
Olivia yang berada di Apartementnya, ia sudah memasak makanan untuk Taylor. Siang ini Olivia memasak Steak dan juga pasta. Makanan yang ia masak pun sudah tertata dengan rapi di atas meja makan.
Tingg
Suara bel apartement Olivia.
“Pasti itu Taylor” Gumam Olivia sambil berjalan menuju pintu.
Ceklek
Suara pintu terbuka.
“Apa aku terlambat?” Ucap Taylor dengan lembut sambil menyerahkan bunga mawar yang sudahTaylor bawa untuk Olivia.
“Tidak, kamu datang tepat waktu”Jawab Olivia.
“Ayo masuk”
Taylor berjalan masuk ke dalam apartement Olivia.
“Wangi sekali” Gumam Taylor yang kini mencium aroma makanan.
“Ayo kita makan, aku sudah menyiapkannya” Ajak Olivia.
Taylor pun mengangguk dan berjalan mengikiti Olivia menuju ruang makan.
“Cobalah ini, aku sudah memasak untuk mu” Olivia menyerahkan steak dan pasta yang sudah ia masak ke arah Taylor.
“Baiklah, terimakasih” Ucap Taylor yang langsung memakan makanan yang di siapkan Olivia.
“Ini sangat enak” Gumam Taylor dalam hati dan juga sambil menikmati makananya.
“Bagaimana?” Olivia kini menatap ke arah Taylor.
“Ini sangat enak” Puji Taylor.
“Benarkah?”
Taylor mengangguk dan terus menikmati makanannya.
“Syukurlah, kalau kamu menyukainya” Ucap Olivia sambil tersenyum.
__ADS_1
“Olivia” Panggil Taylor.
“Ya?”
“Terimakasih sudah memasak makanan yang enak untuk ku” Ucap Taylor sambil melihat ke arah Olivia.
“Iya, aku minta maaf karena kemarin membatalkan makan malam kita” Balas Olivia.
“Olivia, bolehkah aku mengatakan sesuatu pada mu?”
“Tentu, ada apa Taylor?”
“Aku tahu kamu pernah terluka, itulah yang membuat mu hingga saat ini menutup hati mu untuk pria lain. Tapi Olivia, tinggalkan lah masa lalu mu. Berjalan lah ke depan karena ada orang di masa depan yang telah mengulurkan tangannya ke arah mu” Tutur Taylor.
“Olivia, jangan salahkan Callista yang memberitahu pada ku tentang diri mu yang pernah terluka. Dia adalah sahabat terbaik mu. Dia hanya menginginkan yang terbaik untuk mu. Tujuannya mengatakannya pada ku adalah supaya aku tidak menyakiti mu.” Tutur Taylor kembali.
“Olivia, aku tidak akan memaksa mu untuk menerima ku. Tapi yang ku pastikan adalah jika kamu sudah menerima ku, aku pastikan aku tidak akan menjalani hubungan yang main-main. Usia ku sudah pantas untuk aku menikah.” Ujar Taylor yang membuat Olivia masih terdiam.
“Jika kamu tidak keberatan, bisakah kau membukakan hati mu walau hanya sedikit saja?” Taylor kini menyentuh tangan Olivia.
Mendengar ucapan Taylor, benar-benar membuat Olivia terharu dan tersenyum. Ia mendengar ketulusuan seorang pria yang mencintainya. Sedangkan dulu saat ia sangat mencintai pasangannya tapi ia malah di sia-siakan.
“Taylor, apa kamu benar-benar serius dengan yang kamu ucapkan?”
“Aku tidak pernah merasa seserius ini dalam hidup ku. Saat ku bertemu dengan mu, aku sudah memilki perasaan dengan mu. Aku sangat yakin kamu adalah gadis yang baik untuk hidup ku” Ujar Taylor yang kini menatap Olivia.
“Aku memang pernah terluka, luka yang aku dapat membuat ku sulit untuk membuka hati ku untuk pria lain” Lirih Olivia.
Taylor mendekat ke arah Olivia dan langsung menggenggam erat tangan Olivia.
“Aku tahu Olivia, rasa sakit di tinggal memang tidak mudah. Tapi kamu berhak untuk mendapatkan kebahagiaan dan menyambut masa depan mu dengan pria yang menunggu mu di depan.”
