
Setelah Callista mengobrol dengan Olivia, dia segera meninggalkan ruang kerja Olivia dan menuju ruang kerjanya. Dia sangat merindukan suasana ruang kerjanya di Queen Hospital. Meskipun tidak sebesar ruang kerjanya saat di kantor milik ayahnya, menurut Callista ia lebih nyaman di ruang kerja Queen Hospital.
“Sudah lama sekali rasanya aku tidak di ruangan ini” Gumam Callista pelan sambil duduk di kursi kerjanya.
Callista mulai memejamkan matanya, dia ingin merasakan suasana ruangan yang sangat dia rindukan. Tiba-tiba Callista ingat belum menghubungi kakaknya jika dia sudah di Los Angeles. Callista mengambil handphonenya di dalam tasnya, lalu ia mulai menghubungi kakaknya.
“Hallo” Sapa Callista
“Iya Cal, kamu baik-baik saja kan? Kenapa Adam bilang kamu belum kerumah sakit miliknya?” Tanya Jessica.
“Begini ka, maaf aku belum cerita pada kakak. Aku sekarang sudah ada di Los Angeles” Jawab Callista
“Apa ? Bagaimana bisa? Kenapa pengawal tidak ada yang melapor pada ku?” Tanya Jessica yang kaget saat mendengar adiknya sudah berada di Los Angeles.
“Maaf ka, untuk itu aku yang mengancam mereka” Ucap Callista pelan.
Jessica menghela nafasnya, dia baru ingat adiknya suka mengancam para pengawal.
“Sebenarnya ada apa cal? Ceritalah pada kakak”
“Aku sudah mendengar semuanya dari mama dan juga Daniel, apa kakak sudah mengetahuinya?”
“Cal, mama sebenarnya sudah cerita dengan kakak semuanya. Tapi memang kakak memilih untuk diam. Kakak ingin melihat cara kamu menyelesaikan masalah mu, jika kamu mengalami kesulitan baru kakak yang akan turun tangan. Tapi sekarang kakak benar-benar yakin bahwa kamu sangat hebat” Tutur Jessica.
“Jadi kakak sudah tahu mengenai permasalahan keluarga kita dan keluarga Daniel?” Tanya Callista kembali.
“Iya Cal, kakak juga baru saja mengetahuinya. Kakak sendiri masih bingung harus apa, mama sudah mengatakan pada kakak semuanya. Bahkan mama pun sudah bertemu dengan ibunya Daniel”
“Apa? Mama sudah bertemu dengan ibu Daniel?” Tanya Callista yang kaget mendengar ibunya bertemu dengan ibu kekasihnya.
“Benar, mereka sudah menyelesaikan masalah mereka. Sekarang tinggal papa kita saja, bagaimana pun papa kita harus bertemu dengan ayah Daniel”
“Kakak benar, tapi aku malam ini juga ingin bertemu dengan Tuan Gio, ayah Daniel ka”
“Sebenarnya jika kakak di posisi mu, kakak pun bingung harus apa. Tapi kakak benar-benar bangga pada mu cal. Adik kecil kakak benar-benar sudah menjadi gadis yang bijaksana”
“Aku seperti ini pun karena kakak, kakak sangat baik dan hebat. Aku tidak ingin selalu menjadi gadis keci l lagi”
“Iya, kakak tahu itu. Sekarang lebih baik kamu bersiap-siap bukannya kamu bilang akan bertemu dengan ayah Daniel?”
“Ah kakak benar, yasudah kakak jangan bilang mama dan papa dulu ya aku sudah di Los Angeles”
“Baiklah, kalau begitu kakak tutup dulu ya”
“Iya ka, bye”
“Bye”
Callista memutuskan sambungan teleponnya.
Waktu berjalan cepat, Kini Callista sudah mengganti bajunya dengan dress yang dia bawa tadi pagi.
Callista memakai dress warna kuning tanpa lengan di padukan dengan perhiasan yang tidak berlebihan. Hari ini Callista terlihat sangat cantik, dress yang ia kenakan sangat cocok dengan kulit putihnya.
Callista berjalan ke arah lobby rumah sakit, Callista memang menunggu Daniel di ruang kerja Callista. Karena ada beberapa laporan yang harus dia kerjakan. Itulah kenapa Daniel menjemputnya di Queen Hospital.
Callista berjalan ke arah Daniel yang sudah berdiri tepat di samping mobil buggatinya. Daniel terus menatap Callista yang berjalan kearahnya.
“Perfect” Bisik Daniel di telinga Callista.
__ADS_1
Daniel membuka kan pintu mobilnya untuk Callista, dan Callista pun masuk ke Mobilnya. Di dalam mobil, Daniel mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju Mansion keluarganya.
“Sayang aku sedikit takut bertemu dengan ayah mu” Ucap Callista dengan wajah sedikit takut.
“Kenapa kamu harus takut?” Tanya Daniel.
“Aku tetap merasa tidak enak”
Daniel menggenggam tangan Callista.
