Stolen Heart

Stolen Heart
BAB 77 - Bulan Madu IV


__ADS_3

Mendengar ucapan istrinya Daniel menarik istrinya masuk ke dalam pelukannya dan ia mengelus rambut istrinya.


“Sayang, aku sudah berjanji dengan mu. Hal sekecil apapun aku akan bercerita dengan mu” Balas Daniel.


“Iya, aku percaya pada mu”


“Sayang, sepertinya aku ingin besok kita ke Amsterdam” Ujar Callista.


“Kamu ingin ke Amsterdam besok?” Tanya Daniel ke arah istrinya.


Callista pun mengangguk.


“Iya, aku ingin pergi ke Amsterdam besok”


“Baiklah, kita bersiap malam ini. Lebih baik kita kembali ke hotel sekarang” Balas Daniel.


“Iya”


Daniel menggandeng tangan istrinya meninggalkan museum, Saat ia berjalan langkanya terhenti melihat kerumunan orang dan mendengar teriakan seorang wanita menjerit minta tolong.


“Sayang ada apa itu?” Tanya Callista penasaran.


“Entahlah, tapi ada wanita yang minta tolong” Jawab Daniel.


“Sayang ayo kita lihat. Mungkin wanita itu membutuhkan bantuan” Balas Callista.


Callista langsung melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah kerumunan orang. Dan seorang petugas mulai datang menghampiri kerumunan.


“Perhatian, apa ada di antara kalian yang seorang dokter?” Ucap seorang pertugas dengan menggunakan bahasa inggris.


Callista yang mendengar ucapan petugas itu, ia terkejut dengan seorang gadis kecil yang pingsan. Dengan segera Callista melepaskan genggaman tangannya yang sejak tadi di genggam oleh suaminya. Ia langsung berjalan mendekat ke arah petugas yang berdiri tepat di samping gadis kecil yang tengah pingsan.


“Saya adalah dokter” Seru Callista ke arah petugas.


Seluruh pengunjung kini mentap sosok gadis cantik yang berjalan mendekat ke arah petugas.


“Kenapa gadis kecil ini bisa pingsan?” Tanya Callista ke arah ibunya.


“Anak ku tadi meringis kesakitan, lalu tiba-tiba ia tidak sadarkan diri” Jawab ibu dari gadis kecil itu.


Callista mulai memeriksa detak jantungnya. Dan ibu itu menunjuk dada putrinya yang putrinya keluhkan sebelum pingsan.


Callista menekan dada gadis kecil itu, lalu gadis kecil itu sempat meringis kesakitan.


“Panggil ambulan. Dugaan ku terjadi sesuatu dengan paru-parunya. Detak jantungnya sangat cepat. Segera bawa dia kerumah sakit” Seru Callista.


Sekitar 10 menit ambulan pun datang dan membawa gadis kecil itu. Sebelum gadis kecil itu pergi, ibu dari gadis itu menghampiri Callista.


“Terimakasih nona” Ucapnya dengan lembut ke arah Callista.


“Iya, segera ke rumah sakit. Dan periksa paru-paru putri mu” Jawab Callista.


Ibu itu pun membalas dengan senyuman dan mengangguk.

__ADS_1


Daniel langsung menghampiri istrinya dan menggandeng tangan istrinya.


“Memiliki seorang istri dokter adalah impian. Kenapa dari dulu aku menjalin hubungan dengan para artis terkenal tanpa berfikir profesi sebagai dokter jauh lebih mengagumkan” Puji Daniel yang membuat istrinya tersenyum.


“Memiliki seorang suami pengusaha sukses sangat lah menganggumkan. Terlebih rumah sakit tempat dimana istrinya bekerja adalah milik suaminya. Itu sangat menganggumkan. Istrinya dapat cuti jauh lebih lama dari dokter yang lain. Dan masih banyak hak istimewa lainnya” Balas Callista sambil tersenyum.


Daniel dan istrinya berjalan menuju mobil mereka. Karena besok Callista ingin pergi ke Amsterdam Mereka akan mengemasi pakaian mereka.


***


Olivia masih di sibukan dengan jadwalnya yang sangat banyak. Semenjak Callista berbulan madu. Banyak jadwal operasi milik sahabatnya harus ia tangani. Itu yang membuat Olivia pulang larut malam. Meskipun demikian, Daniel suami dari sahabatnya sangat baik. Memberikan bonus besar pada Olivia karena Olivia menggantikan Callista dalam tugasnya.


