Stolen Heart

Stolen Heart
BAB 114 - Kepanikan Daniel


__ADS_3

Daniel yang menerima telepon dari ibunya ia mulai merasa panik karena ibunya berteriak padanya.


"Harry sepertinya terjadi sesuatu, segera hubungi polisi untuk datang ke mansion mertua ku" perintah Daniel.


"Baik Tuan"


"Harry, cepatlah. Kau bukan kura-kura" seru Daniel yang kesal.


"Baik Tuan"


Tidak lama kemudian mobil Daniel sudah tiba di mansion Keluarga Hutomo. Ia terkejut saat melihat banyak pengawal keluarga hutomo tersungkur.


Danie langsung berlari ke dalam rumah dan Harry pun mengikutinya.


***


"Jangan coba kau sentuh keluarga ku! atau aku akan membunuh mu!!!" seru Michael.


"Mari kita lihat, aku yang membunuh mu atau kau yang membunuh ku" ejek Alvonso.


"Sepertinya menurut ku aku harus menghabisi istri mu yang cantik itu" Alvonso mengarahkan pistolnya ke Alice.


Jessica yang melihat, ia langsung memeluk dan mengunci tubuh ibunya.


"Jessica pergi" teriak Alice.


"Tidak ma" bisik Jessica.


Alin tertegun saat melihat pistol yang di arahkan ke Alice.


Callista dan Michael saling pandang mereka langsung berlari ke arah Alice dan Jessica.


Dorrrr


brukkkk


Callista tersungkur di lantai, ia masih membuka matanya. Hanya air matanya yang mulai menetes.


"Tidakkkkkk" teriak Alice yang melihat putri bungsunya tersungkur.


"Callista" jerit Alin saat melihat darah mengalir di lantai.


Michael langsung berlutut melihat putrinya tersungkur di lantai.


"Tidak, Callista kenapa tidak papa saja" ucap Michael yang air matanya sudah menetes.


Pandangan Alice mulai buram, ia sudah tidak sanggup lagi berdiri terlebih melihat putrinya kini tersungkur di lantai dengan penuh darah.


Brukkk


Alicce jatuh pingsan.


"Mamaa" jerit Jessica yang langsung berusaha menangkap badan ibunya.


Alin yang melihat kejadian ini ia terus menangis.


Mike melihat Callista tertembak, rahangnya mengeras. Rasa marah di dirinya sudah tidak bisa tertahankan lagi.

__ADS_1


"Bajingann kau Alvonso!!!" bentak Mike yang berlari ke Alvonso.


Mike meninju Alvonso tanpa henti, hingga membuat Alvonso tersungkur.


Daniel yang baru saja tiba ia langsung berlari masuk ke dalam rumah, ia melihat banyak anak buah dari mertuanya yang tersungkur di lantai. Mata Daniel tertuju pada sosok yang ia kenali, yang tersungkur di lantai dengan penuh darah di tubuhnya. Lutut Daniel mulai lemas, ia bahkan tidak sanggup lagi untuk berdiri.


"Tidaak" teriak Daniel yang langsung mengambil tubuh Callista.


"Sayang," panggil Daniel dan Callista pun masih membuka matanya.


Saat Callista melihat Daniel datang, air matanya menetes kembali.


"A..ku" belum selesai Callista berbicara, ia sudah tidak sanggup lagi melanjutkan ucapannya. Kini mata Callista tertutup.


Daniel langsung menggendong tubuh Callista.


Sedangkan Harry dan juga Nick mengurus Mike serta anak buahnya.


Michael membopong istrinya yang pingsan.


***


Queen Hospital


Daniel yang sudah tiba di rumah sakit, para perawat dan dokter pun terkejut saat melihat Callista penuh dengan darah di tubuhnya.


Olivia yang melihat keadaan Callista, hampir saja ia ambruk saat melihat keadaan sahabatnya.


"Siapkan ruang operasi" perintah Olivia.


"Baik dok"


Daniel terus menatap ruang operasi, tanpa sadar pertama kali dalam hidupnya. Ia benar-benar merasakan takut yang luar biasa. Air matanya pun kini sudah mengalir.


Alin melihat putranya menangis, ia langsung berjalan menghampiri Daniel dan memeluk putranya. Ia tahu saat ini Daniel memerlukan pelukan ibunya untuk menenangkan hati.


"Sayang, Callista akan baik-baik saja" ucap Alin dengan lembut dan Daniel pun langsung mengangguk.


Grace yang mendengar Callista tertembak, ia langsung berlari menuju ruang operasi.


