Stolen Heart

Stolen Heart
BAB 124 - Obrolan Daniel dan Callista


__ADS_3

Malam hari, Callista sudah membersihkan diri dan mengenakan dres tidur berbahan satin. Ia masih memunggu Daniel untuk pulang. Tapi Callista sudah menyiapkan piyama untuk suaminya.


Callista kini duduk di ranjang dan menyenderkan punggunhnya di kepala ranjang. Ia mengecek email masuk dari Leora, karena Leora yang di percaya untuk mengawasi restuarant miliknya.


Ceklek


Suara pintu kamarnya terbuka, membuat Callista langsung menoleh.


"Sayang sudah pulang?" tanya Callista dengan lembut dan ia langsung bangun dari ranjang. Ia menghampiri suaminya dan membuat suaminya membuka jas dan dasi.


Daniel menarik dagu Callista dan langsung mengecup dengan lembut bibir istrinya yang sudah menjadi candu baginya.


"Aku sudah menyiapkan piyama untuk mu, lebih baik kamu membersihkan diri terlebih dahulu." ucap Callista.


Daniel langsung mengangguk dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Callista kembali duduk di ranjang, dan mengambil ponselnya di atas nakas. Ia memang sudah lama sekali tidak datang ke restaurant. Di tambah kini Daniel sangatlah over protective. Jadi memang Callista sangat mengandalkan assistantnya.


Tidak lama kemudian, Daniel sudah selesai membersihn dirinya. Dan ia langsung mengenakan piyama yang sudah di siapkan oleh isrinya.


Daniel yang melihat istrinya tengah fokus pada ponselnya, Daniel langsung duduk di ranjang tepat di samping istrinya.


"Sayang" panggil Daniel dengan lembut.


"Hem?" Callista yang menyadari Daniel sudah selesai mandi, ia langsung meletakan ponsel miliknya di atas nakas.


"Kamu sibuk?" tanya Daniel.


"No sayang, aku hanya sedikit meriksa email yang masuk" jawab Callista.


Daniel langsung merebahkan tubuhnya di ranjang dan langsung memeluk istrinya.


"Bagaimana hari mu di kantor?" tanya Callista.


"Sangat melelahkan, aku ingin sekali segera pulang ke rumah menemui istri ku yang cantik ini" ucap Daniel sambil menngecup pucuk kepala istrinya.


"Kamu ini memang pandai merayu"


"No sweetheart, tentu aku merindukan istri ku yang cantik" ucap Daniel yang membuat Callista tersenyum.


"Sayang, tadi Olivia ke sini"


"Oh ya?"


"Ya, dia kesini. dan aku ingin meminta izin dari mu" ucap Callista yang membuat Daniel kini langung menatapnya.


"Izin? izin apa?"


"Besok Olivia akan fitting gaun pengantin, aku juga harus fitting gaun karena aku dan Grace adalah bridsmaidnya Olivia. Nah besok aku mohon izinkan aku untuk keluar ya" ujar Callista dengan nada memohon.


"Bagaiman jika aku tidak mengizinkannya?" tanya Daniel.

__ADS_1


"Astaga, aku janji aku tidak akan kenapa-kenapa. Boleh ya sayang" bujuk Callista.


Daniel menghela nafas dalam.


"Baiklah, tapi ada syaratnya" balas Daniel.


"Yeay! apa syaratnya sayang?" tanya Callista.


"Besok pagi, assistant baru untuk mu akan datang. Dan Nick menemani mu, di tambah akan ada dua oengawal yang mengikitu mu dari belakang" ujar Daniel yang membuat Callista terkejut.


"Astaga, apa kau ingi tidak sekalian membaw seluruh anak buah mu? kenapa banyak sekali" gerutu Callista.


"Ya, kalau tidak mau. Jangan harap kamu bisa pergi"  ucap Daniel santai.


Callista berdecak kesal,


"Baiklah suami ku, aku akan menuruti mu untuk membawa pengawal mu" balas Callista yang membuat Daniel tersenyum.


"Good! jadilah istri menurut sayang. Kepala mu jangan terlalu keras, karena percuma saja kali ini suami mu tidak akan mempan. Kau akan tetap selalu di ikuti pengawan" ujar Daniel dengan wajah kemenangan.


"Menyebalkan sekali memiliki suami seperti dia" gerutu Callista dalam hati.


"Tapi besok kamu akan pergi bersama dengan Grace juga kan?" tanya Daniel.


"Iya, aku pergi dengan Grace. Aku sudah mengirim pesan pada Grace jika besok kta bertemu di butik" jawab Callista.


"Baguslah kalau begitu, karena Grace juga di ikuti pengawal ku. Yang artinya, keamanan kalian sangat aman"


"Kau ini benar-benar seperti papa ku" seru Callista yang kesal.


