Stolen Heart

Stolen Heart
BAB 119 - Kebahagiaan Daniel


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Daniel masih terus menunggu Callista. Ia tidak pernah meninggalkan Callista, bahkan perjalanan bisnis pun ia alihkan pada Harry assistantnya. Terkadang Daniel meminta Grace untuk mewakilinya.


Setidaknya Grace kini sudah memiliki Edward, jadi Grace selalu di bantu oleh Edward ketika Grace mengalami kesulitan tentang perusahaan. Grace pun tidak tega untuk menganggu kakaknya, Edward biasanya selalu memberikan saran untuk Grace.


Keadaan Alice jauh lebih baik dari sebelumnya, meskipun Michael harus berbohong padanya. Tapi Alice selalu percaya jika Callista sedang tidur.


Kini Daniel tengah berada di ruang rawat istrinya, sambil memeriksa pekerjaanya. Tadi pagi, Harry telah memberikan laporan pekerjaan selama Harry menggantian pekerjaan Daniel.


Saat Daniel sudah selesai memeriksa pekerjaanya, ia berjalan mendekat ke arah istrinya dan duduk di tepi ranjang.


"Sayang, kamu lama sekali bangunnya. Apa kamu tahu, aku sangat merindukan mu" ucap Daniel sambil mengelus perut istrinya setelah itu ia menggenggam era tangan Callista.


Saat Daniel menggenggam erat tangan tangan istrinya, Daniel terkejut saat ia merasakan jari jemari istrinya bergerak.


"Sayang, kamu dengar aku?" ucap Daniel yang terus mengelus dengan lembut pipi istrinya.


Callista perlahan mulai membuka kedua matanya, ia melihat langit putih dan sosok pria yang terus memanggil namanya.


"Sayang, kamu dengar aku?" ucap Daniel kembali.


Callista sedikit menoleh dan sedikit tersenyum ke arah suaminya. Daniel yang melihat istrinya sudah sadar ia langsung mengecup pucuk kepala istrinya.


"Terimakasih sayang, kamu sadar" ujar Daniel yang sangat senang melihat istrinya kini sudah sadar.


Daniel langsung menekan tombol untuk memanggil dokter.


Tidak lama kemudian, Olivia datang ke ruang rawat Callista. Kini Olivia menyambut Callista dengan air mata. Ia tidak perduli mau meskipun mau di bilang tidak profesional. Tapi Olivia memang sudah terlalu lama menahan air matanya. Saat ia tiba dan melihat sahabatnya sudah sadar, air matanya pun terus mengalir.


"Callista, akhirnya kamu sadar" ucap Olivia yang menghapus air mata di pipinya.


"Tuan Daniel aku periksa dulu Callista" ucap Olivia pada Daniel dan Daniel pun langsung mengangguk.


Saat Olivia sedang meriksa Callista, Daniel langsung segera menghubungi ayah mertuanya dan juga Grace. Saat pertama kali Michael mendengar ia benar-benar sangat bahagia dan langsung menuju ruang rawaat putrinya.


Sedangkan Grace yang mendengar kakak iparnya sudah sadar, ia langsung menghubungi ayah dan ibu serta Edward kekasihnya.


"Tuan Daniel, keadaan Callista sudah lebih baik. Hanya dia butuh istirahat yang cukup" ujar Olivia.


"Terimakasih liv"


"Jangan berterimakasih, istri mu adalah sahabat baik ku, kalau begitu aku pamit" ucap Olivia dan Daniel langsung mengangguk.


"Air" ucap Callista.


"Kamu haus sayang? sebentar aku ambil" Daniel langsung mengambil air putih untuk istrinya dan Callista pun langsung meminumnya.


"Mama dan kakak ku bagaimana?" tanya Callista yang membuat Daniel tersenyum.

__ADS_1


"Semuanya baik-baik saja, sekarang kamu pikirin kesehatan kamu dan anak kita" jawab Daniel sambil mengelus perut Callista.


Callista yang mendengar kata anak, ia langsung terkejut.


"A..naak?"


Daniell langsung mengangguk "Iya kamu hamil sayang, sekarang sudah lima minggu" jawab Daniel yang langsug mengecup perut istrinya.


Callista yang mendengar kini ia tengah hamil, air matanya mulai menetes. Ia tidak menyangka jika ia akan menjadi seorang ibu. Karena jujur saja, ia tidak pernah berani untuk memeriksa kehamilan. Ia takut hasilnya akan membuat dirinya kecewa.


