
Hari ini tepat hari dimana Callista sudah di perbolehkan pulang. Tentu saja Callista sangat bahagia. Ia sudah tidak sabar untuk tidur di kamarnya. Ia benar-benar bosan selama di rumah sakit ini. Padahal Callista juga dokter, sebelumnya Callista sempat berdebat dengan Olivia untuk masalah kepulangannya. Tapi akhirnya Callista mengalah karena Olivia terus tidak mau kalah dengannya.
Daniel sudah meminta orang tuanya dan mertuanya, tidak perlu mengantar. Karena Daniel ingin langsung pulang ke mansion yang baru saja ia beli.
Kini mobil Daniel sudah tiba di mansion yang baru saja ia beli. Daniel langsung membawa Callista masuk sedangkan barang-barangnya di bawa oleh pengawalnya.
Callista yang melihat mansion baru yang di beli suaminya, ia tidak henti menatap mansion megah yang baru saja di beli oleh suaminya. Mansion milik keluarga hutomo sangatlah besar, namun ternyata suaminya membeli manion yang jauh lebih megah dari mansion keluarganya.
Kamar Daniel dan Callista terletak di lantai 5, design kamar yang sangat mewah dan elegan.
"Sayang, kamu pasti membeli mansion ini dengan mahal" seru Callista sat ia memasuki kamarnya.
"Uang bukanlah masalah untuk ku sayang, yang terpenting kenyamanan anak dan istri ku" jawab Daniel.
"Tapi kamu membuang uang mu" balas Callista yang kesal.
"Membeli properti bukanlah membuang uang, ini termasuk cerdas dalam mengelola keuangan" ucap Daniel.
"Kau ini bisa saja melawannya" seru Callista kembali.
Callista langsung membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Akhirnya aku bisa pulang dari rumah sakit" gumam Callista.
"Sayang, kamu tidak perlu memasak. Kita punya koki untuk menyiapkan makanan kita, nanti kamu bisa mengatur makanan apa yang kamu suka dana tidak suka" ujar Daniel.
"Kenapa harus ada koki? aku kan bisa memasak"
"Kamu hamil, tidak boleh lelah. Aku tidak ingin kamu kelelahan"
"Astaga suami ku, apa kamu ini ingin membuat istri mu terkurung tidak melakukan apapun? aku bisa bosan jika tidak ada aktivitas" seru Callista yang kesal.
"Dan satu lagi, hamil itu bukan penyakit. Apa kamu lupa kalau istri mu ini adalah dokter" lanjut Callista.
"Sayang, kamu tidak ada pilihan lain selain menuruti keinginan suami mu ini. Pokoknya kamu tidak boleh kelelahan" ujar Daniel.
Callista mengehela napas dalam, percuma saja berdebat dengan suaminya.
"Dan besok akan ada assitant baru untuk mu, dia tidak mengurus pekerjaan mu. Pekerjaan mu tetap di urus oleh Leora. Assitant baru yang aku siapkan mengurus kebutuhan mu. Kamu berbelanja pun harus bersama dengannya dan ketika bekerja di rumah sakit, dia juga ikut denagn mu" ujar Daniel sontak membuat Callista terkejut.
"Astaga, untuk apa assitant baru? Leora sudah menangani pekerjaan ku bukan? aku tidak memerlukan assistant lagi" seru Callista.
"Sayang, menurutlah. Jangan meembantah karena apa yang sudah aku putuskan tidak bisa di ubah" balas Daniel.
"Benar-benar menyebalkan" gerutu Callista dalam hati.
Daniel yang tahu istrinya kesal dengannya ia langsung memeluk istrinya.
"Sayang, aku melakukan ini karena memang untuk menjaga mu dan anak kita" ucap Daniel sambil mengelus perut istrinya.
"Ya, tapi kau itu terlalu berlebihan" gumam Callista.
"Tidak berlebihan, hanya aku harus waspada. Aku tidak ingin kamu kelelahan, dan aku tidak ingin kamu terluka kembali" ujar Daniel.
Mendengar ucapan suaminya, Calista langsung mengelus rahang suaminya.
__ADS_1
"Tenanglah, aku pastikan aku tidak akan terluka lagi." jawab Callista dengan lembut.
***
Grace sudah tiba di perusahaan Edward. Karena hari ini adalah hari liburnya, ia memutuskan untuk ke perusahaan kekasihnya. Tadinya ia ingin mengantarkan kakak iparnya, namun karena kakaknya melang jadi ia memutuskan untuk datang ke kantor Edward.