Memang semenjak Callista tertembak, Daniel benar-benar over protective. Terlebih kini Callista tengah hamil, Daniel jauh lebih over protective. Hingga detik ini Daniel masih belum memberi izin Callista untuk beekrja. Padahal Callista sudah ingin sekali memeriksa pasien.


"Demi kebaikan istri dan anak ku" jawab Daniel singkat.


"Aku sangat merindukan celotehan mu ini" bisik Daniel di terlinga istrinya.


"Kenapa kau merindukan celotehan ku?"


"Aku sudah sangat terbiasa mendengar mu yang cerewet, yang selalu membujuk ku, yang keras kepala, yang sellau berceloteh. Aku sudah terbiasa dengan itu. Jadi sekarang kamu tahu kan kenapa aku sangat takut?" ujar Daniel sambil mempererat pelukannya.


"Iya maafkan aku, aku janji aku tidak akan terluka lagi." balas Callista


"Akulah yang salah sayang, itu kenapa aku selalu memperketat keamanan mu" ucap Daniel.


"Iya aku mengerti, walau sebenarnya sangat menyebalkan" seru Callista.


"Oh ya sayang aku sampai lupa" ucap Daniel.


"Hah? kau lupa apa?" tanya Callista yang bingung.


Daniel langsung melepaskan pelukannya, dan menunduk. Kini kepala Daniel di tempelkan di perut istrinya.

__ADS_1


"Aku lupa menyapa anak kita" jawab Daniel.


Daneil langsung mengecup berkali-kali perut istrinya. Dan mengelus dengan lembut perut istrinya.


"Anak daddy, maaf daddy lupa menyapa mu nak. Kamu sehat kan sayang?" ucap Daniel sambil mengelus perut istrinya.


Melihat tingkah Daniel, Callista langsung tersenyum.


"Ya, daddy aku sangat sehat" ucap Callista yang menirukan suara anak kecil dan Daniel pun langsung tersenyum.


"Sayang anak kita laki-laki atau perempuan ya?" tanya Callista,


"Apa saja yang penting sehat" jawab Daniel.


"Benar! tapi aku berharap sayang anak pertama kita laki-laki. Aku ingin anak kita tampan seperti ayahnya" ucap Callista,


"Tentu jika dia pria, sudah pasti dia akan tampan seperti ku. Dan jika anak ku perempuan, aku harap dia memiliki wajah perpaduan antara aku dengan mu" balas Daniel dan Callista mengangguk setuju.


"Tapi semoga anak perempuan ku tidak keras kepala seperti ibunya. Aku akan seperti Papa Michael yang harus meminta pengawal ku menyeret putri ku. Semoga itu tidak terjadi" seru Daniel yang membayangkan putrinya akan seperti ibunya,


Callista terkekeh kecil mendengar ucapan Daniel.


"Dia anak ku sayang,sudah pasti nanti akan seperti ku, Tidak masalah, anak ku adalah seorang anak dari Daniel Renaldy. Kekuasaan ayahnyaa akan mampu menyeret anak mu pulang. tenanglah sayang aku mendukung mu" ujar Callista.


"Tentu kau harus mendukung ku! aku bisa pusing jika anak perempuan ku lari dari rumah.Dan ingin tinggal sendiri. Aku tidak bisa membayangkan itu" balas Daniel.


"Sepertinya aku ini sangat melawan papa ku rupanya, padahal sayang aku hanya tidak ingin di atur saja" jawab Callista santai namun Daniel berdecak kesal.


"Aku berjanji sayang, saat ia kecil ia akan aku didik untuk tidak keras kepala seperti ibunya" seru Daniel.


"Baiklah, tapi dia harus tetap bisa bela diri. Aku ingin kemampuan dia hebat. Jika ada pria yang menyakiti anak ku, pasti anak-anak ku bisa menghabisi musuhnya denga mudah" seru Callista dengan bangga.


"Untuk anak laki-laki itu harus. Tapi anak perempuan, aku akan memikirkannya.. Aku tidak ingin anak perempuan ku seperti preman" seru Daniel yang membuat Callista kesal.


"Jadi kamu mengatakan jika aku ini preman?" tanya Callista yang kesal.


"Astaga, aku lupa kau ini sedang hamil sangat sensitive."jawab Daniel.


"No sayang, tidak ada preman secantik mu. Sudah ayo kita tidur" Daniel langsung memeluk istinya, belakangan ini memang Callista benar-benar sangat sensitive.


***


Follow Ig Author : abigailranadewi


Maaf kalau ada yang typo.


Like,coment dan vote terus


terimakasih atas dukungan kalian.


 

__ADS_1


 


__ADS_2