Stolen Heart

Stolen Heart
BAB 117 - Kecemasan Alice


__ADS_3

Sudah beberapa hari Callista masih belum sadar, Alice selalu berteriak memanggil putrinya di setiap malam. Alin membantu Michael untuk menjaga Alice.


Michael mulai melarang Jessica untuk menjaga Alice terlalu lama. Karena kemarin Jessica sempat pingsan. Grace yang memeriksa keadaan Jessica mengatakan jika Jessica membutuhkan istirahat yang cukup. Dan janga terlalu banyak pikiran. Akan berdampak untuk janinnya jika Jessica terur cemas.


Alin selalu setia menemani Alice, bahkan Alin berkali-kali mengatakan pada Alice tentang kisah masa muda mereka. Alin ingin mengalihkan pikiran Alice meskipun tidak berhasil sepenuhnya, tapi Alice selalu tersenyum saat mengingat masa mudanya.


Masa dimana ia sangat bahagia, meskipun pernikahan yang tidak di sertai cinta tapi kini Alice sangat mencintai suaminya Michael.


Alin mengatakan jika ia pernah melihat Alice saat Alice kuliah dulu, saat Alice masih muda memang wajah Alice sangat mirip dengan Jessica. Callista memiliki wajah perpaduan antara Alice dan juga Michael.


Terkadang Gio pun datang menjenguk Alice, Gio sendiri tidak tega melihat keadaan Alice yang sangat buruk. Alice yang terus menerus menyalahkan dirinya.


Psikolog mengatakan Alice mengalami ketakutan akan kehilangan putrinya, Michael memang membawa Alice untuk melihat Callista. Tapi saat Alice melihat Callista masih belum sadar, ia kembali menyalahkan dirinya.


Alice duduk di kursi taman dengan di keliling bunga lily putih kesayangan Callista. Alice mencari ke setiap sudut di mana putri kecilnya. Taman yang begitu indah dan cantik. Di kelilingi oleh bunga lily, bunga yang sangat di sukai oleh putri bungsunya.


"Ma" panggil seorang gadis yang ia tahu pemilik suara ini.


Alice menoleh "Sayang, kamu sudah sadar nak?" tanya Alice yang langsung menggenggam tangan putrinya.


"Ma, mama jangan seperti ini. Aku tidak tega melihat mama selalu menyalahkan diri mama" ucap Callista.


"Sayang, mama tidak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu pada mu nak. Harusnya kamu membiarkan mama terluka bukan diri mu" ujar Alice yang mulai meneteskan air matanya.


"Ma, sejak kecil mama melindungi ku. Apa mama ingat saat aku naik sepeda dan terjatuh? mama langsung berlari dan memeluk ku. Mama tidak pernah membiarkan aku memiliki luka sedikit pun. Mama menjaga ku, menyayangi ku bahkan selalu mengutamankan hidup ku. Jika mama terluka, aku lah orang yang akan bersalah di dunia ini karena tidak bisa melindungi mama. Aku hanya melindungi mama ku, meskipun aku yang terluka aku tidak akan perduli" tutur Callista dengan lembut.


"Ma, jika aku tidak ada. Mama harus tetap sehat dan menjalani kehidupan mama. Aku harus pergi ma, jika memang takdir masih mengizinkan aku, maka kita akan berkumpul. Tapi jika aku memang tidak bisa lagi di sisi mama, teruslah hidup ma. Mama memiliki papa dan juga Ka Jessica" tutur Callista yang langsung meninggalkan Alice.


"Tidakkkkkk, tidaakkkkk" teriak Alice saat melihat Callista pergi.


Alice menggeliat di ranjang, dan terus berteriak memanggil nama Callista.


"Ma, ma bangun pa" ucap Michael.


Alice langsung membuka matanya.


"Pa, dimana Callista pa, dia sudah bangun kan pa? putri kecil kita sudah sehat kan pa? pa jawab pa dimana pa Callista paa" teriak Alice yang histeris.


"Ma, percayalah Callista akan baik-baik saja" jawab Michael.

__ADS_1


"Tadi mama memimpikan Callista, dia pergi ninggalin mama. Dimana putri ku pa? bawa mama kesanna pa" pinta Alice yang masih terus menangis.


"Yasudah papa akan membawa mama ke Callista ya" ucap Michael dengan lembut dan langsung mengambil kursi roda untuk isrinya.


Michael langsung menggendong istrinya untuk duduk di kursi roda, dan Michael langsung mendorong kursi roda istrinya.