Di tengah kesibukan Olivia yang saat ini berada di ruang kerjanya, ia mulai memikirkan perkataan Taylor. Entah kenapa hatinya tersentuh dengan ucapan Taylor. Hanya saja ia masih belum berani untuk membuka hatinya. Ia sadar sudah seharusnya ia membuka hatinya untuk pria lain. Karena kejadian ia di selingkuhi sudah 3 tahun lalu. Bahkan ia sendiri tidak tah bagaimana dengan mantan kekasihnya itu.


Drtttt


Drtttt


Bunyi handphone Olivia.


Saat Olivia melihat nomor di layar ponselnya, ia mengerutkan dahinya.


“Nomor asing? Siapa ini?” Gumam Olivia.


“Hallo” Sapa Olivia.


“Hallo dokter cantik”


“Maaf anda siapa?” Tanya Olivia.


“Ah, kau Taylor?” Tanya Olivia memastikan.


“Akhirnya kau mengingat suara ku. Itu artinya aku sudah berada di pikiran mu” Jawab Taylor.


“Kau ini bicara apa! Kenapa percaya diri sekali” Gerutu Olivia.


“Aku memang harus percaya diri. Jika tidak percaya diri, Daniel tidak akan meminta ku memimpin perusahaan besar milik sahabat mu ini” Ujar Taylor yang membuat Olivia terkejut.


“Apa maksud mu?”


“Apa Callista belum memberitahu mu?”


“Belum, dia tidak memberitahu apapun”


“Aku diminta oleh Daniel memimpin perusahaan besar milik sahabat mu. Siapapun pasti mau untuk memim perusahaan cabang milik keluarga Hutomo. Tapi Daniel tetap mengawasi dari belakang” Tutur Taylor.


“Jadi orang yang diminta Daniel untuk memimpin perusahaan Callista adalah diri mu?” Tanya Olivia memastikan.


“Ya, benar”


“Itu artinya Daniel sudah sangat mempercayai mu” Ucap Olivia.


“Tentu, aku pun sangat mempercayainya. Dia sudah seperti saudara ku” Jawab Taylor.

__ADS_1


“Kalau begitu selamat atas posisi mu sebagai pemimpin di perusahaan besar milik sahabat ku. Kau memang hebat” Puji Olivia.


“Kau bilang apa? Aku hebat?” Taylor menarik sudut bibirnya membentuk senyuman saat mendengar Olivia mengatakan ia hebat.


“Tidak, kapan aku mengatakannya. Kau salah dengar” Bantah Olivia.


“CK! Kau jangan berbohong dokter. Pendengaran ku masih berfungsi dengan sangat baik” Ujar Taylor.


“Ya, yaa kau hebat”


Taylor pun tersenyum.


“Terimakasih. Tujuan ku menghubungi mu adalah untuk mengajak mu makan malam” Ucap Taylor to do point.


“Makan malam? Aku sibuk” Balas Olivia.


“Jika kau sibuk, aku akan langsung menjemput mu. Aku sudah melihat jadwal mu jika jam 6 sore ini kamu sudah pulang dan tidak memiliki jadwal” Ucap Taylor.


Mendengar ucapan Taylor, Olivia menghela nafas dalam.


“Baiklah, memang jam 6 sore aku sudah pulang dan tidak memiliki jadwal. Kau ini sampai menanyakan jadwal ku.” Gerutu Olivia.


“Aku harus berjaga-jaga jika kau mengatakan pada ku kau sibuk. Jadi kau tidak bisa beralasan” Balas Taylor.


“Kau ingin makan dimana?” Tanya Olivia kembali.


“Malam ini aku akan menjemput mu. Kau ingin aku jemput di apartement mu atau di rumah sakit?” Tanya Taylor.


“Lebih baik kau menjemput ku di apartement.”


“Baiklah kalau begitu kirimkan alamat apartement mu”


“Iya, aku akan mengirim alamat apartement ku lewat pesan”


“Kalau begitu aku matikan, sampai bertemu nanti malam”


“Iya”


Olivia langsung mematikan sambungan teleponnya.


“Kenapa aku harus merima ajakan makan malam Taylor” Gumam Olivia dalam hati.


“Tapi jika aku menolak, pasti dia akan menemukan cara untuk aku menerimanya.” Gumam Olivia dalam hati kembali.


Olivia melanjutkan lagi pekerjaannya, kini ia benar-benar tidak bisa fokus dengan layar laptop di depannya. Padahal ia harus segera membuat laporan. Callista memang sudah berpesan padanya untuk membuka hati. Kali ini Olivia tidak tahu membuka hati atau tidak. Setidaknya ia tetap harus berhati-hati. Karena ia tidak ingin terluka kembali.


***


Yang belum baca karya author yang lain. baca yaa


"Love in Milan"


Besok mudah-mudahan author bisa crazy up.

__ADS_1


Like,coment dan vote terus yaa.


Terimakasih atas dukungan kalian😘


__ADS_2