“Olivia, jangan pernah lagi kamu menengok kebelakang. Kamu sudah berhasil melewati hari-hari mu keluar dari penderitaan. Lupakan masa lalu mu dan tata lagi kehidupan mu di masa depan” Ujar Taylor.
“Apa aku bisa mempercayai mu?” Olivia kini menatap Taylor.
Taylor pun mengangguk.
“Aku akan menjaga mu, mencintai mu dengan setulus hati ku. Aku akan berusaha untuk selalu membahagiakan mu. Luka yang kamu dapatkan dulu, aku akan berusaha untuk menutupi luka itu dengan kebahagiaan yang aku berikan” Ucap Taylor dengan lembut.
“Taylor, aku sangat tersentuh dengan usaha mu. Aku sangat menghargai setiap usaha mu yang berusaha mendapatkan hati ku. Taylor terimakasih atas kelembutan dan kebaikan mu. Aku akan memberikan mu kesempatan dam membukakan hati ku untuk mu” Tutur Olivia.
__ADS_1
Taylor yang mendengar ucapan Olivia, ia pun tersenyum.
“Olivia terimakasih kamu mau memberikan ku kesemoatan” Ujar Taylor yang kini menarik Olivia masuk ke dalam pelukanya dan Olivia pun membalas pelukan Taylor.
“Olivia, bolehkah aku bertanya sesuatu?” Tanya Taylor ke arah Olivia,
“Iya, silahkan”
“Apa kamu memberikan ku kesempatan karena mengasihani ku?”
“Kau ini bicara apa, untuk apa memberi mu kesempatan karena mengasihani mu. Aku hanya melihat mu dengan cara mu yang tulus. Itu membuat ku terharu, Aku memang pernah berpikir kamu bukan pria yang baik. Tapi benar apa yang di katakan Callista, aku lebih baik mengenal mu lebih dekat sebelum berpikir yang bukan-bukan” Ujar Olivia yang membuat Taylor tersenyum.
“Aku harus berterimakasih pada Callista yang telah mendukung ku. Dia memang wanita yang sangat baik.” Balas Taylor.
“Aku memang beruntung memiliki sahabat seperti Callista. Dia menolong ku dan menemani hari-hari ku di saat ku terpuruk. Bahkan ketika aku tidak lagi ada harapan dia datang mengulurkan tangannya menemani ku. Dia selalu berkata pada ku selalu ada pelangi sehabis hujan. Setap rasa sakit yang aku alami, suatu saat akan terbalaskan dengan kebahagiaan. Itu yang membuat ku belajar untuk kuat. Meskipun aku tidak setangguh dirinya, tapi aku belajar dari Callista untuk menjadi seorang gadis yang tangguh. Belajar menyikapi masalah ku dengan bijak dan belajar untuk memulihkan diri ku dari luka yang begitu dalam” Tutur Olivia.
“Olivia, aku tidak ingin berjanji manis. Tapi aku akan selalu berusaha semampu ku untuk selalu membahagiakan mu. Aku tidak ingin gadis sebaik diri mu harus terluka” Ujar Taylor.
“Olivia, apa kamu tahu dulu saat Daniel memiliki kekasih seorang dokter aku sangat iri padanya”
“Kenapa?” Tanya Olivia sambil mengerutkan dahinya.
“Sama seperti Daniel, biasanya kekasih ku adalah artis terkenal. Tapi menurut ku memiliki kekaish seorang dokter sangat membuat ku bangga. Karena tidak hanya cantik tapi wanita ku pun cerdas” Puji Taylor yang membuat Olivia tersenyum.
Kemarin Olivia sudah memikirkan tentang mengambil keputusannya benar atau salah. Ia sudah melihat dari ketulusan Taylor kepadanya. Ia merasa Taylor benar-benar tulus. Ia pun bnayak mendengar Taylor adalah pria yang baik. Meskipun dia pemilik club malam, tapi ia tidak pernah berganti-ganti wanita.
***
Yang belum baca karya author yang lain, baca yaa
judulnya "Love In Milan"
Author minta vote yaa.
malam ini bakal crazy up semoga hehe.
Doakan.
Like dan Coment juga yaa
Terimakasih atas dukunga kalian😘
__ADS_1