Seketika Callista ingat jika ia merasakan sakit di perutnya akibat tendangan keras dari Mike. Pantas saja perut bagian bawahnya sangatlah sakit saat mendapat tendangan dari Mike.


"Sayang, apa anak kita baik-baik saja?" tanya Callista yang mulai cemas.


"Tentu dia baik-baik saja, dia anak ku. Sudah pasti kuat" jawab Daniel.


Mendengar ucapan suaminya, Callista bernafas lega.


"Aku mengalami tendangan saat berkelahi dengan Mike, mangkanya aku khawatir. Pantas saja aku merasakan sakit yang luar biasa di perut ku" ujar Callista yang membuat Daniel mengeram emosinya.


"Akan ku potong kakinya karena berani menendang mu" seru Daniel yang langsung bangkit dari tepi ranjang namun Callista langsung menahan suaminya.


"Aku ingin kamu disini." ucap Callista.


Daniel pun mengurungkan niatnya dan langsung mengecup dengan lembut dahi, hidung dan bibir istrinya.


"Aku akan selalu menemani mu" bisik Daniel ditelinga istrinya.


"Papa" ucap Callista dengan lembut.


Michael yang melihat putrinya sudah sadar, ia langsung mendekat dan memeluk putri bungsunya. Air matanya pun menetes saat memeluk putrinya.


"Jangan pernah seperti ini lagi nak. Papa dan mama hampir kehilangan nyawa kami saat melihat kamu koma" ujar Michael yang masih meneteskan air matanya.


"Papa, aku sudah sadar. Bagaimana mama dan kakak?" tanya Callista kembali.


"Mama saat ini sedang beristirahat, nanti mama akan datang sayang. Kakak mu sudah papa hubungi kalau kamu sudah sadar nak. Dia pun sangat bahagia" ujar Michael.


"Lalu papa bagaimana, papa tidak terluka kan?" tanya Callista kembali yang membuat Michael tersenyum.


"Papa sehat nak, sekarang yang penting kamu dan cucu papa sehat" jawab Michael.


"Iya pa, sebentar lagi aku akan menjadi ibu" ucap Callista sambil tersenyum.


"Papa punya dua cucu, dari kamu dan juga dari Jessica" ujar Michael.


Drttttt


Drttt

__ADS_1


Suara handphone Daniel.


"Pa, maaf aku harus angkat telepon dulu" ucap Daniel dan Michael langsung mengangguk


"Sayang, sebentar aku ke depat untuk angkat telepon ya"


"Iya" jawab Callista.


Daniel langsung berjalan keluar meninnggalkan ruang inap Callista.


"Nomor tidak di kenal?" gumam Daniel saat melihat layar ponselnya.


"Hallo" sapa Daniel saat panggilannya terhubung.


"Tuan Daniel, ini saya Esme maaf mengganggu Tuan" ujar Esme.


"Ada apa Nona Esme?" tanya Daniel.


"Saya sebagai teman Callista, hanya ingin bertannya bagaimana keadaan Callista?" tanya Esme.


"Kebetulan sekali, hari ini istri ku sudah sadar, terimakasih atas perhatian nona" jawab Daniel.


"Oh begitu, saya ikut senang mendengarnya tuan" balas Esme.


"Tuan Daniel, apa besok kita bisa bertemu?" tanya Esme kembali.


"Sepertinya tidak bisa, saat ini pekerjaan saya di handle oleh Harry dan Grace, Jika nona ingin menanyakan kerja sama kita. Bisa menghubungi Harry atau Grace" ujar Daniel.


"Meskipun kita bertemu di caffe terdekat dengan rumah sakit, tetap tidak bisa tuan?"


"Istri dan anak ku jauh lebih penting dari pekerjaan ku saat ini. Terakhir istri ku terluka karena aku harus memilih pekerjaan ku. Kedepannya aku akan selalu mengutamakan istri dan anak ku" ujar Daniel.


"Jika Nona Esme ingin membahas kerja sama perusahaan kita, nona bisa langsung menghubungi Harry dan juga Grace."


"Oh begitu, baik tuan. Kalau begitu salamkan saya untuk Callista" ucap Esme.


"Tentu" balas Daniel yang langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Esme yang melihat Daniel langsung memutuskan sambungan teleponnya, ia benar-benar emosi. Rasa marah di dirinya sudah tidak bisa ia tahan lagi sejak mendengar Callista sudah sadar.


"Kenapa kau tidak mati saja" gumam Esme.


 


***


 


Follow Ig Author : abigailranadewi

__ADS_1


Like, coment dan vote terus setiap karya author ya.


Terimakasih atas dukungan kalian.


__ADS_2