***


Daniel kini sudah berada di ruang perawatan istrinya dan Grace pun masih berada di sana. Daniel meminta Grace untuk melihat keadaan anaknya. Garce memang mengatakan kandungan Callista sangat lemah. Tapi Grace masih yakin jika keponakannya akan selamat.


"Ka, kakak tenang saja. Kakak ipar akan segera sadar" ucap Grace dengan lembut.


"Kakak hanya menyesali kenapa kakak tidak datang bersama dengannya. Andai kakak ikut, pasti ini tidak akan terjadi" seru Daniel dengan wajah yang muram.


"Ka, ini sudah takdir. Menurut ku apa yang di lakukan kakak ipar adalah hal yang benar. Jika itu terjadi dengan mama, aku akan berlari dan membiarkan peluru mengenai ku" ujar Grace.


"Sebagai seorang anak, tidak akan ada yang ingin ibu yang kita cintai terluka." lanjut Grace.


"Kamu benar Grace, kakak memang bangga dengan Callista." ucap Daniel.


Obrolan Daniel dan Grace terhenti saat mendengar suara mesin monitor. Jantung Grace langsung berdebar sat mendengar suara yang berasal dari monitor. Tidak hanya Grace, Daniel pun ikut berdebar dan sangat panik.


Titttttttt


Grace langsung menoleh ke arah layar, wajahnya langsung pucat.


"Tidak, tidak" seru Grace yang langsung memencet tombol darurat memanggil dokter dan juga perawat.


"Grace ini kenapa?" Daniel mulai panik.


"Ka, detak jantung Callista melemah" ucap Grace yang membuat Daniel seperti tersambar petir.


"Tidak sayang, kamu harus sadar" seru Daniel.


Olivia beserta perawat berlari menuju ruang perawatan Callista, hatinya bergemuruh. Baru pertama kali dalam hidupnya memiliki rasa ketakutan luar biasa.


"Tuan Daniel dan Grace mohon tunggu di luar" pinta Olivia.


Grace langsung menarik tangan Daniel untuk keluar.

__ADS_1


"Grace, kakak mau disini" ucap Daniel yang sudah tidak tahan lagi meneteskan air matanya.


"Tidak ka, ayo kita keluar"


Daniel dan Grace pun langsung keluar dan bertemu dengan Alice dan Michael.


"Daniel ada apa?" tanya Michael.


Daniel melirik ke arah ibu mertuanya.


"Tidak ada pa, pa lebih baik papa membawa mama. Callista sedang istrirahat nanti mama bisa datang lagi"" tutur Daniel yang terpaksa berbohong.


"Tapi-" belum selesai Alice berbicara Michael sudah memotongnya.


"Ma, anak kita sedang beristirahat" ucap Michael dan Alice pun langsung mengangguk.


Olivia masih berada di dalam dan Daniel bertambah gusar.


"Ka, tenanglah" ucap Grace.


"Jika terjadi sesuatu pada anak dan istri ku. Aku tidak akan bisa hidup Grace" ucap Daniel yang air matanya kembali menetes.


Dalam hidup ini pertama kalinya Grace melihat kakaknya menangis. Sejak kecil kakaknya tidak pernah menangis, bahkan kakaknya selalu melindunginya ketika ia menangis. Kini Grace sadar rasa cinta kakaknya pada istrinya sangatlah besar.


Daniel merasakan hatinya benar-benar tidak tenang. Ia meremas rambutnyaa dengan keras, pikiran buruk terus membayangi dirinya. Berkali-kali Grace mencoba menenagkan kakaknya namun sia-sia.


Michael yang sudah mengantarkan Alice, ia meminta David untuk menjaga Alice sementara. Michael langsung berlari ke ruang perawatan putrinya.


“Grace, kenapa putri ku?” tanya Michael yang cemas.


“Paman, paman tenanglah. Dokter sedang melakukan perawatan. Jantung Callista sempat melemah tapi percayalah paman. Callista akan baik-baik saja” ujar Grace yang mencoba menenagkan Michael.


Michael yang mendengar itu, ia merasakan dadanya sangat sesak. Ia langsung duduk dan tidak bisa lagi menahan air matanya.


“Putri ku, sadarlah nak” lirih Michael


***


Follow IG Author : abigailranadewi

__ADS_1


Like,coment dan vote terus ya


terimakasih atas dukungan kalian


__ADS_2