, rahang Daniel mengeras saat melihat dua pria di hadapannya.
Dengan emosi memuncak Daniel berlari menghajar pria itu.
Sedangkan Hary yang sudah melihat Debora, ia berlari ke arah Debora dan menarik tangan Debora.
Daniel menghajar ke dua pria itu, menangkis setiap balasan dari pria itu. Daniel mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menghajar pria itu. Menendang perutnya, memukul hidung, bibir hingga pelipis berkali-kali. Emosi Daniel memuncak saat melihat kekasihnya sudah tergeletak tidak sadarkan diri.
Kedua pria itu pun jatuh tersungkur dengan wajah yang penuh luka yang di sebabkan oleh Daniel. Harry tahu jika Daniel akan pasti menang. Saat melihat Daniel melawan pria itu, Harry sudah menghubungi kepolisian.
10 Menit kemudian mobil polisi pun datang, dan membawa ke lima pria juga membawa Debora.
“Debora, aku pastikan kau membusuk di penjara” Seru Daniel saat melihat Debora tangannya sudah di borgol.
Daniel langsung berlari ke arah Callista, dan menggendong Callista.
“Sayang, maaf aku terlambat” Ucap Daniel dengan lembut sambil menggendong Callista.
Sedangkan Harry, membantu David untuk berjalan. Karena David pun sudah penuh dengan luka.
***
Besok lagi yaa. hari ini udah 4 bab loh hehe.
Author mau lanjut nulis Love In Milan
Jangan lupa baca karya author
"Love In Milan"
Like, coment dan vote terus setiap karya author ya
__ADS_1
Maaf author suka bikin kalian jengkel hehe
Love from author😘