Grace langsung masuk ke perusahaan, para karyawan yang melihat Grace mereka pun menyapa dengan hormat. Karena mereka sudah tahu jika Grace adalah kekasih dari bosnya.
Grace langsung menuju lift pribadi yang sering di gunakan oleh Edward. Karena memang Edward memberikan akses untuk Grace memakai fasiitas pribadi di kantornya.
Ting
Pintu Lift terbuka.
"Selamat pagi Nona Grace" sapa secretary Edward.
"Pagi, apa Edward ada?" tanya Grace.
"Ada nona"
"Terimakasih"
Grace langsung berjalan mendekat ke ruang kerja Edward.
Ceklek
"Edward" panggil Grace dengan lembut.
"Grace?" Edward sedikit terkejut saat melihat Grace datang.
"Hari ini kamu libur?" tanya Edward.
Grace mengangguk "Ya, aku libur" ucap Garce.
"Apa aku menganggu mu?" tanya Grace.
"Pertanyaan bodoh! tentu aku sangat senang kau datang" balas Edward.
Edward langsung menarik Grace duduk di sofa.
"Bagaimana kabar Callista, dia sudah sehat?" tanya Edward.
"Sudah, hari ini dia sudah keluar dari rumah sakit. Tadinya aku ingin mengantarnya tapi kakak ku mengatakan tidak perlu. Mungkin mereka ingin langsung beristrihat" ujar Grace.
"Baguslah kalau dia sudah keluar dari rumah sakit, salamkan dari ku untuk nya." balas Edward.
"Tentu"
"Grace" panggil Edward.
"Hem ya?"
"Jika kamu tidak keberatan besok, aku ingin memperkenalkan mu dengan ibu ku" ucap Edward.
Grace langsung tersenyum "Tentu aku tidak keberatan Edward" ucap Grace.
__ADS_1
"Grace, aku hanya memiliki seorang ibu. Dia sangat ingin mengenal mu, karena aku sudah menceritakannya tentang mu" ujar Edward.
"Menceritakan ku?" Grace sedikit terkejut.
"Ya, tentu aku menceritkan tentang kekasih ku yang cantik dan pintar ini" balas Edward yang membuat Grace kembali tersenyum.
"Ibu adalah wanita hebat sayang, membersarkan mu seorang diri. Hingga kau sangat hebat saat ini, ibu mu memang benar-benar hebat" ujar Grace.
Sejak kecil Edward memang hanya di asuh oleh ibunya. Ayahnya pergi meninggalkannya, walaupun terkadang ayahnye kembali namun itu hanya sementara. Ayahnya memilih untuk pergi dan meninggalkannya.
"Edward, apa yang ibu mu suka?" tanya Grace.
"Ibu ku?"
Grace mengangguk.
"Aku tidak tahu pasti, tapi ibu ku sangat menyukai lukisan" jawab Edward.
"Baiklah, kalau begitu aku akan memesan lukisan dari pelukis ternama" gumam Grace dalam hati.
"kenapa kau bertanya itu?" tanya Edward yang sedikit heran.
"Tidak apa sayang, aku hanya bertanya saja" jawab Grace.
"Bagaimana dengan pekerjaan mu? apa semuanya baik-baik saja?" tanya Grace kembali.
"Semuanya berjalan dengan sangat baik, aku akan membuka perusahaan cabang di Italia dan Mexicco" jawab Edward yang membuat Grace terkejut.
"Benarkah itu?" tanya Grace yang masih tidak percaya.
"Iya benar, mungkin bulan depan" jawab Edward.
Grace langsung memeluk Edward dengan erat.
"Aku sangat bangga memiliki kekasih hebat seperti mu. Lihatlah kamu tidak memerlukan lahir dari keluarga kaya, aku sangat bangga denngan mu sayang" ujar Grace.
Edward membalas pelukan Grace dan mengecup pucuk kepala Grace..
"Aku pun bangga memiliki kekasih seperti mu, terimakasih karena kamu tidak mempermasalahkan latar belakang keluarga ku" ucap Edward.
"Jangan bicara begitu, aku memiliih mu tanpa perduli bagaimana latar belakang mu. Yang aku tahu, kamu adalah pria yang bertanggung jawab dan mau bekerja keras. Itu sudah lebih dari cukup untuk ku" balas Grace.
Mendengar ucapan Grace, Edward kembali memeluk Grace dengan erat, ia benar-benar bahagia dengan apa yang di ucapkan oleh kekasihnya itu.
***
Follow Ig Author : abigailranadewi
Maaf kalau ada yang typo ya.
Like,coment dan vote terus ya.
Terimakasih atas dukungan kalian.
__ADS_1