“Sayang, percayalah. Semuanya akan baik-baik saja” Ucap Daniel sambil tersenyum.
“Iya, aku yakin” Balas Callista.
“Daniel, aku ingin bertanya pada mu sesuatu”
“Iyaa, ada apa?”
“Apa Grace adalah adik mu? Dia adalah dokter kandungan di Queen Hospital” Tanya Callista.
“Ya, benar. Grace adalah adik ku" Jawab Daniel.
“Kenapa kau tidak bercerita pada ku, adik mu adalah dokter di Queen Hospital” Gerutu Callista.
“Maaf, adik ku memang ingin merahasiakan dia adalah Keluarga Renaldy. Dia mirip dengan mu” Jawab Daniel.
“Tapi ini sebenarnya salah ku juga, aku tidak pernah bertanya apa kamu memiliki adik atau tidak. Maafkan aku Daniel” Ujar Callista dengan wajah yang merasa tidak enak pada Daniel.
“Kenapa kamu harus meminta maaf? Ini semua karena banyaknya masalah di hubungan kita”
Callista pun tersenyum mendengar ucapan Daniel.
Saat Daniel dan Callista berjalan memasuki mansion, Daniel dan Callista sudah di sambut dengan pelayan Daniel.
“Selamat malam Tuan muda dan Nona” Sapa pelayan.
“Malam, dimana ayah ku?” Tanya Daniel.
“Tuan besar ada di ruang kerjanya”
Daniel pun mengangguk dan Callista tersenyum ramah kepada para pelayan Daniel.
Daniel mengagandeng tangan Callista berjalan menuju ruang kerja ayahnya tapi tiba-tiba langkah Daniel terhenti saat seseorang memanggilnya.
“Daniel”
“Mama?”
“Sayang, kamu membawa Callista?” Tanya Alin sambil melihat ke arah Callista.
“Iya ma, Callista ingiin bertemu papa” Jawab Daniel.
Alin berjalan mendekat ke arah Callista.
“Malam bibi” Sapa Callista.
“Malam Callista, bagaimana kabar mu?” Tanya alin sambil tersenyum ke arah Callista.
“Aku baik, bibi apa kabar?” Tanya Callista ke arah Alin membalas senyuman Alin.
__ADS_1
“Aku pun baik, Callista kamu ingin berbicara dengan ayah Daniel?”
“Benar bi, jika bibi mengijinkannya”
“Tentu sayang, pergilah. Ayah Daniel pasti menyambutmu” Ujar Alin sambil mengelus rambut Callista.
Mendengar ucapan ibunya, Daniel pun tersenyum dan menggandeng tangan Callista kembali berjalan menuju ruang kerja ayahnya.
Tok
Tok
Suara ketukan pintu
“Masuk” Ucap Gio
“Pa, aku datang”
Gio melihat ke arah Daniel yang kini menggandeng tangan Callista berjalan masuk keruangannyaa.
“Pa, Callista ingin berbicara dengan papa” Ucap Daniel.
“Apa kabar Callista?” Tanya Gio sambil melihat ke arah Callista.
“Aku baik, Paman apa kabar?”
“Aku pun baik nak”
“Daniel, bisakah kamu meninggalkan papa berdua dengan Callista?” Tanya Gio ke arah Daniel.
Daniel pun mengangguk dan berjalan meninggalkan Gio dan kekasihnya.
“Paman, maaf aku sudah mengganggu waktu mu”
“Tidak Callista, kamu tidak mengganggu ku. Malah aku sangat senang kamu ingin bertemu dengan ku”
“Paman, aku ingin meminta maaf atas kesalahan ayah dan kakek ku di masa lalu” Ucap Callista dengan wajah yang muram.
“Callista, sekarang aku yakin putra ku tidak salah memilih seorang gadis” Ucap Gio.
“Callista, masalah ku dengan ayah mu adalah masa lalu. Aku memang sangat mencintai ibu mu, tapi aku sekarang mengerti, takdir memang tidak menjodohkan ku dengan ibu mu. Aku menikah dengan ibunya Daniel dan ibu mu menikah dengan ayah mu. Itu semua adalah takdir dari Tuhan” Tutur Gio
“ Tapi apa paman dendam dengan ayah ku?”
“Dulu aku sangat dendam pada ayah mu, tapi percayalah Callista. Aku akan bertemu langsung dengan ayah mu dan segera menyelesaikan permasalahan masa lalu kami”
Gio memang sudah merencanakan untuk bertemu dengan Michael. Bagaimana pun dia ingin segera menyelesaikan permasalahannya. Gio sudah mendengar dari Alin jika istrinya telah bertemu dengna Alice dan telah menyelesaikan masalah mereka. Sekarang tinggal Gio bertemu dengan Michael.
**********
Bulan ini Author bakal up banyak.
Hayo vote yang banyak yaaa.
Jangan lupa like dan coment.
Terimakasih atas dukungannya.
Love from Author
__ADS_1