Grace melihat seluruh keluarganya berkumpul, Grace langsung memeluk ayahnya dengan erat.


"Papa, kakak ipar bagaimana?" tanya Grace.


"Masih belum selesai operasi, kita tunggu saja nak" jawab Gio.


Michael kini berjalan menuju ruang operasi, ia meninggalkan istrinya sebentar dan meminta David menemani istrinya. Jujur saja Michael masih belum bisa tenang karena putri bungsunya saat ini masih belum sadar.


"Daniel, bagaimana Callista?" tanya Michael saat ia sudah tiba depan ruang operasi


"Masih belum pa" balas Daniel.


Tidak lama kemudian Olivia keluar dari ruang operasi dengan wajah yang muram.


Daniel langsung berjalan menghampiri Olivia.


"Bagaimana istri ku?" tanya Daniel.

__ADS_1


"Olivia bagaimana putri ku?" tanya Michael.


Olivia menghela nafas dalam.


"Callista butuh donor darah, golongan darah Callista A-" ucap Olivia


"Ambil darah ku" ucap Michael dengan cepat.


"Tapi kandungan Callista sangat lemah, saat ini bayinya masih bisa bertahan. Tapi kita harus berdoa jika bayinya selamat" ucap Olivia yang membat semua orang terkejut.


"Bayi? maksud mu?" tanya Daniel.


"Callista hamil muda, saat ini kandungannya masih 3 minggu" jawab Olivia yang membuat semua orang terkejut.


"Lakukan apapun untuk istri dan anak ku liv" pinta Daniel.


"Aku akan melakukannya sebaik mungkin" balas Olivia.


"Paman, mari ikut aku" ucap Olivia pada Michael.


Alin yang mendengar kini menantunya tengah mengandung, ia semakin tidak bisa menahan air matanya. Ia meelihat dengan jelas berapa kali menantunya tersungkur di lantai.


Gio menghampiri Alin dan langsung memeluk Alin. Gio sangat mengerti tentang ketakutan dari istrinya.


"Tenang ma, menantu dan cucu kita akan baik-baik saja" ucap Gio yang menenangkan istrinya.


Jessica terus menangis saat tahu adiknya tengah mengandung. Ia merutuki dirinya yang sangat lemah, Andai saja bisa waktu di putar, ia akan memilih dirinya yang terbaring di ruang operasi. Bukan adiknya.


"Callista kamu harus selamat sayang" lirih Jessica dan Grace pun langsung menghampiri Jessica. Grace langsung memeluk Jessica dengan erat.


"Kita berdoa sama-sama ka, Callista dan bayinya selamat" ucap Grace dan Jessica pun langsung mengangguk.


"Bajingannn ku bunuh kau Mike dan Alvoso" seru Daniel yang hendak meninggalkan rumah sakit namum Gio langsung mehaghadang putranya.


"Nak, kesehatan Callista jauh lebih penting dari dendam mu. Lebih baik kita pikirkan kesehatan Callista" ujar Gio dan Daniel pun langsung mengurungkan niatnya.


"Bagaimana dengan istri dan anak ku pa, jika terjadi sesuatu dengan mereka aku tidak akan bisa hidup di dunia ini" seru Daniel dan Gio pun langsung memeluk putranya.


"Tenanglah, istri dan anak mu pasti selamat nak" ucap Gio.


Michael baru saja selesai mendonorkan darahnya, ia langsung duduk di depan ruang operasi. Jessica yang melihat ayahnya ia langsung berjalan menghampiri ayahnya.


"Pa, jika aku tidak hamil harusnya aku yang mendonorkan darah ku" lirih Jessica.


"Sayang, ini sudah tugas papa. harusnya papa tadi yang tertembak bukan adik mu. Papa sudah menjalani hidup papa dengan sangat baik. Papa hanya ingin dua putri papa hidup bahagia" tutur Michael dan Jessica pun langsung memeeluk ayahnya. Kali ini Jessica menangs lebih keras dalam pelukan ayahnya.


Michael pun ikut meneteskan air mata, Michael langsung meengelus rambut Jessica.


"Papa yakin Callista dan cucu papa akan baik baik saja" balas Michael.


***


Follow Ig Author : abigailranadewi


Sudah up yaa besok lagi.


jangan tanya bayinya selamat apa engga kita doa aja sama-sama supaya bayi Callista selamat yaa.

__ADS_1


Like,coment dan vote terus.


Terimakasih atas dukungan kalian.


__ADS_2